Sinta percaya bahwa rumah tangganya bersama Edi adalah tempat paling aman untuk pulang. Setelah bertahun-tahun menikah, ia rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan cinta yang ia anggap suci.
Namun, hidupnya runtuh dalam satu malam ketika ia mengetahui sebuah kenyataan pahit, suaminya sendiri berselingkuh dengan Mayang, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.
Di balik senyum manis dan perhatian Mayang selama ini, ternyata tersimpan pengkhianatan yang perlahan menghancurkan rumah tangga Sinta. Edi yang dulu begitu mencintainya kini berubah dingin, penuh dusta, dan diam-diam memilih wanita lain di belakangnya.
Sinta tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga kehilangan sahabat terbaik yang selama ini selalu ada di sisinya.
Terkadang..
Musuh paling kejam bukanlah orang asing
Melainkan orang yang pernah kita percaya sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan Sinta
Pagi datang dengan langit yang sedikit mendung. Namun, suasana hati Santi jauh lebih gelap dibandingkan cuaca di luar sana. Semalaman ia tidak bisa tidur. Bayangan Edi dan Mayang yang berciuman di basement terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang enggan berakhir.
Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, tetapi setiap kali itu pula wajah Sinta muncul. Bayangan akan kesedihan dan kehancuran Sinta membuatnya terjaga sepanjang malam.
Santi mendesah frustrasi. Dia saja yang tidak mengalaminya bisa merasa sehancur ini, lalu bagaimana dengan Sinta? Santi tahu betapa sayangnya Sinta kepada Mayang.
Bayangan masa SMA mereka yang indah terlintas di benak Santi. Kala itu mereka berangkat sekolah bersama, dan hari itu adalah penilaian pelajaran olahraga.
Mereka bertiga menuju ruang ganti untuk mengganti seragam mereka dengan seragam olahraga. Namun, baru saja Sinta dan Santi hendak masuk ke ruang ganti, Mayang sudah berteriak terlebih dahulu.
"Aduh, seragam olahraga aku ketinggalan lagi. Mana ini adalah satu-satunya harapanku biar dapat nilai yang lebih baik. Aku kan tidak sepandai Sinta. Pasti orang tuaku akan sangat kecewa," keluh Mayang saat itu.
Sinta yang merasa iba akhirnya meminjamkan kaus olahraganya kepada Mayang.
"Mayang, kalau begitu pakai saja punyaku. Aku tidak apa-apa harus melewatkan penilaian olahraga kali ini," katanya dengan senyum terbaiknya.
"Jangan, Sinta. Lalu nanti kamu bagaimana?" kata Mayang mencoba menolak. Namun, karena Sinta terus memaksanya, akhirnya Mayang menerima kaus itu. Sementara Sinta tidak dapat mengikuti penilaian pelajaran olahraga. Hasilnya, Sinta mendapatkan nilai minus dari gurunya.
Santi menyeka air matanya. Kini dia baru sadar bahwa sebenarnya sejak dulu Mayang sudah menaruh perasaan iri kepada Sinta. Namun, bodohnya, dia dan Sinta sama sekali tidak menyadarinya.
Sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Santi. Pesan itu berasal dari Mayang. Santi membuka pesan itu hanya untuk memastikan apa sebenarnya yang dibicarakan ular tak tahu malu tersebut.
Mayang: San, jangan begini dong. Aku tahu aku salah. Tapi bukan aku yang menggoda Mas Edi. Dia datang sendiri kepadaku, San. Setiap hari dia terlihat sedih menceritakan semua masalahnya kepadaku, San. Aku khilaf, San. Meski aku akui, kini aku benar-benar mencintai Mas Edi.
Isi pesan itu membuat Santi semakin jijik dan muak. Mayang seperti rubah yang tampak manis di depan, tetapi begitu orang lengah, dia tidak segan menghancurkan mereka tanpa sisa.
Santi mengetik pesan balasan dengan cepat.
Oh iya? Wah, selamat ya. Kalian memang benar-benar cocok. Aku dengan tulus berdoa semoga kalian cepat bersatu, agar sahabatku bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kalian itu tidak lebih dari benalu dalam hidup sahabatku.
Tak butuh waktu lama, balasan Mayang pun muncul.
Mayang: Ya Allah, San. Kok kamu ngomongnya seperti itu? Aku ini juga sahabatmu, San. Apa karena aku tidak sekaya Sinta, jadi kamu memperlakukanku seperti ini?
Santi tertawa kesal membaca pesan balasan dari Mayang. Wanita ini benar-benar sangat pandai bersandiwara, seolah-olah dialah korbannya. Padahal, dia adalah pelaku yang sesungguhnya.
Dia selalu menjual kesedihan agar orang lain merasa iba. Santi menggelengkan kepalanya, tak habis pikir.
"Wah!" serunya dengan nada kesal.
Dengan cepat Santi kembali membalas pesan Mayang.
Iya dong. Kamu itu miskin akhlak dan miskin harga diri. Memang enggak cocok sama perempuan berkelas seperti kami. Untung sekarang kamu sudah menunjukkan jati diri. Jadi, aku bakal blokir nomor kamu sekalian. Dan ingat, saat nanti kita tidak sengaja berpapasan, anggap saja kita enggak pernah saling kenal. Malu dong aku pernah berteman dengan jalang seperti kamu.
Setelah pesan itu terkirim dan centang dua, Santi langsung memblokir nomor Mayang, memasukkannya ke dalam daftar hitam.
*
*
*
Sementara itu, di rumah mewah milik Sinta, ia sedang menyiapkan sarapan untuk Kayla. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa.
Kayla duduk di meja makan sambil menggambar.
"Bunda, lihat!"
Sinta tersenyum.
"Wah, cantik sekali gambar Kayla."
Kayla langsung tertawa senang. Sinta mengusap kepala putrinya dengan lembut. Tatapannya penuh kasih sayang. Namun, jauh di balik senyum itu, hatinya sebenarnya sudah lama hancur.
Karena saat ini yang ia tunggu bukanlah pengakuan, melainkan waktu yang tepat.
Sinta meletakkan segelas susu di depan putrinya. Saat itulah ponselnya bergetar. Nama Santi muncul di layar. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, iya. Ada apa, San?" tanya Sinta dengan nada halus seperti biasanya.
"San, bagaimana kabar rumah tangga kamu dengan Edi?" tanya Santi dari seberang sana.
Sinta lumayan terkejut dengan pertanyaan Santi yang tiba-tiba itu.
"Semua masih baik sejauh ini, San," kata Sinta, meski dalam hati ia menambahkan, Semua baik, meski hanya di permukaan.
Sinta sadar, mungkin saja Santi sudah mengetahui sesuatu.
"Oh, begitu. Kamu cinta enggak sih, Sin, sama Edi?" tanya Santi lagi.
Padahal dulu Santi selalu memanggil Edi dengan embel-embel "Mas". Kini dia langsung memanggil namanya, menandakan bahwa Santi sedang bermasalah dengan pria tersebut.
Sinta sudah sangat hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.
"Kamu ini bagaimana sih, San? Kan Mas Edi itu suamiku. Kita juga sudah punya Kayla. Pertanyaanmu itu tidak perlu aku jawab pun kamu pasti sudah tahu jawabannya," kata Sinta sambil berpura-pura tertawa ringan.
Helaan napas berat terdengar dari seberang sana. Seolah-olah Santi ingin menyampaikan sesuatu yang sangat berat kepada Sinta, tetapi masih ragu-ragu. Dan Sinta sudah bisa menebak apa yang akan Santi sampaikan.
Sebisa mungkin Sinta akan terus mengalihkan setiap pembicaraan Santi mengenai perselingkuhan Edi dan Mayang. Karena Sinta masih membutuhkan Santi untuk membantunya menyelesaikan misinya.
"Sin, bagaimana kalau Edi selingkuh? Dan bagaimana kalau selingkuhannya itu orang terdekatmu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Santi dengan gelisah.
Sinta kembali tertawa palsu.
"Ada-ada saja kamu ini. Memangnya Mas Edi selingkuh sama siapa? Dia sudah sibuk mengurus pekerjaan dan keluarganya. Ya sudah ya, San. Mas Edi sebentar lagi pulang. Aku mau menyiapkan makanan untuknya," kata Sinta, lalu segera mengakhiri panggilan tersebut.
Sinta memandang lama ke arah ponselnya.
"Maafkan aku, Santi. Aku masih membutuhkanmu untuk menjalankan rencanaku. Kuharap suatu hari nanti kamu bisa memahami semua ini."
Harus sampai tamat ya. sukses thor.💖💖💖💖💖