Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sayang
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Sepeninggalnya Azzam, Indi kembali bekerja menata bunga-bunga sesuai dengan jenisnya masing-masing. Tiba-tiba Indi menoleh kearah lahan yang akan dibangun.
"Nov, coba sini sebentar," panggil Indi.
"Iya Kak ada apa?"
"Itu mau dibangun apa sih?" tanya Indi.
"Oh itu, katanya mau dibangun sebuah Restoran Kak dan Pemiliknya itu orang Malaysia lo Kak."
"Hah, orang Malaysia?"
"Iya Kak."
"Oh gitu ya, terima kasih ya Nov."
Novi pun kembali bekerja membereskan toko bunga itu supaya lebih bersih dan enak dilihat. Sedangkan Indi terus memperhatikan lahan yang dibangun itu, hingga akhirnya Indi melihat Joe yang sedang berbicara dengan Arsiteknya.
"Lho, bukannya itu laki-laki yang waktu itu marahin aku ya? kok ada disitu sih? terus laki-laki yang satunya lagi mana ya, kalau ada aku pengen minta maaf sama dia," gumam Indi.
Tiba-tiba Aiman keluar dari dalam mobilnya dengan menundukan kepalanya, hatinya begitu lemas melihat kenyataan.
"Nah itu dia Mas tampan yang waktu itu, apa aku samperin aja ya kesana? tapi aku malu banget mana jantung aku ga bisa di ajak kompromi lagi, tapi aku harus kesana minta maaf," gumam Indi yang masih memegang dadanya.
Aiman dengan langkah lemasnya berjalan ingin menghampiri Joe.
"Mas, Mas tunggu sebentar," teriak Indi dengan berlari menghampiri Aiman.
Aiman yang mendengar teriakan, langsung menoleh dan dilihatnya Indi sedang berlari menghampiri Aiman, Aiman sangat terkejut dan langsung menutup hidungnya.
"Stop jangan mendekat," teriak Aiman dengan mengarahkan tangannya kearah Indi pertanda Indi jangan mendekat.
Indi pun langsung mematung diam di tempat dan Aiman masih menutup hidungnya dengan tangannya.
"Ya Alloh Mas, memangnya aku bau ya kok sampai tutup hidung kaya gitu?" tanya Indi dengan kesalnya.
"Bukan..bukan seperti itu," sahut Aiman dengan gugupnya.
"Terus kenapa mesti tutup hidung?" tanya Indi kembali.
Aiman tampak kesusahan menjawab pertanyaan Indi, karena mulut dan hidungnya tertutup tangannya. Sementara itu dari kejauhan Joe melihat kelakuan Aiman yang sedang kesusahan dan langsung menghampirinya.
"Ada apa ini?" tanya Joe dengan dinginnya.
"Maaf Mas, aku hanya ingin minta maaf sama Mas itu tentang kejadian tempo hari yang membuat Masnya sampai kesakitan, aku beneran tidak tahu kalau Masnya alergi sama bunga," jelas Indi dengan gugup karena Joe menatap Indi dengan tajamnya.
"Iya gapapa, lagipula sekarang dia sudah sembuh kok," jawab Joe dengan dinginnya.
Aiman hanya bisa mendengarkan suara merdu Indi di balik tubuh Joe, bukannya Aiman tidak ingin bertemu dengan Indi justru Aiman sangat menantikan waktu dimana dia bisa berhadapan dan ngobrol bareng bersama wanita yang saat ini sudah mengambil separuh hatinya itu.
Tapi Aiman takut kalau ada putik bunga yang nempel di baju Indi dan akan berakibat fatal buat dirinya soalnya dari tadi Indi berrkutat dengan bunga kemungkinan ada putik bunga yang nempel di baju Indi maka dari itu Aiman menutup hidungnya.
"Mas, kok Masnya ga ngomong sih malah sembunyi dibalik tubuh si Mas galak ini," ucap Indi keceplosan.
"Apa? kamu bilang aku galak?" ucap Joe dengan sedikit menaikan nada suaranya.
"Tuh kan, Masnya marah-marah lagi ya sudah kalau begitu aku pamit dulu dan terima kasih sudah mau memaafkan Indi," ucap Indi dan mulai membalikan badannya.
"Tunggu."
"Iya, ada apa Mas?" tanya Indi.
"Maaf ya, aku sembunyi dan tutup hidung ini bukan karena kamu bau tapi takutnya ada putik bunga yang nempel di baju kamu dan terhirup oleh hidung aku dan kamu tahu kan apa jadinya kalau sampai itu terjadi," jelas Aiman.
"Oh iya gapapa,kalau begitu aku kembali ke toko dulu," Indi tersenyum sangat manis kepada Aiman.
"Subhanalloh, senyumannya sungguh membuat hatiku bergetar," batin Aiman.
"Sungguh menyebalkan wanita itu, mana ada aku orangnya galak orang tampan seperti ini," gerutu Joe.
"Sudah jangan menggerutu terus, emang benar yang dikatakan wanita itu, kamu tuh orangnya galak aku aja kadang-kadang ngeri deket-deket sama kamu."
"Heleh ngeri apanya, setiap waktu kamu nempel terus sama aku," goda Joe.
"Idih najis, merinding aku dengar kata-katamu itu," ucap Aiman dan berjalan melangkah menuju lokasi pembangunan.
Sementara itu didalam toko bunga...
"Masya Alloh, laki-laki itu sungguh tampan lesung pipinya itu lho bikin aku meleleh," batin Indi dengan senyum-senyum sendiri.
"Hayo lho Kak Indi kenapa senyum-senyum sendiri," goda Novi.
"Ah enggak Nov, aku baru saja bertemu dengan laki-laki yang waktu itu alergi sama bunga yang mau numpang ke toilet," seru Indi.
"Lho Kak, itu Pemilik lahan yang disebelah yang akan dijadikan Restoran baru, dia orang Malaysia Kak," sahut Novi.
"Iyakah? pantasan saja logat bicaranya melayu ternyata mereka orang Malaysia."
"Tampan-tampan kan Kak."
"Iya Nov."
***
Sementara itu di sebuah ruko di ujung jalan tempat tinggal Indi, Azzam dan Fais sedang berbenah membereskan ruko itu. Azzam dan Fais sudah memutuskan akan menjual berbagai macam sayur-sayuran disana.
Azzam tahu kalau masyarakat ditempat tinggal Indi itu sangat susah untuk mendapatkan sayuran segar, mereka harus pergi ke pasar yang tempatnya lumayan jauh.
Ruko disana juga sangat strategis karena berada di persimpangan antara kampung Indi dengan kampung yang lainnya jadi Azzam sangat optimis kalau dia dan Fais berjualan disana akan untung.
"Wah Zam, benar kata kamu disini banyak orang yang lewat dan sangat rame pasti jualan kita laku abis," ucap Fais.
"Amin."
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, saat ini waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore waktunya Indi pulang, Novi pun dengan cepat menutup toko bunga itu dan menguncinya.
Disaat Indi berbalik untuk pulang, Alex sudah berada di depan toko dengan duduk santai diatas motornya dan melambaikan tangan sembari senyumnya yang merekah.
"Hai Indi," sapa Alex.
"Bang Alex, sudah lama disini?" tanya Indi.
"Enggak kok baru aja, yuk pulang sekarang," seru Alex dengan memberikan helm kepada Indi.
"Yuk."
Sementara itu dari kejauhan, lagi-lagi Aiman memperhatikan Indi.
"Siapa lagi dia? kok sudah ganti lagi cowoknya?" gumam Aiman.
"Wah Im, kayanya tuh cewek playgirl deh kok dalam satu hari sudah dua cowok yang berbeda yang datangi dia, mana dua-duanya pada mesra lagi," sahut Joe yang baru keluar dari area bangunan.
"Huss jangan sembarangan kalau ngomong Joe, kali aja itu saudaranya atau temannya kan kita ga tahu," jawab Aiman.
Aiman sengaja berkata seperti itu supaya Joe tidak sembarangan ngomong, padahal sebenarnya hatinya pun ikut bertanya-tanya dan penasaran juga.
***
Seperti biasa Alex melajukan motornya dengan sangat santai.
"Ndi, Abang lapar banget kita beli makanan dulu yuk nah itu disana ada nasi goreng kita beli dulu nasi goreng, mau kan?" ajak Alex.
"Boleh Bang."
Dengan senang hati, Alex pun langsung markirkan motornya didepan gerobak nasi goreng yang ada dipinggir jalan.
"Mang nasi gorengnya dua ya, dimakan disini."
"Siap Mas."
Indi dan Alex pun duduk di kursi panjang yang sudah di sediakan tukang dagang itu, Indi tidak mau menolak biarlah kali ini Indi membalas kebaikan Alex dengan menemaninya makan.
Nasi goreng pesanan Alex pun selesai, mereka makan dengan hening ada rasa canggung yang menggelayuti hati Alex.
"Ndi, hmm...besok kan hari minggu, kamu libur ga?" tanya Alex memecahkan keheningan.
"Liburlah Bang."
"Jalan-jalan yuk kemana kek," ajak Alex.
"Aduh maaf Bang, kayanya Indi ga bisa deh soalnya Keysa mau main ke rumah ga enak juga kalau harus dibatalin."
"Oh gitu ya, ya udah gapapa tapi Abang boleh kan besok ikut main ke rumah kamu?"
"Bolehlah Bang, datang aja kan biar rame."
Indi dan Alex pun kembali melanjutkan makan nasi gorengnya, hingga Alex menoleh kearah Indi dan ada nasi yang nyangkut di sudut bibir Indi.
"Maaf Indi.." Alex membersihkan sudut bibir Indi dengan jempolnya.
Indi merasa tersentak dengan perlakuan manis Alex itu, hingga akhirnya sejenak Indi dan Alex saling pandang satu sama lain. Suara deru motor yang lewat menyadarkan mereka berdua.
"Maaf Indi, tadi ada nasi dibibir kamu."
"Iya Bang."
Suasana pun berubah jadi canggung, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua sampai mereka pun menyudahi makannya dan bersiap untuk pulang.
Dipersimpangan jalan, Alex melihat sebuah ruko yang sudah lama kosong sekarang tampak berbeda, warna catnya pun sudah berubah semakin bagus dan bersih.
"Wah ternyata Rukonya sudah ada yang nempatin ya," seru Alex.
"Iya Bang, kelihatan bagus kayanya ada yang mau jualan disana," sahut Indi.
Disaat Alex dan Indi melewati ruko itu, Indi melihat Azzam yang sedang duduk didalam ruko itu.
"Bang berhenti sebentar," seru Indi dengan menepuk pundak Alex.
"Ada apa Indi?"
Alex pun menghentikan motornya dan Indi pun menghampiri ruko itu, Alex pun ikut turun dan mengikuti Indi.
"Bang Azzam," panggil Indi.
"Indi, kok kamu ada disini? lho Alex juga ada disini?"
"Indi baru pulang kerja, bareng sama Bang Alex. Bang Azzam ngapain ada disini? jangan bilang, ruko ini Bang Azzam yang sewa," tebak Indi.
"Hehehe...iya Indi," jawab Azzam dengan cengengesan khasnya.
"Kamu mau buka apa disini Zam?" tanya Alex.
"Aku mau jualan berbagai macam sayuran disini, jadi kamu Indi dan Ibu tidak harus jauh-jauh pergi ke Pasar untuk membeli sayur," ucap Azzam.
"Benarkah Bang?" tanya Indi dengan antusiasnya.
"Iyalah, kan jadi tukang sayur itu sudah menjadi cita-cita aku dari dulu Indi," jawab Azzam dengan polosnya.
Mendengar ucapan Azzam, Indi dan Alex tertawa bersamaan.
"Lho kok kalian malah ketawa sih?" tanya Azzam bingung.
"Aneh banget ada gitu ya orang yang mempunyai cita-cita jadi tukang sayur," seru Alex dengan masih terkekeh.
"Iya, Bang Azzam lucu deh, biasanya orang itu kalau cita-cita pengen jadi Dokter, Polisi, ataupun Pilot ini malah pengen jadi tukang sayur," sambung Indi.
"Hei dengerin ya, kalau untuk orang susah kaya aku mempunyai cita-cita setinggi itu merupakan hal yang mustahil, untuk menjadi orang terpandang seperti itu butuh biaya yang ga sedikit, jadi dari pada aku gila mikirin pengen jadi Dokter atau sejenisnya lebih baik aku jadi tukang sayur yang sukses, iya ga?" jelas Azzam.
"Benar juga Bang, yeyyy berarti Indi ga bakalan jauh-jauh ke Pasar dong buat beli sayur dan pastinya Indi bakalan banyak diskon dari Bang Azzam," ucap Indi dengan jingkrak-jingkrak kegirangan.
Azzam dan Alex yang melihat tingkah laku Indi yang seperti anak kecil hanya bisa tertawa, Alex dan Azzam merasa gemas dibuatnya.
"Aishh dasar si Indi, bisa aja membuat orang gemas," batin Azzam.
"Abang kapan mulai jualan sayurnya?" tanya Indi.
"Palingan hari senin Indi."
"Kalau gitu besok ke rumah Indi ya Bang, kita ngobrol-ngobrol di rumah Indi."
"Asiap, Abang pasti datang."
"Bener ya, awas kalau bohong," seru Indi.
"Iya, untuk kamu apa sih yang enggak," ucap Azzam dengan senyumannya.
"Maksud Azzam apa ngomong seperti itu? apa jangan-jangan Azzam pun menyukai Indi juga ya?" batin Alex.
"Bang pulang yuk," ajak Indi dengan menepuk pundak Alex.
"Ah iya, Zam kita pulang dulu."
"Iya Lex, hati-hati."
Alex dan Indi pun pergi meninggalkan ruko milik Azzam, Azzam hanya bisa memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
***
Malam pun tiba, di Hotel tempat Aiman tinggal, Aiman memanggil Joe untuk datang ke kamarnya.
"Ada apa Im, kamu nyuruh aku datang kesini?" tanya Joe dengan mendudukan diri di hadapan Aiman.
"Joe, untuk sementara kita harus cari tempat tinggal untuk kita, ga mungkin kan kita terus-terusan tinggal di Hotel ini apalagi sampai berbulan-bulan menunggu Restoran kita selesai dibangun," jelas Aiman.
"Terus mau kamu bagaimana sekarang?" tanya Joe.
"Besok kan hari minggu, kita cari rumah untuk kita tinggal sementara."
"Kamu maunya beli apa ngontrak?" tanya Joe kembali.
"Beli sajalah, tapi aku pengennya beli rumah didaerah perkampungan gitu soalnya kalau di kota apalagi di kota Jakarta ini terlalu bising aku ingin yang tenang dengan udara yang masih segar dan belum tercemar," seru Aiman.
"Tidak jauh dari tempat dibangunnya Restoran ada sebuah perkampungan, besok kita datang kesana kali aja disana ada rumah kosong yang mau dijual," sahut Joe.
"Ide bagus Joe, besok kita kesana. Ya sudah sekarang kamu boleh kembali ke kamar kamu," seru Aiman.
"Lho kamu ga mau tidur sama aku Im?" goda Joe.
"Idih najis banget, masa kita mau main pedang-pedangan," celetuk Aiman.
Seketika tawa Joe pecah, Joe sangat suka menggoda Aiman. Joe memang orang yang dingin dan galak tapi di hadapan Aiman dia bisa menjadi orang yang gila.
Joe pun meninggalkan kamar Aiman dengan masih tertawa geli. Aiman duduk bersandar ditempat tidurnya, pikirannya kembali teringat dengan Adiknya yang sampai saat ini belum juga ada kabarnya.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Hai..hai, ketemu lagi nih sama Author kece badai,, maaf ya Author baru bisa up lagi kemarin Authornya lagi ga enak badan, semoga kalian masih setia menenunggu kelanjutannya🙏🙏😘😘
Novel ini slow up ya, karena Novel ini sebagian merupakan kisah nyata🤗🤗
Jangan lupa
like
vote n hadiah
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya