NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pengadilan Sang Penguasa

Nama itu seolah membekukan darah di pembuluh nadi Alana. Melinda. Wanita paruh baya gila harta yang telah merebut semua warisan mendiang ayahnya, membuang Alana ke jalanan, dan bahkan tega menjualnya kepada rentenir kejam seperti Juragan Bahar demi melunasi hutang judi.

​Cengkeraman tangan Xander di dagu Alana perlahan mengendur. Pria itu menatap wajah pucat istrinya dengan saksama, membaca setiap kilatan emosi di mata gadis tersebut—mulai dari trauma, amarah, hingga keputusasaan yang mendalam.

​Xander kemudian menoleh ke arah pintu kayu jati yang masih tertutup. "Tahan wanita ular itu di sana, Dante. Jangan biarkan dia mati, tapi jangan biarkan dia merasa nyaman sedetik pun. Siapkan helikopter di atap. Kita berangkat ke dermaga barat sekarang."

​"Baik, Tuan Besar!" sahut Dante tegas sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.

​Alana terkesiap. "Helikopter? Dermaga? Xander—maksudku, Tuan Rex, kau mau pergi ke sana? Apa yang akan kau lakukan pada ibu tiriku?"

​Xander mengambil kembali jas arang mahalnya yang tersampir di lengan sofa, lalu mengenakannya dengan gerakan elegan yang mematikan. Pria itu kemudian meraih pergelangan tangan Alana dengan lembut.

​"Bukan hanya aku, Istriku. Tapi kita," koreksi Xander dengan nada mutlak. "Kau akan ikut denganku. Sudah saatnya kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana seseorang yang telah menghancurkan hidupmu, harus membayar lunas semua perbuatannya."

​"Ta-tapi..." Alana ragu. Kakinya mendadak terasa lemas. Bertemu kembali dengan Melinda selalu membawa teror tersendiri baginya.

​"Selama aku berdiri di sampingmu, tidak ada satu pun makhluk di bumi ini yang bisa melukaimu lagi, Alana," bisik Xander tajam. Sorot matanya memancarkan keyakinan yang mampu meruntuhkan segala keraguan. "Angkat kepalamu. Malam ini, kau bukan lagi gadis miskin pelunas hutang. Kau adalah Nyonya Besar Leonidas."

​Angin laut yang berhembus kencang dan berbau garam menyambut mereka saat helikopter pribadi berlogo 'L' emas itu mendarat mulus di area VIP Dermaga Barat Jakarta. Hari mulai menggelap, digantikan oleh temaram lampu kuning jalanan.

​Di ujung dermaga yang terisolasi dari publik, belasan pria bersenjata api laras panjang berdiri melingkar, menjaga area itu dengan ketat. Di tengah-tengah lingkaran itu, Melinda berlutut di atas aspal yang kasar. Gaun sutra mahalnya kotor oleh lumpur. Wajah menornya kini luntur oleh air mata dan keringat ketakutan. Di sampingnya, sebuah koper besar terbuka lebar, memuntahkan tumpukan uang tunai ratusan ribu rupiah yang rencananya akan ia gunakan untuk kabur ke luar negeri.

​Mendengar derap langkah kaki yang mendekat, Melinda mendongak. Matanya seketika membelalak lebar melihat siapa yang datang.

​"Alana?!" jerit Melinda dengan suara seraknya. "Gadis jalang! Bagaimana kau bisa ada di sini?!"

​Di mata Melinda, melihat Alana berada di tempat ini hanya berarti satu hal: gadis itu pasti telah ditangkap juga oleh musuh-musuh Juragan Bahar. Namun, detik berikutnya, kesimpulan Melinda hancur lebur.

​Ia melihat puluhan pria bersenjata yang kejam itu mendadak menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat saat Alana lewat. Dan yang membuat Melinda nyaris kehilangan kesadaran adalah pria jangkung bertubuh tegap yang berjalan di samping anak tirinya itu. Pria itu merangkul pinggang Alana dengan posesif. Dia adalah Rexander Leonidas, iblis sesungguhnya yang baru saja meratakan kekayaan suaminya dengan tanah dalam waktu satu malam.

​"Tu-Tuan Leonidas..." suara Melinda bergetar hebat. Ia merangkak maju, mencoba mencium sepatu mahal Xander, namun dua pengawal langsung menendang bahunya hingga ia terjerembap ke aspal. "Ampuni saya, Tuan Besar! Saya mohon, lepaskan saya! Uang di koper ini, Anda boleh ambil semuanya! Tapi tolong lepaskan nyawa saya!"

​Xander menatap Melinda seolah sedang menatap tumpukan sampah yang membusuk.

​"Uang di koper itu bahkan tidak cukup untuk membeli bahan bakar helikopterku kemari, Nyonya Melinda," desis Xander dengan nada suara yang sangat dingin dan mematikan. "Kau memohon ampunan padaku? Kau salah orang. Tuan putri yang telah kau siksa selama bertahun-tahun itulah yang memegang kunci nyawamu malam ini."

​Xander menoleh pada Alana yang berdiri mematung di sisinya. "Katakan padaku, Alana. Apa yang kau ingin aku lakukan pada wanita ini? Jika kau menyuruhku melemparnya ke dasar laut dengan batu terikat di kakinya, Dante akan melaksanakannya detik ini juga."

​Mendengar ancaman itu, Melinda langsung menjerit histeris dan menatap Alana dengan penuh permohonan. "Alana! Sayangku! Anak tiriku yang cantik! Tolong ampuni Ibu, Nak! Ibu khilaf! Ibu janji tidak akan pernah mengganggumu lagi! Tolong selamatkan nyawa Ibu dari pria mengerikan ini!"

​Alana menatap wanita paruh baya yang menangis tersedu-sedu di bawah kakinya itu. Bertahun-tahun lamanya ia hidup dalam bayang-bayang ketakutan terhadap Melinda. Ia pernah dipukul, diusir, kelaparan, dan nyaris hancur masa depannya karena wanita ini. Dulu, Melinda terlihat bagaikan monster raksasa yang tak terkalahkan. Namun malam ini, melihat Melinda bersujud di kakinya layaknya serangga yang tak berdaya, Alana merasakan sesuatu yang aneh.

​Tidak ada rasa kasihan, tapi ia juga tidak ingin mengotori tangannya dengan darah.

​"Aku tidak ingin dia mati," ucap Alana akhirnya. Suaranya terdengar jernih dan tenang di tengah deru angin laut.

​Melinda menghela napas lega yang luar biasa panjang, bersiap mengucapkan ribuan terima kasih. Namun, kalimat lanjutan Alana seketika membekukan darahnya.

​"Kematian terlalu mudah untuknya," lanjut Alana, matanya menatap tajam ke mata ibu tirinya. "Biarkan dia hidup. Tapi pastikan dia merasakan apa yang kurasakan selama bertahun-tahun. Kehilangan tempat tinggal, dikurung oleh ketakutan, dan tidak memiliki siapa pun untuk diandalkan."

​Sebuah senyuman miring yang sangat puas tercetak di bibir Xander. Pria itu menyukai ketegasan istri kecilnya.

​"Pilihan yang sangat bijak, Nyonya Leonidas," puji Xander. Ia lalu menjentikkan jarinya ke arah Dante. "Kau dengar perintah istriku? Bekukan seluruh rekening rahasia Melinda. Cabut kewarganegaraannya. Serahkan dia ke penjara wanita dengan keamanan maksimum di pulau perbatasan atas tuduhan pencucian uang dan penipuan berskala besar. Pastikan penjaga di sana tahu bahwa dia harus bekerja membersihkan selokan setiap hari demi sepiring nasi busuk."

​"Tidak! Tidak! Tuan! Alana, tolong aku! ALANA!" jerit Melinda meronta-ronta gila saat para pengawal mulai menyeret tubuhnya menjauh menuju mobil tahanan. Teriakannya semakin lama semakin menghilang, ditelan oleh deru ombak malam itu.

​Masa lalu Alana yang paling kelam baru saja disapu bersih dalam hitungan menit.

​Alana menundukkan kepalanya, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat melegakan. Beban raksasa di pundaknya akhirnya benar-benar sirna. Namun, saat ia merasakan tangan besar Xander merengkuh pundaknya dengan hangat, realitas baru kembali menghantam akal sehatnya.

​Masa lalunya memang telah usai, tetapi masa depannya kini terikat permanen dengan raja mafia yang paling berbahaya di benua ini.

​"Urusan kita di sini sudah selesai," bisik Xander di telinga Alana. "Mari kita pulang ke rumah, Istriku. Malam ini, kau dan aku memiliki banyak hal yang harus diselesaikan di kamar kita."

​Jantung Alana langsung meloncat hingga ke tenggorokan. Di kamar kita. Tiga kata itu menyiratkan sebuah babak baru yang jauh lebih mendebarkan daripada ancaman rentenir mana pun.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!