Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kamar Masa Kecil & Pesan yang Tak Berhati
Sebelum langkah kaki mereka benar-benar meninggalkan pekarangan rumah kayu itu untuk kembali ke kota, Mireya mendadak menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia menoleh pelan ke arah Calix yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Aku minta waktu satu jam," ucap Mireya, suaranya terdengar begitu tipis, serak, dan tanpa tenaga. "Biarkan aku sendiri di kamar Nenek. Setelah itu... aku berjanji akan ikut kamu ke kota tanpa membantah lagi."
Calix menatap sepasang mata sembap istrinya yang kini terlihat begitu kosong. Rasa bersalah dan kecemburuan yang berkecamuk di dadanya sejak kemarin membuat pria itu tidak memiliki alasan untuk menolak. "Satu jam, Mireya. Jangan lebih."
Mireya tidak membalas. Ia melangkah masuk ke dalam kamar kecil di sudut rumah, lalu memutar kunci selot pintu besi yang sudah berkarat dari dalam. Klek.
Begitu pintu terkunci rapat, seluruh pertahanan tegap yang Mireya tunjukkan di pemakaman tadi runtuh tak bersisa. Tubuhnya merosot jatuh di balik pintu, dan sedetik kemudian, raungan tangis yang teramat memilukan pecah memenuhi kamar yang pengap itu. Mireya menangis meraung-raung, meremas selendang hijau pudar di dadanya, meluapkan segala kesakitan, kehinaan, dan rasa sepi yang menghimpit jiwanya.
Di atas ranjang kayu reot dengan kasur kapuk tipis di sudut kamar, ingatan masa kecilnya berputar seperti kaset rusak.
Mireya mengingat jelas hari di mana Ardan dan Fiona meninggalkannya begitu saja di desa ini demi mengejar ambisi kemewahan mereka di kota. Malam-malam awal yang menakutkan itu selalu dilewatinya dalam pelukan hangat sang Nenek. Neneknya tidak pernah membacakan buku dongeng fantasi berilustrasi indah seperti yang biasa didapatkan anak-orang kaya di kota. Namun, dengan suara tuanya yang lembut, Nenek selalu menceritakan kisah-kisah perjuangan para Nabi, sejarah Islam yang penuh pengorbanan, sejarah Indonesia, hingga tokoh-tokoh teladan yang beliau ketahui.
"Reya, cucu Nenek yang ayu," suara Nenek seolah terngiang kembali di telinganya. "Hidup ini memang kadang sempit dan sulit. Tapi ingat, Nak, Gusti Allah tidak pernah tidur. Seberapa pun beratnya ujianmu nanti, kamu harus tetap mandiri, ikhlas, dan sabar. Jangan pernah gadai harga dirimu demi dunia."
Mireya mencengkeram lantai tanah kamar itu hingga kukunya kotor. "Nenek... maafkan Reya... Reya terpaksa melanggar nasihat Nenek... Reya sudah menggadaikan diri Reya..." rintihnya histeris, dadanya naik turun dengan sesak yang luar biasa.
Di luar kamar, waktu terasa merambat begitu lambat. Satu jam telah berlalu, namun suara tangis meraung-raung dari dalam kamar kecil itu belum juga reda, justru terdengar semakin menyayat hati.
Bi Ani yang berdiri di ruang tengah bolak-balik dengan cemas. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, tangannya bertautan menahan gelisah. Rasa sakit di hatinya ikut berdenyut melihat penderitaan nyonya mudanya yang begitu malang. Dengan keberanian yang tersisa, Bi Ani berjalan mendekati Calix yang sejak tadi duduk diam di kursi kayu ruang tamu dengan tatapan lurus ke depan.
"Tuan Besar... maafkan kelancangan saya," bisik Bi Ani, suaranya bergetar menahan tangis. "Nyonya Muda... Nyonya Muda sudah lebih dari satu jam menangis meraung-raung di dalam. Saya... saya sangat cemas, Tuan. Saya takut fisik Nyonya tidak kuat dan terjadi apa-apa di dalam. Hati saya rasanya sakit sekali mendengar suaranya..."
Calix tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. Benar, sudah satu jam sepuluh menit. Suara tangisan histeris Mireya yang semula terdengar jelas dari ruang tamu, perlahan-lahan mulai memudar dan mendadak senyap sama sekali.
Keheningan yang tiba-tiba itu justru membuat jantung Calix berdegup dua kali lebih cepat karena panik. Pria itu langsung bangkit berdiri, melangkah cepat menuju kamar Mireya.
"Mireya! Buka pintunya!" panggil Calix, mengetuk pintu kayu itu dengan keras. Tidak ada jawaban.
Tanpa membuang waktu, Calix memberi kode pada Doni. Dengan satu hentakan kuat, pintu kayu yang lapuk itu berhasil didobrak terbuka.
Aroma minyak kayu putih dan melati tua langsung menyambut Calix. Di atas lantai, Mireya tergeletak pingsan dengan posisi meringkuk memeluk selendang Neneknya. Wajahnya dipenuhi sisa air mata yang mengering, kelopak matanya bengkak, dan napasnya terdengar begitu berat karena kelelahan emosional yang luar biasa.
Hati Calix mendadak mencubit perih—sebuah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya untuk wanita mana pun setelah tragedi masa lalunya. Calix melangkah mendekat, membungkuk, lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia menggendong tubuh ringkih Mireya ke atas ranjang kayu reot milik Neneknya.
Mireya melenguh kecil dalam tidurnya, merapatkan tubuhnya mencari kehangatan. Melihat hal itu, Calix terdiam sesaat. Pria konglomerat yang biasa tidur di atas kasur berharga ratusan juta itu kini justru merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur kapuk tipis yang keras di samping Mireya. Calix membawa tubuh Mireya ke dalam dekapannya, memeluk gadis itu dengan erat seolah mencoba menyerap seluruh rasa sakit yang sedang diderita istrinya.
Aku tidak pernah berpikir kalau melihatmu sesakit ini... akan membuatku ikut sesakit ini, Mireya, batin Calix, menatap wajah polos istrinya yang tampak begitu rapuh dalam tidur.
Drrrt... Drrrt...
Keheningan di kamar itu terganggu oleh getaran konstan dari ponsel milik Mireya yang tergeletak di atas meja kayu kecil di samping ranjang. Layar ponsel yang menyala menampilkan sebuah notifikasi pesan teks masuk.
Calix mengernyitkan dahi. Ia mengulurkan tangannya yang panjang untuk meraih ponsel tersebut. Begitu layar terbuka, nama "Mama Fiona" tertera di sana. Calix membaca baris demi baris pesan itu dengan netra elangnya yang perlahan melebar karena terkejut, yang kemudian dengan cepat berubah menjadi kilatan amarah yang teramat pekat.
Mama Fiona: Reya, bagaimana? Nenekmu sudah dikubur, kan? Jangan lama-lama di desa, tidak ada gunanya menangisi orang yang sudah mati. Ingat, Papa hari ini butuh tambahan modal lagi sekitar sepuluh miliar untuk mengamankan proyek baru dari David Group. Kamu bicara pada Tuan Calix sekarang, minta dia transfer lagi hari ini juga. Jangan sampai kamu tidak berguna di sana!
Brak!
Calix mencengkeram ponsel itu begitu kuat hingga jemarinya memutih. Rahangnya mengatup rapat dengan urat-urat leher yang menegang sempurna. Amarah yang luar biasa kini membakar seluruh akal sehat Calix David.
Bagaimana mungkin ada orang tua yang sekutuk dan sekejam ini? Di saat putri kandung mereka sedang hancur lebur kehilangan nenek yang membesarkannya—yang juga merupakan orang tua kandung dari Fiona sendiri—wanita itu sama sekali tidak menanyakan kabar duka atau sekadar menghibur. Tanpa hati dan moral, pikiran mereka hanya dipenuhi oleh uang, uang, dan uang. Mereka memperlakukan Mireya tak lebih dari sekadar mesin anjungan tunai mandiri yang bisa diperas kapan saja.
Calix menoleh menatap Mireya yang masih terlelap dengan sisa rintihan kecil di bibirnya. Rasa benci Calix pada Ardan dan Fiona kini telah mencapai puncaknya.
"Manusia-manusia serakah tidak tahu diri," geram Calix dengan suara rendah yang bergetar karena murka yang teramat sangat. Pria itu perlahan melepaskan pelukannya, bangkit dari ranjang, lalu melangkah keluar kamar dengan aura membunuh yang begitu pekat.
Di ruang tamu, Doni yang melihat wajah merah padam tuannya langsung menundukkan kepala dengan takzim.
"Doni," panggil Calix, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang siap mencabut nyawa.
"Ya, Tuan Besar?"
"Batalkan seluruh rencana suntikan modal tambahan untuk perusahaan Ardan Pradipta hari ini. Dan pastikan..." Calix menjeda kalimatnya, matanya berkilat kejam. "...tarik kembali semua saham yang sudah kita amankan dari mereka. Aku ingin melihat sejauh mana mereka bisa merangkak mengemis di kakiku setelah ini."
semangat terus ya Thor...