NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta

Cahaya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saidah_noor

Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debaran yang tak biasa.

Cahaya masuk ke dalam kamarnya sambil membawa petikan bunga ditangannya. Bibirnya tersenyum begitu bahagia, tak seperti wanita yang tengah bercerai yang biasanya akan sering melamun atau pun menangis setiap hari.

Wanita ini justru menikmatinya, karena baginya pria brengsek emang pantesnya sama wanita brengsek gak perlu ditangisi. Cukup dinikmati, walau ia habiskan uang demi keluarga Fery setidaknya ia masih bisa mencari pria yang lebih baik.

Bibirnya menggemakan deheman lagu, ia melangkah sambil menatap hasil petikannya dan mencari sesuatu untuk menampung bunga-bunganya.

"Siapa suruh kau petik bunga-bunga itu?" suara pria tak asing mengejutkannya.

Cahaya tersentak kaget mendengar suara yang tiba-tiba ada dikamarnya. Serasa ketemu hantu berwajah oppa, mata Cahaya membulat penuh ada pemilik rumah yang duduk dikursi sofa dikamarnya. Melihat siapa yang ada didepannya ia menyembunyikan bunganya dibelakang tubuhnya dengan cepat.

"Aku tanya siapa yang menyuruhmu memetik bunga itu?" ulang Rayyan dengan tatapan yang mengunci.

"Ah, maaf. Itu kebiasaan saya, saya bayar bunganya. Per tangkainya berapa?" jawab wanita itu dengan tersenyum paksa.

"Aku gak menjualnya!" ujar Rayyan dengan ketus.

"Bos sialan! Cuma gegara bunga aja, cari ribut. Pasti ada maunya," umpat Cahaya dalam hati.

"Terus gimana dong, pak? Terlanjur kepetik ... Selain ganti rugi saya bisa apa," kata wanita itu berkeluh, berapa pun ia bayar dompetnya kan tebal.

Jangan sampai masalah sepele ini gak kelar, karena ia ingin segera pulang. Masa tinggal sama bos sendiri, emang dia siapanya.

"Siapa suruh petik? Bukannya berterima kasih sudah ditolong, malah nyuri bunga," komen Rayyan yang langsung memangku kedua tangannya, ia mengalihkan pandangannya lalu tersenyum samar.

"Maafin saya, pak. Lain kali gak saya ulang, juga terima kasih sudah tolongin saya. Kalau begitu saya akan pulang hari ini," ujar Cahaya memasang wajah bersalah.

"Gak dijinkan! Sebelum kamu bayar bunga itu dengan tubuh kamu," ujar Rayyan beranjak dari tempatnya.

Cahaya membelalakan matanya, ini transaksi yang gak masuk akal didunia ini. Bunga ditukar sama tubuh, gila kan. Dia pikir lelaki didepannya adalah pria yang sangat mesum, jelas sekali wajah mafia selangkangannya itu.

"Ma–mana bisa begitu, jangan karena kita pernah melakukan itu anda jadi seenaknya memperlakukan saya," protes Cahaya mengikuti bosnya kemana pun melangkah.

Rayyan diam, ia tetap melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar Cahaya. Sementara wanita itu terus mengekorinya dari belakang, hingga depan pintu bosnya berhenti.

Buk

Karena mendadak berhenti, Cahaya menabrak punggung kokoh bosnya dan mengaduh menyentuh dahinya.

Rayyan membalikkan badannya, "Cahaya, berani berbuat itu harus berani bertanggung jawab. Memangnya taman itu milik kamu? Bukan kan! Makanya kalau tinggal dirumah orang jangan asal ambil," bentaknya.

Cahaya terdiam, ia bersalah karena melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Kebiasaannya itu kini membuatnya kena getahnya, bagaimana pun ini sama saja dengan mencuri walau cuma setangkai bunga.

"Maaf," cicit Cahaya menundukkan kepalanya, lalu tangannya bertaut saling meremat.

Ia heran cuma karena bunga, sikap bosnya langsung sensi. Gimana kalau isi brangkasnya yang ia sikat, apa mungkin langsung dipenggal?

Bibir wanita itu cemberut, kesal dan marah karena perlakuan bosnya. Dalam hati ia sudah mengumpat puluhan kali, merasa harga dirinya tak jauh penting dari beberapa tangkai bunga ditangannya.

Namun anehnya, bentakan ini lebih sakit dari ucapan Fery kala dirumah sakit.

"Jadi malam ini kita tidur bareng lagi?" tanya Cahaya dengan polosnya.

Alis Rayyan bertaut, mendengar pertanyaan wanita didepannya. "Maksud kamu apa?" tanyanya.

"Kata anda, bunganya dibayar pake tubuh saya. Emang apalagi, sudah sedetail itu juga masih tanya," geram Cahaya.

Rayyan tersenyum, rasanya ingin meledak. Ternyata pikiran cowok dan cewek bagi yang belum menikah itu beda maksudnya, kalau soal bayar pake tubuh.

Rayyan menjitak kening wanita itu, hingga Cahaya mengaduh dan menatap padanya dengan muka bingung.

"Maksud saya, kamu harus jadi asisten pribadi saya dirumah. Bukan jadi selir saya, paham!" ungkap Rayyan menjelaskan.

Kembali Cahaya membulatkan matanya, mendengar penjelasan pria itu.

"Lagi pula saya sudah tahu rasa tubuh kamu, jadi sudah gak penasaran," ujar Rayyan menyidik badan Cahaya dari atas sampai bawah dengan bibir sungging yang manis.

Rayyan membalikkan badan dan membuka pintu, ia pun keluar dari kamar Cahaya. Sedangkan wanita itu mematung dengan mulut terbuka. Bukan bosnya yang bermasalah tapi otaknya yang ada virusnya.

"Apa?!" pekik Cahaya dengan tertahan, "sialan! Ini memalukan banget."

***

Keesokan harinya ...

Pagi-pagi Cahaya sudah bangun, ia menggosok giginya dan mencuci mukanya. Soal mandi ntar saja yang penting pak bos sudah dilayani, jadi kini wanita itu tengah berada didepan pintu kamar bosnya.

Tok tok tok

"Pak Rayyan, saya masuk!" ucap Cahaya sembari memutar knop pintu, ia masuk kedalam kamar yang masih remang-remang.

Sesuai perjanjian semalam, Setiap pagi Cahaya harus membangunkannya menemaninya jalan-jalan pagi disekitaran taman. Soal itu pun ia setujui.

"Pak Rayyan, sudah pagi," ucap Cahaya menggoyangkan lengan lelaki itu, namun tak ada respon baik.

Bosnya masih terlelap dalam mimpinya, Cahaya mulai mencoba kembali namun tetap saja. Malah sekarang lelaki itu memiringkan badannya mengubah posisi tidur membelakanginya.

Cahaya mencari cara bagaimana membangunkan singa satu ini, matanya melihat ke sekitar kamar tersebut. Bibirnya tersenyum saat sebuah ide terlintas diotaknya.

"Siapa suruh nyuruh aku bangunin dipagi buta," gumam Cahaya.

Prang prang prang

Sebuah suara keras yang berasal dari ponsel miliknya ia nyalakan, bunyi gelas atau piring pecah itu sengaja ia lakukan untuk membangunkannya. Alih-alih pengganti mikropon, yang penting pak bos bangun.

Benar saja idenya itu membuat Rayyan tersentak bangun. Lelaki itu duduk dan melihat ada seorang wanita yang duduk ditepi ranjangnya.

"Suara apa tadi?" tanya Rayyan dengan dada kembang kempis.

"Suara bangunin orang tidur," jawab Cahaya dengan santainya.

"Cahaya!" geram Rayyan, "begini kah caramu bangunkan orang?"

"Dari tadi dibangunin kagak bangun-bangun, saya pikir bapak sudah tinggal raga," ujar wanita itu merasa puas.

Mata Rayyan membulat, tak disangka wanita disampingnya ini sangat berani. Berani mengumpatinya meninggal.

"Senang ya? Kalau begitu kita mati bareng!" Rayyan menarik badan Cahaya, memposisikan diri dan mengungkungnya.

Tirai terbuka sendiri, kala remote gorden tak sengaja tertekan oleh kedua manusia itu. Cahaya langit menghangatkannya memperjelas posisi dan wajah keduanya.

Keduanya saling menatap, saling menyidik pada satu bagian wajah. Dag dig dug rasanya jantung mereka, gegara berada pada satu posisi yang intim. Nafas mereka serasa tercekat, memuji wajah lawan dalam hati.

Debaran ini tak biasa bagi Cahaya, ia belum pernah merasakan detak jantungnya bekerja sangat cepat. Bahkan saat bersama Fery pun kalah jauh, karena debaran ini membuatnya kena serangan jantung.

Mata Rayyan mulai teralihkan pada benda kenyal berwarna pink itu. Perlahan wajahnya mendekati bagian yang mempesona tersebut. Pelan-pelan dan semakin dekat.

Namun ...

Klek

"Tuan, selamat pagi!" suara kepala asisten rumahnya datang untuk menyambut paginya.

Pasangan itu menoleh pada sumber suara dan mereka bertiga saling bertatap muka.Terkejut, tentu saja. Masih pagi melihat posisi mereka buat suasana menjadi canggung, pikiran mesum pun terlintas begitu saja.

Pria paruh baya itu membelalakan matanya, melihat pemandangan yang tak pernah ia perkirakan.

"Ha! Saya gak lihat, tuan! Gak lihat" ujar laki-laki berusia 50 an tersebut sembari membalikkan badannya membelakangi kedua pasangan tersebut.

1
falea sezi
🤣🤣 mertua toxic
🌀 SãñõõR 💞
yap ntar ceritanya jadi membingungkan.
partini
saling terhubung suami selingkuh dengan wanita yg pernah di sukai lelaki yg tidur dengan cahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!