NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: BELANJA DAN RENCANA

Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar mansion Winchester tidak membuat Alzena silau. Ia sudah bangun sejak tadi, melakukan stretching ringan meski otot-paha dan perutnya masih terasa kaku akibat latihan kemarin. Kejadian di jamuan makan malam keluarga Halim semalam masih terngiang, tapi bukan rasa takut yang ia rasakan, melainkan kepuasan.

Di sisi lain mansion, Shania sedang melempar vas bunga ke arah cermin kamarnya. *Prang!*

"Sialan! Kenapa dia bisa tahu soal pelayan butik itu?!" teriak Shania dengan napas memburu. Wajahnya yang biasanya dipoles cantik kini tampak mengerikan karena amarah. "Alzena itu bodoh! Dia seharusnya menangis dan diusir oleh Tuan Keano, bukan malah membuatku malu di depan semua orang!"

Shania mencengkeram ponselnya, menatap foto Alzena yang tampak begitu berwibawa di samping Keano semalam. "Lo pikir lo udah menang, Kak? Gue bakal bikin lo menyesal udah bangun dari koma itu."

Sementara itu, di ruang makan, Alzena sedang menikmati rotinya saat Keano turun dengan setelan kerja yang sempurna. Pria itu berhenti sejenak, menatap Alzena yang hari ini terlihat berbeda. Tidak ada gaun rumah tangga yang membosankan; Alzena memakai celana *jeans* hitam dan kaos putih polos yang ditutup dengan jaket kulit.

"Mau ke mana kau?" tanya Keano dingin, meski matanya tak lepas dari sosok istrinya.

"Ke Mall. Gue butuh beberapa barang," jawab Alzena santai tanpa menoleh.

Keano menarik kursi di depan Alzena. "Aku akan menyuruh Evan mengantarmu. Dan bawa kartu kredit dariku, gunakan sesukamu."

Alzena meletakkan rotinya dan menatap Keano datar. "Gue punya duit sendiri, Keano. Dan gue nggak butuh Evan buat ngikutin gue kayak anak ayam. Gue cuma mau jalan-jalan tenang."

Keano menyipitkan mata. Sifat keras kepala Alzena ini selalu berhasil memancing emosinya, tapi juga rasa penasaran yang tak terbendung. "Satu pengawal atau kau tetap di rumah. Pilih."

Alzena mendengus. "Oke, satu orang. Tapi dia harus jaga jarak minimal lima meter dari gue. Jangan sampai gue liat mukanya."

Keano hanya memberikan isyarat pada Evan yang berdiri di sudut ruangan. Setelah itu, ia berdiri dan mendekati Alzena. Secara tiba-tiba, ia menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga Alzena. "Jangan lama-lama. Kalau kau tidak pulang sebelum jam enam sore, aku yang akan menjemputmu sendiri."

Aroma parfum Keano yang kuat sempat membuat Alzena terpaku sejenak sebelum akhirnya ia mendorong bahu pria itu. "Iya, bawel. Sana kerja!"

New Ardent Mall adalah pusat perbelanjaan paling elit di kota itu. Alzena melangkah dengan percaya diri, mengabaikan pengawal yang mengikutinya dari kejauhan. Tujuan utamanya bukan untuk membeli tas atau sepatu mewah, meskipun dia mampir ke beberapa toko untuk sekadar menyamar.

Tujuan aslinya adalah sebuah toko elektronik khusus yang menjual komponen komputer langka. Ia butuh alat untuk membuat sebuah "alat pemancar" kecil yang tidak bisa dilacak oleh sistem Keano di rumah.

"Mas, ada motherboard seri X-90 yang ini?" tanya Alzena pada pelayan toko.

Pelayan itu tertegun melihat wanita cantik seperti Alzena menanyakan komponen teknis yang sangat rumit. "A-ada, Nyonya. Tapi ini biasanya hanya digunakan untuk server tingkat tinggi..."

"Gue tau. Ambilin aja dua, sama kabel fiber optik yang paling bagus," potong Alzena cepat.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Alzena merasa haus. Ia duduk di sebuah kafe terbuka di tengah mall. Sambil menyeruput kopi hitamnya, ia membuka ponselnya dan masuk ke jaringan Wi-Fi publik mall tersebut. Dengan beberapa gerakan jari, ia membobol sistem keamanan mall untuk memastikan tidak ada orang suruhan Shania yang mengikutinya selain pengawal dari Keano.

Namun, perhatiannya teralih saat ia melihat pantulan dirinya di kaca kafe. Ia teringat kata-kata Ibunya semalam soal "adik".

"Gue harus mulai nyari tau soal panti asuhan itu tanpa lewat jaringan rumah," gumamnya.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah toko peralatan bela diri di seberang kafe. Matanya berbinar. Ia butuh hand wrap, sepasang sarung tinju, dan mungkin sebuah samsak kecil yang bisa ia sembunyikan di ruang kerjanya. Jika ia ingin kembali menjadi Arcelia yang mematikan, ia harus mulai melatih tinjunya.

Saat ia sedang memilih sarung tinju, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang ia kenal—itu adalah kode dari mantan rekan kerjanya di dunia hacker dulu.

[Arcelia? Apa ini beneran lo? Jejak digital lo muncul di server New Ardent Mall. Lo masih hidup?]

Jantung Alzena berdegup kencang. Ia segera menghapus pesan itu. "Sial, gue terlalu ceroboh," bisiknya. Ia lupa kalau rekan-rekannya di seluruh dunia pasti sedang mencari tanda-tanda kehidupannya setelah berita kematiannya viral.

Ia segera keluar dari toko itu dengan terburu-buru, namun langkahnya terhenti saat ia menabrak dada bidang seseorang.

"Sudah selesai belanjanya?"

Itu Keano. Pria itu berdiri di sana dengan tangan di saku celana, tampak sangat menonjol di tengah keramaian mall dengan setelan jas mahalnya. Di belakangnya, Evan tampak berkeringat karena gagal menjaga jarak aman sesuai perintah Alzena.

"Lo... ngapain di sini? Katanya kerja!" seru Alzena kaget.

Keano melirik kantong belanjaan Alzena yang berisi komponen komputer dan perlengkapan tinju. Alisnya terangkat satu. "Kebetulan ada pertemuan di dekat sini. Dan aku ingin tahu apa yang dibeli istriku sampai mengabaikan jam makan siangnya."

Keano mengambil alih beberapa kantong belanjaan Alzena. "Komponen komputer dan sarung tinju? Kau mau membangun robot atau mau memukuli orang?"

"Dua-duanya kalau perlu," jawab Alzena asal, mencoba merebut kantongnya kembali tapi gagal.

Keano justru menggenggam tangan Alzena. Genggamannya tidak erat, tapi sangat protektif. "Ayo makan. Aku tidak mau kau pingsan lagi di tempat umum dan membuatku harus menggendongmu di depan kamera wartawan."

"Gue bisa makan sendiri, Keano!"

"Aku tidak bertanya pendapatmu," sahut Keano sambil menarik Alzena menuju restoran pribadi di lantai teratas mall tersebut.

Di dalam restoran yang sepi karena Keano telah memesan seluruh tempat, suasana kembali menjadi kaku. Keano memperhatikan Alzena yang makan dengan lahap, sangat berbeda dengan Alzena dulu yang hanya makan beberapa suap karena takut gemuk atau takut pada tatapan Keano.

"Setelah ini, jangan pergi ke tempat aneh-aneh lagi," ujar Keano tiba-tiba.

"Tempat aneh apa maksud lo? Mall itu tempat umum!"

"Maksudku, jangan mencoba menghubungi orang-orang dari masa lalu... atau mencari hal yang bisa membahayakan dirimu sendiri," kata Keano dengan nada yang sangat serius.

Alzena terdiam. Apakah Keano tahu soal pesan singkat tadi? Tidak, itu tidak mungkin. Sistem enkripsinya terlalu kuat. Tapi tatapan Keano seolah-olah bisa membaca pikirannya.

"Gue cuma mau hidup tenang, Keano. Dan hidup tenang versi gue adalah dengan punya persiapan," balas Alzena dingin.

Keano tidak menyinggung soal siapa Alzena sebenarnya. Baginya saat ini, melihat Alzena yang berani melawan dan punya semangat hidup jauh lebih penting daripada mencari tahu misteri di balik jiwanya. Ia hanya merasa, siapa pun wanita di depannya ini, ia tidak boleh membiarkannya pergi.

"Persiapkan dirimu untuk hal lain saja," ujar Keano pelan sambil mengusap sudut bibir Alzena yang terkena saus dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut hingga membuat Alzena membeku sejenak. "Keluargaku dari Calveron akan tiba lusa. Ibu ingin kau yang menyambut mereka."

Alzena menepis tangan Keano, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terserah lo lah. Tapi jangan salahin gue kalau nanti adek-adek lo gue ajak main yang nggak bener."

Keano tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat. "Lakukan sesukamu. Asal kau tetap di sisiku."

Tanpa mereka sadari, di luar restoran, seseorang sedang mengambil foto mereka secara sembunyi-sembunyi. Foto itu langsung terkirim ke ponsel Shania.

Shania menatap foto kemesraan mereka dengan mata merah padam. "Nikmati waktu kalian, Kak. Karena lusa, saat keluarga Winchester datang, aku akan memastikan mereka tahu kalau kamu bukan lagi Alzena yang mereka kenal. Kamu itu... monster."

...****************...

TBC

1
Iryani levana khrisna Khrisna
semoga tidak menggantung ya thor pernyataan cinta aja butuh jawaban apa lagi aku yang membaca cerita mu 😄
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!