Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi Dan Diam.
🕊
Jam pulang kerja pun tiba, semua karyawan pun pulang sesuai jadwalnya. Sama halnya dengan Vivi wanita cantik itu memesan ojek online untuk pulang kerumah, bahkan dirinya pulang tak pamit sang suami terlebih dahulu. Hal itu tentu membuat Bian mencari-cari keberadaanya.
Di perjalanan benda pipih Vivi pun begetar. Siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Bian.
"Hallo.."
"Kau dimana, bodoh?"
"Aku di jalan dan akan pulang ke rumah,"
"Bodoh, kenapa tak menungguku saja,"
"Maaf, maaf aku tak mau mengganggu pekerjaanmu," Vivi menjelaskan
Tut. Tut. Tut.
Bian mematikan telpon secara sepihak, membuat Vivi tersenyum getir.
"Dasar tak punya sopan santun!" umpatnya pula. "Lanjut bang!" Seru Vivi pada si mamang ojek online.
_____
Sesampainya di rumah Vivi segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang gerah, jalanan yang panas dan macet parah membuatnya berkeringat basah.
Dalam waktu 10 menit di dalam kamar mandi, Vivi pun segera keluar dari biliknya menggunakan handuk pink kesayanganya.
"Eheeeem....!" suara Bian.
"Haaah, kau. Kenapa sudah pulang?" Vivi menatap tajam lalu masuk lagi kedalam kamar mandi.
"Heeey, kenapa kau masuk lagi?!" tanya Bian sedikit berteriak.
"Keluarlah dulu, baru aku akan keluar dari sini." Titah Vivi.
"Ohhh baiklah kalau begitu, aku tak akan keluar kamar dan bersenang-senanglah kau di dalam sana," geram Bian yang kesal akan sikap Vivi.
"Haaaaah....!" Vivi tak percaya dengan apa yang di ucapkan Bian tadi.
1 menit 2 menit 3 menit Vivi masih bertahan, namun di menit ke 15, dirinya sudah tak mampu lagi, tubuhnya terasa dingin dan menggigil.
Ceklek
Vivi tak mendapati Bian di atas ranjangnya, membuat Vivi aman sementara. Dengan langkah cepat wanita itu berjalan menuju lemari dan segera mengganti baju sesegera mungkin.
"Mulus..." Ucap Bian seketika dan suaranya terdengar pelan namun menggetarkan.
"Haaaaaaaaah.....! Kau dari tadi duduk di sana?" Vivi melotot karena ternyata Bian tidur di sofa dan bodohnya dirinya tadi tak melihat ke arah sana.
"Sexi, putih, mulus," ceplos Bian lagi.
"Bian.... Apa kau tadi melihatku saat menggunakan baju?"
"Ohh tentu, bahkan full,"
"Haaaaah. Ya Tuhan betapa malunya aku," grutu Vivi kemudian.
Mendengar ucapan itu, Bian segera berdiri dan mendorong tubuh Vivi hingga istrinya jatuh di ranjang empuk milik mereka.
"Bi_bian, apa yang akan kau lakukan?" Vivi gemetaran.
Pria tampan itu menggapai dagu Vivi dan menuntun wajah si cantik untuk menatap wajahnya. Sesekali Bian menyentil bibir Vivi dengan jari-jarinya.
Vivi semakin terlihat ketakutan, sepertinya Bian akan menerkam dirinya sore ini.
"Tatap mataku...!" Titah Bian.
"I_iya, ada apa?"
"Siapa aku?" tanya Bian lagi.
"Kau, Albian Yunanda, CEO ternama seantero kota," jawabnya masih gemetar.
"Bukan itu.....!!!" Bentak Bian.
"Lalu?" Vivi merasa heran.
"Statusku, siapa bagimu?"
"Su_suamiku, kan," jawabnya pelan.
"Kau sadar aku suamimu?"
"I_iya," jawab Vivi dengan raut wajah sendu.
"Lalu.... Kenapa kau harus malu saat aku menatap tubuhmu? lalu kenapa kau harus menutupi semua itu, padahal kau itu istriku. Apa pun yang ada pada dirimu, itu miliku! MILIKU. faham!" Bentak Bian dengan sikap begitu kasar menahan kekesalan.
"Maaf," Vivi hanya mampu membisu.
"Bodoh, dasar murahan! Kau malu pada suamimu, tapi suka rela menyerahkan harga dirimu pada orang yang hanya berstatus kekasihmu. Kau berikan kesucianmu lalu kau di campakan olehnya." Cetus Bian yang wajah dan matanya terlihat begitu mengerikan.
Air mata jatuh begitu saja, membasahi wajah Vivi yang terlihat ketakutan. Belum lagi ucapan Bian yang benar-benar menyakitkan.
Cletak.
Bian menyentil kening Vivi dengan jarinya, membuat sang istri menatap dingin.
"Otakmu terlalu liar. Apa kau fikir aku akan menerkamu?!" tanya Bian telihat geram.
Vivi masih menunduk bersembunyi di balik matanya yang terpejam.
"Kau tau, aku tak akan pernah menyentuhmu, sebelum anak dari perutmu itu lahir," tambah Bian dengan raut wajah begitu serius.
"Haaaaah." Vivi membuka matanya dan menatap Bian dengan segenap rasa penasaran
"Jadi tak akan pernah, aku akan melakukan hal itu padamu," bisik Bian pelan di telinga istrinya. Bahkan aksi Bian membuat tubuh Vivi merinding.
Setelah puas mencaci maki dan mengatakan apa yang ingin dirinya katakan. Bian pun segera pergi meninggalkan kamar dimana ada Vivi di sana.
Sementara air mata di wajah Vivi mengalir semakin deras. Ucapan dan perkataan Bian cukup menyakitkan, bukan hanya itu, entah mengapa dirinya merasa kecewa saat Bian mengatakan tak akan pernah menyentuhnya.
"Lalu, aku ini siapa baginya? aisssssh, harusnya aku bahagia, itu artinya aku aman selama hamil 9 bulan, tapi....!" ucapanya terhenti, hanya Vivi sendiri yang tau apa yang dirinya rasa kini.
.
.
.
Nah loh 😭....
🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨