NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PERJAMUAN TERAKHIR (FINAL)

Bab 16: Perjamuan Terakhir (Final)

Malam itu, kediaman Bimo Pratama tampak seperti sebuah kastil yang indah namun mematikan. Lampu kristal di ruang makan bersinar terang, memantul di atas meja marmer yang dipenuhi hidangan mewah. Namun, di balik kemewahan itu, ada ketegangan yang sanggup memutus napas siapa pun yang masuk.

Aruna melangkah masuk dengan gaun merah darah yang menjuntai elegan. Ia tidak datang dengan rasa takut; ia datang dengan kepastian seorang eksekutor. Di sampingnya, Adrian berjalan dengan tenang, membawa tas kerja yang berisi "bom" informasi yang siap diledakkan.

"Selamat malam, Ms. Rhea. Kami sudah menunggu," ucap Bimo dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Di sebelahnya, Siska duduk dengan wajah kaku, tangannya terus meremas serbet di bawah meja.

"Terima kasih atas undangannya, Pak Bimo. Saya rasa, makan malam ini akan menjadi momen paling bersejarah bagi kita semua," Aruna duduk tepat di hadapan Bimo.

Suasana menjadi sunyi saat seorang pelayan membawa Kenzo masuk ke ruangan. Anak itu tampak bingung dan matanya sembab. Begitu melihat Rhea, Kenzo terpaku. Ia menatap wanita itu lama, ada kilatan pengenalan di matanya yang kecil.

"Tante... mirip Mama," bisik Kenzo pelan.

Siska tertawa sinis. "Lihat, Ms. Rhea? Anak ini merindukan ibunya yang sudah mati. Sangat menyedihkan, bukan? Seorang ibu yang gila dan akhirnya tewas mengenaskan di hutan."

Aruna meletakkan sendoknya dengan pelan. Suara logam beradu dengan piring terdengar seperti dentang lonceng kematian. "Ibu yang gila? Atau ibu yang sengaja dibuat gila oleh suaminya yang sosiopat dan selingkuhannya yang haus harta?"

Bimo membeku. Ekspresi "Rhea" berubah total. Suaranya tidak lagi rendah dan berwibawa khas Singapura, melainkan suara Aruna yang tajam dan menusuk.

"Cukup sandiwaranya, Aruna," Bimo menyandarkan tubuhnya, matanya berkilat kejam. "Aku tahu itu kamu. Kamu pikir dengan sedikit riasan dan bantuan pengacara buangan ini kamu bisa menang? Kamu masuk ke rumahku. Kamu dalam kekuasaanku sekarang."

Bimo memberi kode, dan tiga pengawal berbadan besar muncul di pintu, mengunci semua jalan keluar.

"Aku punya semua bukti bahwa kamu masuk secara ilegal ke rumah ini dan mencoba memeras kami melalui Tyas," lanjut Bimo. "Polisi akan datang, dan kali ini, kamu tidak akan masuk ke klinik. Kamu akan masuk ke penjara selamanya."

Aruna justru tertawa. Tawa yang membuat Siska merinding.

"Bimo, Bimo... Kamu selalu meremehkanku," Aruna memberi isyarat pada Adrian.

Adrian membuka laptopnya dan memutarnya ke arah Bimo. "Pak Bimo, saat kita bicara sekarang, tim IT saya sudah mengirimkan seluruh data *offshore* yang dicuri Tyas ke Direktorat Pajak dan Unit Kriminalitas Ekonomi. Dan bukan itu saja."

Layar laptop berganti menunjukkan siaran langsung dari depan rumah Bimo. Ada belasan mobil polisi dan kerumunan wartawan yang sudah mengepung gerbang.

"Apa-apaan ini?!" teriak Siska panik.

"Rekaman CCTV yang kamu pikir sudah musnah? Tyas menyimpannya di *cloud* pribadi sebagai asuransinya. Dan video Siska yang sedang memegang pistol sambil mengancam Tyas semalam? Itu baru saja terunggah ke media sosial dan menjadi viral dalam hitungan menit," jelas Aruna sambil berdiri.

Aruna berjalan mendekati Kenzo, mengabaikan pengawal yang ragu untuk bergerak karena mendengar sirene polisi yang semakin kencang di luar.

"Dan satu lagi, Bimo," Aruna berbisik tepat di telinga suaminya yang kini pucat pasi. "Klinik itu sudah digerebek satu jam yang lalu. Maya—wanita yang kamu kurung tujuh tahun—sudah ditemukan. Dia siap menjadi saksi utama atas semua kasus penculikan dan malpraktik yang kamu danai."

Pintu depan didobrak paksa. Polisi masuk dengan senjata lengkap. Bimo mencoba bangkit dan melawan, namun ia langsung dijatuhkan ke lantai dan diborgol. Siska menjerit histeris saat seorang polwan menyeretnya keluar dari kursi megahnya.

"Ini salah! Dia yang gila! Aruna yang gila!" teriak Siska sambil meronta, namun wartawan sudah mulai mengambil fotonya—mengabadikan kehancurannya untuk seluruh dunia.

Aruna berlutut di depan Kenzo. Ia melepas kacamata hitamnya, menghapus riasan tajam di matanya dengan tisu, dan tersenyum dengan tulus—senyum yang hanya dimiliki oleh seorang ibu.

"Kenzo, ini Mama, Sayang. Mama sudah pulang."

Kenzo menangis sejadi-jadinya dan menghambur ke pelukan Aruna. "Mama! Jangan pergi lagi, Ma!"

"Tidak akan, Sayang. Tidak akan pernah lagi."

Adrian berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan lega. "Semua sudah selesai, Aruna. Asetmu akan segera dipulihkan, dan mereka tidak akan pernah melihat cahaya matahari sebagai orang bebas lagi."

Aruna berdiri sambil menggendong Kenzo. Ia berjalan keluar dari rumah itu, melewati Bimo yang sedang digiring polisi. Aruna tidak menoleh sedikit pun. Baginya, Bimo dan Siska sudah menjadi masa lalu yang mati.

Di bawah guyuran hujan yang mulai mereda, Aruna menatap langit malam. Ia tidak lagi butuh topeng Rhea Mahendra. Ia adalah Aruna—seorang wanita yang telah memenangkan peperangan paling berdarah dalam hidupnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...**TAMAT**...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!