Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009: Rahasia Kecil
Malam itu, Bayu tidak bisa tidur.
Ia duduk di ruang belakang dengan buku matematika terbuka, tetapi matanya terus melirik tas plastik putih di bawah meja. Jarum perak, alkohol medis, gulungan kasa, botol kecil berisi obat berbau pahit. Semua itu nyata. Sama nyatanya dengan pria mahal di Grand Megawan Arcade yang mengenal Keira.
"Mbak."
Keira sedang membersihkan salah satu jarum dengan gerakan teliti. "Hm?"
"Kamu benar-benar menolong keponakan orang kaya itu?"
"Iya."
"Hampir mati?"
"Lumayan."
Bayu menelan ludah. "Kok Mbak bisa?"
Keira menatap ujung jarum yang berkilat di bawah lampu redup. "Pernah belajar."
"Di mana?"
"Tempat yang buruk."
Jawaban itu membuat Bayu berhenti bertanya.
Ada nada dalam suara Keira yang tidak mengundang rasa penasaran, melainkan membuat orang sadar bahwa setiap pertanyaan mungkin menyentuh luka yang belum kering.
Keira memeriksa kaki Bayu malam itu. Ia tidak langsung menusukkan jarum. Tubuh Bayu belum siap, alatnya belum lengkap, dan ia perlu memastikan titik saraf yang bermasalah. Ia hanya menekan beberapa bagian, membuat Bayu meringis sambil menggigit bantal.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kamu buruk sekali kalau berbohong."
Bayu tertawa pelan, lalu wajahnya berubah serius. "Kalau nanti sakit, aku tahan. Asal bisa jalan normal."
Keira menatapnya sebentar. "Bisa."
Satu kata.
Bayu menggenggam ujung selimut. Tidak ada dokter BPJS yang pernah berkata begitu. Mereka selalu berkata tunggu rujukan, lihat nanti, jangan berharap terlalu banyak.
Setelah Bayu tidur, Keira membuka laptop tua milik keluarga. Layarnya retak di sudut, kipasnya berisik, tetapi untuk masuk ke jaringan lama miliknya, benda itu cukup.
Sebelum menyalakannya, ia menumpuk dua buku di dekat pintu sekat. Jika ada yang masuk, buku itu akan jatuh lebih dulu. Kebiasaan lama. Di Shadow, tidur tanpa alarm sederhana adalah cara paling cepat mati. Di rumah Prasetyo, musuhnya hanya Bu Sri yang suka menggeledah, tetapi tubuh Keira belum bisa membedakan ancaman kecil dan besar.
Ia menutup kamera dengan plester, memasang jaringan berlapis, lalu mengetik baris perintah.
Ruang sempit itu berubah menjadi pintu kecil menuju dunia lain.
Di layar hitam, satu tanda muncul.
X.
Beberapa server lama merespons. Akun beku terbuka. Dompet kripto tersegel berkedip. Pesan-pesan terenkripsi menumpuk seperti mayat yang belum dikubur.
Keira memilih pekerjaan legal dari perusahaan keamanan kecil di Singapura. Audit sistem. Celah pembayaran. Bayarannya cukup untuk alat Bayu tanpa menarik perhatian berlebihan.
Jari tubuh ini belum secepat dulu, tetapi otaknya masih sama.
Dua puluh menit.
Sistem selesai diperbaiki.
Transfer masuk ke rekening cadangan.
Di pintu sekat, Bayu terbangun dan melihat cahaya layar. Ia tidak bicara. Hanya menatap punggung Keira yang duduk diam di depan laptop tua, seperti orang yang sedang membuka kunci dunia.
Keira tahu ia bangun.
"Tidur."
Bayu tersentak. "Aku cuma mau minum."
"Gelas di kiri."
"Mbak..."
"Besok sekolah."
Bayu mengambil gelas, tetapi sebelum kembali tidur ia berkata pelan, "Aku nggak akan tanya kalau Mbak belum mau cerita."
Keira berhenti mengetik sepersekian detik.
"Bagus."
Bayu kembali ke kasur, tetapi ia tidak langsung tidur. Ia mendengar suara keyboard yang tidak teratur seperti orang mengetik tugas sekolah. Kadang cepat sekali, kadang berhenti lama. Ia ingin tahu. Sangat ingin. Namun malam itu ia memilih menutup mata.
Mungkin semua orang pernah punya rahasia.
Bedanya, rahasia Keira terasa seperti ruangan besar yang pintunya baru terbuka sedikit.
Besoknya di sekolah, perubahan kecil mulai terlihat.
Keira masih gemuk, tetapi wajahnya tidak lagi sembap seperti dulu. Ia berjalan lebih stabil. Matanya lebih hidup. Beberapa siswa mulai berbisik bukan dengan tawa, melainkan rasa ingin tahu.
Laras memperhatikan itu dari belakang kelas.
Ia tidak suka.
Malamnya, Instagram Story Laras muncul di ponsel beberapa teman.
Ada orang baru sadar penampilan setelah viral sedikit. Semoga bukan cuma pencitraan.
Di bawahnya ada foto cermin yang memperlihatkan sepatu baru dan tas branded kecil, cukup jelas untuk membuat orang tahu siapa yang sedang dibandingkan.
Bayu melihat story itu saat hendak mengerjakan tugas. Tangannya mengepal. Ia hampir membalas, tetapi teringat kata Keira.
Simpan bukti.
Maka ia screenshot.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia memasukkan semuanya ke folder tersembunyi di ponselnya dengan nama yang terlalu polos: Materi Matematika.
Saat Keira melihat folder itu, ia tidak memuji panjang.
"Bagus."
Bayu tersenyum kecil. Satu kata dari Keira kadang terasa lebih hangat daripada ceramah orang dewasa satu rumah.
Sejak hari itu, ia mulai menyimpan semua hal kecil. Story Laras, komentar teman, foto papan tulis, bahkan pesan grup yang menyebut nama Keira dengan nada merendahkan. Ia belum tahu gunanya untuk apa. Ia hanya tahu Keira tidak pernah meminta sesuatu tanpa alasan.
Untuk pertama kalinya, Bayu merasa ia bisa membantu, bukan cuma dilindungi.
Perasaan itu kecil, tetapi cukup membuatnya tidur lebih tenang malam itu.
Di ruang belakang, Keira menerima notifikasi lain.
Bukan dari aplikasi bank. Bukan dari pekerjaan legal. Bukan dari sekolah.
Sebuah pesan terenkripsi masuk melalui jalur lama yang seharusnya hanya diketahui segelintir orang.
Isinya pendek.
Kalau kau benar-benar mati, setidaknya balas satu kali dari neraka.
Di bawah kalimat itu ada tanda tangan digital yang membuat udara di sekitar Keira terasa turun beberapa derajat.
Yves Marchand.