"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PENGKHIANATAN SANG KEPERCAYAAN
Bab 15: Pengkhianatan Sang Kepercayaan
Keringat dingin terus mengucur dari pelipis Tyas saat ia berdiri di depan pintu ruang kerja pribadi Bimo di rumah megah itu. Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Suasana rumah sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan dengkur halus dari kamar pengawal di lantai bawah. Tyas tahu, jika ia tertangkap malam ini, Bimo tidak akan segan-segan menghabisinya. Namun, bayangan cek satu miliar di saku celananya dan ancaman rekaman CCTV dari "Rhea" membuatnya tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan gemetar, Tyas memasukkan kode kombinasi pintu yang ia curi-curi lihat minggu lalu.
Klik. Pintu terbuka pelan.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus celah gorden. Tyas segera menuju brankas di balik lukisan potret diri Bimo. Ia ingat kata-kata Rhea: "Berkas aset luar negeri." Setelah beberapa kali mencoba, brankas itu terbuka. Di dalamnya, selain tumpukan uang tunai dan perhiasan, terdapat sebuah map kulit berwarna hitam dengan stempel *Offshore Holdings*.
"Dapat," bisik Tyas. Ia segera mengeluarkan ponselnya, memotret setiap lembar dokumen tersebut dengan tangan yang masih gemetar.
Namun, saat ia hendak menutup kembali brankas itu, lampu ruangan tiba-tiba menyala terang.
"Sedang mencari tambahan bonus, Tyas?"
Tyas meloncat kaget hingga ponselnya terjatuh. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan gaun tidur sutranya, namun wajahnya tidak menunjukkan kantuk sama sekali. Ia memegang sebuah pistol kecil—senjata yang Bimo belikan untuk "keamanan" sejak Aruna menghilang. Matanya berkilat penuh amarah dan kecurigaan yang sudah menumpuk sejak pertemuannya dengan Rhea.
"I-Ibu Siska... saya... saya hanya diperintah Pak Bimo untuk mengambil dokumen yang tertinggal," gagap Tyas, mencoba mencari alasan paling masuk akal.
"Bohong!" teriak Siska, suaranya melengking di tengah kesunyian malam. "Bimo sedang tidur pulas di kamar sebelah. Kamu pikir aku bodoh? Aku sudah memperhatikan gerak-gerikmu sejak di kantor. Kamu sering berbisik-bisik di telepon dan menghilang saat jam makan siang. Katakan, siapa yang menyuruhmu? Apakah wanita Singapura itu? Rhea Mahendra?"
Tyas terpojok. Ia tahu Siska jauh lebih tidak stabil dibandingkan Bimo. "Bu, tolong turunkan senjatanya. Saya bisa jelaskan..."
"Jelaskan apa?! Bahwa kamu mau mengkhianati kami?" Siska mendekat, pistolnya kini menempel tepat di dahi Tyas. "Rhea itu siapa sebenarnya, Tyas? Kenapa dia tahu soal gaun tidur itu? Kenapa dia tahu soal gunting?! Katakan, atau aku tarik pelatuk ini sekarang juga!"
Tyas yang sudah kehilangan nyali akhirnya ambruk. "Dia punya rekaman CCTV itu, Bu! Rekaman saat saya masuk ke apartemen Aruna! Dia mengancam akan melaporkan saya ke polisi jika saya tidak memberikan dokumen aset ini. Dia bilang Pak Bimo akan menjadikan saya kambing hitam!"
Siska tertegun. Genggamannya pada pistol sedikit mengendur. Rekaman CCTV? Bagaimana mungkin Rhea memiliki sesuatu yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh Bimo? Sebuah pemikiran mengerikan melintas di benak Siska. Sesuatu yang selama ini ia tepis jauh-jauh karena terlalu mustahil.
"Rhea... dia bukan orang Singapura, kan?" bisik Siska pada dirinya sendiri. "Suaranya... tatapannya yang dingin itu... tidak mungkin..."
"Dia tahu segalanya, Bu! Tolong biarkan saya pergi, saya hanya ingin selamat!" ratap Tyas.
Siska tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Selamat? Tidak ada yang selamat jika dia benar-benar kembali, Tyas. Jika Aruna masih hidup, kita semua akan mati."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Bimo muncul di pintu dengan wajah beringas, mengenakan jubah mandi. Ia menatap brankas yang terbuka, Tyas yang bersimpuh, dan Siska yang memegang pistol.
"Apa-apaan ini?!" bentak Bimo.
"Bimo! Asisten kesayanganmu ini sedang mencuri dokumen aset kita untuk diberikan pada Rhea!" seru Siska, beralih menunjuk Tyas. "Dan kamu tahu apa yang dia katakan? Rhea punya bukti kejahatan kita di apartemen Aruna! Bangun, Bimo! Wanita itu bukan investor! Dia adalah Aruna yang datang untuk menuntut balas!"
Bimo terdiam. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Ia berjalan mendekati Tyas, lalu tanpa peringatan, ia melayangkan tendangan keras ke dada Tyas hingga pria itu tersungkur menabrak meja kayu.
"Berikan ponselnya padaku," perintah Bimo dingin.
Bimo memeriksa foto-foto dokumen yang diambil Tyas, lalu membanting ponsel itu hingga hancur berkeping-keping. Ia berbalik menatap Siska dengan tatapan yang sangat tajam. "Kalau dia memang Aruna, dia sudah membuat kesalahan besar dengan masuk ke dalam permainanku lagi. Dia pikir dia bisa menghancurkanku dengan bantuan pengacara pecundang seperti Adrian?"
Bimo mengambil pistol dari tangan Siska. "Tyas, kamu akan tetap di sini sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan padamu. Dan Siska... besok pagi, kita akan mengundang Ms. Rhea Mahendra untuk makan malam pribadi di rumah ini. Kita akan lihat, seberapa kuat dia bisa menjaga topengnya saat dia melihat anaknya sendiri berada di bawah ancamanku."
Di tempat persembunyiannya, Aruna melihat semua kejadian itu melalui kamera tersembunyi yang dipasang Tyas—sebelum ponselnya hancur. Ia meremas pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Bimo baru saja menggunakan Kenzo sebagai umpan.
"Dia menantangku," bisik Aruna pada Adrian yang berdiri di belakangnya.
"Ini berbahaya, Aruna. Jangan datang ke rumah itu. Itu jebakan," cegah Adrian.
Aruna berdiri, mengenakan mantel hitamnya dengan anggun. Matanya berkilat dengan api yang tidak akan pernah padam sebelum tujuannya tercapai. "Dia ingin aku datang sebagai Rhea? Baiklah. Aku akan datang sebagai Rhea Mahendra. Tapi aku akan keluar dari sana sebagai Aruna yang memenangkan peperangan ini. Siapkan tim, Adrian. Besok malam, rumah itu akan menjadi saksi kehancuran Bimo Pratama."
...****************...
...***************...
...**************...
Bersambung...
Bab 16: Perjamuan Terakhir.
...Author Note:...
...Wah, Tyas ketahuan! Kira-kira apa rencana Aruna buat menyelamatkan Kenzo di tengah makan malam maut itu?...