Namaku Anabel Putri Cahya, aku mencintai seseorang yang bernama Ferdi dian Anggara tapi sayang beribu ribu sayang, ia selalu saja cuek terhadapku. Hingga akhirnya ada seseorang yang datang, ia adalah Aldi Herdiansyah. Sejak kehadiran Aldi, aku tidak lagi merasa sedih karena setiap kali aku ingat kepada Ferdi, Aldi selalu bisa membuatku tersenyum dan lupa kepadanya. Saat hati aku sakit karena melihat Ferdi yang bermesraan dengan wanita lain. Aldi selalu menghiburku hingga aku lupa dengan rasa sakit itu dan ketika aku sudah belajar untuk melupakannya dan mencitai Aldi. Ferdi malah datang mengungkapkan perasaanya. Lalu aku harus bagaimana? Sedangkan selama ini ia selalu saja mencampakkan diriku. Salahkah jika aku memilih Ferdi? Tapi aku takut, aku takut akan menyesal dan salah pilih. Tuhan....Bantu aku.............
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Tamala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Traktiran
Jam pertama adalah pelajaran Agama, di mana yang ngajar adalah seorang ustad lulusan terbaik, dia sudah lulus S2 di usianya yang masih sangat muda dan Anabel sangat mengagumi laki lakit itu. Ingat! hanya sekedar mengagumi ya bukan suka apalgi cinta.
"Assalamua'alaikum" ucap Ustad Taufiq lalu duduk di kursi guru.
"Waalaikum salam." Jawab Anabel dan semua murid yang ada di kelas itu.
"Hari ini saya tidak akan membahas apa yang ada di LKS, saya ingin mengadakan sesi tanya jawab. Dimana kalian bisa bertanya apa aja yang belum kalian fahami." Ujar Taufiq sambil tersenyum kepada muridnya. Sungguh senyuman itu sangat menggoda. Sebenarnya Taufiq menyuruh semua muridnya untuk memanggil Pak sama seperti guru yang lainnya tapi entahlah kenapa murid murid masih tetap saja memanggil dirinya dengan sebutan Ustad.
"Tad, saya mau nanya?" Ucap Anabel.
"Iya, mau nanya apa?"
"Bagaimana agar hidup kita itu berkah tad?"
"Menjadi manusia berkah berarti manusia yang memiliki banyak kebaikan. Kebaikan dalam bentuk, banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Dan itulah prestasi manusia yang sejatinya. Menjadi hamba Allah yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain.
Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi,
“Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada.” (QS. Maryam: 31).
Beliau disebut orang yang berkah, karena beliau membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba.
Menjadi manusia berkah juga merupakan cita-cita orang tua kita semua. Hampir setiap bayi yang diaqiqahi, orang tua selalu menggantungkan harapan, “Semoga menjadi anak yang bermanfaat, bagi orang tua, masyarakat, nusa bangsa, dan agama.”
Mereka berharap, agar kita menjadi manusia penebar manfaat. Manfaat tidak hanya untuk orang tua, tapi untuk lingkungannya.
Ada seorang penulis yang mendoakan para pembaca karyanya agar menjadi manusia yang berkah di mana-mana. Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi. Dalam kitabnya, qawaidul arba’ beliau mengatakan,
Aku memohon kepada Allah yang mulia, Rab pemilik Arsy yang agung, agar Dia membimbing anda di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan anda orang yang penuh berkah dimanapun anda berada. (al-Qawaid al-Arba’).Kita tidak diminta untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, islam mengarahkan kepada kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki.
Dan bagian dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Beramal-lah, karena setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya. (HR. Bukhari 4949 & Muslim 6903)
Semua manusia diarahkan untuk beramal sesuai dengan ujung hidupnya. Orang yang mendapat kebahagiaan di ujung hidupnya, akan dimudahkan untuk melakukan amal yang mengantarkannya kepada kebahagiaan. Dan sebaliknya.
Imam Malik pernah mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannnya mengajak Imam Malik agar jangan berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam rangka banyak beribadah.
Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan pernyataan yang cukup menekan,
Sesungguhnya Allah –Ta’ala- telah membagi amal untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa. Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat. Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling afdhal.
Lalu beliau melanjutkan,
Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal yang diberika oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah ditetapkan oleh Allah. was salam… (at-Tamhid, Syarh Muwatha’, 7/185)
Kita tidak diminta agar semuanya menjadi dai. Atau menjadi orang kaya yang dermawan. Atau menjadi pejabat yang bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha memberikan manfaat sesuai potensi yang dimiliki.
Mereka yang memiliki jabatan, bisa memberikan manfaat bagi umat islam dengan jabatannya…
Mereka yang diberi kelebihan harta, bisa memberikan manfaat dengan kelebihan hartanya….
Sebagaimana mereka yang diberi pemahaman ilmu, bisa memberikan manfaat dengan ilmunya…
Sayangnya, banyak orang yang berkorban hanya untuk mengembangkan potensi yang manfaatnya tidak berlaku bagi orang lain.
Berkorban untuk merawat kecantikan, berkorban untuk semakin tampan dan menawan. Berjuang untuk menjadi hamba Allah yang sixpack. Padahal itu semua manfaatnya hanya untuk pribadinya, tidak berlaku untuk orang lain. Paling-paling yang mendapat manfaatnya hanya pasangan hidupnya, suaminya atau istrinya. Itupun bisa menjadi tidak berarti, jika tidak diiringi akhlak yang baik.
Lelaki siapapun tidak akan bahagia jika harus berdampingan dengan istri yang suka melawan dan tidak bisa menjaga lisannya. Meskipun dia cantik mandraguna. Sebagaimana wanita manapun tidak akan bisa tenang hidupnya jika suaminya sombong, kasar, atau suka main tangan. Meskipun dia tampan kw enam.
Ada juga yang memperjuangkan hobi. Dia bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk hobi… padahal manfaatnya hanya untuk kepuasan dia semata.
Ternyata semangat memberi manfaat itu keluar, ketika manusia paham agama. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal pemahaman aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama. (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526)
Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama.
Sekarang Anabel sudah faham dengan apa yang saya jelaskan tadi?"
"Iya, saya faham tad."
"Baiklah sekarang apa ada yang ingin bertanya lagi?"
"Gak ada tad." Ucap semua murid secara bersamaan.
"Jika sudah gak ada lagi pertanyaan, silahkan kalian buka LKS halaman 15. Kerjakan dari BAB 3 sampai BAB4. Jika sudah selesai silahkan kumpulkan di meja saya. Saya harus pulang lebih awal karena ada urusan penting. Ingat kerjakan sampai selesai jadi jika saya sudah keluar dari kelas ini, tidak boleh ramai apalagi mengganggu kelas yang lainnya. Faham!"
"Faham tad."
Setelah Taufiq pamit dan mengucapkan salam lalu ia keluar dan seketika kelas langsung ramai gitu aja. Banyak cowok cowok yang memperhatikan Anabel tapi Anabel cuek aja. Ia mencoba fokus untuk mengerjakan tugasnya. Barulah setelah ia selesai mengerjakannya, ia membantu Puput yang merasa kesulitan dan mencoba menjelaskan secara detail. Dan puput sangat bahagia karena di bantu oleh sahabatnya itu. Dan ketika mereka sudah sama sama selesai mengerjakan tugasnya, mereka melihat ke arah Aldi dan ternyata Aldi juga sudah selesai. Namun saat Anabel melihat kursi kosong di samping Aldi, barulah ia sadar kalau Ferdi tidak ikut pelajaran pertama. Awalnya Anabel cemas tapi perasaan itu ia buang jauh jauh karena ia gak mau lagi terjerat dengan rasa yang sangat menyakitkan ini.
Setelah bell berbunyi, semua murid murid mengumpulkan tugasnya di meja. Setelah selesai, Anabel membawa buku itu ke ruang guru dan menaruhnya di meja Taufiq. Lalu ia pun segera cabut menghampiri Aldi dan Puput yang udah ada di kantin.
Di kantin itu, ia melihat Ferdi yang lagi merenung. Anabel bisa merasakan bahwa Ferdi merasa seperti tertekan dan begitu banyak masalah. Tapi Anabel mencoba untuk gak peduli. Anabel memesan makanan bahkan ia juga mentraktir semua murid yang ada di kantin itu.
"Bel, tumben kamu mentraktir mereka semua?" tanya Puuput.
"Kenapa?" tanya balik Anabel.
"Ya gak papa. Heran aja sih." Jawab Puput.
"Aku gak masalah mentraktir mereka semua. Toh gak tiap hari juga kan, hitun hitung aku lagi bagi bagi rezeki sama mereka karena kemaren aku memenangkan tender di perusahaan."
"Owallah syukur deh. Aku ikut senang dengernya." Ucap Puput lalu ia tersenyum. Ia sangat bangga mempunyai teman seperti Anabel. Sedangkan Aldi sendiri, ia hanya menatap Anabel tanpa berkedip. Sungguh sejak tadi pagi, ia benar benar sangat terpesona dengan penampilan Anabel. Walaupun Aldi tau kalau Anabel emang cantik walaupun gak pakek make up tapi ia gak nyangka kalau Anabel akan jauh lebih cantik bahkan seperti bidadari ketika ia memakai make up. Memang sih, make up yang di gunakan Anabel sangat tipiis tapi tetap saja ia sangat cantik bahkan ia sangat yakin di sekolah ini, Anabellah yang paling cantik.
Ngapain Anabel masih mau terima Ferdy
mending JD janda
ikutin jg bukalah hatimu untukku ya...
ttp smangat.....😘