NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:61k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

## Sang Primordial dari Pegunungan **Nevral**

Dua penyihir agung, delapan penyihir tingkat tinggi, serta belasan prajurit tewas dalam penaklukkan rubah ekor sembilan di Pegunungan **Nevral**. Sementara rombongan yang tersisa mengalami luka-luka, tapi setidaknya mereka berhasil meringkus hewan magis tersebut kemudian dibawa ke hadapan Kaisar.

Saat ini di istana kekaisaran yang berada di jantung ibu kota, yakni **Myrval**, seorang penyihir lanjut usia yang tubuhnya dibungkus jubah putih panjang hadir bersama rombongan kekaisaran yang sebelumnya ditugaskan ke **Nevral**. Mereka kembali sambil menyeret sebuah kerangkeng ukuran sedang yang terbuat dari logam khusus dan dibelit rantai-rantai besar pada bagian luar. Tidak hanya itu, jika dilihat lebih teliti, tiap tiang jerujinya terukir mantra kuno bercahaya redup.

Di dalam kerangkeng tersebut terdapat seekor rubah berbulu merah lebat. Sepasang mata *amber*-nya yang tampak seperti kucing berkilat penuh kebencian tatkala memandangi semua manusia dalam ruang takhta.

"Satu-satunya yang tersisa dari rasnya. Namanya **Prayan**. Sepertinya berusia lebih dari lima ratus tahun," jelas penyihir agung seraya melirik rubah tersebut.

Kaisar yang duduk di singgasana mengamati rubah itu lekat. Akan lebih baik mengurungnya di **Dakrossa** ketimbang di penjara **Myrval**, tapi tampaknya putra tertuanya, yakni **Drakara** **Leorath**, tertarik untuk memilikinya.

"Kamu mau menjinakkannya?" tanya Kaisar.

**Drakara** tersenyum tipis, menyembunyikan keserakahan untuk memiliki salah satu primordial terkuat tersebut. "Itu tawaran yang sangat besar, Ayah."

"Aku menyadari niatmu hanya dari mata itu," kata Kaisar tanpa memandang putranya.

**Drakara** tertawa pelan lalu melirik rubah merah yang menatapnya penuh kebencian. "Kalau begitu, biar saya mencobanya."

"Lakukan dalam tiga hari."

**Drakara** agak terbelalak. "Seorang *Warden* bahkan butuh waktu lebih lama dari itu."

"Lakukan saja. Bahaya membiarkannya terlalu lama di luar dengan kerangkeng yang tidak tahu kapan akan bertahan."

**Drakara** menundukkan kepala sejenak di hadapan ayahnya. "Akan saya coba."

Akhirnya, rubah bernama **Prayan** tersebut ditahan sementara di istana, tepatnya di kediaman putra mahkota kekaisaran, yakni **Drakara** **Leorath**. Jika dalam tiga hari tidak ada kemajuan, Kaisar telah memerintahkan putra keduanya untuk membawa **Prayan** ke **Dakrossa** tanpa kendala. Makhluk itu telah menewaskan banyak orang kuat; jika dalam perjalanan ke **Dakrossa** ia terlepas, tidak tahu apakah mereka bisa menangkapnya lagi. **Bhaskara** Callisto **Elvareth** adalah orang yang cocok untuk membawanya ke **Dakrossa**.

Yah, namun sebelum itu, Kaisar meminta ajudannya agar menemui **Bhaskara** untuk datang ke istana dan berbincang secara pribadi dengannya.

*Sial!*

Makian lolos dari mulut **Drakara**. Sudah tiga hari berlalu dan **Prayan** masih begitu keras kepala, bahkan mungkin kian membencinya. Setiap kali tangannya terjulur untuk menyelinap di antara jeruji, makhluk spiritual itu akan mengeluarkan kekuatan yang menyakitinya. Kemudian, di hari terakhir—tepatnya hari ini—dengan kelicikan yang dimiliki, **Prayan** seolah memberi kesempatan pada **Drakara** untuk menyentuhnya, berlagak mulai membuka hati. Namun, ketika tangan pria itu sepenuhnya masuk ke dalam kerangkeng, **Prayan** menggigitnya kuat-kuat. Kalau bukan karena memiliki kemampuan hebat, **Drakara** yakin tangannya sudah tertinggal dalam kerangkeng **Prayan**. Sekarang, seorang tabib tengah membalut luka pada tangan kanan **Drakara** dengan perban.

"Di mana hewan itu?"

"Mereka membawanya."

"Ke mana?"

"Hari ini Pangeran Kedua datang untuk membawanya atas perintah Kaisar."

**Drakara** berdecak dan segera pergi untuk melihatnya. Sebenarnya, tidak memiliki **Prayan** pun tidak rugi karena ia sudah punya *Beaster*—sebutan untuk hewan magis yang sudah dijinakkan serta punya pemilik. *Beaster* milik **Drakara** adalah serigala hitam besar yang bisa ditunggangi dua orang dewasa, diberi nama **Volkren**.

"Kamu langsung membawanya? Bukankah rugi jika tidak mencoba menjinakkannya? Dia adalah salah satu yang terkuat," kata **Drakara** tatkala mencapai halaman utama, di mana **Bhaskara** telah siap membawa **Prayan** ke **Dakrossa** bersama beberapa prajuritnya.

"Jika aku berhasil, apa kamu bisa tidur dengan tenang setelahnya?" **Bhaskara** melempar jawaban yang sukses membuat **Drakara** menahan amarah di balik senyum ramah.

"Bukankah kamu terlalu berpikir buruk tentangku?"

"Entahlah, tapi kurasa ini hari yang buruk bagimu," jawab **Bhaskara** seraya menjatuhkan pandang pada tangan kanan **Drakara** yang diperban.

**Drakara** mengangkat tangan kanan itu di depan perut dan mengepalkannya. "Hanya luka kecil, tidak sampai membuat hariku buruk. Lebih dari itu, semoga tidak ada kendala dalam perjalananmu menuju **Dakrossa**."

**Bhaskara** tidak lagi menanggapi perkataan **Drakara** dan segera meninggalkan istana.

"Kenapa harus dia yang membawanya ke **Dakrossa**? Apakah Ayah meragukan kemampuanku?!" Rahang **Drakara** mengeras karena setiap kali ada tugas sulit, ayahnya akan menyerahkan itu pada **Bhaskara**. Padahal belum lama sejak pria itu keluar dari **Dakrossa** karena terbukti tidak bersalah. **Drakara** menyesal tidak membabat habis orang-orang kepercayaan **Bhaskara**.

### Penjara **Dakrossa**

**Akta** membuka pintu ruang tahanan **Latisha** dan mendapati penghuninya tengah melakukan *inverted sit-up*. Di mana ia bergelantungan pada batang besi dalam posisi terbalik dengan mengandalkan lutut, kemudian mengangkat tubuh bagian atas berulang kali. Itu termasuk latihan ekstrem, tapi **Latisha** telah melakukannya secara rutin.

**Akta** memalingkan wajah karena **Latisha** hanya mengenakan celana linen panjang serta kain pembebat yang menutupi bagian dada, sehingga tubuh bagian atas terekspos jelas. Bulir-bulir keringat membuat tubuhnya mengilap.

"Ada apa?" **Latisha** berhenti mengangkat tubuh dan membiarkan dirinya bergelantungan terbalik, memperlihatkan otot perut yang padat mengilap oleh keringat.

"Saya datang untuk menjemput Anda ke ruangan Tuan **Dexter**."

"Dia mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Hanya meminta saya mengantar Anda ke sana."

**Latisha** segera turun dan menyambar kaus linen kremnya. Kemudian, setelah berpakaian, kedua tangannya terjulur untuk dipasangi borgol oleh **Akta**. Sekarang ia menuju ruangan di mana **Dexter** berada, tetapi saat sampai di sana, ia mendapati kehadiran sosok lain.

**Bhaskara** Callisto **Elvareth**!

"Apa begini caramu menyapaku?" **Bhaskara** langsung menangkap tinju yang nyaris mendarat di wajahnya.

**Latisha** yang baru memasuki ruangan tiba-tiba melancarkan serangan; raut wajahnya terlihat marah. Sementara itu, **Dexter** menahan tawa sambil mengembuskan asap cerutu.

"*Tsk!*"

**Latisha** menarik tangannya dari remasan **Bhaskara** kemudian memalingkan wajah sambil melipat tangan di depan dada. "Jadi apa karena ini Paman memanggilku kemari?" tanya **Latisha** pada **Dexter**.

**Bhaskara** mengangkat sebelah alis dan langsung menoleh ke **Dexter**. "Paman?"

**Dexter** menyunggingkan senyum. "Bukankah itu panggilan yang bagus?"

"Padahal kupikir kamu tidak bisa menjinakkannya," kelakar **Bhaskara** sambil menunjuk **Latisha**.

**Latisha** mendengkus, tapi perhatiannya segera tersita ke kerangkeng yang dibalut rantai-rantai penyegel cukup besar dan terlihat berat. Di baliknya ada seekor rubah berbulu merah. Mata *amber*-nya sangat indah.

*Wah, cantiknya.*

**Latisha** memuji dalam hati dan mendekatinya, berjongkok di sana dan beradu pandang dengan si rubah.

"Apa kamu yang membawa hewan imut ini kemari?" **Latisha** melirik **Bhaskara**.

"Dia membunuh dua penyihir agung, delapan penyihir tingkat tinggi, dan belasan prajurit terlatih kekaisaran. Namanya **Prayan**," jelas **Bhaskara**.

*Huh?* Sepasang mata **Latisha** mengerjap setelah kembali fokus pada **Prayan**.

"Jadi dia hewan magis? Kalau begitu dia sangat berbahaya, kan?"

"Dia akan berada di lantai sebelas," jawab **Dexter**.

Lantai sebelas hanya dihuni oleh makhluk-makhluk magis yang dianggap sebagai malapetaka; mereka sangat berbahaya. **Latisha** jadi teringat perkataan **Agniya**. Katanya, semakin indah wujud atau penampilannya, maka semakin berbahaya makhluk itu. Kini, **Latisha** mempercayainya.

"Jangan dekat-dekat. Dia penuh tipu muslihat. Ketika kamu masuk dalam perangkapnya, habislah. Tangan **Drakara** hampir putus karenanya," kata **Bhaskara**.

"Di tingkatan itu, sulit menjinakkannya. Mereka sangat kuat dan tidak akan tunduk dengan sembarang orang. Selain itu, aku belum pernah mendengar seorang *Warden* mampu menjinakkan makhluk magis setingkat itu," lanjut **Dexter**.

"Tapi bukankah dia sangat lucu? Dan kurasa dia tidak semengerikan kata kalian. Warna rambutku dan bulunya terlihat sama," ucap **Latisha** setelah berhasil menyelinapkan tangan di antara sela jeruji, mengusap-usap puncak kepala **Prayan**.

Anehnya, **Prayan** duduk dengan tubuh tegak sambil melambaikan ekornya ke kanan-kiri. Mulutnya terbuka dan memperlihatkan taring kecil di sudut bibir. Memang sangat lucu. **Bhaskara** dan **Dexter** sempat terbuai selama beberapa detik, tapi setelah itu melotot, dan **Bhaskara** langsung melingkarkan tangan di perut **Latisha**, menariknya dari sana.

"Apa yang baru saja kamu lakukan?" **Bhaskara** bertanya dengan nada agak cemlisha** mendongak, memandangi wajah **Bhaskara** di atas wajahnya. "Aku hanya menyentuhnya. Lagi pula dia tidak menyakitiku."

**Bhaskara** memandangi tangan **Latisha** yang baik-baik saja. Sementara itu, **Dexter** diam sambil menatap **Latisha** dan **Prayan** secara bergantian.

"*Hoo...*" Tidak lama setelahnya, **Dexter** menahan senyum culas.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
seru banget😃
Melisa Hazelia
pencuri!! plagiat... berkarya itu yang bener2 aja thor
Gloria Queenzy Challysta_
bagus banget ceritanya, penggunaan bahasanya mudah dimengerti, gak buat bosan pembaca 🔥
Ade _ Lagi off 🍇 🌪
ka ko kaya novel sebelah ka,plek ketimplek ceritanya,plagiat ya ka
Ade _ Lagi off 🍇 🌪
woww bener-bener sama nih jiplak karya nya
Yaayaaa🌸
gini nih sukaa am mc cewe gk menye2 badass abisss😍😍
Yaayaaa🌸
sukaa bangett bangett sm ily dan vyr😍😍😍
Yaayaaa🌸
😭😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣
Yaayaaa🌸
makan ddlm perut binatang,makanannya pun daging binatang itu,au ah ngakak banget😭😭
Yaayaaa🌸
apa jadinyaa mereka ber 4 kalau udh menyatu yakk,sama2 gila semua😭😭
Yaayaaa🌸
keren ilyy❤️❤️❤️
Erna Ladi Yanti
namanya agak susah ya thor
Yaayaaa🌸
jaahhahah mati kutu si solomon😭😆😆
Andriani Rahmi
ceritanya sangat seru, bagus, menyenangkan, mengajak berpetualang... keren
Eka Putri Handayani
terharu akhirnya happy ending🥺gak nyangka bisa ngikutin dari bab 1 sampai bab 145 karyamu luar biasa kak, aku suka karakter cwenya benar² badas trs alur ceritanya jg keren. ditunggu karya selanjutnya klo bisa tentang anak² mrk dong🤭
Iry: makasih bnyk🙏
total 1 replies
Yaayaaa🌸
HAHAHAAH😭😭😭
Yaayaaa🌸
😭😭🤣🤣🤣
Yaayaaa🌸
baguss ads kemajuan pesattt
Yaayaaa🌸
hohoho ilyyy tengil bangett😭😭🤣🤣
evi carolin
lama lama Ilya seperti psikopat, berperilaku pendiam tp menghabisi musuh musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!