Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tuduhan!!!
Seperti umumnya sekolah yang riuh oleh aktivitas para muridnya, pagi itu sekolah negeri Astra tampak ramai seperti biasa. Suara obrolan, tawa, dan langkah kaki memenuhi setiap sudut lorong.
Namun hari itu ada sesuatu yang berbeda.
Di tengah lorong yang dipenuhi siswa, terlihat seorang murid diseret oleh seorang guru wanita menuju sebuah ruangan.
"Ki-kita akan dibawa ke mana, Bu?" Tanya murid itu dengan suara gugup.
Murid itu adalah Alvaro.
Di pipinya masih terlihat jelas bekas tamparan yang memerah.
"Mengadilimu!" Jawab guru wanita itu dengan nada tajam tanpa sedikit pun menoleh.
Alvaro hanya bisa menahan rasa sakit saat lengannya ditarik kasar.
Beberapa siswa yang melihat kejadian itu hanya bisa berbisik-bisik pelan.
"Bukannya itu Alvaro?"
"Katanya dia mukul Rudi sampai masuk rumah sakit."
"Serius?"
"Entahlah, tapi katanya parah banget."
Tatapan heran, takut, hingga jijik mulai diarahkan kepadanya.
"Krieett..."
Pintu ruang meeting dibuka dengan kasar.
"Brukkhh!"
Tanpa belas kasihan, guru wanita itu mendorong tubuh Alvaro hingga terjatuh ke lantai.
Alvaro meringis pelan.
Punggungnya yang masih lebam terasa semakin nyeri akibat benturan itu.
Ia mencoba bangkit sambil menahan sakit, lalu perlahan mengangkat kepalanya.
Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang yang dikenalnya.
Beberapa guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bahkan wali kelasnya sendiri.
Namun tatapannya langsung berhenti pada satu sosok yang membuat darahnya mendidih.
Rudi.
Remaja itu duduk dengan santai di salah satu kursi, hidungnya dibalut perban tipis.
Saat mata mereka bertemu, Rudi justru tersenyum sinis.
Senyuman yang seolah berkata bahwa semua ini memang sudah direncanakan.
"Rudi..." desis Alvaro pelan sambil mengepalkan tangannya.
Ia tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi.
Namun ia tak pernah menyangka semuanya akan sejauh ini.
"Alvaro, kamu tidak apa-apa?"
Seorang guru laki-laki segera menghampirinya dan membantu Alvaro berdiri.
Ia adalah pak Agus, wali kelas Alvaro.
Setelah memastikan Alvaro bisa berdiri, pak Agus langsung menatap tajam ke arah guru wanita tadi.
"Bu Rini, apa yang anda lakukan? Dia tetap seorang murid."
"Seorang murid harus bertindak selayaknya murid." Balas Bu Rini dingin.
"Sedangkan dia melakukan tindakan yang berbau kriminal. Apa murid seperti itu masih layak dikasihani?"
"Apa maksud anda? Semua itu bahkan belum terbukti benar." Balas pak Agus.
"Bukti kesaksian dari para korban apakah belum cukup, pak Agus?" Celetuk seseorang dari arah meja utama.
Orang itu adalah wakil kepala sekolah sekaligus ayah dari Rudi.
Sento Mahendra.
Tatapannya tajam, penuh tekanan, seolah ia sudah menentukan siapa yang bersalah bahkan sebelum pembicaraan dimulai.
"Ta-tapi pak..." Pak Agus tampak ragu.
"Jika kesimpulan hanya diambil dari satu sisi, itu bukan keputusan melainkan tuduhan."
Suara tenang namun tegas itu datang dari seorang pria paruh baya berambut putih yang duduk di kursi paling depan.
Ia adalah kepala sekolah, Nandra Alexa.
Ruangan itu seketika hening.
"Bukankah anda sendiri yang membuat filosofi sekolah tentang keadilan dan kesetaraan, pak Sento?" lanjut kepala sekolah sambil menatap wakilnya.
Sento mendecih pelan.
Jelas terlihat bahwa ia tidak menyukai ucapan itu.
Tiba-tiba suara sistem terdengar di kepala Alvaro.
"Ting! Misi terpicu.
Misi: Buktikan bahwa anda tidak bersalah.
Hadiah: Keahlian matematika tingkat menengah, keterampilan bahasa Inggris dan sastra, serta satu kotak misteri tingkat menengah.
Ya / Tidak"
"Apa kau gila?" batin Alvaro kesal.
"Di situasi seperti ini kau malah memberiku misi?"
Ia bahkan belum tahu apakah dirinya masih bisa melanjutkan sekolah atau tidak.
Namun sistem justru tetap bersikap seolah semuanya biasa saja.
"Buktinya sudah jelas!" bentak Sento tiba-tiba.
"Putra saya dan teman-temannya sampai dirawat di rumah sakit gara-gara bocah ini. Apa anda tidak melihat kondisi putra saya yang mengalami patah tulang hidung?"
"Alvaro." Kepala sekolah menoleh kepadanya.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Alvaro menarik napas pelan sebelum akhirnya mulai menceritakan semuanya.
Ia menjelaskan bagaimana dirinya diseret oleh dua bawahan Rudi, lalu dipukuli terlebih dahulu.
Ia bahkan mengatakan bahwa ada beberapa siswa yang melihat kejadian itu.
"Lagipula, anda bilang saya melawan lima orang sendirian dan menang? Bukankah itu terdengar tidak masuk akal?" Tanya Alvaro sambil menatap Sento.
"Jadi sekarang kau mau bilang kalau aku menuduhmu?" Tanya Sento geram.
"Jangan terlalu menyudutkan Alvaro." Ucap kepala sekolah.
"Apa yang dia katakan masuk akal. Anda juga bisa melihat sendiri bekas luka di wajah dan pelipisnya."
Sento menggertakkan giginya.
Namun di balik tatapan kesalnya, ia masih menyimpan senyum tipis.
Seolah ia masih memiliki kartu terakhir.
"Tok... Tok... Tok..."
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan.
Saat pintu terbuka, seorang pria berseragam polisi masuk dengan langkah tenang.
Melihat kedatangan orang itu, senyum di wajah Sento semakin lebar.
"Keadilan, bukan?" Ucap Sento.
"Kalau begitu mari kita tegakkan keadilan di bawah pengawasan penegak hukum yang sah."
Kepala sekolah langsung menyipitkan matanya.
Entah kenapa, ia mulai merasakan firasat buruk.
"Pak Evan, bagaimana kabar anda?" Tanya Sento dengan nada akrab.
"Saya baik-baik saja." Jawab polisi itu sambil tersenyum.
"Tapi saya penasaran, sebenarnya ada masalah apa sampai anda meminta saya datang ke sini?"
Sento pun mulai menceritakan versinya.
Versi yang benar-benar berbeda dari cerita Alvaro.
Ia mengatakan bahwa Alvaro sering terlibat kekerasan di luar sekolah.
Ia juga mengatakan bahwa Alvaro mengganggu salah satu teman Rudi yang sedang duduk santai, lalu memukul semua orang yang mencoba melerai.
Bahkan menurut ceritanya, Rudi mengalami patah tulang hidung karena mencoba melindungi temannya.
"Kalau memang benar terjadi kekerasan separah itu, maka kasus ini bisa masuk ranah pidana." Ucap pak Evan dengan wajah serius.
"Apalagi kalau korban sampai mengalami luka berat."
Ucapan itu membuat jantung Alvaro terasa mencelos.
Ia adalah korban.
Namun hanya karena permainan kata dan kekuasaan, kini dirinya justru berubah menjadi pelaku.
"Pak, anda bahkan belum mendengar cerita dari saya." Ucap Alvaro.
"Semua itu hanya tuduhan sepihak."
"Pak, tidak ada bukti jelas atas tuduhan itu." Pak Agus ikut membela.
"Apalagi Alvaro dikenal sebagai murid yang cukup pintar dan memiliki nilai yang bagus."
"Pintar?" Salah satu guru tiba-tiba menyela dengan nada meremehkan.
"Apa maksud anda?" Tanya pak Agus.
"Semua guru tahu Alvaro sering tidur di kelas." Jawab guru itu.
"Dia jarang memperhatikan pelajaran, bahkan beberapa kali tidak mengerjakan tugas. Tapi anehnya, nilainya justru selalu tinggi. Bukankah itu patut dipertanyakan?"
Ruangan itu seketika menjadi lebih hening.
"Benar sekali." Sento tersenyum tipis.
"Apalagi Alvaro masuk ke sekolah ini melalui jalur rekomendasi langsung dari kepala sekolah. Bukankah akan sangat mudah baginya mendapatkan perlakuan khusus?"
Ucapan itu membuat beberapa guru saling pandang.
Mereka memang tahu Alvaro masuk melalui rekomendasi kepala sekolah.
Namun tak ada yang pernah berani membahasnya secara terbuka.
Alvaro mengepalkan tangannya erat.
Ia tahu semua tuduhan itu tidak masuk akal.
Namun di saat seperti ini, kebenaran sering kali kalah oleh banyaknya suara yang berbicara.
Sedangkan kepala sekolah yang sejak tadi tenang kini mulai mengetukkan jarinya perlahan di atas meja.
Tatapannya berubah tajam.
"Jadi sekarang anda bukan hanya meragukan murid saya." Ucap kepala sekolah pelan.
"Tetapi juga mempertanyakan integritas saya sebagai kepala sekolah?"
Senyum di wajah Sento perlahan memudar.
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan dimulai, suasana ruangan itu terasa benar-benar menegang.
kritik dan saran boleh kokk