Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memet ketakutan
Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, Memet segera menginjak rem motornya agar berhenti. Dilihatnya angka mundur lampu merah itu masih 58 detik lagi menyala hijau. Ia menatap ke arah kaca spion motornya, melihat kebelakang.
“Bety, kamu tahu nggak itu apa?” kata Memet menunjuk ke arah lampu lalu lintas, membuat Bety mengikuti arah telunjuk Memet itu.
“Itu kan lampu merah,” kata Bety, merasa heran dengan pertanyaan konyol Memet.
Sudah jelas itu adalah lampu lalu lintas, kenapa juga lelaki itu bertanya hal yang tidak penting. Bety merasa bosan, ia kepanasan berada terlalu lama di bawah matahari terik itu. Kulitnya sudah memerah panas, keringat telah bercucuran di badanya. Belum lagi tempat duduk motor Memet saat ini sangat licin, membuatnya terus maju mundur, bergerak tidak nyaman di tempat duduknya.
Tidak lama datang seorang anak pengamen yang bernyanyi di samping mereka. Memet menoleh ke arah anak kecil tersebut, ia melihat anak itu bernyanyi dengan polosnya. Sejenak terbesit ide kecil untuk menghibur Bety yang tampak kurang mood di belakang.
“Dek, mau duit nggak?” kata Memet ke anak kecil itu, lalu dibalas senyum ceria oleh anak itu.
“Mau kak.”
“Tapi ada syaratnya,” kata Memet sambil melirik Bety dari kaca spionnya.
“Apa syaratnya, kak?” kata anak itu mendekat.
“Kamu jawab pertanyaan kakak ya?”
“Iya kak!” jawab anak itu dengan wajah antusias.
“Kakak cocok nggak sama dia?” tanya Memet seraya menunjuk ke arah Bety yang berada tepat di belakangnya, sedangkan Bety hanya memutar bola matanya malas.
“Cocok sekali kak. Seperti pasangan suami-istri!” kata anak kecil itu dengan penuh semangat, sambil mengacungkan jempol.
Dengan tertawa senang Memet merogoh sakunya, lalu memberikan selembaran uang lima puluh ribu kepada anak itu.
“Doakan kakak ya, semoga beneran jadi suami dia,” kata Memet, setelah itu lampu hijau menyala.
Memet pun melajukan motornya kencang, membuat Bety terkejut dan langsung memeluk pinggangnya erat.
“Kamu dengar kan omongan anak tadi?” kata Memet sambil tertawa bahagia, tetapi Bety hanya diam saja.
“Kita cocok! Kamu setuju nggak? Kalau aku sih setuju sekali sama pendapat anak itu,” kata Memet sambil menggosok lutut Bety dari samping.
“Anak itu bohong. Dia tadi kedipin mata ke aku!” kata Bety datar.
“Kamu yang bohong, bukan anak itu,” kata Memet menoleh ke belakang dan langsung mencium pipi Bety sekilas.
Degh!
Jantung Bety ingin copot saat itu juga. Ia merasa sangat terkejut dengan aksi cium pipi Memet yang secara tiba-tiba, dan keadaan mereka masih di jalan raya, di atas motor pula.
“Tadi aku pengen sekali mencium kamu saat di rumah. Tetapi kita sudah diburu waktu untuk pergi. Nah, barusan aku sudah mencium kamu, jadi aku sudah merasa lega!” kata Memet santai, sedangkan Bety masih dilanda rasa debar-debar tak karuan.
Memet terus memperhatikan wajah Bety melalui kaca spion motornya, dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia memiliki Bety. Meskipun perempuan itu terkadang bersikap dingin dan tak mengacuhkannya, tetapi Memet yakin kalau Bety orang yang baik dan tulus kepadanya. Contoh kecilnya pada saat tadi, Bety membuat masakan untuknya ketika hendak pergi.
Memet terus saja tersenyum hingga membuat Bety merasa bingung, melihat lelaki itu yang tampak jelas dari kaca spion dari belakang.
“Kamu kenapa?” tanya Bety yang masih menatap pada kaca spion motor.
“Nggak apa-apa, aku cuma pengen cepat-cepat menikah sama kamu!” seru Memet senang, seraya menoleh ke belakang.
Bety terkejut, namun ia buru-buru menyembunyikan ekspresi wajahnya. Hingga mereka tiba di mall, tempat tujuan kencan pertama mereka.
Memet terus berjalan dengan langkah agak cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Bety, yang berjalan terlebih dulu darinya.
“Bety, tungguin aku dong. Nanti kalau aku hilang gimana? Mall ini kan luas,” kata Memet yang sudah berada tepat di samping perempuan itu.
“Kamu bukan anak kecil lagi, yang mesti harus aku gandeng!” kata Bety dengan ekspresi datar.
Kemudian Bety berjalan ke depan pintu lift dan menekan tombol lift agar terbuka. Saat pintu lift terbuka mereka berdua masuk. Di dalam itu ada dua orang ibu-ibu yang kebetulan ingin ke lantai yang sama. Tujuan keduanya adalah ke bioskop yang berada di lantai 5. Baru di lantai 4, ibu-ibu tadi keluar, dan hanya mereka berdua di dalam lift itu.
Memet berdehem seraya bergeser, agar lebih dekat berdiri di samping Bety.
“Kita nonton film apa?” kata Memet, namun Bety hanya diam.
“Kenapa kamu diam saja? Ngomong dong, kalau pengen kamu apa. Dari tadi kamu banyak diamnya, apa kamu tidak kangen sama aku?” kata Memet berusaha mengajak Bety mengobrol.
“Terserah. Aku suka semua film,” kata Bety yang akhirnya bersuara.
Memet tersenyum, “ Oh ya. Aku kira kamu lebih suka nonton drama romantis begitu,” kata Memet berusaha mendekat untuk mencium pipi Bety.
Namun ketika bibirnya hendak mendekat ke pipi Bety, pintu lift terbuka, dan Bety langsung keluar meninggalkan Memet di belakangnya.
Memet berdecak kesal.
“Bukanya ditungguin pacarnya, tapi malah ditinggal. Dasar cewek aneh! Awas saja kalau kamu takut dalam bioskop nanti, aku bakal cuekin benaran baru nyahok loh!” kata Memet sebal.
Kebetulan saat itu jam tayang yang paling cepat adalah film horror, dan mereka berdua memilih untuk menonton film itu. Mereka berdua memilih tempat duduk yang berada di barisan nomor tiga di tengah-tengah.
Penonton yang menonton film itu tidak terlalu banyak, jadi mereka lebih nyaman dengan kondisi yang agak sepi. Setelah menunggu sepuluh menit, film tersebut mulai diputar. Suasana menjadi hening, lampu telah dimatikan.
“Bety, nanti kalau kamu takut, kamu peluk aku saja ya. Jangan malu-malu,” kata Memet, namun perempuan itu hanya diam tanpa menanggapi ucapannya.
Setelah setengah jam film itu diputar. Suasana berubah menjadi mencekam. Bety melirik sekilas wajah Memet yang berada di sebelahnya, lelaki itu tampak tegang. Sedangkan dirinya biasa-biasa saja.
Tiba-tiba Memet meremas tangannya di saat hantu dalam film tersebut muncul. Tangan lelaki itu berkeringat dingin. Bety melihat wajah itu seperti ketakutan, namun berusaha tetap kuat dan berani.
“Bety, kamu takut nggak?” tanya Memet gemetaran.
“Nggak!” sahut Bety.
“Aku kayaknya takut, Bety,” kata Memet bersusah payah memberanikan diri mengatakan dia sudah tak kuat lagi melanjutkan menonton.
“Siapa suruh tadi kamu pilih film ini. Aku kan tidak memaksa, kamu saja yang ngeyel pengen nonton,” kata Bety cuek tak peduli.
Ketika ada adengan hantu yang tiba-tiba muncul dengan suara musik keras mengagetkan, Memet reflex memeluk lengan Bety dengan erat. Ia sangat terkejut di saat yang bersamaan munculnya kepala hantu tepat di depan layar. Namun Bety berusaha melepaskan pelukan tangan itu darinya.
“Jangan dilepas dulu Bety. Aku beneran takut! Kamu bukannya berusaha nyenengin, tapi malah menjauhiku,” kata Memet yang masih memeluk lengan Bety kuat.
Bety benar-benar jengkel dan merasa tidak nyaman. Ia merasa situasi saat ini terbalik. Harusnya perempuan yang takut dan memeluk cowoknya, tetapi malah sebaliknya. Ia merasa Memet telah gagal jadi lelaki kuat yang akan melindunginya kelak, melihat lelaki itu yang sangat penakut dengan tonton yang tidak nyata itu.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai