NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Penanggung jawab lokalisasi itu menarik napas panjang, membiarkan asap rokok murahan keluar dari hidungnya yang bengkok. Suaranya terdengar datar, namun ada nada logam yang mengancam di setiap suku katanya.

“Di sini ada aturan main. Begitu jempol kalian menekan tombol booking di aplikasi, itu sudah sah sebagai transaksi. Masalah kalian pakai atau tidak, itu urusan selangkangan kalian. Tapi setiap detik yang terbuang dari gadis-gadis ini adalah kerugian bagi bisnis saya.”

Pria itu berbicara dengan ketenangan seorang algojo. Ia sudah ratusan kali menghadapi pelanggan yang mencoba mangkir, dan baginya, alasan "foto tidak sesuai" adalah lagu lama yang sudah basi.

Heri, yang masih merasa memiliki martabat setelah transaksi berlian tadi, langsung menunjuk kedua wanita itu dengan wajah merah padam. “Pak, kami bukan membatalkan karena iseng! Lihat saja mereka! Di aplikasi mereka tampak seperti bidadari, tapi aslinya... ini penipuan publik! Wajah mereka lebih banyak dempul daripada kulit aslinya!”

Tarjo menimpali dengan nada yang tak kalah tinggi. “Kalau begini caranya, harusnya mereka yang membayar ganti rugi karena sudah merusak selera makan kami!”

Wanita pertama, yang mengenakan tanktop macan tutul yang terlalu sempit hingga lemak perutnya mengintip, mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia menyeringai sinis, memperlihatkan gusi yang gelap. “Ganti rugi? Memangnya kalian siapa? Artis papan atas? Pejabat negara?”

Wanita kedua, yang rambutnya tampak kasar karena sering terkena cat murah, menambahkan dengan lantang, “Ganti rugi katanya... Lucu sekali. Kalian memesan dengan harga paling rendah, nego gila-gilaan, lalu berharap kami datang dengan kualitas model majalah pria dewasa? Kalau mau sultan, bayar harga sultan, jangan harga receh!”

Heri hampir saja merangsek maju, namun Juan dengan sigap memegang bahu sahabatnya itu. Cengkeraman Juan terasa sangat kuat, seolah memberi isyarat bahwa amarah adalah makanan bagi orang-orang lemah.

Namun, provokasi itu tidak berhenti. Heri kembali menyalak. “Pak, ini murni penipuan dagang! Kalau di restoran, ini sama saja dengan memesan ayam goreng tepung, tapi yang datang ikan asin yang sudah berjamur!”

Beberapa pria mabuk yang menonton di lorong tertawa terbahak-bahak mendengar perumpamaan Heri. Namun, kedua wanita itu justru merasa harga diri mereka yang memang sudah tipis, diinjak-injak habis-habisan.

Wanita pertama mendesis tajam, “Kalian bukan bagian dari dunia kami. Di sini, yang kalian lihat adalah realita. Kalau hati kalian masih selembut sutra dan mata kalian terlalu manja, jangan berani-berani main di tempat remang-remang begini. Pulang saja, cuci kaki, dan tidur!”

Tarjo berkacak pinggang, matanya melotot tajam. “Realita? Menipu orang dengan foto editan kalian sebut realita? Itu namanya kriminal!”

Penanggung jawab tempat itu akhirnya mengangkat tangan, sebuah isyarat yang langsung membungkam semua suara di lorong. “Kalau kalian merasa dirugikan secara hukum, silakan lapor polisi. Tapi di bawah atap saya, aturan tetap aturan. Kalian sudah memblokir jadwal mereka, jadi kalian harus membayar waktu mereka yang terbuang.”

Suasana semakin memanas. Heri dan Tarjo merasa terjepit antara kemarahan dan intimidasi fisik dari pria besar di depan mereka. Pria itu tidak bercanda. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak segan-segan mematahkan tulang demi uang beberapa ratus ribu.

Juan akhirnya melangkah maju. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata sang penanggung jawab. Tak ada rasa takut, hanya sebuah ketenangan yang sangat dalam, ketenangan seorang pria yang tahu bahwa di sakunya kini tersimpan kekuatan yang sanggup membeli seluruh bangunan ini.

“Baik, Pak. Saya menghormati hukum yang berlaku di sini. Berapa total yang harus kami bayar untuk menyudahi drama tidak bermutu ini?”

Pria besar itu tidak perlu berpikir dua kali. “Total 600 ribu rupiah. Tiga ratus untuk masing-masing gadis ini.”

Heri dan Tarjo tersentak seolah tersengat listrik. “Enam ratus ribu?! Hanya untuk berdiri di lorong dan menghina kami?!”

Wanita pertama menyambar cepat, “Kalian pikir kecantikan kami ini gratis? Kami sudah dandan habis-habisan, memakai parfum, dan siap melayani kalian sampai lemas! Waktu kami adalah uang!”

Wanita kedua menambahkan dengan nada meremehkan, “Kalian yang terlambat datang, kalian yang rewel seperti ibu-ibu di pasar, lalu kalian yang batal. Jadi jangan banyak tanya, bayar saja!”

Tarjo hendak meledak lagi, namun Juan menepuk bahunya dengan tegas. “Kita selesaikan sekarang, Jo. Tidak perlu membuang energi untuk hal sekecil ini.”

“Tapi Wan... ” Heri mencoba protes.

“Cukup,” kata Juan pelan, namun suaranya mengandung otoritas yang tak terbantahkan. “Tidak semua pertarungan harus diselesaikan dengan urat syaraf. Terkadang, mengakhiri masalah dengan cepat adalah bentuk kemenangan yang sebenarnya.”

Sang penanggung jawab mengangguk, sedikit terkejut dengan kedewasaan Juan. “Saya hargai itu. Setidaknya satu di antara kalian punya otak yang berfungsi.”

Namun, saat Juan merogoh dompetnya, lidah kedua wanita itu kembali berulah. Kali ini mereka tidak sekadar membela diri, tapi mulai menyerang dengan ejekan yang menusuk hati.

Wanita pertama tertawa sambil melipat tangan di bawah dada besarnya yang terlihat layu. “Lihat itu. Baru mau keluar enam ratus ribu saja diskusinya lebih lama dari sidang kabinet. Mau sok-sokan menyewa kelas atas? Ngaca dulu di air comberan sana!”

Wanita kedua menimpali dengan suara melengking yang disengaja agar didengar orang banyak. “Betul sekali! Uang receh saja dipikirin sampai mau menangis. Mana mungkin kalian punya modal untuk menyewa gadis-gadis yang kulitnya benar-benar mulus? Mimpi saja kalian!”

Beberapa pria di sekitar ikut menyoraki Juan dan kawan-kawannya. Hinaan itu benar-benar menguliti harga diri Heri dan Tarjo.

Tarjo yang sudah tidak tahan lagi, berteriak, “Hei! Hati-hati dengan mulut kalian! Juan ini baru saja mendapat uang lima miliar hari ini! Bayar kalian berdua itu cuma seperti membuang debu di mata kami!”

Tawa kedua wanita itu meledak seketika, lebih kencang dan lebih menghina dari sebelumnya.

“Lima miliar?!” Wanita kedua memegangi perutnya yang bergetar karena tawa. “Jangan mengigau di malam hari, nanti kamu gila beneran!”

Wanita pertama ikut mengejek sembari menunjuk pakaian Juan yang memang masih kusam. “Kalau benar punya uang lima miliar, tidak mungkin kalian menawar harga diskon di aplikasi sampai tiga kali! Dasar gembel sok kaya!”

Juan hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia mengeluarkan enam lembar uang seratus ribu yang masih licin.

Ia menyerahkannya langsung ke tangan sang penanggung jawab, bukan ke tangan para wanita itu.

“Ini uangnya, Pak. Masalah pembatalan selesai di sini.”

Namun, iblis di lidah para wanita itu sepertinya belum puas. Wanita pertama menjentikkan jarinya dengan angkuh. “Nah, begitu dong. Sudah dibayar, tapi jujur ya... kalian bertiga tetap terlihat seperti orang susah yang sedang mencoba peruntungan. Mau gaya sedikit saja, gagal total.”

Wanita kedua menambahkan, “Saran saya, lebih baik uang kalian disimpan buat makan besok pagi. Jangan sok pilih-pilih kalau saku cuma berisi recehan.”

Penonton kembali tertawa riuh, menikmati penghinaan terhadap tiga pria desa itu.

Juan tidak membalas dengan bentakan. Ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang mematikan. Ia menatap sang penanggung jawab lagi dengan sorot mata yang tajam.

“Baik, Pak. Urusan administrasi tadi sudah beres. Sekarang, saya ingin memesan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sesuai dengan kelas saya.”

Penanggung jawab itu mengerutkan kening, sedikit tertarik. “Apa maksudmu?”

Juan berbicara dengan nada suara yang rendah namun sangat bertenaga, setiap katanya seperti menghunjam lantai kayu tempat mereka berdiri.

“Tolong panggilkan dua wanita kelas atas di tempat ini. Yang paling cantik, paling bersih, dan paling hebat pelayanannya untuk melayani kedua sahabat saya, Heri dan Tarjo. Jangan tanya masalah harga. Sebutkan saja berapa, saya bayar tunai di depan.”

Seketika, tawa di lorong itu tersedak. Hening menyergap.

Dua perempuan yang tadi menghina mendadak terdiam dengan mulut setengah terbuka.

Namun, rasa iri yang bercampur dengan ketidakpercayaan membuat mereka kembali tertawa sinis, meski kali ini terdengar lebih dipaksakan.

Wanita pertama berkata sambil membenahi tanktop-nya, “Kamu yakin? Membayar enam ratus ribu saja harus ribut sampai urat leher keluar. Sekarang mau sewa kelas atas? Jangan mempermalukan diri sendiri lebih jauh, De.”

Wanita kedua menimpali, “Yang kelas atas di sini minimal tarifnya satu juta untuk sekali kencan singkat. Kalian mau bayar pakai apa? Pakai janji surga?”

Heri dan Tarjo yang sudah tahu isi saldo Juan, langsung berseru dengan penuh kemenangan, “Kalian pikir kami bercanda?! Juan punya uang lebih dari cukup untuk membeli seluruh waktu hidup kalian!”

Juan tidak memedulikan ocehan mereka. Ia tetap mengunci tatapannya pada sang penanggung jawab. “Saya serius. Siapkan dua yang terbaik sekarang juga.”

Penanggung jawab itu menimbang sejenak, melihat ketenangan luar biasa yang terpancar dari aura Juan. Ia akhirnya mengangguk. “Baik. Jika kamu memang punya modalnya, saya bisa atur.”

Pria besar itu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, dan melakukan sebuah panggilan. Suasana di lorong itu mendadak mendingin. Semua pasang mata menanti, apakah ini hanya gertakan kosong atau awal dari sebuah kejutan besar.

“Halo... Saya butuh dua orang terbaik. Ya, kelas VVIP. Sekarang juga. Bawa mereka ke lantai dua, kamar nomor satu dan dua.”

Suara penanggung jawab itu terdengar sangat serius. Tidak ada keraguan, tidak ada tawa. Ia telah mencium aroma uang sungguhan dari arah Juan.

Kedua wanita yang tadi menghina kini saling pandang dengan wajah yang mulai pucat. Mereka mulai merasa bahwa pria kusam di depan mereka ini mungkin benar-benar membawa "badai" yang tidak mereka duga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!