NovelToon NovelToon
Pernikahan Di Atas Luka

Pernikahan Di Atas Luka

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:329.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sity Qhomariah

Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.

Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Luna? Lama banget buang sampahnya?” tegur Ibu. Ibu terkejut melihat Luna bersama laki-laki. Namun ia merasa familiar dengan laki-laki itu.

“Kamu? Kamu anaknya Mirna, ya?” tanya Ibu.

“Iya, Tante Soffi. Saya Alfandra anak pertamanya.” Alfandra membungkuk dengan sopan.

“Astagfirullah! Ibu baru ingat, Lun! Ini teman kecil kamu loh. Ya ampun kamu udah besar ya,” Ibu menepuk-nepuk bahu Alfandra yang tersenyum canggung.

“Ah Luna sekarang ingat! Kakak Fandra!” tebak Luna sambil menunjuk. Alfandra tersenyum lebar, lega karena Luna telah mengingatnya.

“Mari sini main ke rumah, udah lama gak jumpa. Mana adik kamu?” tanya Ibu. Luna ikut antusias mendengar jawaban Fandra di sebelah Ibunya.

“Adit ada di rumah, Tante.”

“Adit? Aku kok gak merasa kenal Adit ya, Bu?” kata Luna sambil berusaha mengingat.

“Hahah, anak nakal emang susah di ingat, Lun,” canda Fandra. Ibu tertawa mendengarnya.

“Kapan-kapan main ya ke rumah? Ajak sekalian Mama kamu dan adik kamu,” kata Ibu.

“Siap, Tante.”

Ibu dan Luna kembali masuk ke dalam rumah. Luna masih setengah ingat dengan Alfandra namun bayangan-bayangan masa lalu terlintas satu persatu di kepalanya. Luna berlari menuju kamar, membuka lemari untuk mencari-cari sesuatu yang bisa mengingatkannya pada masa kecil. Luna menemukan sebuah kotak kusam dari bawah ranjang tidurnya. Ia meniup debu yang menempel kemudian membukanya. Ia terbelalak melihat isinya. Kotak itu berisi foto-foto kecil Luna bersama kedua teman lelakinya. Namun dari foto itu terlihat ia lebih dekat dengan salah satu dari kedua temannya.

“Jadi aku dulu lebih dekat sama Kak Fandra dibanding Adit?” gumamnya.

“Iya sih, mukanya Adit aja judes gitu di foto. Pasti dia sering jahatin aku,” katanya sambil tertawa. Mata Luna terhenti di salah satu kertas yang terlipat. Terlihat kusam dan kusut karena sudah disimpan selama bertahun-tahun. Luna membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

“Hah?!” Luna terkejut melihat isinya.

“Aku menyukai Luna Amaris Erlangga” itu lah isi dari kertas lusuh yang ditemukan Luna di dalam kotak. Ia tidak tahu siapa yang menulis karena tulisan itu tidak diberi nama pengirim. Yang jelas, penulis itu adalah salah satu dari kedua teman Luna.

“Aku kok jadi penasaran, siapa ya yang nulis surat tak bernama ini?” batin Luna.

Sore ini, Ibu dan Ayah mengajak Luna untuk berkunjung ke rumah Mirna. Ayah dan Ibu menjelaskan bahwa mereka sudah lama tidak bertemu. Dulu mereka adalah tetangga yang sangat akrab dan ramah. Namun setelah anak-anaknya lulus SD, Mirna pindah ke Kalimantan untuk menjalankan bisnisnya. Suaminya sudah lama meninggal. Mereka juga tidak tahu jika Mirna sudah kembali lagi ke Bandung bersama kedua anaknya.

“Assalamualikum?” sapa Ibu didepan pintu rumah Mirna. Terdengar suara menjawab salam dan pintu pun terbuka. Ibu dan wanita itu saling menjerit. Lalu berpelukan. Ayah dan Luna hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya ampun udah lama loh, Sof! Kamu makin cantik aja,”

“Ah kamu dari dulu suka banget muji aku. Kamu salah, yang makin cantik itu Luna bukan aku.” Kata Ibu.

“Oh iya! Luna?! Kamu udah gadis dan makin cantik aja loh!” Mirna memeluk Luna.

“Hehe makasih Tante, tante lebih cantik.” Puji Luna.

“Ya sudah mari masuk, Adit sama Fandra ada di dalam,” kata Mirna. Mereka pun memasuki rumah itu.

“Dit, Fan, salam sama Tante Soffi dan Om Erlangga.” Mirna menyuruh anak-anaknya yang sedang menonton TV. Mereka terkejut kedatangan tamu yang tidak terduga. Lebih terkejut lagi karena melihat Luna. Mereka bersalaman kepada Ayah dan Ibu Luna. Mereka duduk bersama untuk mengobrol.

“Jadi sejak kapan kamu pindah lagi kesini, Mir?” tanya Ibu.

“Baru satu minggu, Sof. Soalnya bisnis aku yang di Kalimantan udah punya cabang di Bandung jadi aku lebih milih memegang bisnis yang di sini makanya aku balik lagi,” tutur Mirna. Sementara Ayah, Ibu dan Tante Mirna bercakap-cakap, Luna sibuk memainkan ponsel karena sedang chattingan dengan Gandhi. Aditya tidak berhenti menatap Luna. Ada sedikit rasa kagum di hatinya. Alfandra juga tak kalah untuk memperhatikan Luna.

“Dit, Fan, kalian ajak Luna ngobrol di ruang depan.” Perintah Mirna pada anak-anaknya. Mereka menurut meski sedikit canggung.

Alfandra, Aditya dan Luna sudah berada di ruang depan. Mereka duduk tanpa suara. Sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mengusir kecanggungan.

“Lun, apa kegiatan kamu sekarang?” Fandra berusaha mencairkan suasana.

“Aku kuliah, Kak. Di Jakarta.” Jawab Luna.

“Jauh ya. Jadi sekarang kamu lagi liburan?”

“Iya, Kak. Kakak sendiri gimana?” Luna mencoba akrab.

“Kuliah juga. Di Bandung. Satu kampus sama Adit.” Fandra melirik Adit yang sibuk bermain game di ponsel. Luna tersenyum simpul.

“Aku sebentar lagi selesai sih, Lun.” Kata Fandra yang menjelaskan tanpa ditanya. Luna hanya manggut-manggut. Ia merasa sangat canggung apalagi melihat Aditya yang tidak menyapanya sama sekali.

“Kakak, kita dulu sedekat apa sih?”

“Dekat banget. Sering main bareng, berantem bareng, nangis bareng, tapi lebih sering kamu yang nangis, Lun. Karena Adit selalu jahilin kamu.” Fandra dan Luna tertawa. Adit hanya terdiam meski namanya selalu di sebut-sebut.

“Oh ya, Kak. Kita dulu pernah main surat-suratan gak sih?” Mendengar pertanyaan Luna, Adit sedikit terkejut. Ia reflek menatap Luna namun ia segera membuang wajahnya.

“Kenapa, Lun?” tanya Fandra.

“Gak apa-apa kak. Aku kayak pernah dapat surat gitu tapi gak tau dari siapa.”

“Emang apa isinya?” Luna terdiam. Fandra semakin penasaran namun ia tidak memaksa Luna. Adit sibuk bermain ponsel lebih tepatnya menyibukkan diri.

Setelah Luna dan keluarganya pulang, Adit segera masuk kamar. Ia mencari-cari sesuatu di kamarnya. Ia pun menemukan sebuah kotak kecil di dalam laci mejanya. Di dalamnya terdapat foto kecil mereka dan sebuah kalung berbentuk hati yang talinya putus. Ia menggenggam kalung itu sambil memejamkan mata.

“Luna benci Adit! Adit jahat sama Luna! Huhuuuuhuuuhuuu! Kakak Fandra lebih baik dari Adit, Luna benci Adit!!” seorang anak kecil menangis sambil meneriakinya. Anak perempuan itu berlari meninggalkannya. Adit memegang sebuah kalung yang patah milik anak perempuan tadi. Ia yang sudah mendorong anak perempuan itu dan kalung yang di pakainya tersangkut di tangan Adit. Membuat leher anak itu terasa sakit dan menangis.

Adit membuka matanya. Sekelabatan bayangan masa lalu telah membuatnya teringat. Luna, anak perempuan yang selalu ia buat menangis. Dan terakhir kali Adit bertemu dengannya adalah saat Adit mendorong Luna sampai kalung yang dipakai Luna putus karena tersangkut tangannya. Semenjak itu Luna tidak mau bertemu dengan Adit. Ia hanya mau bermain dengan kakaknya, Fandra. Hingga akhirnya mereka harus pindah ke Kalimantan.

Kini mereka kembali bertemu. Luna telah menjelma menjadi gadis dewasa yang berparas cantik. Adit mengagumi perubahan Luna namun ia tidak berani menyapa Luna karena ia memiliki rasa bersalah terhadap Luna.

1
echa purin
👍🏻
Putri Anggel
di dalam cinta ad kesabaran dan dalam kesabaran ad cinta tapi ketika hati sudah di kecewa kn maka jangan pernah percaya lagi ap kata lelaki buaya
Indah Kustiyarini
pasti anaknya adit
emi arpina
maaf y thor tapi utk mentari stop dulu bacanya masi greget ada org lemah gini
Aryani Dinda
tiap percakapan dispasi dong Thor seperti paragraf baru. jd lebih enak bacanya
Aryani Dinda
di bikin jarak dong Thor tulisannya
Rose Smith
sudah berbohong
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
Rose Smith
hamile cuma seminggu trus brojol ?
Rose Smith
pemeran utamanya malah antagonis ini mah
udah gag suci
gag tau malu pula
RN
l
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Mami Vanya Kaban
akhir yg bahagia...
Ida Blado
cihh tadinya aq mau baca, tpi setelah baca sinopsis bagian bawahnya,,, amit2 dah, di awal aq rada empat tpi ternyata dia bertingkah seperti pelacur. maaf ya aq komen jht,tp aq sbg perempuan sungguh ilfeel
Jeni Safitri
Itukan derita mu luna siapa suruh ngk jujur sama ortu bahkan sama adith bukankah adit sudah tau keadaanmu dan siapa gandhi. Seharusnya kamu jujur aja dan minta tolong sama dia dgn baik2 pasti dia akan bantu.
Jeni Safitri
Kenapa luna ngk junir aja ya
CallMeLyla
aku gereget mentari nya lemahh😂😂
vanillarose
Baca novel terbaru author bertema pelakor, judulnya Imperfect Marriage. Dijamin menguras emosi. Thanks :)
Ara
si luna hamil anaknya gandhi pasti, karena kan luna baru bbrp hari berhubungan sm adit
mega keyna
mkanya sy bilang perempuan ngk pnya harga diri,kd erosi aku baca kisahnya luna,ada perempuan yg kayak gni
mega keyna
aku perempuan tp ko ngrasa jd sakit hati sm luna,ngk punya harga diri,gampang banget mainin perasaan hati,ngapain msh mau brtu dgn gandi kan udh tau ada magsudnya,bodoh banget kan,,,
mega keyna
udh tau gandi jahat,luna jg bidoh,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!