NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9| Terpesona

Nyaringnya suara bell pulang menggema seantero gedung sekolah, sorak-sorai bersatu dengan derap langkah kaki yang memantul di lorong-lorong gedung. Aluna tidak bersaing bersama yang lain untuk keluar dari kelas, ia menguap malas sembari merenggang tubuhnya.

"Lo pasti datengkan nanti malem?"

Aluna sontak saja menoleh ke samping, Karina bangkit dari kursi. Alis mata tipisnya ditarik tinggi ke atas, Aluna tertegun tanpa suara.

"Itu loh, nanti malam party yang diadain sama my baby boy Gavino," sambung Karina mengingatkan teman satu bangkunya tentang pesta ulang tahun keturunan Van Houten.

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, dan mengangguk patah-patah. "Y—ya, kalo dibolehin sama Nyokap gue," sahut Aluna sekenanya.

Karina merotasikan kedua bola matanya. "Oh come on Aluna! Ini party tiap tahun kita tungguin. Dan nggak semua orang diundang. Gue nggak mau tau, lo harus datang. Kalo nggak gue bakalan ke rumah lo nyeret lo biar ikutan," balas Karina gemas dengan jawaban acuh tak acuh dari Aluna.

Bibir merah ranumnya terbuka sayangnya Karina telah melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan Aluna di dalam kelas seorang diri. Desahan resah mengalun, kedua sisi pipi Aluna menggembung.

"Rasanya baru tadi siang gue nggak sengaja ketemu dia, itu dah bikin gue ngerasa horor. Cakep si cakep, kalo punya aura psikopat kayak dia mah gue juga nggak punya nyali buat datang," keluh Aluna frustrasi.

Derap langkah kaki memasuki kelas menarik perhatian Aluna, Sebastian menghampiri meja Aluna.

"Apa?" tanya Aluna jutek tak senang dengan ekspresi wajah dingin Sebastian.

"Lo nanti malam ke pesta bareng gue," kata Sebastian seakan menegaskan bukan tengah mengajak.

Dahi putih Aluna mengerut, "Lah, lo kesambet setan atau lo salah minum obat. Kenapa mendadak mau ke pesta bareng gue?"

Kedua kelopak mata Aluna memicing curiga, ekspresi wajah Sebastian masih tampak sama. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca oleh Aluna, diam-diam membuat Aluna kembali mengeluh dengan tokoh Sebastian. Pria satu ini sulit untuk dibaca, terkesan tertutup.

"So, lo mau berangkat ke pesta Gavino sama Kai, hm?"

"Wait, kok lo jadi bawa-bawa si Kai. Gue sama Kai nggak dalam hubungan yang-ngapain juga gue jelasin ini ke lo," tutur Aluna saat sadar, "pokonya gue nggak tau mau ke pesta atau nggak nanti malam. Lo ajak aja Ze—oh, oke. Kita pergi bareng."

Aluna menelan penolakan saat manik mata hitam legam Sebastian berkilat menakutkan, Sebastian mengangguk tanpa suara.

"Gue jemput lo entar malam," putus Sebastian, ia berbalik membelakangi Aluna melangkah keluar begitu saja.

Aluna mengangkat tangan kanannya mengacungkan jari tengah ke arah Sebastian dengan bibir mencabik namun, anehnya Sebastian menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Kecepatan refleks Aluna cukup sigap, keempat jari jemari lentiknya langsung kembali naik dan melambaikan tak lupa memaksakan senyum ramah disertai anggukan kepala pada Sebastian.

Sebastian kembali mengayunkan langkah kakinya, senyum di bibir Aluna langsung sirna.

"Woah, gila. Apa di belakang kepalanya ada mata juga?" Aluna bergidik ngeri dan terburu-buru meraih tas sekolahnya berdiri beranjak terburu-buru meninggalkan kelas.

...***...

Sentuhan lembut di bahu Aluna menarik dari rasa kantuk tercipta saat wajahnya dirias, bulu mata lentik Aluna berkibar saat ia membuka mata. Di belakang tubuhnya Sonya—ibu Aluna tampak tersenyum, Aluna menatap lurus ke arah pantulan cermin rias. Ia bahkan tak tahu sejak kapan perias wajah selesai dan pergi dari kamarnya, hingga hanya menyisakan dirinya dan sang ibu.

"You're really beautiful," puji Sonya tulus.

Kedua sisi pipi Aluna bersemu, ini pujian pertama dalam hidupnya yang ia dengar secara langsung. Jika di dunia nyata mendengar pujian itu, mungkin Aluna akan diam-diam merasa dibohongi. Namun, sejauh mata memandang dari sudut mana pun ia merasa tidak ada yang terlihat jelek. Wajah tokoh Aluna memiliki kecantikan menggoda, berbeda dengan Zea—protagonis wanita yang memiliki kecantikan yang rapuh hingga membuat banyak pria berlomba-lomba untuk mengulurkan tangan hanya untuk melindunginya. Sementara kecantikan Aluna, kecantikan yang menyesatkan pria dalam godaan.

"Mommy jauh lebih cantik daripada aku," balas Aluna malu-malu.

Sonya terkekeh kecil, ia mengecup puncak kepala Aluna dan berdiri dengan tegap di belakang tubuh Aluna. Matanya masih menatap ke cermin, tidak ada yang menyangka jika keduanya bukan ibu-anak. Mengingat Sonya terlihat sedikit kemiripan dengan Aluna, itulah yang membuat sang suami setuju mengadopsi Aluna kecil yang tampak memiliki kemiripan sekilas dengan sang istri.

Bibir Sonya terbuka bersamaan dengan ketukan di daun pintu kamar yang terbuka lebar, perempuan paruh baya itu mengulas senyum ramah.

"Maaf Nyonya, teman Non Aluna sudah datang dan sedang menunggu di ruang tamu," ujarnya memberi tahu.

Sonya yang melongok ke belakang mengangguk sekilas, Aluna berdiri dari posisi duduknya.

"Ya udah, ayo turun." Sonya meraih tas sang putri dan menggandengnya melangkah keluar bersama menuju pintu keluar.

"Bidadari mana yang turun di malam hari, hm?" sapa suara bariton saat Sonya dan Aluna baru saja keluar dari ruangan kamar tidur.

Langkah kaki keduanya berhenti, Sonya tersenyum lebar. Ia melepaskan gandengan, melangkah menuju ke arah sang suami. Memeluk suaminya dengan senyum cerah, keduanya melirik ke arah Aluna secara serentak.

"Gimana? Putri kita sangat cantik 'kan." Sonya meminta pendapat sang suami.

Kepala Fandi mengangguk, dan menjawab, "Tentu saja dong, sangat cantik sekali seperti mommy-nya."

Fandi mengedipkan matanya saat membawa atensinya ke samping, Sonya merona tampak malu-malu saat ikut dipuji oleh sang suami. Aluna tersenyum memperhatikan keromantisan ayah angkatnya pada Sonya, keduanya jauh berbeda dari orang tua Aluna di dunia nyata. Meskipun bukan orang tua kandung, keduanya begitu fokus pada kebahagiaan tokoh Aluna. Kasih sayang dan perhatian yang dicurahkan pada tokoh Aluna bahkan jauh lebih nyata, itu membuat hati Aluna yang kesepian tanpa pernah merasa apa itu figur orang tua terasa begitu hangat dan damai.

"Aw! Sakit, Sayang." Fandi mengeluh saat perutnya dicubit, dan terkekeh.

Sonya tak mengindahkan keluhan sang suami, matanya kembali melirik putrinya. Gadis dengan gaun hitam di atas lutut itu masih berdiri dengan tatapan mata cerah, Sonya berdehem dua kali.

"Kamu harus segera turun, nanti telat ke party-nya," titah Sonya.

Kepala Aluna mengangguk, dan menjawab, "Kalo gitu aku pamit pergi Mommy! Daddy!"

Ketukan suara high heels berwarna senada dengan warna gaun Aluna, tema pesta ulang tahun Gavino kali ini adalah hitam. Gaun dengan lengan panjang dipenuhi glitter putih mengkilat tampak anggun dikenakan, rambut hitam legamnya ditata bergelombang di bagian bawah. Riasan wajah Aluna tidak berlebih-lebihan, tidak menghilangkan kesan untuk ukuran gadis remaja seusianya.

Sebastian tampak berdiri di ruang tamu membelakangi Aluna, suara derap langkah gaduh dari high heels membentur lantai mengalihkan fokus Sebastian. Ia melongok ke belakang dan berbalik, ia tertegun melihat penampilan Aluna. Bibir merahnya terlihat jauh lebih seksi dengan lipstik merah cherry yang penuh dibagian bawah, riasan dibagian mata pun membuat kesan yang berbeda di mata Sebastian. Aroma manis menguar di udara, semakin Aluna mendekat semakin tercium jelas aroma manisnya.

"Ayok berangkat!" seru Aluna saat ia berdiri di depan Sebastian.

Dahi Aluna berlipat saat tidak mendapatkan respon, pupil mata Sebastian melebar ia jelas menatapnya namun, seakan-akan jiwanya tak ada di depan Aluna. Tangan kanan Aluna melambai ke arah Sebastian, menyentak pria itu dari lamunannya.

"Hello! Ayo, kenapa malah bengong gitu," tegur Aluna kembali mengalun.

"Oh? Ah, iya." Sebastian menjawab linglung, aromanya begitu manis seperti permen yang menggoda untuk dicicipi.

Sebastian tahu jika Aluna cantik namun, malam ini entah kenapa ia merasa gadis di depannya ini berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Jantung Sebastian berdebar keras di kala jari kemari lentik Aluna bersentuhan dengan pergelangan tangannya, gadis itu menarik Sebastian menuju teras sedikit mengerut. Lucunya Sebastian tidak mendengar suara apapun dari mulut Aluna, seakan semua suara mendadak senyap. Hanya suara debar jantungnya sendiri yang terdengar sangat keras bak genderang perang.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!