Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Semakin Buram
Malam setelah insiden di Laboratorium Manufaktur berlalu dengan sangat lambat bagi Kirana. Pikirannya buntu total.
Setelah dia membaca novel yang berjudul "Arunika di Kala Senja" di Noveltoon dia langsung mengerjakan tugas jurnalistiknya. Tapi novel yang baru saja dia baca itu cukup membuat dia sedikit happy karna ceritanya yang seru dan bikin penasaran, pikirnya.
Laporan jurnalistiknya yang di Laboratorium Teknik yang seharusnya menjadi tugas yang menantang, kini berubah menjadi beban moral yang menghimpit dada. Ia harus tetap profesional menyelesaikan laporan itu, mengolah data observasi dan foto-foto yang sempat ia ambil sebelum kekacauan terjadi.
Kirana menatap layar laptopnya yang masih menampilkan kursor berkedip. Ia mencoba fokus menyusun paragraf, namun setiap kali jemarinya menyentuh papan ketik, bayangan Bima yang menerjangnya di tengah kepulan uap panas selalu muncul.
Ia teringat suara dentang logam yang memekakkan telinga dan bagaimana punggung lebar Bima menjadi tameng hidup baginya.
Ia merasa harus menebus kesalahannya. Luka di tangan Bima adalah fakta yang terus menghantunya. Ia merasa bertanggung jawab atas luka itu karena kecerobohannya melewati garis kuning hanya demi sebuah foto. Kirana bukan tipe orang yang suka berutang budi, apalagi pada orang yang sifatnya sekaku Bima.
Pagi harinya, Kirana memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia mampir ke apotek kampus, membeli sekotak plester medis berkualitas tinggi dan sebotol kecil cairan antiseptik. Ia menyimpannya di dalam tas, dibungkus plastik putih kecil.
Rencananya sederhana: berikan pada Bima, minta maaf secara singkat karena telah membuatnya terluka, lalu pergi. Tak perlu ada drama, tak perlu ada perdebatan panjang.
Siang itu, matahari menyengat area Universitas Wikerta. Kirana mendapat info dari Maya bahwa anak-anak Teknik sedang berkumpul di selasar Gedung Olahraga (GOR) untuk tanding. Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat terlalu sengaja, Kirana berjalan menyusuri koridor beton menuju GOR.
Dari kejauhan, ia melihat sosok yang dicarinya. Bima sedang duduk di bangku semen panjang di pinggir selasar yang berangin. Ia mengenakan kemeja biru tua dengan lengan yang digulung kasar. Perban putih yang kemarin melilit tangannya kini terlihat kotor, sedikit lepas di bagian ujung, dan menampakkan luka lecet yang masih kemerahan dan tampak basah di bagian pergelangan.
Kirana meremas tali tasnya, merasakan kotak plester di dalamnya. Namun, tepat saat ia hendak melangkah mendekat, seorang perempuan dengan langkah anggun mendahuluinya.
Sheila.
Perempuan itu datang membawa sebuah kotak P3K kecil. Tanpa ragu, Sheila duduk tepat di samping Bima. Jarak mereka sangat dekat, posisi yang biasanya akan membuat Bima langsung bergeser menjauh karena ia paling tidak suka ruang pribadinya diinvasi. Namun kali ini, Bima tetap diam di posisinya.
Bima sebenarnya sudah menyadari keberadaan Kirana di balik salah satu pilar besar tak jauh dari sana. Instingnya tahu bahwa gadis sastra itu sedang memperhatikannya dari balik bayangan beton. Ingatan Bima langsung melayang pada kejadian di koridor beberapa hari lalu, saat Kirana terlihat begitu akrab bersama Danu. Rasa panas yang sulit dijelaskan kembali menyala di dadanya.
Kalau dia bisa pamer kedekatan sama cowok itu, kenapa gue nggak bisa? batin Bima pahit. Egonya yang sedang terluka menuntut pembalasan.
"Bim, tangan lo tuh harus dibersihin lagi. Lihat deh, perbannya udah kotor banget, bisa infeksi tahu," suara Sheila terdengar manja namun penuh perhatian, sengaja dikeraskan agar sampai ke telinga Kirana.
Sheila mulai membuka perban lama Bima dengan gerakan yang sangat lembut. Bima, yang biasanya akan menepis tangan siapa pun yang mencoba menyentuhnya tanpa izin, kali ini justru membiarkannya. Ia bahkan sengaja sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Sheila, menciptakan pemandangan yang terlihat sangat akrab bagi siapa pun yang melihat dari kejauhan.
"Tangan lo itu aset, Bim. Jangan dirusak cuma gara-gara bantuin orang yang bahkan nggak tahu aturan dasar di lab," sindir Sheila sambil melirik sekilas ke arah sekitar, seolah tahu ada Kirana di sana.
Bima tidak membantah. Ia justru menatap Sheila, seolah-olah ia sedang "menikmati" perhatian tersebut. Ia ingin Kirana melihat pemandangan ini. Ia ingin Kirana tahu bahwa dia tidak butuh dikasihani, apalagi diberikan obat oleh seseorang yang sebelumnya asyik tertawa dengan pria lain.
Dari balik pilar, Kirana merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Tangannya yang memegang kotak plester di dalam tas mulai bergetar. Ia melihat bagaimana Bima—si robot kaku yang selalu galak—kini membiarkan Sheila membersihkan pergelangan tangannya dengan kapas beralkohol.
Senyuman tipis yang muncul di bibir Bima saat Sheila membisikkan sesuatu terasa begitu menyakitkan bagi Kirana.
Bodoh banget gue, maki Kirana dalam hati. Ngapain gue bela-belain beli plester segala, kalau ternyata perawat pribadinya secantik dan sedekat itu sama dia.
Kirana merasa seperti orang asing yang salah alamat. Semua rasa bersalahnya menguap, berganti menjadi rasa malu dan amarah yang sulit dijelaskan. Tanpa menunggu sedetik pun lagi, Kirana berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan selasar GOR.
Begitu derap langkah kaki Kirana menjauh dan menghilang di balik tikungan gedung, Bima langsung menarik tangannya dengan tegas dari pegangan Sheila.
"Udah, Shel. Cukup. Gue bisa lanjutin sendiri," ucap Bima dengan nada yang kembali dingin dan kaku.
Sheila tersentak, wajahnya yang tadi penuh senyum kemenangan mendadak bingung. "Lho, kan belum selesai, Bim?"
"Gue bilang cukup," ulang Bima tanpa menatap Sheila sedikit pun.
Bima membuang napas berat, matanya tertuju tajam pada pilar tempat Kirana berdiri tadi. Ia tahu Kirana sudah pergi. Ia tahu rencananya berhasil. Ada rasa puas yang pahit muncul di benaknya. Ia telah berhasil membalas rasa cemburunya, memastikan bahwa Kirana merasakan perih yang sama saat melihatnya bersama orang lain.
Senyum tipis muncul di bibir Bima—kali ini senyum yang benar-benar sinis. Ia tahu Kirana baru saja melihat adegan yang "sengaja" ia ciptakan. Ia ingin menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh oleh Kirana, meskipun kenyataannya, luka di tangannya tidak sebanding dengan kekacauan di pikirannya setiap kali Kirana lewat.
"Gue tahu lo liat, Ra," bisik Bima pelan.
Di ujung jalan, Kirana terus berjalan tanpa menoleh. Ia meremas plastik berisi plester di dalam tasnya kuat-kuat sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah tempat sampah. Dengan satu gerakan penuh emosi, ia membuang kotak plester itu ke dalamnya.
"Nggak akan lagi. Gue nggak akan peduli lagi sama dia," gumam Kirana dengan mata yang memanas.
Distorsi di antara mereka kini benar-benar telah berubah menjadi perang dingin yang tak kasat mata. Kirana kembali ke fakultasnya, meyakinkan diri bahwa Bima adalah sosok yang paling tidak ingin ia temui lagi.
Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa bayangan Bima yang tersenyum pada Sheila akan menjadi hal yang paling sulit ia lupakan hari ini.