Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelataran Darah dan Debu
Langit di atas Sanjaya seolah ikut berduka; mendung tebal menggantung rendah, menelan cahaya matahari yang seharusnya menjadi saksi eksekusi pagi itu. Di tengah pelataran istana yang luas, sebuah panggung kayu ek yang kokoh telah berdiri. Bau kayu basah dan karat logam menyeruak di udara. Di atas sana, tiga tiang gantungan berdiri angkuh, menanti mangsa yang dianggap sebagai noda bagi kemurnian kerajaan.
Naomi diseret menaiki anak tangga panggung dengan kasar. Rantai hitam yang melilit tubuhnya berdenting berat, setiap langkahnya meninggalkan jejak debu dan sisa-sisa harga diri yang mencoba dihancurkan oleh sang Raja. Di sampingnya, Martha dan pria yang selama ini ia panggil Ayah sudah berdiri dengan leher terjerat tali tambang yang kasar. Wajah mereka pucat, namun mata mereka tetap tertuju pada Naomi, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan cinta yang begitu dalam sehingga membuat Naomi merasa dadanya sesak.
"Jangan melihat ke bawah, Naomi!" teriak Martha, suaranya parau namun tegas. "Tegakkan kepalamu. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun!"
"Diam, Perempuan!" bentak seorang algojo berpakaian serba hitam, memukul bahu Martha dengan gagang pedangnya.
Raja Sanjaya berdiri di balkon tinggi yang menghadap langsung ke pelataran. Di sampingnya, Ratu Ara berdiri dengan wajah kemenangan yang dingin. Ratu belum tahu rahasia darah itu, namun baginya, kematian Naomi adalah pembersihan bagi gangguan yang hampir merenggut nyawa Ares.
"Rakyat Sanjaya!" suara Raja menggema, dibantu oleh para penyihir suara istana. "Hari ini kita saksikan akhir dari pengkhianatan. Pelayan yang mencoba meracuni garis keturunan suci dengan ilmu hitam akan menerima upahnya!"
Naomi mendongak. Matanya bertemu dengan mata Raja. Ia melihat ketakutan yang pengecut di balik jubah kebesaran itu. Di tengah kerumunan, ia juga melihat para pelayan lain yang menatapnya dengan air mata tersembunyi, rekan-rekan sejawatnya yang tahu betapa tulusnya Naomi selama ini.
"Kau pembohong!" Naomi berteriak, suaranya melengking menembus riuh rendah suara rakyat. "Kau membunuhku bukan karena ilmu hitam, tapi karena kau takut pada kebenaran yang mengalir di nadiku!"
Raja Sanjaya menegang. Ia segera memberi isyarat kepada algojo untuk menarik tuas eksekusi. "Laksanakan sekarang!"
Namun, tepat sebelum tangan algojo menyentuh tuas, sebuah ledakan energi biru dan emas menghantam gerbang pelataran. Debu beterbangan, dan dari balik kabut asap, muncul sosok yang seharusnya masih terbaring lemah di ranjangnya.
Pangeran Ares.
Ia berdiri dengan napas yang memburu, mengenakan kemeja putih yang masih ternoda darahnya sendiri. Meski lengannya kini bersih dari rune, aura kepemimpinan yang ia miliki justru terasa lebih nyata. Di belakangnya, beberapa pengawal elit yang setia kepadanya tampak bersiaga dengan pedang terhunus.
"Hentikan semua ini, Ayah!" Ares berteriak, langkahnya mantap menuju panggung eksekusi.
"Ares? Apa yang kau lakukan? Kembali ke kamarmu!" Ratu Ara berseru panik, wajahnya berubah cemas.
Ares mengabaikan ibunya. Ia terus berjalan hingga sampai di depan panggung, menatap langsung ke arah Naomi yang kini sudah dalam posisi siap digantung. "Jika kau membunuhnya, kau juga membunuh kehormatan Sanjaya. Dia tidak meracuniku. Dia menyelamatkanku! Dia memindahkan kutukan yang seharusnya menghancurkanku ke dalam tubuhnya sendiri!"
"Dia monster, Ares! Dia penyihir dari kasta rendah!" teriak Raja dari balkon.
"Kasta rendah?" Ares tertawa getir, sebuah tawa yang membuat Raja Sanjaya mendadak membeku. "Tadi malam, saat aku berada dalam keadaan antara hidup dan mati, aku mendengar semuanya, Ayah. Aku mendengar percakapanmu di aula takhta. Aku tahu siapa Victoria. Dan aku tahu siapa gadis yang kau sebut monster ini."
Kerumunan mendadak hening. Ratu Ara menoleh ke arah suaminya dengan tatapan yang mulai dipenuhi kecurigaan dan kengerian. "Ares... apa yang kau bicarakan? Siapa Victoria?"
Ares menunjuk ke arah Naomi. "Dia adalah saudariku. Dia adalah putri dari raja yang sah, yang kau biarkan hidup dalam kotoran hanya untuk menutupi dosamu! Dan sekarang kau ingin membunuhnya hanya karena dia memiliki kekuatan yang kau takuti?"
Mendengar kata-kata itu, rune di lengan Naomi beraksi. Seolah-olah pengakuan Ares adalah kunci yang melepaskan segel terakhir. Panas yang luar biasa meledak dari pergelangan tangan Naomi, menghancurkan rantai penekan energi itu hingga menjadi serpihan logam panas.
PRANG!
Naomi berdiri bebas. Rambut hitamnya berkibar meski tak ada angin. Aura merah menyala membungkus tubuhnya, memberikan tekanan yang begitu besar hingga para algojo di atas panggung jatuh pingsan. Naomi menatap ayahnya, sang Raja, dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna merah menyala.
"Kau ingin aku mati sebagai pelayan?" suara Naomi kini terdengar seperti gema dari masa lalu yang haus darah. "Maka aku akan hidup sebagai kutukan yang akan menghancurkan kerajaanmu, Ayah."
Dengan satu lambaian tangan, tali gantungan yang melilit Martha dan ayah angkatnya terputus secara ajaib. Naomi melangkah maju ke tepian panggung, menatap ribuan rakyat yang kini berlutut karena ketakutan.
Di balkon, Raja Sanjaya terduduk lemas. Rahasia yang ia jaga dengan nyawa kini telah pecah, dan di hadapannya, putri yang ia buang kini telah bangkit sebagai penguasa rune yang tak tertandingi. Perang saudara di Sanjaya bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan sebuah kepastian yang sudah dimulai dengan debu yang beterbangan di pelataran itu.