NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9

Perjalanan pulang dari ballroom hotel malam itu terasa seratus kali lipat lebih sunyi dibandingkan saat mereka berangkat.

Di dalam kabin Rolls-Royce yang remang-remang, Yvone menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Adrenalin yang sejak tadi memompa jantungnya kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa lelah yang meremukkan tulang. Otot-otot wajahnya terasa kaku setelah berjam-jam memasang senyum palsu di depan kamera dan para pejabat.

Secara diam-diam, Yvone menyelipkan kakinya keluar dari sepatu hak tinggi peraknya yang menyiksa, membiarkan telapak kakinya yang pegal menyentuh karpet tebal mobil.

Di sebelahnya, Dylan telah kembali menjadi mesin korporat yang tak kenal lelah. Lampu baca kecil di atasnya menyala, menyoroti profil wajahnya yang tajam saat ia menelusuri deretan angka di tabletnya. Ia telah melepaskan dasi kupu-kupunya dan membuka dua kancing teratas kemejanya, sebuah gestur kecil yang entah mengapa membuat pria itu terlihat jauh lebih mengintimidasi dalam aura kasualnya.

"Sinta Wijaya," suara Yvone memecah keheningan yang pekat. Ia sendiri terkejut mendengar suaranya keluar begitu saja.

Jari Dylan yang sedang menggeser layar tablet terhenti. Ia tidak menoleh. Udara di dalam mobil seketika turun beberapa derajat.

"Wanita itu... dia bilang kau menikahiku karena kasihan," lanjut Yvone, memutar tubuhnya sedikit untuk menatap profil samping suaminya. "Apakah dia alasanmu menjadi... sedingin ini? Apakah dia yang membuatmu membangun tembok di sekelilingmu?"

"Berhenti di sana, Yvone," potong Dylan, suaranya sedatar permukaan danau es, namun ada ketegangan yang tersembunyi di baliknya. Pria itu menekan tombol daya tabletnya, mematikan layar, dan meletakkannya di kursi kosong di antara mereka.

Dylan akhirnya menoleh, menatap Yvone dengan mata kelam yang tak bisa ditembus. "Kita mungkin baru saja berhasil melewati satu malam sebagai pasangan yang meyakinkan, tapi jangan salah sangka. Kita bukan teman yang bisa berbagi cerita masa lalu."

Yvone menggigit bibir bawahnya, merasa tertampar oleh penolakan mentah itu. "Aku hanya berusaha memahami situasi, Tuan Hartono. Aku berada di tengah medan perangmu. Aku berhak tahu siapa saja musuhku. Apalagi jika musuh itu adalah wanita yang pernah mengisi masa lalumu."

"Masa laluku bukan bagian dari kontrak," balas Dylan tajam, rahangnya mengeras. "Tugasmu malam ini sudah selesai. Kau berhasil membungkamnya, dan aku menghargai itu. Tapi jangan pernah mencoba menggali apa yang tidak ingin kutunjukkan padamu. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri."

Yvone membuang muka kembali ke arah jendela, menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Momen kecil di balkon tadi saat Dylan menyelipkan rambutnya, saat pria itu menatapnya dengan ketertarikan semua itu hanyalah ilusi. Pria ini tidak memiliki ruang untuk siapa pun di hatinya yang telah membatu.

"Sesuai kehendak Anda," gumam Yvone pelan, memilih untuk menutup matanya hingga mobil memasuki basement Menara Alexander.

Keesokan paginya, hari Minggu, Yvone terbangun dengan kepala yang sedikit pening.

Saat ia melangkah keluar dari kamar pukul delapan pagi, penthouse itu kosong melompong. Asisten rumah tangga memberi tahu bahwa Dylan telah pergi ke kantor sejak pukul enam pagi, ditemani oleh Marco, untuk rapat darurat menyangkut perizinan proyek Bali yang kembali dipersulit oleh kubu Menteri Hadi.

Yvone menghela napas lega. Setidaknya ia memiliki satu hari tanpa harus berhadapan dengan tatapan mengintimidasi pria es itu.

Setelah sarapan sendirian, Yvone memutuskan untuk fokus pada pekerjaannya. Kemarin, sebelum acara amal, ia mendapat sebuah email dari biro arsitektur terkemuka di Jakarta. Mereka sedang mencari desainer interior independen untuk berkolaborasi dalam sebuah proyek butik hotel di kawasan Senopati, dan mereka tertarik pada portofolio Yvone.

Yvone telah mengatur janji temu siang ini. Ia mengenakan blazer berwarna terracotta dan celana kain high-waist, mengikat rambutnya dengan gaya messy bun yang artistik, lalu meraih tas sketsanya.

Tentu saja, di lobi bawah, Pak Joko dan sebuah SUV hitam berisi dua pengawal lapis dua telah menunggunya.

Setibanya di lokasi proyek sebuah bangunan tiga lantai setengah jadi yang dikelilingi pagar seng Yvone melangkah turun. Udara siang Jakarta terasa panas dan berdebu. Kedua pengawalnya mengambil posisi sekitar lima meter di belakangnya, wajah mereka kaku di balik kacamata hitam.

"Mbak Yvone Larasati?"

Sebuah suara pria yang hangat dan bersahabat mengalihkan perhatian Yvone.

Yvone menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi atletis berjalan menghampirinya dari arah bangunan. Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung asal-asalan, celana chinos berwarna khaki, dan sepatu boots kulit yang dipenuhi debu proyek. Rambut ikalnya sedikit berantakan tertiup angin, namun hal itu justru menambah pesona artistiknya. Ia memegang gulungan blueprint di satu tangan.

Pria itu mengulurkan tangan bebasnya dengan senyum yang sangat cerah, hingga lesung pipi di sebelah kanannya terlihat. Senyum yang benar-benar kontras dengan senyum sinis yang selalu Yvone terima dari suaminya.

"Saya Rangga Susilo. Arsitek utama untuk proyek ini," ucap pria itu. "Sebuah kehormatan akhirnya bisa bertemu dengan Anda secara langsung."

Yvone menyambut uluran tangan itu. Genggaman Rangga terasa hangat dan mantap. "Terima kasih, Pak Rangga. Portofolio dari biro Anda juga sangat luar biasa. Saya cukup terkejut saat mendapat email tawaran kolaborasi kemarin."

"Panggil Rangga saja. Kita sepertinya sepantaran," kekeh Rangga, melepaskan tangannya dengan sopan. Matanya yang berwarna cokelat terang menatap Yvone dengan apresiasi yang jujur. "Saya melihat desain Anda untuk bakery lokal milik Bu Ratna di Kemang. Sentuhan Anda pada detail pencahayaan ambient dan pemilihan material kayunya sangat brilian. Persis seperti visi organik yang saya butuhkan untuk butik hotel ini."

"Anda mengenal Bu Ratna?" Yvone sedikit terkejut.

"Dia bibi saya," Rangga mengedipkan sebelah matanya secara jenaka. "Dia bilang desainernya sangat berbakat, tapi... pengawalannya sedikit berlebihan."

Rangga mengalihkan pandangannya melewati bahu Yvone, menatap dua pria berjas hitam yang berdiri siaga dengan wajah tanpa ekspresi. Rangga mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali menatap Yvone dengan senyum tipis.

Wajah Yvone seketika memerah padam. "Oh... ini... saya minta maaf. Suami saya memiliki kebijakan privasi dan keamanan yang sangat ketat."

"Suami?" Rangga tampak sedikit terkejut, matanya secara refleks turun ke jari manis kiri Yvone, di mana sebuah cincin berlian bertahtakan platina yang dipakaikan Dylan secara paksa kemarin pagi tersemat di sana.

Kilat kekecewaan yang sangat cepat melintas di mata Rangga, namun pria itu segera menutupinya dengan tawa ringan. "Ah, saya mengerti. Pria beruntung itu pasti sangat posesif, menjaga bidadarinya dengan pengamanan level presiden. Mari, silakan masuk. Saya akan tunjukkan layout kasarnya."

Selama dua jam berikutnya, Yvone larut dalam dunianya. Ia dan Rangga berdiskusi tentang konsep eco-luxury, menyelaraskan ruang terbuka hijau dengan desain interior minimalis. Rangga adalah rekan diskusi yang fantastis ia pendengar yang baik, sangat menghargai ide Yvone, dan kerap melontarkan lelucon ringan yang membuat Yvone tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir.

Di tengah kerasnya lantai beton dan debu bangunan, untuk sesaat, Yvone lupa tentang kontrak, tentang Dylan, dan tentang ayahnya yang terpenjara. Ia merasa kembali menjadi Yvone Larasati yang utuh.

"Saya rasa kita memiliki chemistry kerja yang sangat bagus, Yvone," ucap Rangga saat mereka berjalan kembali ke arah mobil Yvone. "Biro kami kebetulan sedang mengajukan tender untuk mega-proyek pemerintah di Bali bulan depan. Jika proyek butik ini berjalan lancar, saya ingin Anda masuk ke dalam tim utama saya untuk proyek Bali itu."

Langkah Yvone terhenti sesaat. Proyek Bali. Kata itu mengingatkannya pada tumpukan dokumen di meja kerja Dylan. Proyek pariwisata triliunan yang sedang diperebutkan oleh Alexander Group.

"Itu... tawaran yang sangat besar, Rangga. Saya tidak yakin apakah jadwal saya memungkinkan," jawab Yvone ragu-ragu.

"Jangan ditolak sekarang. Pikirkan saja dulu," Rangga tersenyum hangat, membukakan pintu mobil untuk Yvone tanpa mempedulikan tatapan tajam salah satu pengawal yang sudah bersiap melakukannya. "Sampai jumpa di meeting selanjutnya, Nyonya Hartono."

Yvone masuk ke dalam mobil dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. Namun, saat SUV hitam pengawal itu menyala dan membuntuti mobilnya dari belakang, realitas kembali menguncinya dalam sangkar emas.

Jam dinding di ruang tengah penthouse menunjukkan pukul delapan malam ketika pintu lift pribadi terbuka.

Dylan melangkah masuk dengan aura yang jauh lebih gelap dari biasanya. Jasnya tidak lagi disampirkan di lengan, melainkan ditarik kasar. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya memancarkan ketajaman yang berbahaya.

Yvone sedang duduk di sofa panjang bersilang kaki, memangku laptopnya dan asyik memindahkan sketsa desain dari pertemuan tadi siang. Mendengar suara lift, ia mendongak.

Dylan tidak langsung menuju kamarnya atau mini bar. Pria itu berjalan lurus menghampiri Yvone. Di tangannya, ia memegang sebuah map tipis bermotif logo keamanan Alexander Group.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Dylan melemparkan map itu ke atas meja kaca di depan Yvone. PRAK!

Yvone tersentak, laptopnya hampir tergelincir dari pangkuannya. "Apa ini?"

"Rangga Susilo. Usia dua puluh tujuh tahun. Arsitek. Lulusan cum laude dari universitas di Melbourne. Dan yang terpenting... lajang," suara Dylan mengalun rendah, membedah informasi seolah sedang membaca dakwaan pengadilan.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu pada lututnya, menatap lurus ke dalam mata Yvone dengan intensitas yang mencekik. "Apakah dia alasanmu membatalkan jadwal perawatan spa di rumah hari ini dan pergi ke proyek berdebu?"

Darah Yvone mendidih seketika. "Dia adalah rekan kerja baruku! Kami sedang berkolaborasi untuk proyek butik hotel!"

"Rekan kerja," ulang Dylan dengan nada mengejek. Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada. "Laporan dari tim keamananku mengatakan kau menghabiskan waktu dua jam tertawa bersamanya. Kau bahkan tidak menolak saat dia membukakan pintu mobilmu, sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan oleh stafku."

Yvone menutup laptopnya dengan kasar dan berdiri, tidak sudi ditatap dari atas oleh pria itu. "Apakah kau sekarang memata-mataiku sampai sedetail itu?! Dia bersikap sopan, Dylan! Sesuatu yang jelas tidak pernah kau pelajari dalam hidupmu!"

Otot di sekitar rahang Dylan berkedut. Sebuah emosi asing yang tak bisa ia definisikan menggedor-gedor di dalam dadanya sebuah kombinasi antara amarah teritorial dan sesuatu yang sangat mirip dengan rasa tidak aman. Perasaan yang sangat dibencinya.

"Aku memata-mataimu karena kau membawa nama Alexander Group ke mana pun kau melangkah!" desis Dylan, suaranya naik setengah oktaf. "Di luar sana, kau adalah istriku. Publik melihat kita semalam. Para jurnalis sedang mencari celah sedikit pun untuk menghancurkan citra pernikahan kita yang baru seumur jagung."

Dylan maju selangkah, memangkas jarak di antara mereka hingga Yvone harus mendongakkan kepalanya secara maksimal. Aroma maskulin yang kental dengan bau rokok dan kopi hitam menguar dari pria itu.

"Bagaimana menurutmu reaksi Menteri Hadi jika besok pagi ada foto istri Dylan Alexander Hartono tertawa bahagia bersama pria lajang di lokasi proyek tersembunyi?" Dylan menunjuk map di atas meja dengan dagunya. "Kau pikir ini permainan anak sekolah, Yvone? Skandal perselingkuhan, bahkan yang baru berupa rumor belaka, bisa membuat saham perusahaanku anjlok dan memberikan alasan bagi Hadi untuk menarik simpati publik."

"Itu bukan perselingkuhan! Kami membahas material bangunan dan tata cahaya!" seru Yvone frustrasi, matanya berkaca-kaca menahan amarah atas tuduhan tak berdasar itu. "Aku adalah desainer interior. Aku harus bertemu arsitek, tukang, klien! Jika kau ingin aku membusuk di dalam penthouse ini tanpa melakukan apa pun, batalkan kontraknya dan bunuh saja aku sekalian!"

Keheningan yang tegang dan memekakkan telinga memenuhi ruang tengah. Dadanya Yvone naik turun dengan cepat saat ia menatap tajam ke mata kelam suaminya, menolak untuk menunduk atau mengalihkan pandangan.

Mata Dylan menelusuri wajah kemerahan Yvone, matanya yang berkilat marah, dan bibirnya yang bergetar. Alih-alih meledak dalam amarah yang lebih besar, tatapan mematikan pria es itu perlahan mereda, digantikan oleh kekerasan yang membeku.

"Kau boleh bekerja," ucap Dylan akhirnya, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mutlak. "Kau boleh mengambil proyek bodohmu itu."

Dylan menundukkan kepalanya, hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Yvone. Napas panas pria itu menerpa leher Yvone, membuat bulu kuduk wanita itu meremang oleh sensasi yang membingungkan antara ancaman dan gairah yang tertahan.

"Tapi ingat garis batasmu, Nyonya Hartono," bisik Dylan dengan suara serak yang mematikan. "Jangan pernah tersenyum pada pria itu seperti caramu tersenyum hari ini. Jika aku melihat ada satu foto kedekatanmu dengan arsitek itu muncul di media, aku tidak akan hanya menghancurkan karirnya. Aku akan memastikan biro arsitekturnya rata dengan tanah."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Yvone untuk membalas, Dylan menarik diri, berbalik, dan berjalan menaiki tangga spiral menuju ruang kerjanya, mengunci pintu dengan bantingan yang bergema di seluruh ruangan luas itu.

Yvone berdiri mematung. Kakinya lemas hingga ia kembali jatuh ke atas sofa. Tangannya gemetar saat ia menyentuh lehernya, di mana napas pria itu masih terasa membakar kulitnya.

Sangkar emas ini rupanya jauh lebih kecil dan lebih mencekik dari yang ia duga. Dan parahnya, pria es yang memegang kuncinya kini mulai menunjukkan taring posesifnya, menolak untuk berbagi barang miliknya dengan siapa pun.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!