Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkerjasama dengan gengster
Aris menyadari bahwa tujuannya membersihkan Jakarta dari korupsi bukanlah sekadar memenangkan kasus di pengadilan; itu adalah menyatakan perang terhadap para penguasa bayangan. Dengan setiap kemenangan Bimo, semakin banyak pejabat tinggi dan taipan bisnis yang kehilangan sumber kekayaan ilegal mereka.
Aris menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan preman jalanan, melainkan dengan predator yang sangat sabar. *The Syndicate*
Keanehan mulai terasa ketika Bimo menyadari bahwa setiap kali mereka memenangkan sidang, jaksa penuntut yang kalah selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada saksi: "Siapa yang memberikan bukti ini pada Anda? Bagaimana Anda tahu posisi chip itu sebelum penggeledahan?"
Aris menangkap gelagat tersebut melalui *Ghost Eye*. Dari ketinggian, Aris melihat ada mobil van hitam yang selalu parkir di depan gedung kantor mereka selama berhari-hari. Mobil itu tidak menyerang, hanya mengamati.
"Mereka tidak mencoba membunuh kita," bisik Aris pada Bimo dan Hana di ruang bawah tanah mereka. "Mereka sedang mengumpulkan pola. Mereka sadar ada sesuatu yang tidak logis di setiap langkah kita."
**
Benar saja, pemerintah melalui badan intelijen khusus mulai menyusupkan seorang "klien" palsu. Namanya Dika, pria yang mengaku sebagai korban penggusuran tanah oleh perusahaan multinasional. Dika begitu meyakinkan, penuh air mata, dan membawa dokumen yang tampak sangat asli.
Namun, Aris—dengan gelang peraknya—melakukan ritual rutinnya sebelum menerima klien: ia memutar waktu ke satu jam sebelum Dika masuk ke kantor.
Di dalam dimensi waktu, Aris melihat Dika yang sedang menunggu di depan pintu kantor. Pria itu tidak menangis. Ia justru membuka perangkat scanner kecil dan memindai frekuensi di sekitar kantor mereka untuk mencari letak server milik Hana. Bahkan, Aris mendengar Dika bicara pada earphone-nya, "Target terdeteksi di dalam. Persiapkan tim pengintai di titik buta satelit. Kita akan memancing mereka menunjukkan metode operasionalnya."
Aris tersenyum tipis di dalam lorong waktu. Ia tidak langsung mengusir Dika. Ia justru memberikan "umpan".
Kembali ke masa kini, Aris memberi kode lewat pesan terenkripsi pada Hana: "Biarkan dia masuk. Berikan dia data sampah yang terlihat seperti petunjuk kunci kita."
Hana segera memindahkan folder berisi dokumen palsu ke server yang mudah diretas.
Bimo pun memainkan perannya dengan cemerlang, memberikan nasihat hukum yang seolah-olah didasarkan pada penyelidikan detektif misterius.
Selama berminggu-minggu, terjadi permainan kucing kucingan. The Syndicate terus mengirim mata-mata dengan berbagai kedok: teknisi internet, kurir makanan, hingga calon staf magang. Aris membiarkan mereka mencuri data palsu yang dirancang Hana untuk menyesatkan mereka ke arah yang salah.
Strategi ini membuat pemerintah dan The Syndicate semakin bingung. Mereka mulai mencurigai satu sama lain. Aris berhasil menciptakan paranoia di dalam jajaran The Syndicate dengan mengirimkan bukti-bukti anonim yang seolah-olah datang dari dalam organisasi mereka sendiri.
***
Ketegangan di Jakarta mencapai titik didih. The Syndicate akhirnya menyadari bahwa data yang mereka curi adalah jebakan. Mereka tidak lagi menggunakan mata-mata, melainkan mulai memutus akses listrik dan internet di distrik tempat kantor Aris berada, mencoba melumpuhkan Hana dan mobilitas mereka.
Aris tahu ia butuh perlindungan yang tidak bisa dibeli dengan hukum. Ia butuh otot.
Ia teringat sebuah nama yang beredar di pasar gelap Panji sang Godfather penguasa wilayah bawah tanah Jakarta. Panji bukan sekadar gangster biasa, dia juga adalah orang yang mengendalikan seluruh distribusi logistik di kota tanpa terdeteksi oleh pemerintah.
Aris dan Bimo memutuskan untuk menemui Panji di sebuah klub malam eksklusif yang hanya bisa diakses melalui lift bawah tanah. Di sana, di antara dentuman bass yang berat, Aris bertemu Panji.
"Aku tahu kau siapa, Aris," suara Panji berat dan dingin. Ia menyesap cerutunya, matanya menatap tajam. "Kau adalah pria yang membuat para menteri itu gemetar. Tapi kau hanyalah kutu yang mencoba melawan raksasa dengan logika hukum."
"Bukan logika yang kubawa, Panji," Aris mengeluarkan gelang peraknya, meletakkannya di meja. "Aku membawa masa lalu. Aku bisa memberimu akses ke rahasia terdalam musuhmu—orang-orang yang sebenarnya bertanggung jawab atas kejadian kekalahan gengster mu dulu."
Panji terdiam. Aris telah riset. Ia tahu Panji mencari dalang di balik operasi gagal tahun 2038 yang menewaskan seluruh gengster nya.
Aris mengaktifkan gelang peraknya. Ia memberikan akses visual pada mata Panji melalui proyeksi hologram kecil dari gelang tersebut. Panji melihat sebuah rekaman masa lalu nya yang diambil Aris: sang Ketua Syndicate sendiri yang saat itu memberikan perintah untuk mengorbankan gengster Panji demi keuntungan pribadi.
Mata Panji memerah karena amarah yang dipendam selama bertahun-tahun. Ia menutup proyeksi itu dengan kepalan tangan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Panji pelan.
"Perang," jawab Aris tegas. "Kau sediakan pasukan dan perlindungan untuk timku. Aku akan menjadi mata dan telinga yang tak bisa mereka hindari. Kita bersihkan Jakarta, kau dapat balas dendammu, dan aku dapat kedamaian untuk orang-orang yang tertindas."
Aliansi itu pun terbentuk. Kantor Bimo & Rekan kini dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaan Panji yang menyamar menjadi staf keamanan.
The Syndicate yang mencoba mengirim pembunuh bayaran kini berakhir dengan nasib nahas, mereka hilang tanpa jejak begitu memasuki zona kekuasaan Panji.
Namun, kerja sama ini membuat Aris mulai melintasi garis moral. Untuk memenangkan perang melawan korupsi, ia harus menggunakan cara-cara gangster. Aris mulai terbiasa memerintahkan Panji untuk melakukan intimidasi, penyadapan ilegal, bahkan serangan fisik terhadap aset The Syndicate.
Hana mulai merasa cemas. "Aris, kita mulai melakukan apa yang kita lawan," bisiknya suatu malam saat melihat laporan keuangan hasil pemerasan yang dilakukan geng Panji terhadap kroni koruptor.
Aris hanya menatap keluar jendela, melihat lampu kota Jakarta yang tampak seperti sirkuit raksasa. "Untuk membasmi parasit, terkadang kau harus membakar seluruh ladangnya, Hana."
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor