Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 — Melawan Singa Api
Li Yao sempat terkejut. Dari suara pertarungan yang ia dengar sebelumnya—jeritan laba-laba yang melengking, auman singa yang menggema, benturan energi yang membuat bebatuan di kejauhan bergetar.
Li Yao mengira kedua monster itu akan saling melumpuhkan. Mungkin laba-laba yang menang karena racunnya. Mungkin singa yang menang karena kekuatannya besarnya. Atau mungkin mereka berdua mati.
Tapi kenyataannya, singa api hitam itu masih berdiri gagah.
Bulu hitamnya kusut dan basah oleh darah. Satu matanya buta, seperti lubang gelap dengan sisa-sisa cairan hitam mengering di sekitar luka. Tubuhnya dipenuhi goresan-goresan dalam—bekas cakar laba-laba yang tajam. Api di ekornya yang dulu menyala biru terang kini hanya berkedip redup, seperti lilin yang hampir padam.
Namun singa api berdiri gagah.
Dan ia menatap Li Yao dengan mata merah yang tersisa—masih menyala, masih penuh amarah.
Dia keluar sebagai pemenang, pikir Li Yao, masih belum sepenuhnya percaya. Tapi kemudian ia melihat lebih dekat. Gerakan singa itu tidak stabil. kaki depannya sedikit gemetar.
Napasnya tersengal-sengal, berat tidak teratur. Dan di sekitar luka di wajahnya—yang ditinggalkan oleh cakar atau gigitan laba-laba—kulitnya berubah warna menjadi keabu-abuan, dengan urat-urat hitam merambat seperti akar.
Racun?
Li Yao tersenyum tipis. Laba-laba itu mungkin mati, tapi singa api ini jelas tidak dalam keadaan baik.
“Kau terkena racun,” kata Li Yao, suaranya tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. “Aku tidak tahu berapa lama lagi kau bisa bertahan. Tapi kau akan mati. Entah karena racun itu, atau karena lukamu.”
Singa api itu menggeram pelan. Bukan geraman mengancam—lebih seperti getaran dari tenggorokan yang sakit.
“Kalau begitu,” Li Yao melanjutkan, matanya tidak berkedip, “daripada mati diam-diam diserap racun, lebih baik kau mati dalam pertarungan. Bukankah itu yang kau inginkan?”
Singa itu mengangkat kepalanya. Api di ekornya berkedip lebih terang—sekejap, lalu redup lagi. Seolah-olah kata-kata Li Yao menyentuh sesuatu di dalam naluri binatang buas itu.
Li Yao tidak menunggu jawaban. Ia sudah mengambil posisi.
Singa itu melompat.
Sekalipun terluka, sekalipun diracuni, kecepatannya masih jauh di atas Li Yao. Cakar besarnya menyapu udara, meninggalkan bekas energi membara yang membakar dinding gua.
Li Yao menghindar dengan berguling ke samping—bukan gerakan indah, tapi cukup efektif. Cakar singa itu menghantam batu di belakangnya, menghancurkannya menjadi serpihan batu.
Ia bangkit, langsung melayang rendah ke belakang, menciptakan jarak. Tubuh Kekacauan-nya bekerja maksimal—menyerap energi dari sekitar, mempercepat refleks, dan menjaga keseimbangan.
Singa itu berputar, ekornya yang berapi menyambar ke arahnya. Panasnya terasa seperti tungku api yang terbuka. Li Yao menjatuhkan diri ke tanah, ekor api itu melewati tepat di atas kepalanya. Beberapa helai rambutnya hangus.
Li Yao berguling lagi, berdiri, dan melompat ke dinding gua. Kakinya menempel di batu dengan bantuan energi spiritual, lalu ia mendorong dirinya ke arah berlawanan—menukik seperti burung elang.
Tinjunya menghantam punggung singa itu. Tangan nya terasa seperti memukul baja. Singa itu tidak bergeming. Ia hanya menggeram, lalu memutar tubuhnya dengan cepat, memukul Li Yao dengan cambuk ekor apinya.
Li Yao terpental, membentur dinding gua. Rasa sakit menjalar di punggungnya. Organ dalam nya terasa seperti dihantam palu godam. Darah merah berkilau keluar dari bibir kecil nya.
"Uhuk, uhuk!"
Li Yao berdiri, lalu menyeka darah dari sudut bibirnya. Namun kali ini napasnya mulai memburu, terengah-engah.
Bukan karena kelelahan kehabisan cadangan energi. Tubuh Kekacauan Li Yao sendiri memiliki cadangan spiritual yang luar biasa besar—mungkin setara dengan tubuh suci kuno, bahkan bisa dibilang lebih baik.
Dalam kondisi normal, ia bisa bertempur berjam-jam tanpa kehabisan energi. Tubuh ini dirancang untuk menyerap, menyimpan, dan memanfaatkan energi spiritual dengan efisiensi yang tidak dimiliki kebanyakan kultivator.
Tapi ini bukan kondisi normal.
Setiap gerakan yang Li Yao lakukan—setiap lompatan, setiap pukulan, setiap kali ia melayang rendah untuk menghindar—menguras energi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari biasanya.
Bukan karena tekniknya boros, tapi karena Li Yao melawan makhluk di ranah Istana Dao puncak. Perbedaan level kultivasi yang begitu jauh memaksanya untuk terus-menerus mengeluarkan kekuatan penuh hanya untuk bertahan.
Seperti sebuah danau besar yang bocor di dasarnya. Airnya memang berlimpah, tapi juga terkuras dengan sangat cepat!
Jika ini adalah pertarungan melawan lawan yang setara, cadangan spiritual Tubuh Kekacauan-nya akan terasa tak terbatas. Tetapi melawan singa api yang meskipun terluka, ranah nya sendiri masih jauh di atasnya, Li Yao harus membakar energi berkali-kali lipat hanya untuk menghindari satu serangan.
Setiap kali Li Yao terbang menghindar, setiap kali ia mempercepat refleksnya dengan paksa, setiap kali ia menyerap energi dari lingkungan untuk memulihkan diri—semuanya membutuhkan konsentrasi dan keluaran energi yang tidak sebanding dengan hasil yang ia dapatkan.
Apa yang dilakukan Li Yao sekarang tidak akan bisa ditiru oleh kultivator mana pun di ranah Pantai Seberang, mungkin hanya fisik Ilahi, tubuh Suci atau Kaisar Kuno yang mampu melakukan nya.
Dan Li Yao sadar, ia tidak bisa terus seperti ini!
Singa api itu maju lagi. Kaki depannya yang gemetar tidak mengurangi keganasannya. Ia membuka mulut lebar-lebar—dan semburan api biru pucat keluar, tidak sebesar sebelumnya, tetapi cukup untuk membakar seluruh isi gua menjadi tungku perapian!
Li Yao memfokuskan seluruh energi spiritualnya ke telapak kaki. Ia melompat ke langit-langit gua, bergelantungan sebentar, lalu menghindar dari jangkauan suhu panas. Api menyapu di bawahnya, membakar batu-batu dan meninggalkan bekas hitam.
Li Yao mendarat di sisi lain gua, kembali menciptakan jarak. Tapi kali ini, ia tidak hanya bertahan. Ia sudah cukup melihat pola serangan singa itu. Cakar kanan, lalu kiri, lalu ekor, lalu api—bergantian, tapi selalu dalam urutan dan ritme yang sama. Mungkin karena racun mulai mempengaruhi kesadarannya. Atau mungkin karena ia sudah terlalu lemah untuk berpikir jernih.
Sekarang.
Li Yao berlari ke depan mendekat. Singa itu mengangkat cakar kanannya—tapi Li Yao sudah lebih dulu merendahkan tubuh, meluncur di tanah seperti ular. Ia melewati sela-sela kaki singa, tiba tepat di samping perutnya yang tidak terlindungi.
Tinjunya menghantam bagian rusuk singa itu. Sekali, dua kali, tiga kali.
Boom! Boom! Boom!
Setiap pukulan dibebani energi spiritual Kekacauan yang Li Yao kumpulkan selama pertarungan. Tidak banyak—tapi cukup untuk membuat singa itu meringis kesakitan. Singa api menggeram, mencoba membalas Li Yao dengan sapuan cakaran, tapi Li Yao sudah bergerak ke sisi lain.
Singa itu mulai terhuyung.
Tapi Li Yao juga merasakan cadangan energinya semakin menipis. Bukan habis—tubuh Kekacauan-nya masih menyimpan banyak cadangan spritual.
Tapi jika Li Yao terus memaksakan diri pada pertempuran intensitas tinggi, ia akan mencapai titik di mana tidak bisa lagi bergerak cepat. Dan pada saat itu, singa api ini—meskipun terluka—akan membunuhnya dengan satu sambaran.
Energiku masih ada, tapi efektivitas gerakanku akan turun drastis jika aku terus memaksakan diri...
Tidak ada pilihan lain.
Li Yao menarik napas panjang. Tangan kanannya menyentuh pusar. Dari kedalaman Roda Laut Kehidupannya, dari tengah alis Lautan Pahit yang telah ia buka, memanggil keluar sesuatu.
Tangan kanan Li Yao membentuk segel.
Cahaya hitam kusam merayap keluar dari balik dahinya, berkumpul dengan cepat di hadapan Li Yao, lalu perlahan membentuk sebuah menara kecil.
Pagoda Kekacauan!
Bukan artefak dewa. Ini hanya prototipe. Senjata pendamping Dao yang Li Yao tempa sendiri sejak masih di ranah Lautan Pahit. Bahannya biasa—logam hitam dari sisa-sisa artefak rusak di gudang Lingxu Dongtian, ditambah beberapa potong batu sumber kualitas sedang.
Tidak ada bahan Emas Abadi, tidak ada Qi Induk Primordial seperti milik Ye Fan. Tapi prototipe ini sudah cukup untuk senjata Li Yao saat ini.
Yang istimewa hanyalah kilauan rune ilahi yang ia ukir—rune kehampaan, tiruan dari cara tubuh Kekacauan-nya bekerja, salah satunya adalah menyerap energi.
Kemampuannya masih terbatas. Li Yao hanya bisa menyerap satu atau dua serangan sebelum kelebihan beban. Pagoda ini juga rapuh—jika dipukul langsung tanpa energi pelindung, intinya senjata ini bisa saja retak dan hancur.
Tapi di saat seperti ini, satu atau dua serangan sudah cukup.
Pagoda itu mengambang di hadapannya, berputar pelan.
Singa api juga melihat Pagoda Kekacauan. Mungkin ia tidak mengerti senjata apa itu. Tapi nalurinya mengatakan ada yang tidak beres. Ia mengaum keras, retakan ditanah menyebar dari arah singa api, batuan atap gua mulai berjatuhan.
Tapi Li Yao tidak peduli.
Kali ini saya akan lawan!