NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:786
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

Vince saat ini benar-benar merasa terjepit, dihadapkan pada keputusan sulit yang harus dia ambil.

"Walaupun wajah Maura dan Naura itu mirip, tapi mereka berdua adalah dua orang yang berbeda, bahkan memiliki kepribadian yang sangat kontras. Apalagi melihat nilai rapor Maura yang biasa-biasa saja, sungguh seperti langit dan bumi dibandingkan dengan mendiang Naura dulu, yang selalu sempurna dalam segala hal. Mungkinkah Aron dan Cherly mengadopsi Maura karena kemiripannya dengan Naura?" Vince menggumamkan kebingungannya dalam hati sambil menghembuskan nafas berat.

Sekarang ini Vince mulai merasa dilanda kebimbangan. Apakah seharusnya ia menghubungi kedua orang tua angkat Maura atau tidak? Di satu sisi, dia ingin mengetahui asal-usul Maura dan mengungkap semua rahasia yang tersembunyi di balik kemiripan itu.

Namun, di sisi lain, Vince khawatir akan menimbulkan kekacauan yang tak bisa diperbaiki lagi. Pikiran-pikiran tersebut terus bergulir dalam benaknya, memutar-balikkan berbagai skenario yang mungkin terjadi.

"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku tetap tidak memberitahu ke dua orang tua angkat Maura ?" Vince merasa terperangkap dalam dilema yang menyiksa, mencari-cari titik temu dalam situasi yang kian rumit ini.

"Gimana Pak? Tolong bapak segera pergi ke lobby depan untuk mengurus surat rawat inap dan pembayaran. Agar bisa segara di lakukan tindakan karena luka cambuk di punggungnya benar benar infeksi dan mengancam jiwa." Suster itu terpaksa mengulangi apa yang tadi ia katakan, karena laki laki yang ada di hadapannya itu malah diam mematung. Harusnya segera pergi ke lobby depan bagian pendaftaran.

"Ba - baik Sus," sahut Vince dengan wajah yang terlihat terbebani.

****

"Apakah sudah masuk?" tanya Vince pada wanita yang duduk di lobby depan pendaftaran.

"Sudah Pak, delapan juta rupiah yang digunakan sebagai DP rumah sakit sudah masuk. Nanti kuitansinya akan di antar ke ruang inap, karena sekarang mesin nya sedang bermasalah. Ini saya kasih kertas bukti pembayaran dulu!" Wanita itu terlihat menyerahkan Vince sebuah kertas.

"Okey," sahut Vince dengan suara yang terdengar lemas. Ia lemas dan lesu bukan karena membayar sebesar delapan juta rupiah. Melainkan bingung sendiri perihal rawat inap yang harus di jalani oleh Maura dan siapa yang akan menunggui gadis itu di rumah sakit.

Vince pun terlihat berjalan kembali ke UGD rumah sakit. Guna menemui Maura yang ada di sana.

Namun kata perawat yang ada di sana, Maura sudah di pindahkan ke ruang inapnya. Jadinya Vince memilih untuk langsung menyusul ke ruang inap itu.

****

Ceklek

Vince membuka ruang inap kelas satu dimana Maura berada.

Maura sendiri sedang berbaring di atas brangkar dengan posisi tubuh miring. Ia terlihat melamun.

Vince berjalan ke arah Maura. "Kata dokter, kamu harus di rawat inap di sini!"

"Iya aku tahu," sahut Maura datar.

"Bapak sudah membayar biaya rumah sakit kamu," ujar Vince.

"Sebentar Pak, saya sedang sibuk berpikir. Untuk mencari alasan yang logis buat memberitahu Mamih Cherly, aku gak mau kalau Mamih itu sampai ribut sama Mamah Stela dan juga Ayah Lian," kata Maura dengan suara yang terdengar penuh beban.

Alis Vince nampak menyatu, setelah mendengar ucapan Maura.

"Stela ... Lian?" gumam Vince dengan suara yang terdengar pelan.

Maura nampak cemberut, kala ucapannya tidak di gubris sama sekali oleh guru aneh di sekolah barunya.

"Pak Pin kenapa? Malah diam seperti patung?" tanya Maura sembari menarik tangan Vince.

Vince pun menoleh, lantas ia berkata, "Nama ku itu Vince, bukan Pin. Sembarangan ganti nama!"

"Lah cuman panggilan saja, enakan di panggil Pak Pin dari pada Pak Vince. Aneh aja sebutannnya seperti mince atau sance."

Vince terlihat memegang dahi muridnya.

"Padahal dahi mu itu gak panas? Namaku Vince kok bisa sampai dengan mince atau sance. Apakah ada yang salah dengan otakmu. Padahal yang sakit kan punggung mu Maura!" Vince memandang Maura dengan tatapan heran.

Maura hanya bisa tersenyum simpul, lalu berkata, "Mince dan Sance itu teman curhatku yang biasa aku temui saat di rumah Pak. Soalnya, setelah pulang sekolah, Mamah kandungku, Stela, selalu mengurungku di rumah. Akhirnya, aku hanya bisa berkeliaran di pekarangan rumah saja. Mince dan juga Sance adalah pengamen laki laki yang berdandan seperti wanita. Makanya, aku sering memberi Mince dan Sance uang sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku saat kesepian, meski kami terhalang oleh gerbang tinggi." Maura tertawa kecil saat mengingat kenangannya bersama mereka.

"Bahkan, banyak mengucap nama Bapak, Vince, malah mengingatkan aku pada mereka. Jadi, rasanya membuatku geli saja," lanjut Maura dengan tawa renyah.

"Jadi tanpa sadar, nama Bapak mengingatkanmu pada Mince dan Sance, tapi kenapa malah ketawa? Katanya mereka teman baik mu!" sahut Vince heran.

Jika wajah Maura terlihat tertawa, hal yang berbeda di tunjukkan oleh Vince. Wajahnya sekarang ini terlihat benar benar datar. Apalagi melihat selera humor Maura yang rendah.

"Pak Guru memang tidak pernah melihat penampilan mereka berdua, kan? Yang sekarang bikin aku tertawa adalah ingatan akan dandanan Mince dan Sance yang selalu unik dan berlebihan, padahal kan mereka laki laki," jelas Maura tak kuasa menahan tawanya.

Vince nampak menghembuskan nafas dengan kasar. "Ya udah mulai sekarang terserah kamu saja, mau memanggil Bapak dengan nama apa? Yang penting gak usah banyak ketawa. Nanti di kira kamu itu gila!"

"Hehe, siap Pak Pin."

"Kalau begini, siapa yang akan percaya jika kamu itu sakit, Maura .. Maura." gumam Vince dalam hatinya.

"Katanya dari tadi sedang berpikir keras, bagaimana caranya memberitahu Mamih angkat mu, gimana? Sudah kepikiran."

"Sudah, Bapak harus berbohong sama Mamih Cherly. Bilang aja aku pingsan demam, terus harus di rawat di rumah sakit."

"Ya okey," sahut Vince nurut, ia memilih untuk tidak memperpanjang masalah.

"Sekarang jelaskan pada Bapak siapa yang mencambuk mu! Tapi ingat, harus jujur."

Senyuman di bibir Maura seketika memudar, bahkan sekarang ini ia terlihat menundukkan wajahnya. "Jujur .." air mata seketika luruh dari kedua pelupuk matanya.

"Iya, jujur. Kan kamu tadi yang janji sama Bapak. Kalau kamu mau jujur, Maura." Maura merasa terpojok, ia sadar bahwa inilah saatnya untuk membeberkan kenyataan yang selama ini ia sembunyikan dari orang lain.

"Yang melakukan ini Mamah kandungku Stela, tapi Maura mohon. Jangan beritahukan ini pada siapa pun. Aku gak mau orang-orang berpikiran buruk pada Mamah yang telah bersusah payah melahirkan aku," kata Maura dengan suara tercekat.

Hatinya berkecamuk, antara rasa takut akan siksaan ibunya yang semakin menjadi-jadi dan harapan agar Vince bisa membantunya.

"Terus, saat di cambuk, apakah orang rumah itu tahu?" tanya Vince penasaran.

Maura nampak menganggukkan kepala. "Ayah Lian, sama kak Soka tahu. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak, karena Mamah mengancam akan tambah menyakitiku, membuat Ayah sama kak Soka gak bisa berbuat banyak," sahut Maura dengan suara bergetar.

Vince tertegun, sebagai seorang guru ia merasa kasihan dengan cerita Maura. Ia merenung sejenak, mencoba memahami apa yang mungkin terjadi dalam benak gadis kecil ini.

Maura pun tahu bahwa berbicara jujur pada Vince akan menuntun pada jalan yang sulit. Tapi ia yang sudah dalam keadaan terjepit tidak ada pilihan lain selain berbicara jujur.

Vince terlihat menatap ke arah dua bola mata Maura, untuk mencari kebohongan di sana. Namun, ia tidak menemukannya sama sekali.

"Pak Pin. Tolong jangan katakan ha ini pada siapa pun?" Maura memohon dengan suara bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!