NovelToon NovelToon
SATU NAMA YANG TERHAPUS

SATU NAMA YANG TERHAPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Keluarga / Amnesia
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Xingyu

Kakak tertua yang NGGA PEKA-an banget sama kasih sayang yg diberi orang sekitarnya dan dia cuma tau memberi tanpa sadar kalau dia juga butuh disayangi.

Momen momen bahagia terjadi di desa itu, sampai ketika kembali ke kota malah ada kejadian yang GONG banget...

Penasaran gimana ceritanya? Skuy pantau terus :v

JADWAL UPDATE :
Everyday.... (kalo ngga sakit / ada halangan) :v
12.00 WIB & 16.00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xingyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Kenangan

Malam itu, Arifin lagi bongkar-bongkar lemari tua di gudang bawah tangga. Dia nyari selimut tambahan karena udara gunung lagi dingin-dinginnya. Pas lagi narik tumpukan kain, sebuah kotak kayu kecil warna cokelat tua jatuh dan tutupnya terbuka.

Isinya cuma beberapa mainan mobil-mobilan yang catnya udah ngelupas sama sebuah foto lama yang warnanya udah agak menguning.

Arifin duduk lesehan di lantai gudang yang berdebu, natap foto itu lama banget. Di foto itu, ada Arifin kecil—mungkin umur 7 tahun—lagi berdiri di depan rumah gede di Jakarta. Dia pake baju rapi, senyumnya lebar banget ke arah kamera. Tapi kalau diperhatiin bener-bener, matanya nggak ikut senyum.

Flashback...

Dulu di Jakarta, Arifin selalu dikenal sebagai "anak pinter yang mandiri". Ayah sama ibunya sibuk banget sama urusan kerjaan masing-masing. Malah akhirnya, mereka mutusin buat tinggal pisah kota sementara gara-gara mutasi kerja. Fahri sama Gibran yang masih kecil-kecil dibawa ibu, sementara Arifin milih ikut ayahnya karena nggak mau pindah sekolah.

Rumah ayah itu gede, tapi sepi banget. Ayah sering pulang larut malem, dan Arifin cuma ditemenin mbak pengasuh. Tiap kali liat foto keluarga di ruang tamu, Arifin bakal senyum, tapi dalem hatinya dia ngerasa kayak ada lubang gede yang nggak bisa diisi. Dia ngerasa sendirian, meskipun di sekolah dia punya banyak temen.

"Arifin nggak apa-apa kok, Bu. Arifin bisa jaga diri di rumah sama Ayah," ucapnya di telepon waktu itu, bohong biar ibunya nggak kepikiran.

Kembali ke masa sekarang...

"Bang... Arifin?"

Suara pelan Ren ngebuyarin lamunan Arifin. Ren berdiri di pintu gudang, matanya ngantuk tapi dia nyariin Arifin karena nggak ada di kamar.

Arifin buru-buru ngusap matanya yang agak panas. "Eh, Ren. Belum tidur? Ini, Abang cuma lagi liat-liat barang lama."

Ren nyamperin, terus jongkok di samping Arifin. Dia ngeliatin mobil-mobilan yang udah rusak itu. "Ini... punya Abang?"

"Iya, dulu pas Abang masih kecil seumuran kamu," Arifin ngasih satu mobil-mobilan ke tangan Ren.

Ren megang mainan itu pelan, terus dia natap foto di tangan Arifin. "Bang Arifin... senyum... tapi sedih."

Arifin tersentak. Anak ini instingnya bener-bener tajem. Bahkan foto dari sepuluh tahun yang lalu pun bisa dia baca perasaannya.

"Ah, masa sih? Perasaan Abang seneng kok difoto," elak Arifin sambil ketawa hambar.

Om Darma yang baru aja balik dari mushola, denger percakapan mereka dari balik pintu gudang. Dia nyender di tembok sambil ngehela napas panjang. Dia inget banget momen pas kakaknya (ibu Arifin) nangis-nangis cerita ke Nenek soal Arifin yang makin lama makin pendiem dan kaku sejak tinggal pisah sama adik-adiknya.

Nenek waktu itu cuma bilang, "Anak itu butuh temen yang bener-bener butuh dia, bukan cuma sekadar temen main."

Nggak lama setelah itu, Nenek nemuin Ren—bocah kecil yang waktu itu masih bener-bener liar—lagi kelaperan di balik kebun belakang rumah. Nenek ngerasa itu bukan kebetulan. Nenek langsung kontak orang tua Arifin. Akhirnya, mereka mutusin buat ngadopsi Ren secara diem-diem lewat Nenek, dengan harapan kalau nanti Ren udah agak "jinak", dia bisa jadi adik buat Arifin dan ngisi rasa sepi yang selama ini Arifin sembunyiin.

"Ren, kamu tau nggak kenapa Abang sayang banget sama kamu?" tanya Arifin tiba-tiba sambil ngerangkul bahu Ren.

Ren nggeleng. "Kenapa?"

"Karena pas ada kamu, rumah ini jadi nggak kerasa sepi lagi. Makasih ya udah nemu Abang di sini," bisik Arifin.

Ren nggak terlalu paham maksud Arifin, tapi dia nyenderin kepalanya di bahu Arifin sambil mainin roda mobil-mobilan rusak itu. "Ren... juga nggak sepi... kalau ada Bang Arifin."

Om Darma yang denger itu cuma bisa senyum pahit di luar gudang. Dia ngerasa rencana kakaknya berhasil, tapi dia juga takut. Apa yang bakal terjadi kalau Arifin tau kalau kasih sayang yang dia kasih ke Ren itu sebenernya sudah "dirancang" sejak awal? Dan apa yang terjadi kalau kecelakaan itu beneran ngerusak semua jembatan emosi yang udah mereka bangun ini?

"Udah yuk, tidur. Besok kita harus bersihin kebun belakang," ajak Arifin sambil nutup kotak kayunya.

Malam itu, Arifin tidur lebih nyenyak dari biasanya. Dia ngerasa lubang di hatinya perlahan mulai ketutup.

...----------------...

Pagi itu, Arifin dan Ren sudah berada di kebun belakang. Sesuai rencana, mereka harus membersihkan semak belukar yang sudah menutupi area dekat pohon durian. Ren sekarang sudah jauh lebih cekatan; dia tidak lagi sekadar mencabut rumput, tapi sudah bisa menggunakan sabit kecil dengan hati-hati.

"Bang Arifin, ini akarnya... keras banget. Harus dipacul ya?" tanya Ren. Bicaranya sudah mulai tertata, meski sesekali masih ada jeda untuk memikirkan kata yang pas.

"Iya, itu akar pohon jambu yang sudah mati. Biarin dulu, nanti Abang yang pacul," jawab Arifin sambil menyeka keringat di dahi.

Udara mulai panas, dan Arifin merasa sedikit lelah. Sambil berusaha menarik dahan kering yang tersangkut, pikirannya melayang ke mana-mana. Dia melihat ke sekeliling kebun yang luas ini dan tiba-tiba rasa bingung yang selama ini dia pendam muncul ke permukaan.

Tanpa sadar, Arifin bergumam lirih pada dirinya sendiri, "Kenapa ya... Nenek dulu mau repot-repot ngerawat anak liar di tengah kebun begini? Padahal ngurus rumah ini aja udah capek, apalagi harus nanggung beban ngurus anak yang nggak tau asal-usulnya..."

Arifin tidak sadar kalau Ren sedang berdiri tepat di balik rimbunnya pohon durian, baru saja mau membawakan botol air minum untuk Arifin.

Ren terpaku. Botol plastik di tangannya sedikit berbunyi karena remasan jemarinya. "Beban... ya?"

Arifin tersentak kaget. Dia langsung menoleh dan mendapati Ren menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan—bukan marah, tapi lebih ke arah kecewa yang mendalam.

"Ren? Sejak kapan di situ?" Arifin merasa jantungnya mau copot.

Ren meletakkan botol air itu di atas tanah, lalu menatap tangannya yang kotor kena tanah kebun. "Nenek... repot gara-gara Ren. Bang Arifin... juga repot. Ren... nggak tau kalau Ren itu beban yang berat."

"Bukan, Ren! Maksud Abang nggak gitu—"

Ren menggeleng pelan, langkahnya mundur perlahan. "Bang Arifin capek... Ren liat. Mungkin bener kata orang desa... Ren harusnya tetep di hutan aja."

Melihat Ren yang mau lari, Arifin langsung membuang sabitnya dan mengejar. Dia berhasil menangkap lengan Ren sebelum bocah itu menghilang ke arah hutan. Kali ini Ren meronta kencang, benar-benar kuat sampai Arifin harus memeluknya erat dari belakang agar tidak lepas.

"Lepas! Bang Arifin capek! Ren pergi aja!" teriak Ren, suaranya pecah.

"Diem dulu, Ren! Dengerin Abang!" seru Arifin.

Pasrah karena pelukan Arifin yang kuat, Ren akhirnya berhenti meronta, tapi badannya gemetar hebat. Arifin membalikkan tubuh Ren agar menghadapnya.

"Maafin Abang, Ren. Abang tadi cuma lagi capek pikiran, bukan berarti kamu itu beban," Arifin berlutut agar sejajar dengan tinggi Ren. "Tadi Abang cuma bingung... tapi bukan nyesel. Kamu tau nggak kenapa Abang bilang gitu?"

Ren cuma diam, matanya berkaca-kaca.

"Karena dulu... Abang juga pernah ngerasa jadi beban," ucap Arifin lirih.

Flashback...

Arifin ingat suatu malam di Jakarta, saat dia masih berumur 9 tahun. Dia berdiri di depan pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka. Dia mendengar ayahnya menghela napas panjang bicara di telepon.

"Iya, Arifin biar ikut saya saja di Jakarta. Kasihan kalau dia harus ikut kamu pindah-pindah terus, tapi jujur saya juga bingung gimana bagi waktu antara kerjaan kantor dan ngurus dia sendirian. Rasanya berat sekali kalau harus menanggung semuanya tanpa ada yang bantu."

Waktu itu, Arifin kecil merasa dunianya runtuh. Dia merasa kehadirannya hanya membuat ayahnya susah. Sejak saat itu, Arifin selalu berusaha jadi anak yang "nggak merepotkan", anak yang selalu bilang "nggak apa-apa" meski dia merasa kesepian setengah mati.

Kembali ke masa sekarang...

"Abang tau rasanya dianggap beban, Ren. Makanya Abang minta maaf karena udah bikin kamu ngerasa gitu," Arifin memegang kedua bahu Ren. "Abang sayang sama kamu bukan karena tugas dari Nenek, tapi karena Abang nemu diri Abang sendiri di dalam kamu. Kita berdua sama-sama anak yang butuh tempat pulang, kan?"

Ren menatap Arifin cukup lama. Perlahan, dia mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. "Bang Arifin... beneran nggak nyesel?"

"Nggak akan pernah, Ren. Janji," Arifin tersenyum sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Ren perlahan mengaitkan jari kelingkingnya yang mungil ke jari Arifin. "Ren... bakal lebih rajin. Biar Bang Arifin nggak capek lagi."

"Hahaha, nggak usah segitunya juga kali. Udah, yuk istirahat dulu. Capek juga drama di bawah pohon durian gini," canda Arifin.

Di kejauhan, Om Darma yang tadi sempat melihat kejadian itu dari teras, diam-diam menurunkan HP-nya. Dia baru saja merekam percakapan emosional itu. Dia mengusap matanya yang sedikit basah.

"Kalian berdua emang jodoh jadi kakak-adek," gumam Om Darma. Dia jadi makin yakin kalau foto dan video ini bakal jadi harta karun yang luar biasa suatu saat nanti.

Sore itu mereka kembali ke rumah dengan perasaan yang jauh lebih lega. Ren bicaranya jadi makin lancar sejak kejadian itu, seolah dinding pembatas di hatinya baru saja diruntuhkan oleh pengakuan jujur Arifin.

#BERSAMBUNG

1
mai mai~
ni om om cekrak cekrek mulu dah kerjaannya, giliran keponakannya sakit malah ditinggal pulang
Xingyu
Terima kasih buat semuanya yang udha mampir 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!