Remaja bernama Adzli, ia seorang yatim piatu dan belum pernah merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga setidaknya sebelum dia pulang ke dunia asalnya...
Dia berada di tempat yang tak di ketahui dengan ingatan masa lalunya, harapan untuk memiliki keluarga sudah ada di tangan. Hanya saja... kebahagiaan hingga kesenangan, bahkan cintanya pada seseorang lenyap ketika hanya benang dan beberapa jarum membuat tubuhnya.
Dia hanya sebuah boneka, boneka hidup yang seakan manusia.. dan sesampainya dia mempunyai kerajaan, tak pernah dia melihat bagaimana rasanya hidup tanpa beban.
Istana yang dia miliki saat ini hanya sebuah mainan semata, tak di sangka kalau sebenarnya dia adalah sesosok monster dari perwujudan sebuah setan boneka.
Sampainya mendirikan kerajaan sekalipun, tetap saja dia selalu di datangi masalah dan pada akhirnya sampai hembusan nafas terakhirnya... dia tetap memegang tangan orang yang dia cintai.. sampai akhir...
-
pembuat masih pemula dan membutuhkan kritik saran yang membangun... :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 09
The dearcurt sword
Setelah masuk ke dalam rumah Fiana, kami duduk di sebuah kursi di samping kaca dan di depanku ada sebuah meja makan. Ada makanan yang tersaji di depan kami, Sylvia sedang melahapnya dengan rakusnya minta ampun.
Sedangkan aku hanya bingung kenapa sebelumnya aku memenangkan pertempuran sebelumnya, entah kenapa tadi begitu percaya diri sekali...
"Kenapa mukamu suram gitu ?"
"Aku hanya memikirkan soal tadi saja, maksudku... Pertarungan tadi kenapa aku menang."
"Tampaknya cara bertarungmu masih terasah dalam otakmu dan kamu mungkin mengingat sesuatu."
"Ah, kurasa mungkin begitu," kataku menerimanya dengan paksa.
Sambil tersenyum masam padanya, dia kelihatan senyum di depanku dan banyak bekas saus di pipinya. Kenapa kau saat makan seperti anak kecil ?
Walau Sylvia menganggapku hilang ingatan tapi sebenarnya tidak, kurasa dia pikir aku memang punya ilmu pedang tampaknya. Namun itu hanya pikirannya saja aku sama sekali tidak bisa menggunakan pedang, kecuali saat ini mungkin.
Sebelumnya mendengar penjelasan soal pengguna sihir tanah, mereka itu menggunakan tangannya untuk menyerang dan kebanyakan menggunakan gada ataupun senjata yang berat. Itu wajar menurutku juga, terlebih lagi badan mereka gede-gede lagi.
Salah satu tangan mereka di gunakan untuk menyimpan maupun memfokuskan energi sihir, jika tangan itu terluka maka energi akan pindah ke tangan yang satunya. Sekarang setelah berpikir agak lama aku mungkin paham, yah walau tidak sepenuhnya percaya benar.
Tangan kanan terluka energi pindah ke tangan kiri, sedangkan tangannya itu terluka dan takkan sanggup lagi melanjutkan pertarungan..., tapi ada yang masih membuatku heran...
"Kenapa sihirnya berbalik ?"
"Karena tangannya, dia itu fokus ke arah tampaknya jadi sesuai perintah pikiran pengguna sihir..."
"Lalu ?"
"Tangan kanan untuk depan sedangkan kiri sebaliknya ke belakang, jadi.. Kamu masih gak paham ?"
"Eh.. Lumayan paham."
"Entah kenapa aku pikir kamu sama sekali tidak paham kelihatan dari raut wajahmu," kata Sylvia menjawab perkataanku dengan tatapan yang fokus padaku. Bisakah kamu tak menatapku seperti itu ?
Setelah bicara kemudian dia menghembuskan nafas dan meminum teh hangat di depannya, aku sama sekali tidak meminumnya karena berwarna hitam dan aku tidak suka teh hitam. Mungkin lebih suka teh hijau, walau seperti itu di dunia ini juga katanya mahal harganya.
Beberapa saat kemudian Sylvia menguap sambil meregangkan tangan, kukira sebaiknya kamu menutup mulut saat menguap. Bagaimana nantinya kalau masuk nyamuk atau apa...
"Sylvia, kamu tidur duluan saja aku mau di sini sebentar."
"Baiklah..."
"Tapi kamarku di mana ?"
"Kita berbagi kamar, nanti tanyakan saja pada Fiana."
"Ah, baiklah kalau begitu dan selamat malam.."
"Ya selamat malam... Hoamm," ucapnya mengucapkan selamat malam.
Dia kembali lagi menguap beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dariku menuju tangga, mungkin kamar kami berada di lantai atas tampaknya. Namun ini pertama kalinya aku tidur sekamar bersama perempuan.
Menatap piring dan mangkuk kecil di hadapanku, aku merasa kalau makan malam di dunia ini begitu biasa saja karena hanya roti keras tawar dan sup saja...
Tadi sebelum makan saat Fiana menyajikan roti bukannya tadi aku langsung bertanya padanya soal nasi dan wajahnya saat itu langsung terkejut, dia mengatakan kalau nasi di sini sangat mahal dari dulu. Sedangkan aku terbiasa makan nasi, dia sekarang menganggapku bangsawan.
"Adzli, kamu kenapa melamun saat makan ? Maaf saja... Tapi hanya ini yang aku punya."
"Tidak, bukan soal makanan aku sedang berpikir kenapa aku tiba-tiba di hutan."
"Yah.. Mungkin kamu sedang bertarung lalu hilang ingatan dan kabur ke hutan, kemudian tak ingat apapun."
"Mungkin saja..."
"Tapi aku heran loh," ujarnya.
Sambil duduk di kursi bekas Sylvia, dia menatapku dengan tajam dan begitu agak sedikit seram entah kenapa. Sekarang aku menunggu dia melanjutkan perkataannya.
"Kenapa kamu tidak mencari keluargamu saja ? Ah, harusnya kamu mencari saja bukan ?"
"Sudah kubilang kalau aku yatim piatu."
"Kenapa kamu tahu itu, bukannya kamu hilang ingatan ?"
"Aku selalu merasa sendiri tahu, itu alasanku mengatakan kalau aku yatim piatu."
Menghembuskan nafas aku melanjutkan makan ku dan mengigit roti yang alot ini, rasanya seperti daging yang belum matang tapi di sajikan. Seakan aku adalah orang yang aneh, dia menatapku dengan wajah bingungnya.
Setelah menyelesaikan makanku aku mengambil piringnya dan menoleh ke belakang, aku bertanya-tanya tempat cuci piring dimana dalam hati...
"Biar aku saja yang bersihkan, kamu tidur saja..."
"Ah, iya terima-kasih..."
"Tidur sana, Sylvia mungkin sedang menunggumu."
"Tapi apa ini tak apa aku tidur sekamar dengannya ?"
"Tak apa kecuali kau memikirkan hal aneh tentang temanku," ucap Fiana dengan wajah penuh ancaman.
Sambil membawa sebuah pisau, namun yang paling aku tak suka adalah senyuman menyeringainya itu yang menjengkelkan.
Menghela nafas aku berjalan melihat kalau rumah ini bukan sekedar rumah, namun ini adalah sebuah penginapan dan kalau aku katakan rumah mana mungkin ada banyak kamar juga bukan ? Ah, kurasa besok aku harus mencari uang.
Kakiku merasa lemas setelah beberapa langkah mencari kamar yang di katakan fiana, kamar yang akan di tempati olehku itu pintunya berwarna merah muda dan ada sebuah boneka di depannya, sekali lagi aku pikirkan itu adalah tempat untuk wanita.
Kemudian setelah aku menemukannya segera aku kaget dan benar...
"Benar-benar tidak bisa di percaya,... Kenapa hanya kamar ini yang berbeda ?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku hanya menatap pintu kamarnya sudah kelihatan untuk seorang perempuan dan kurasa sebaiknya segera masuk saja. Tapi aku tak lupa mengetuk pintu.
Mengetuk pintu dengan jariku aku entah kenapa ingin melakukannya, tapi beberapa saat kemudian aku mendengar langkah kaki yang menuju arahku dari dalam tak lama pintu terbuka dan Sylvia menguap di depanku.
"Adzli, kamu lama sekali aku baru saja tidur beberapa menit saja."
"Maaf ganggu kamu.."
"Kenapa kamu tak langsung masuk saja ?"
"Aku tahu dan di ajari tata krama, tahu.."
"Oh.. Sudah lama aku tidak melihat orang sesopan kamu, andai saja semua orang seperti kamu."
Wajah Sylvia memelas dengan begitu serius, dia kelihatan sekali putus asa tak menemukan orang sepertiku dan sepertinya kebudayaan di sini agak berbeda dengan dunia asalku. Aku harus berhati-hati nantinya, takut nanti ada sesuatu yang akan menimpaku.
Membuka pintu aku masuk ke dalam melihat ruangan yang biasa saja hampir sama besarnya seperti kamarku, ranjang ada dua dan ada meja serta rak buku... Tentu dengan buku-buku ada di dalamnya, aku juga melihat ada kamar mandi.
Kamar ini bisa di katakan lengkap dan ada yang kurang yaitu, kenapa karpet di sini tak ada dan hanya ada sebuah lantai kayu saja...
"Tidur,... Aku mau melanjutkannya dan hoamm... Bangunkan aku besok, guyur kalau gak bangun," kata sylvia.
Sambil berjalan pergi menuju kasurnya, namun dia memakai baju tidur yang cukup terbuka dan itu bukan piyama tapi baju tidur begitu terbuka!
Terlebih lagi gaya tidurnya itu membuat lelaki normal tergoda akan tubuhnya, tapi sebaiknya aku melupakan hal itu karena itu sangat tidak baik untuk akal pikiranku dan kesehatan mentalku...
CEWEK CULUN BERUBAH MENJADI CEWEK CANTIK.
15 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
Izin promote thor,novel aku
Judulnya :
- Abnormal Boy
- Pendekar Rawa Belut
Terima Kasih