NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Ia Akhirnya Siap

...Chapter 35...

Ia menambahkan titik cahaya ketiga, yang lebih terang dari dua sebelumnya, lebih besar, lebih berdenyut, seperti jantung yang berdetak di telapak tangannya.

“Ketiga, Gemerlap Dunia, dengan 759 hingga 1.217 Bujur. Di ranah ini, Bujur-bujurmu tidak lagi hanya berbisik—mereka mulai bernyanyi, mulai menari, mulai membentuk pola-pola yang tidak bisa kau kendalikan tetapi juga tidak bisa kau abaikan. Dan yang terakhir—" 

Ia menambahkan titik keempat, yang paling terang, paling besar, paling berdenyut, seperti matahari kecil yang lahir di antara jari-jarinya, 

"Anti Bintang, dengan 2.222 hingga 9.999 Bujur. Puncak dari Bujur Surgawi. Gerbang menuju ranah berikutnya yang bahkan beberapa kultivator mengaku belum pernah menginjakkan kaki di sana." 

Ling Xu mengerutkan kening, jari-jarinya tanpa sadar mulai menghitung di udara—gerakan yang tidak pernah ia lakukan sejak masih belajar meracik herbal di gubuk reot bekas kandang dewa dulu—karena angka-angka yang baru saja didengarnya terasa seperti teka-teki yang sengaja dibuat rumit oleh seseorang yang terlalu suka melihat orang lain pusing. 

“Tunggu, Zhao Wei," ucapnya, suaranya antara bingung dan sedikit kesal, karena ia merasa bahwa sistem kultivasi ini seolah-olah dirancang oleh sekelompok orang yang sedang mabuk dan saling melempar dadu untuk menentukan angka berapa yang akan menjadi batas antar ranah.

“Dari Langit Terang yang katanya 1 hingga 100 Bujur, tiba-tiba Cerah Lentera melompat ke 243 hingga 524? Lalu Gemerlap Dunia ke 759 hingga 1.217? Dan Anti Bintang ke 2.222 hingga 9.999? Kemana perginya angka-angka di antara 101 hingga 242? Atau 525 hingga 758? Atau 1.218 hingga 2.221? Apakah angka-angka itu dihisap oleh lubang hitam atau dimakan oleh naga yang kelaparan?"

Huan Zheng terkekeh.

Bukan tawa keras yang menggelegar, melainkan kekeh pelan yang keluar dari balik tangannya yang ia angkat untuk menutupi mulutnya, seperti seorang guru yang mendengar pertanyaan konyol dari murid favoritnya tetapi tidak mau terlihat terlalu menghina dengan tertawa terbahak-bahak di depan wajahnya, 

"Kau tahu, Liu Xin," ucapnya setelah kekehnya mereda, matanya yang malas tiba-tiba berbinar dengan kehangatan yang aneh.

“Pertanyaanmu itu sudah pernah ditanyakan oleh sekian banyak murid di seluruh sekte yang ada di tiap-tiap semesta. Bahkan ketika aku masih belajar dulu—di masa-masa ketika rambutku masih hitam dan aku masih punya semangat untuk bangun pagi—aku juga bertanya hal yang sama pada guruku."

Fhhh!! 

"Dan jawabannya, Liu Xin," Huan Zheng menghela napas—napas yang terdengar seperti orang yang akan membuka lemari tua yang berisi ribuan memo kenangan, "sederhana tetapi juga rumit, seperti kebanyakan hal di dunia kultivasi ini."

Ia mengangkat kedua tangannya, dan di udara di hadapannya, ia mulai membentuk angka-angka dengan cahaya biru pucat.

Bukan untuk pamer, melainkan untuk membantu Ling Xu yang masih terlihat pusing dengan loncatan-loncatan angka yang tidak masuk akal itu. 

“Perbedaan yang sangat jauh dari satu ranah ke ranah lainnya memang dasar sistem kultivasi di dunia dan juga di seluruh semesta yang tak terbatas ini. Bukan kesalahan, bukan kebetulan, bukan pula hasil dari perhitungan yang gagal. Ini adalah sistem yang telah ada ketika para Dewa masih berkuasa di semesta-semesta yang dulu mereka huni, sistem yang telah ada ketika para Dewa belum dipaksa untuk menyebar ke segala penjuru setelah kekalahan mereka dalam Pertentangan Harmoni, sistem yang telah ada jauh sebelum God of the Vast Cosmos memutuskan untuk meledakkan dirinya sendiri—atau lebih tepatnya, bunuh diri sepihak—dalam sebuah tindakan yang hingga kini masih diperdebatkan apakah itu tindakan kepahlawanan atau tindakan bunuh diri kolektif yang tidak bertanggung jawab." 

Ling Xu menatap Huan Zheng dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan—antara kagum dan bingung, antara ingin bertanya lebih lanjut dan sadar bahwa semakin ia bertanya, semakin panjang jawaban yang akan ia terima, dan malam ini sudah terlalu larut untuk mendengar sejarah panjang sistem kultivasi semesta.

"Tapi bukan berarti pengetahuan kultivasi tidak memiliki cara lain untuk mengatasi 'lubang' yang kau sebutkan tadi, Liu Xin," lanjut Huan Zheng, suaranya kini berubah menjadi lebih santai, lebih ringan, seperti orang yang sedang menjelaskan aturan main kartu kepada teman yang baru pertama kali memegang dek.

“Para kultivator—bahkan sebelum Pertentangan Harmoni digelar, di masa-masa ketika para Dewa dan manusia masih duduk bersama di meja yang sama untuk membahas masa depan semesta tanpa saling menusuk dari belakang—telah menyepakati satu hal: sebutan untuk mereka yang jumlah Bujurnya sudah memenuhi persentase suatu tingkat, tetapi belum bisa menggapai apa pun di ranah di atasnya."

Ia mengangkat satu jari, dan di ujung jari itu, cahaya biru pucat mulai berubah bentuk, menuliskan sebuah kata di udara.

Kata yang terdengar asing di telinga Ling Xu tetapi anehnya terasa berat, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur yang sangat dalam, 

"Tua. Mereka disebut 'Tua'. Langit Terang Tua untuk mereka yang memiliki 101 hingga 242 Bujur. Cerah Lentera Tua untuk 525 hingga 758 Bujur. Gemerlap Dunia Tua untuk 1.218 hingga 2.221 Bujur." 

Ia menekan kata "Tua" itu dengan jari telunjuknya, dan cahaya itu meledak menjadi serpihan-serpihan kecil yang beterbangan di udara seperti kunang-kunang yang kehilangan arah.

"Bukan karena mereka benar-benar tua secara usia, Liu Xin. Tapi karena mereka terjebak. Mereka telah mengumpulkan cukup Bujur untuk meninggalkan satu ranah, tetapi belum cukup untuk memasuki ranah berikutnya. Mereka seperti pengembara yang telah melewati satu gerbang, tetapi belum menemukan gerbang berikutnya, sehingga mereka berjalan di lorong yang gelap tanpa tahu kapan cahaya akan muncul di ujung terowongan."

Kota kecil yang menjadi tempat penugasan mereka selama dua belas hari ke depan menyambut Ling Xu dan Huan Zheng dengan keheningan yang lebih pekat dari kematian.

Bangunan-bangunan dari kayu dan batu berdiri seperti kerangka yang ditinggalkan oleh pemiliknya di tengah malam, jendela-jendela yang pecah menganga seperti mulut yang diam, dan di jalan-jalan yang sempit, debu menumpuk setebal dua jari tanpa pernah terganggu oleh langkah kaki atau sapu atau angin yang berani masuk. 

*Tidak ada jejak pertempuran di sini," bisik Ling Xu sambil berjalan di samping Huan Zheng, matanya yang waspada memindai setiap sudut, setiap gang, setiap pintu yang setengah terbuka, "juga tidak ada jejak kehidupan. Seperti seluruh penduduk kota ini lenyap dalam semalam. Diculik? Atau... melarikan diri?" 

Huan Zheng yang berjalan dengan langkah malas yang khas hanya mengangkat bahu, matanya yang setengah terpejam tampak tidak terlalu peduli dengan misteri yang terbentang di hadapan mereka—tapi Ling Xu tahu bahwa di balik kemalasan itu, pria pemalasnya sedang menghitung setiap kemungkinan, setiap ancaman, setiap pintu darurat yang mungkin mereka perlukan jika tiba-tiba terjadi serangan di tengah malam.

“Tidak ada pasukan Dewa, tidak ada prajurit manusia," ucap Huan Zheng akhirnya, suaranya datar seperti orang yang sedang melaporkan cuaca, "hanya kita berdua yang hidup di kota mati ini selama dua belas hari ke depan. Dan karena itu—" 

Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang dulu mungkin adalah balai kota kecil, dengan atap yang masih utuh dan dinding yang masih kokoh.

“... Kita akan mengambil dua hari untuk cuti. Dua hari untuk tidak bertugas mengawasi ke setiap penjuru kota ini. Dua hari untuk melakukan apa yang sudah seharusnya kita lakukan sejak mencapai Supranatural Lintang Tingkat ke-33."

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!