Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Serpihan Kaca dan Dekap Pertama
Pedal gas itu kuinjak hingga menyentuh dasar lantai mobil.
Raungan mesin V8 dari SUV hitamku membelah kesunyian fajar seperti auman monster besi yang mengamuk. Di depanku, gerbang besi berkarat itu tampak membesar dalam hitungan per sekian detik. Dua preman yang menodongkan pistol ke arah Bumi menoleh, mata mereka membelalak ngeri saat menyadari bahwa dua ton baja mematikan sedang melesat lurus ke arah mereka dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam.
Aku tidak memejamkan mata.
Dulu, jangankan menabrakkan mobil, melihat segores lecet pada cat mobil mewah ini saja bisa membuatku memecat supir pribadiku. Tapi detik ini, nilai dari sebuah benda mati menguap tak bersisa. Yang kulihat hanyalah suamiku yang berdiri tanpa perlindungan, berhadapan dengan moncong kematian.
"Menyingkir, Bumi!" jeritku, meski aku tahu suaraku tak akan terdengar dari balik kaca kedap suara.
Bumi—dengan insting bertahan hidup yang luar biasa—menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berguling ke arah semak-semak tepat satu detik sebelum benturan itu terjadi.
BRAAAAK!
Suara besi beradu dengan besi terdengar memekakkan telinga. Gerbang tua itu terlepas dari engselnya, terpelanting menghantam pos satpam. Tubuhku tersentak hebat ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang mengunci keras, menghentakkan tulang selangkaku. Kantung udara (airbag) meledak keluar dari kemudi, menghantam wajahku dengan keras dan melepaskan debu putih beraroma kapur yang mencekik paru-paru.
Kaca depan retak seribu, membentuk pola sarang laba-laba. Pemandangan di depanku buram. Telingaku berdenging hebat.
Aku terbatuk-batuk, mencoba menyingkirkan airbag yang mengempis. Bau karet terbakar dan cairan radiator yang bocor memenuhi udara. Tanganku gemetar hebat saat aku meraba sabuk pengaman, menekan tombol pelepasnya dengan panik.
"Bumi..." suaraku hanya berupa bisikan parau.
Tiba-tiba, pintu di sebelahku ditarik paksa dari luar. Engselnya berderit protes sebelum akhirnya terbuka lebar.
Bumi berdiri di sana. Wajahnya dipenuhi debu, ujung pelipisnya tergores ranting dan meneteskan darah segar, tapi matanya... oh, matanya memancarkan kepanikan yang begitu liar dan mentah, sesuatu yang belum pernah kulihat dari pria setenang dirinya.
"Aruna! Ya Allah, Aruna!"
Tangan besarnya yang gemetar merengkuh wajahku, menyapu rambut yang menutupi pandanganku. Dia memeriksa leherku, bahuku, dan lenganku dengan gerakan cepat namun sangat hati-hati, memastikan tidak ada tulang yang patah.
"Aku... aku tidak apa-apa," jawabku, nafasku masih terputus-putus.
"Kamu udah gila!" bentaknya, namun suaranya pecah, sarat akan kelegaan yang amat sangat. "Saya menyuruh Kamu diam di mobil! Kamu bisa mati, Aruna!"
"Mereka mau menembakmu!" balasku, tak kalah keras, air mata pelan-pelan menetes di sudut mataku karena kombinasi shock dan sisa adrenalin. "Aku tidak akan diam saja melihat suamiku dibunuh di depan mataku!"
Bumi terpaku. Kata 'suamiku' yang kuucapkan dengan penuh penekanan itu seolah mematikan sakelar kemarahannya. Jakunnya naik turun. Tanpa mempedulikan debu dan pecahan kaca di sekitarku, dia mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil dan menarikku ke dalam dekapannya.
Itu bukan pelukan canggung seperti di rumah sakit. Ini adalah dekap seorang pria yang baru saja menyadari betapa takutnya ia kehilangan wanita di lengannya. Dadanya yang bidang terasa sekeras batu, namun degup jantungnya yang berpacu gila-gilaan menembus lapisan kemejanya, seirama dengan detak jantungku sendiri.
Aku membalas pelukannya, menenggelamkan wajahku di lekuk lehernya, menghirup aroma tubuhnya yang kini bercampur dengan bau debu dan bahaya. Selama bertahun-tahun aku membangun tembok es di sekeliling hatiku, meyakinkan diriku bahwa aku tidak butuh siapa-siapa. Tapi di pelukan pria ini, di tengah rongsokan mobilku sendiri, aku menemukan rumah yang sesungguhnya.
"Terima kasih," bisiknya parau di puncak kepalaku. "Tapi tolong, jangan pernah lakukan hal sebodoh ini lagi!."
Aku mengangguk dalam pelukannya.
Suara rintihan dari arah pos satpam menarik kami kembali ke realita. Bumi melepaskan pelukannya perlahan. Tatapannya kembali menajam.
Salah satu preman itu tergeletak tak sadarkan diri karena tertimpa runtuhan pagar. Preman kedua sedang merangkak di tanah, memegangi kepalanya yang berdarah, mencoba meraih pistolnya yang terlempar beberapa meter jauhnya.
Sebelum preman itu berhasil menyentuh senjatanya, Bumi melangkah cepat, menendang pistol itu jauh ke semak-semak. Dengan gerakan efisien, ia menarik kerah jaket preman itu, memaksa pria berbadan gempal itu berlutut.
"Di mana anak itu?" suara Bumi berubah menjadi dingin dan mengancam, sama sekali berbeda dengan pria lembut yang menyeduh kopi di dapurku pagi tadi.
"Persetan kau..." preman itu meludah.
Bumi tidak kehilangan ketenangannya. Ia menekan titik saraf di pangkal bahu preman itu dengan ibu jarinya, sebuah teknik bela diri praktis yang entah ia pelajari dari mana. Preman itu seketika menjerit tertahan, tubuhnya mengejang kesakitan.
"Saya bertanya satu kali lagi. Di mana Bintang?" ulang Bumi tanpa mengubah nadanya.
"D-di ruang manajer! Lantai dua bangunan utama!" rintih preman itu, menyerah pada rasa sakit.
Bumi melepaskan tekanannya, lalu menggunakan sabuk milik preman itu sendiri untuk mengikat kedua tangannya ke tiang besi pos satpam yang tersisa.
Dia kembali ke arahku, mengulurkan tangan. "Polisi akan tiba dalam lima menit. Kita masuk, ambil Bintang, dan keluar dari tempat kotor ini sebelum bala bantuan mereka yang lain datang. Anda bisa jalan?"
Aku menatap sepasang sepatu hak tinggi Christian Louboutin merahku. Tanpa ragu, aku melepaskan kedua sepatu itu dan melemparkannya ke kursi belakang. Di tempat berserakan kaca dan paku berkarat ini, simbol kemewahanku adalah sebuah bunuh diri.
"Aku nyeker saja," kataku, melangkah keluar dari mobil dengan hati-hati.
Bumi mengerutkan kening. Dia melepaskan jaket ritsletingnya yang berbahan tebal, lalu melemparkannya ke tanah, tepat di depan kakiku. Dia mengambil beberapa kain lap bersih dari bagasi mobilnya sendiri (yang entah bagaimana sudah ia bawa di ranselnya), membungkus kedua telapak kakiku, dan mengikatnya erat menggunakan sobekan dari lengan kemejanya sendiri.
Aku terdiam, tenggorokanku tercekat melihat pria ini berlutut di depanku, membungkus kakiku agar tidak terluka oleh pecahan kaca.
"Saya tidak mau istri saya berjalan tanpa alas di atas beling," ucapnya pelan, tidak menatapku, fokus pada simpul kain di pergelangan kakiku.
Ya Tuhan. Bagaimana bisa aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan dinilai dari digit angka di rekening bank? Perlakuan kecilnya ini terasa lebih mahal dari berlian mana pun yang pernah Adrian belikan untukku.
Kami berlari kecil memasuki bangunan utama pabrik yang gelap dan pengap. Aroma jamur dan karat menyergap hidung. Tidak ada pencahayaan selain dari senter ponsel Bumi. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat, posisinya selalu berada setengah langkah di depanku, menjadikanku tameng dari apa pun yang mungkin melompat dari kegelapan.
Kami menaiki tangga beton yang sudah retak menuju lantai dua. Sepi. Terlalu sepi.
"Ruang manajer biasanya ada di ujung lorong yang menghadap lantai pabrik," bisikku, mengingat tata letak standar pabrik tekstil.
Bumi mengangguk. Kami bergerak menyusuri lorong panjang itu. Pintu ruangan di ujung lorong tampak sedikit terbuka. Ada cahaya temaram dari sebuah lampu darurat di dalamnya.
Bumi melepaskan tanganku, memberikan isyarat agar aku diam di belakangnya. Dia menekan kenop pintu, mendorongnya perlahan.
"Bismillah," gumamnya sangat pelan.
Ruangan itu berantakan. Berkas-berkas berjamur berserakan di lantai. Dan di sudut ruangan, terikat pada sebuah kursi kayu tua, duduk seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah dasar yang sudah kotor. Mulutnya dilakban, matanya basah oleh air mata ketakutan.
"Bintang!" seruku tak tertahan.
Mata anak itu membelalak melihat kami.
Bumi segera menghampirinya, berlutut di depan Bintang. "Ssst, jagoan. Tidak apa-apa, Om Bumi di sini. Ibumu yang menyuruh kami menjemputmu."
Bumi melepaskan lakban di mulut Bintang dengan sangat hati-hati, lalu membuka ikatan tambang di tangan dan kakinya. Begitu terbebas, Bintang langsung berhambur ke pelukanku, menangis sejadi-jadinya.
"Tante Aruna... aku takut..." isaknya, membasahi blus sutra mahalku.
Insting keibuanku—perasaan yang selalu kutekan sejak dokter memvonis bahwa rahimku terlalu lemah untuk mengandung akibat stres dan kelelahan ekstrem bertahun-tahun—tiba-tiba meledak. Harapan yang dulu sempat kubunuh, kini berdenyut kembali melihat betapa rapuhnya seorang anak. Aku mendekap anak itu erat-erat, mengelus punggungnya yang bergetar. "Ssst, kamu aman, sayang. Kita pulang sekarang."
Namun, saat kami berbalik untuk keluar dari ruangan itu, sebuah suara tawa serak dan tepuk tangan lambat menggema dari arah pintu masuk.
"Wah, wah... pemandangan keluarga kecil yang sangat mengharukan."
Seorang pria jangkung dengan luka codet di pipinya berdiri menghalangi pintu. Di tangannya, sebatang pipa besi sepanjang satu meter berayun pelan. Dia tidak sendirian. Di belakangnya, muncul dua pria lain dengan tubuh tak kalah kekar. Ini bukan preman kacangan di gerbang depan. Ini adalah eksekutor bayaran.
"Bos bilang, jika CEO kita yang cantik datang kemari, kami bebas bersenang-senang dulu sebelum mengurusnya," ucap pria bercodet itu, seringaiannya menjijikkan. Tatapannya menyapu tubuhku dengan lapar.
Bumi memposisikan dirinya tepat di depanku dan Bintang. Punggung lebarnya menutupi kami sepenuhnya.
"Aruna," suara Bumi sangat tenang, tapi getaran amarah di dalamnya membuat suhu ruangan seolah turun sepuluh derajat. "Tutup mata Bintang. Mundur ke dekat jendela."
Aku memeluk Bintang lebih erat, memaksanya menenggelamkan wajah ke perutku, lalu mundur pelan-pelan ke arah jendela kaca yang kotor.
"Kau pikir kau jagoan, anak muda?" cemooh pria bercodet itu, melangkah maju sambil mengangkat pipa besinya. "Kau hanya tangan kosong melawan besi? Kau terlalu banyak nonton film!"
"Saya tidak butuh besi," jawab Bumi pelan. Matanya tidak berkedip. "Saya hanya butuh waktu."
Pria itu mengayunkan pipa besinya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Bumi.
Aku menjerit.
Namun Bumi tidak menangkisnya. Dia merendahkan tubuhnya dengan kecepatan kilat, membiarkan pipa itu mendesing melewati udara kosong di atas kepalanya. Di saat yang bersamaan, dia maju memangkas jarak, menggunakan momentum ayunan lawannya untuk melontarkan sikunya tepat ke arah ulu hati pria bercodet itu.
Suara hantaman tumpul terdengar. Pria itu tersedak hebat, matanya melotot, dan pipa besi terlepas dari tangannya. Bumi menendang lutut pria itu hingga ia tersungkur, lalu dengan tenang memungut pipa besi yang jatuh.
Dua preman di belakangnya tertegun. Mereka baru menyadari bahwa pemuda berkaus oblong ini bukan karyawan kantoran biasa. Latar belakang pesantren dan jalanan telah menempa Bumi menjadi sosok yang tahu cara melindungi dirinya sendiri.
Tepat saat kedua preman sisa itu hendak maju mengeroyok, suara sirene polisi yang melengking tajam memecah kesunyian fajar. Lampu rotator biru dan merah berkelebat menembus celah-celah jendela pabrik yang kotor, menerangi ruangan itu layaknya klab malam yang mencekam.
Suara bariton dari megapfon menggelegar dari halaman luar. "Ini Kepolisian Reserse Kriminal! Gedung ini sudah dikepung! Letakkan senjata dan menyerah!"
Wajah kedua preman itu memucat. Nyali mereka ciut seketika mendengar barikade polisi yang mulai mendobrak masuk dari lantai bawah. Tanpa mempedulikan bos mereka yang masih terbatuk-batuk di lantai, keduanya berbalik dan berlari melarikan diri lewat tangga darurat.
Bumi tidak mengejar mereka. Dia langsung membuang pipa besi di tangannya, seolah benda itu najis baginya. Dia berbalik menatapku, dadanya naik turun dengan cepat.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya, suaranya kembali melembut seketika.
Aku hanya bisa mengangguk, masih syok dengan transformasi kilat suamiku dari seorang petarung yang mematikan kembali menjadi pria yang lembut dan protektif.
Beberapa saat kemudian, derap langkah sepatu lars berat terdengar di lorong. Pintu didobrak masuk oleh beberapa anggota kepolisian bersenjata lengkap. Di belakang mereka, Kombes Polisi Herman—rekanan lamaku dari klub golf yang jujur dan tak bisa dibeli—masuk dengan wajah tegang.
"Aruna! Syukurlah kau aman," seru Herman, memerintahkan anak buahnya untuk memborgol preman bercodet yang masih merintih di lantai.
"Terima kasih, Pak Herman," ucapku, melepaskan pelukan Bintang yang segera diamankan oleh seorang polisi wanita. "Lukman Wiratmadja yang menjadi dalang semua ini. Preman-preman ini anak buahnya."
Herman mengangguk tegas. "Kami sudah memantau pergerakan Lukman sejak laporan peretasanmu bulan lalu. Insiden penculikan ini adalah bukti pidana murni. Kami sedang mengirim tim ke kediaman Lukman sekarang juga untuk melakukan penjemputan paksa."
Beban berat seberat gunung yang menindih bahuku selama dua tahun terakhir terasa luruh seketika. Lukman akan ditangkap. Ancaman dewan direksi berakhir. Perusahaanku aman.
Aku menoleh ke arah Bumi. Dia sedang berdiri bersandar di dinding koridor, tampak sangat kelelahan. Keringat membasahi rambutnya. Dia tersenyum tipis padaku—sebuah senyuman yang mengatakan 'kita berhasil'.
Aku berjalan menghampirinya, tidak mempedulikan kakiku yang dibalut kain kotor, tidak mempedulikan penampilanku yang acak-acakan. Saat aku berdiri di hadapannya, tanpa berkata apa-apa, Bumi mengulurkan tangannya dan mengusap sisa air mata dan debu di pipiku dengan ibu jarinya.
"Semuanya sudah berakhir, Aruna," bisiknya. "Anda sudah bebas."
Aku menggeleng pelan, meletakkan tanganku di atas tangannya yang berada di pipiku. "Tidak. Kita baru saja mulai, Bumi."
Di tengah koridor pabrik tua yang dipenuhi hiruk-pikuk polisi itu, duniaku menyusut hanya sebesar pria yang berdiri di hadapanku. Aku tidak tahu ke mana arah pernikahan ini selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin melepaskannya.
"Permisi, Ibu Aruna," seorang petugas polisi muda menginterupsi momen kami dengan canggung. Dia memegang sebuah ponsel pintar yang layarnya retak. "Kami menyita ponsel ini dari saku preman yang pingsan di pos gerbang depan tadi. Sepertinya ada pesan siaran (broadcast message) darurat yang baru saja dikirimkan ke seluruh anggota komplotan penculik ini. Ini dari nomor yang dinamai 'BOS BESAR'."
Bumi mengerutkan kening, mengambil ponsel itu dari tangan si petugas. Aku ikut mencondongkan tubuh untuk membaca layar yang menyala.
Napas kami berdua seketika tercekat. Tetesan es seolah mengalir lurus ke tulang belakangku.
Di layar retak itu, terpampang sebuah pesan yang baru saja masuk satu menit yang lalu.
BOS BESAR: “Biarkan anak itu pergi, polisi sudah bergerak. Alihkan ke Rencana B. Kita pastikan Sifa tidak pernah bangun dari komanya pagi ini. Eksekutor medis sudah ada di dalam ruang ICU.”
____________________________________________
Ponsel itu lolos dari genggaman Bumi, jatuh membentur lantai beton dengan suara retakan yang memuakkan. Mata Bumi membelalak kosong. Di saat yang bersamaan, ponsel Aruna bergetar di dalam tasnya. Itu panggilan dari Hajah Fatimah. Dan saat Aruna mengangkatnya, yang terdengar hanyalah suara jeritan Hajah Fatimah dan bunyi alarm darurat rumah sakit yang saling bersahutan.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘