NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teori Malam Pertama

Setelah kepergian Kapten Sagara menuju Bandara Halim Perdanakusuma, suasana di kediaman Mwohan berangsur sepi. Rombongan kiai sepuh dari Jombang telah bertolak menuju hotel transit untuk beristirahat. Di ruang tengah, kini hanya tersisa Bapak Handoko yang sedang bersantai di teras, serta Nara, Gus Zayyad, dan tentu saja Davika.

Nara dan Gus Zayyad duduk di sofa beludru dengan jarak satu jengkal, masih diselimuti kecanggungan pasca-akad. Zayyad sibuk membolak-balik buku nikah bersampul merah di tangannya dengan pasang muka serius, seolah sedang membaca manifes bea cukai kontainer hulu. Sementara Nara menunduk dalam, jemari halusnya bertautan di atas pangkuan.

*Ploroooot.*

Suara sedotan es boba yang habis memecah keheningan takzim tersebut. Davika menggeser kursi bar di dekat meja pantry monokrom, lalu berputar 180 derajat menghadap sepasang pengantin baru itu. Riasan *cat-eye* di matanya yang berwarna *green-gray* langka tampak berkedip-kedip penuh selidik.

"Gus kaku, Mbak Nara," panggil Davika dengan volume suara yang sama sekali tidak santai, membuat Zayyad refleks mendongak. "Davik mau tanya hal krusial seputar taktik operasional nanti malam."

Nara mendadak punya firasat buruk melihat binar kedegilan tingkat dewa di mata adiknya. "Davika, kalau kamu mau bahas soal *skincare* lagi, nanti saja "

"Bukan!" potong Davika ceriwis, menaruh gelas bobanya yang kosong dengan bunyi *tuk* yang keras. "Ini soal malam pertama. Davik penasaran tingkat tinggi, nanti malam kalian berdua bakal langsung gas pol di ranjang pakai taktik apa?"

*Uhuk!*

Gus Zayyad mendadak tersedak ludahnya sendiri. Wajah tampannya yang berstruktur tegas khas *oppa* Korea itu seketika berubah merah padam sampai ke ujung telinga. Buku nikah di tangannya hampir saja merosot ke lantai. Sementara Nara langsung menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan, syok berat dengan kelakuan frontal adik bungsunya.

"Davika! Jaga bicaramu!" bisik Nara dengan nada panik sekaligus malu setengah mati.

"Lho, Davik kan nanya secara ilmiah dan taktis, Mbak!" bantah Davika tanpa dosa, memajukan tubuh padat berisi yang terbalut *hoodie* merah mudanya itu ke arah sofa. "Soalnya dari tadi Davik perhatikan, Gus Zayyad posisinya kaku terus kayak manekin dipajang. Mbak Nara juga nunduk mulu kayak lagi nyari semut ilang. Gimana mau gas pol kalau dua-duanya polos dan kaku begini? Apa perlu Davik bikinin draf tutorialnya di laptop? Davik punya *file* risetnya, lho!"

Zayyad berdeham sangat keras, mencoba mengembalikan wibawa baritonnya yang sempat runtuh akibat peluru kendali *random* dari adik iparnya. Jakunnya naik turun dengan ritme cepat.

"Davika... urusan domestik malam hari... tidak memerlukan draf atau simulasi komputer," sahut Zayyad dengan nada sedingin es yang dipaksakan, meski seluruh otot tubuh kekarnya mendadak tegang seolah bersiap menghadapi serangan bom satelit.

"Oh, jadi langsung pakai insting taktis darurat kayak pas kita ngebut pakai motor dua silinder semalam, Gus?" cecar Davika lagi dengan kepolosan ekstrem, menaik-turunkan alisnya yang rapi alami. "Tapi ingat ya Gus, jangan kencang-kencang gasnya, kasihan Mbak Nara belum pernah ikut balapan liar!"

Nara yang sudah tidak tahan lagi dengan ke-kocakan tingkat antariksa adiknya, langsung bangkit dari sofa, meraih bantal sofa beludru, dan melemparkannya tepat ke arah wajah Davika.

"Davikaaaaa! Masuk kamar sekarang atau semua gantungan capybara kamu Mbak bakar sore ini juga!" teriak Nara, wajahnya sudah matang mirip kepiting rebus.

Davika dengan gesit menangkap bantal tersebut sambil tertawa cekikikan gila, lalu melompat turun dari kursi bar dengan memeluk stoples *skincare*-nya. "Iya, iya! Davik masuk markas! Selamat mencoba rasa baru ya, Gus kaku! Jangan lupa berdoa sebelum pencet tombol *start*!"

Gadis genius nan degil itu melesat naik ke lantai dua dengan tawa renyahnya yang menggema, meninggalkan ruang tengah yang mendadak diselimuti oleh keheningan baru yang jauh lebih mendebarkan dan penuh rasa penasaran tingkat tinggi di antara Gus Zayyad dan Nara.

...----------------...

Keheningan yang melingkupi ruang tengah pasca-ledakan *random* Davika barusan baru saja mereda selama tiga detik. Gus Zayyad baru bisa mengembuskan napas panjang dan melonggarkan kerah kemeja kokonya yang terasa makin mencekik, sementara Nara perlahan menurunkan kedua tangan dari wajahnya yang masih sepanas kompor.

Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi optik.

*Sret.*

Kepala dengan rambut hitam lurus yang dikuncir kuda asal-asalan tiba-tiba kembali menyembul dari balik pilar marmer hitam dekat tangga. Davika tidak benar-benar kembali ke kamarnya. Gadis remaja itu berdiri di sana dengan menopang dagu pada pegangan tangga kayu, menatap lurus ke arah sepasang pengantin baru dengan binar mata *green-gray* langka yang penuh rasa penasaran tingkat tinggi.

"Gini, Gus, Mbak... Davik punya solusi alternatif yang sangat solutif," cetus Davika dengan nada suara yang terdengar seperti seorang konsultan logistik hulu sedang memaparkan draf tender ekspor.

Nara menoleh dengan patah-patah, firasat buruknya langsung naik ke level darurat. "Davika, masuk kamar. Sekarang."

"Bentar dulu, Mbak! Ini demi kelancaran proses regenerasi dinasti keluarga kita!" bantah Davika ceriwis, sifat *random*-nya melonjak ke tingkat antariksa. "Gimana kalau nanti malam Davika jadi penonton saja di pojokan kamar? Davika bakal diam kok, janji! Cuma bawa buku catatan taktis sama laptop buat memantau grafik."

*Uhuk! Uhuk!*

Gus Zayyad yang baru saja berniat meminum sisa air putih di meja langsung tersedak hebat untuk kedua kalinya. Pria tegap berwajah *oppa* Korea itu terbatuk-batuk sampai dadanya yang bidang naik turun dengan liar. Wibawa dingin dan muruah pesantren yang ia bangun selama dua puluh enam tahun hidup di bumi seketika menguap, hancur berkeping-keping oleh kepolosan ekstrem adik iparnya.

"Davika... jaga batas kesopananmu," tegur Zayyad dengan suara bariton yang bergetar kaku, wajah tegasnya kini sudah merah padam sampai ke leher.

"Lho, Davik kan penasaran tingkat dewa, Gus!" cecar Davika tanpa dosa, melangkah maju dua baris dengan *oversized hoodie* merah mudanya yang bergoyang lucu. "Kata artikel sains yang Davik baca di internet, kalau malam pertama langsung gas pol tingkat dewa, sperma sama sel telur bakal ngelakuin manuver taktis terus bisa jadi bayi! Davik kan mau lihat secara langsung gimana proses draf teorinya berubah jadi wujud fisik nyata. Selama ini Davik cuma tahu cara ngerakit mesin motor dua silinder, bukan ngerakit bayi!"

"DAVIKA OVWUA MWOHAN !!!"

Nara akhirnya meledak seutuhnya. Ia melompat dari sofa beludru, wajah polosnya sudah matang sempurna mirip kepiting rebus yang siap saji. Dengan gerakan kilat, Nara menyambar kotak tisu akrilik di atas meja dan bersiap mengejar adiknya yang super degil itu.

Melihat Mbak Nara sudah mengaktifkan mode singa betina mirip seperti Kapten Sagara kalau lagi mengamuk, Davika langsung memekik jenaka. Gadis mungil bertubuh padat berisi itu memutar tubuhnya dengan gesit, mengambil langkah seribu menaiki tangga marmer menuju lantai dua sembari tertawa cekikikan gila.

"Hahaha! Gus kaku, buruan dikondisikan itu Mbak Nara! Gasnya udah bocor duluan sebelum malam tiba! Jangan lupa taktik manuvernya ya, Guuus!" teriak Davika dari balik koridor atas sebelum pintu kamarnya dibanting dengan bunyi *blam* yang keras.

Suasana ruang tengah kembali sunyi senyap, menyisakan deru napas Nara yang memburu karena malu dan jengkel setengah mati. Di atas sofa, Gus Zayyad hanya bisa mematung kaku bagai patung semen, menatap lurus ke depan dengan otak taktisnya yang mendadak *blank* total. Pertarungan semalam melawan komplotan Kamil di ujung dermaga Jakarta Utara rasanya jauh lebih mudah daripada harus menghadapi kepolosan tingkat dewa dari pelindung genius keluarga Mwohan yang satu itu.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!