NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempurung emas

Suara rintik hujan sisa sore tadi masih terdengar memukul kaca jendela ruang makan, menciptakan irama monoton yang menemani denting sendok perak di atas piring porselen.

 Agnesa duduk tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi jati yang diukir halus. 

Di depannya, sepotong salmon panggang dengan hiasan asparagus masih utuh, hanya terbelah sedikit di bagian pinggir. 

Jam dinding kayu di lorong berbunyi berat. 

Tung... tung... 

Menandakan waktu hampir menyentuh pukul delapan malam.

​"Agnes, kenapa makanannya cuma diaduk?" suara ibunya memecah kesunyian. 

Sang ibu meletakkan garpunya dengan bunyi ting yang tajam.

​"Hanya belum terlalu lapar, Ma," jawab Agnesa pelan.

​"Tadi sore kehujanan? Mama lihat rambutmu agak lepek pas masuk rumah," ayahnya menyahut dari balik koran bisnis yang meski sudah malam masih setia dipegangnya. 

Srek. Srek. Suara kertas koran yang dibalik.

Cahaya lampu gantung kristal di atas meja makan memantulkan bayangan yang sangat tajam di atas taplak meja linen putih. 

Ruangan ini terlalu luas untuk tiga orang. 

Di sudut ruangan, sebuah vas bunga berisi lily putih mulai layu di ujung kelopaknya, menjatuhkan satu helai mahkota ke atas meja marmer di bawahnya. 

Bau balsem pembersih kayu dan aroma mentega dari dapur bercampur, menciptakan atmosfer yang steril namun menyesakkan.

​"Sedikit, Pa. Di selasar sekolah."

​"Sudah Mama bilang, jangan malas bawa payung. Kalau sakit, jadwal bimbelmu berantakan. Mana formulirnya? Papa mau lihat sekarang," ayahnya melipat koran, meletakkannya di samping piring yang sudah bersih.

​Agnesa tidak segera bergerak. Ia menatap piringnya. 

Jempol kanannya yang ditempeli plester kelinci berkedut pelan. Ia menyembunyikan tangan itu di bawah meja, meremas ujung rok rumahannya yang berbahan satin.

​"Agnes? Formulirnya," ulang ayahnya dengan nada yang lebih berat.

​Agnesa bangkit. 

Sret.

 Kursinya bergeser di atas lantai marmer. Ia berjalan menuju tas sekolahnya yang diletakkan di kursi ruang tengah.

 Ia mengambil map plastik biru itu. Map itu masih sedikit lembap di bagian luarnya. Ia mengeluarkan formulir Oxford itu.

Saat berjalan kembali ke meja makan, Agnesa berhenti di depan sebuah foto keluarga di dinding. 

Ia melihat bingkai emas foto itu sedikit miring—hanya beberapa milimeter. Ia menggunakan jari kirinya untuk menggeser bingkai itu, mengembalikannya ke posisi presisi. 

Ia melakukannya dengan sangat lambat, menahan napas sampai sudut bingkai benar-benar sejajar dengan garis cat dinding.

​Ia meletakkan formulir itu di depan ayahnya. Ayahnya mengambil pulpen dari saku kemeja.

 Tek. Bunyi ujung pulpen yang ditekan.

​"Besok pagi serahkan ke bagian tata usaha. Pastikan mereka mengirimnya lewat kurir prioritas," kata ayahnya sambil mulai membaca poin demi poin di kertas itu.

​"Pa," suara Agnesa keluar sedikit serak.

​"Hm?"

​"Bagaimana kalau baksos besok... butuh waktu sampai sore? Saya mungkin pulang terlambat."

​Ibunya mendongak dari ponselnya. "Kan sudah ada anak-anak buah si Naren itu? Biar mereka yang angkat-angkat barang. Kamu hanya perlu mengawasi sebentar, lalu pulang. Belajar untuk tes masuk itu lebih krusial daripada membagikan mi instan."

​Agnesa duduk kembali. Ia melihat jempolnya yang tersembunyi di bawah meja.

Tiba-tiba Agnesa merasakan suhu di ruang makan itu naik beberapa derajat. 

Dadanya terasa penuh, seolah-olah oksigen di ruangan itu tidak cukup untuk paru-parunya.

 Ia merasakan permukaan plester kelinci di jempolnya—plastik tipis yang kaku itu kini terasa seperti benda asing yang sangat panas, memicu denyutan di ujung sarafnya.

 Ia menelan ludah, tapi kerongkongannya terasa seperti tersumbat gumpalan kapas.

​"Tapi saya ketuanya, Ma. Tidak enak kalau cuma datang sebentar."

​"Agnes, bedakan antara tanggung jawab dan membuang waktu," ayahnya menyela tanpa menoleh dari formulir. 

"Naren itu... dia anak yang ibunya menikah lagi dengan pengusaha tekstil dari Solo itu, kan? Yang bermasalah?"

​Agnesa terdiam. "Saya tidak tahu detail keluarganya, Pa."

​"Jangan bohong. Kamu ketua OSIS, semua data siswa ada di tanganmu. Papa cuma tidak mau kamu terpengaruh lingkungan yang tidak produktif. Ingat, kamu dikirim ke Oxford bukan untuk jadi aktivis panti asuhan. Kamu di sana untuk ambil PPE (Philosophy, Politics and Economics). Masa depan keluarga ada di pundakmu."

​Sret. 

Ayahnya menandatangani formulir itu dengan goresan yang sangat tegas. Tanda tangan yang menutup kolom harapan Agnesa.

​"Selesai. Mandi sana, lalu tidur. Besok jangan sampai telat."

​"Iya, Pa."

​Agnesa mengambil kembali formulir itu. Ia melihat tanda tangan ayahnya—tinta hitam yang masih sedikit basah, berbau kimia yang tajam. Ia membawa kertas itu ke kamarnya di lantai dua.

Kamar Agnesa adalah cerminan dari keteraturan yang mencekam. Buku-buku disusun berdasarkan warna punggung bukunya di rak tinggi.

 Meja belajarnya kosong dari benda-benda tidak penting; hanya ada laptop, lampu meja, dan satu kotak alat tulis. 

Di luar, suara petir terdengar jauh di balik bukit. Grumm... 

Cahaya lampu meja yang kekuningan menciptakan bayangan panjang dari tumpukan buku kalkulus di sudut.

​Agnesa duduk di kursi belajarnya. Ia menaruh formulir itu di atas meja. 

Di sampingnya, kotak susu cokelat kosong yang ia habiskan tadi pagi masih berdiri di sana—ia lupa membuangnya. Ia melihat kotak itu, lalu melihat plester kelinci di jempolnya.

Ia teringat waktu kecil, dia pernah ingin memelihara kura-kura. Temannya punya kura-kura kecil di dalam akuarium plastik.

 Ia memohon pada ibunya, tapi ibunya bilang kura-kura itu kotor dan lambat, tidak mencerminkan kecerdasan. Ibunya malah membelikannya ensiklopedia hewan laut yang tebal dan berat. 

Ia membaca tentang kura-kura di buku itu, menghafal anatominya, tapi ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya menyentuh tempurung yang keras atau melihat hewan itu merangkak lambat di atas ubin. 

Kadang, ia merasa dirinya adalah kura-kura itu—tempurungnya adalah ekspektasi keluarganya, dan dia hanya bisa melihat dunia luar lewat lubang kecil yang sempit.

​"Oxford..." gumamnya. Kata itu terdengar seperti nama penjara yang sangat mewah di telinganya.

​Ia merogoh saku roknya, mencari ponsel. Tidak ada pesan baru di WhatsApp. Ia membuka kontak, menggulir hingga ke bawah. Nama 'Naren' ada di sana, tanpa foto profil. Ia hanya menyimpan nomor itu untuk urusan koordinasi logistik.

​Ia ingin mengetik sesuatu. Jari-jarinya sudah menari di atas layar.

Naren, formulirnya sudah ditandatangani.

Hapus.

Naren, besok jangan pakai kemeja yang basah lagi.

Hapus.

"Toh dia tidak akan peduli," katanya pada udara kosong. Ia meletakkan ponselnya terlalu keras di atas meja. 

Brak. 

Ponsel itu bergeser menabrak kotak susu cokelatnya hingga kotak itu jatuh ke lantai. Agnesa tidak segera memungutnya. 

Ia hanya menatap kotak kosong itu yang kini tergeletak di atas karpet bulu putihnya.

​Ia berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia melihat dirinya sendiri. 

Rambut yang masih terikat rapi, wajah yang tampak lelah, dan plester kelinci pink yang sangat kontras dengan kemeja rumahannya yang elegan.

​Ia mulai melepas ikat rambutnya.

 Srut. 

Rambut hitam panjangnya terurai berantakan di bahu. 

Agnesa menggelengkan kepalanya, membiarkan rambut itu menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak suka tampil berantakan, tapi malam ini, di dalam kamarnya sendiri, ia merasa butuh sedikit kekacauan.

​Ia menyentuh plester kelinci itu.

Agnesa memegang ujung plester itu. Ia sudah akan menariknya untuk membuangnya—karena secara teknis luka lecetnya sudah kering. 

Namun, ia berhenti. Jarinya hanya menahan ujung plastik itu, sedikit menariknya hingga kulitnya tertarik, lalu ia menempelkannya kembali dengan kuat. 

Ia mengulanginya dua kali. Menarik sedikit, menempelkan kembali. Ia menatap pantulannya di cermin dengan bibir yang terkatup rapat.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. 

Bzzzt. Bzzzt.

​Agnesa berbalik dengan cepat, hampir tersandung kotak susu di lantai. Ia menyambar ponselnya. Ada satu notifikasi dari nomor yang baru saja ia perhatikan.

​Naren: Besok jaket gue udah kering. Nggak usah bawa payung ekstra buat gue.

​Agnesa tertegun. Bagaimana Naren tahu kalau dia baru saja memikirkan tentang payung? Tidak, Naren pasti hanya berasumsi karena Agnesa orang yang selalu sedia payung sebelum hujan.

​Agnesa: Bagus kalau begitu. Pastikan kamu sudah di gerbang jam 07:50. Saya tidak mau menunggu.

​Naren: Iya, Bu Ketua. Tidur sana. Jangan belajar kalkulus terus. Otak lo bukan kalkulator.

​Agnesa menatap pesan terakhir itu. Ia tidak membalas lagi, tapi ia juga tidak meletakkan ponselnya. 

Ia memegang benda persegi itu di dadanya, merasakan sisa getaran pesan yang masuk tadi.

Agnesa berjalan menuju jendela, menyibak sedikit gorden beludru beratnya. 

Di bawah lampu jalan di depan rumahnya, ia melihat genangan air yang tenang. Ia tidak kembali ke meja belajar untuk mengerjakan latihan soal Oxford. 

Sebaliknya, ia mematikan lampu kamar, membiarkan ruangan itu hanya diterangi cahaya bulan yang redup dari balik awan.

 Ia merangkak ke atas tempat tidurnya yang luas, masih dengan seragam rumahannya, dan menarik selimut hingga ke dagu.

​"Oxford... panti asuhan... mi instan..." ia meracau pelan, mencoba menyatukan dunia-dunia yang saling bertabrakan di kepalanya.

​Suara jam dinding dari bawah masih terdengar

Tung... tung... Pukul sembilan malam.

Agnesa meraih formulir biru di meja nakas. Ia tidak menyimpannya kembali ke dalam map. 

Ia justru melipat formulir itu menjadi dua bagian, lalu menyisipkannya ke dalam buku ensiklopedia hewan laut yang ada di bawah lampu tidur—buku yang paling jarang ia buka sejak ia berumur sepuluh tahun. 

Ia menekannya kuat-kuat agar lipatannya tidak terlihat menonjol.

​Ia memejamkan mata.

 Di dalam kegelapan itu, ia kembali melihat bayangan Naren yang berdiri di tengah hujan, mengangkat jaket kulit di atas kepalanya.

 Hawa panas dari bahu pemuda itu seolah masih terasa di sampingnya. 

Agnesa menyentuh jempolnya yang berplester kelinci.

​"Kenapa gambarnya harus kelinci?" bisiknya.

 "Benar-benar selera yang buruk."

​Namun, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Agnesa tertidur tanpa harus memikirkan jadwal untuk hari esok.

 Di kepalanya, ia tidak sedang menghitung variabel ekonomi atau turunan fungsi.

 Ia hanya melihat sebuah jalan raya yang panjang, di mana ia membonceng sebuah motor besar, menerjang hujan tanpa perlu takut rambutnya akan menjadi berantakan.

​Di luar, hujan benar-benar berhenti.

 Bulan muncul sepenuhnya dari balik awan, menyinari jendela kamar Agnesa, menembus sela gorden dan jatuh tepat di atas ensiklopedia tua tempat sebuah masa depan yang sudah ditandatangani kini tersembunyi di antara bab tentang kura-kura laut.

​Senin malam itu berakhir dengan keheningan yang berbeda dari biasanya—bukan sunyi yang hampa, melainkan sunyi yang mengandung benih dari sesuatu yang akan meledak esok pagi di gerbang sekolah.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Terus karena apa? Karena gue?"

​"Jangan terlalu percaya diri, Naren Aksara."

​Naren Bikin Agnesa Salting? Yuk Intip Kelanjutannya di Bab 10: Seni Berantakan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!