NovelToon NovelToon
SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"

Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]

Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.

Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Mesin dari Neraka

Dinginnya Planet Eris itu bukan cuma menusuk kulit, tapi rasanya sampai membekukan oli di dalam mesin Nemesis. Andra berdiri di depan hanggar kapal yang terbuka, uap napasnya keluar seperti asap knalpot. Di depannya, Bima—monster batu yang kini jadi sekutu—sedang menggotong sebuah reaktor nuklir tua seberat tiga ton sendirian seolah itu cuma kardus kosong.

"Tuan, ini reaktor terakhir yang masih punya sisa daya dari laboratorium bawah tanah," suara Jagal memecah kesunyian, dia datang sambil mengelap tangannya yang belepotan oli hitam.

Andra melihat reaktor itu. Bentuknya sudah karatan, kabel-kabelnya menjuntai kayak rambut kusut. "Bisa dipasang ke mesin utama kita, Vex?" tanya Andra sambil menoleh ke arah Vex yang lagi sibuk mengutak-atik tablet kendali di bawah perut kapal.

Vex merangkak keluar dengan wajah yang sudah nggak keruan bentuknya. "Secara teori bisa, tapi ini kayak masang mesin motor tua ke jet pribadi, Andra. Risikonya besar. Kalau sinkronisasinya gagal, kapal ini bukan terbang, tapi malah meledak di tempat."

"Kita nggak punya pilihan, Vex. Saldo gue tinggal dua kristal. Kita nggak bisa beli suku cadang baru lewat Sistem," sahut Andra ketus. Dia melirik ke arah monitor pergelangan tangannya yang menunjukkan angka "2" yang menyedihkan. Rasanya aneh, biasanya dia tinggal klik-klik belanja apa saja, sekarang harus jadi pemulung galaksi.

"Oke, oke. Bima, taruh di situ! Hati-hati, itu benda bisa meledak kalau kesenggol dikit!" Vex berteriak ke arah pasukan The Forgotten yang mulai bekerja bersama awak kapal lainnya.

Pemandangan di sekitar kapal Nemesis hari ini benar-benar aneh. Manusia dan monster bekerja bahu-membahu. Para Forgotten yang punya kekuatan fisik luar biasa bertugas jadi derek hidup, sementara awak kapal bagian teknis yang mengurus sambungan kabel yang rumit.

Siska keluar dari kapal membawa beberapa botol air sisa cadangan. Dia menghampiri Andra. "Elara lagi tidur. Dia kelihatan capek banget setelah kemarin 'menjinakkan' mereka semua."

"Wajar. Dia masih kecil tapi sudah harus jadi jangkar energi buat ratusan orang yang hancur mentalnya," jawab Andra pelan sambil menerima air dari Siska. "Gue merasa bersalah banget harus melibatkan dia sejauh ini."

Siska memegang lengan Andra. "Dia melakukannya karena dia sayang sama kamu, Dra. Bukan karena terpaksa. Fokus saja sekarang gimana cara kita keluar dari planet mati ini."

Andra mengangguk. Tiba-tiba, bumi Eris bergetar. Bukan gempa biasa, tapi getaran yang ritmenya sangat teratur.

"Vex! Jagal! Siaga!" teriak Andra.

Dari balik bukit pasir merah, muncul tiga buah drone pemindai milik The Void. Bentuknya kayak bola mata terbang dengan lampu merah yang menyapu permukaan tanah. Ayahnya ternyata nggak butuh waktu lama buat melacak koordinat terakhir pelarian mereka.

"Sial! Mereka sudah sampai sini?" Jagal langsung mencabut senjata energinya, tapi dia ingat baterainya kosong. Dia cuma bisa menggenggam kapak raksasanya erat-erat.

"Jangan tembak! Kalau kalian tembak, mereka bakal tahu posisi tepat Nemesis!" Andra memperingatkan.

Tapi telat. Salah satu drone itu sudah menangkap bayangan Nemesis yang tertutup perisai kamuflase tipis. Drone itu mulai memancarkan sinyal darurat ke orbit.

"Bima! Hancurkan bola mata itu!" perintah Andra.

Bima nggak butuh perintah dua kali. Dia mengambil sebongkah batu besar dari lantai dan melemparkannya dengan kecepatan luar biasa. PRANG! Drone itu hancur seketika, tapi Andra tahu datanya sudah terkirim ke atas sana.

"Kita punya waktu maksimal dua jam sebelum armada Mars turun ke sini," kata Vex dengan suara panik. "Mesinnya belum siap, Andra!"

"Paksa, Vex! Hubungkan kabelnya langsung ke inti Sistem gue!" Andra nekat.

"Gila kamu? Kamu bisa mati kepanggang!" seru Siska.

"Nggak ada cara lain. Sistem gue butuh 'bahan bakar' dan reaktor tua ini butuh 'otak' buat stabil. Gue bakal jadi jembatannya," Andra langsung berlari masuk ke ruang mesin.

Di sana, dia duduk di tengah lingkaran kabel yang sudah dikupas. Dia mengambil dua kabel utama dari reaktor tua itu dan menggenggamnya dengan kedua tangan.

[Peringatan! Mencoba Melakukan Koneksi Saraf dengan Perangkat Kuno...] [Risiko: Kegagalan Jantung dan Kerusakan Sistem 99%!]

"Lakukan saja, brengsek!" raung Andra dalam hati.

Tiba-tiba, seluruh tubuh Andra disambar arus listrik yang luar biasa kuat. Mata Andra memutih, cahaya emas keluar dari pori-pori kulitnya. Rasa sakitnya kayak tulang-tulangnya diremukkan satu per satu. Tapi di saat yang sama, dia bisa merasakan denyut nadi kapal Nemesis. Kapal itu mulai "bernapas" kembali.

Lampu-lampu di dalam kapal menyala terang, bukan putih, tapi berwarna emas redup. Mesin tua dari laboratorium itu mulai menderu kencang, suaranya kayak monster yang lagi bangun dari tidur panjang.

"Indikator daya naik! Empat puluh persen... enam puluh persen... stabil!" teriak Vex dari ruang kendali.

Andra terlepas dari kabel-kabel itu dan jatuh tersungkur. Badannya berasap, tapi dia masih bernapas. Siska langsung memeluknya, menangis histeris. "Andra! Kamu bodoh banget! Jangan pernah lakuin itu lagi!"

Andra cuma bisa tersenyum lemah. "Setidaknya... kita bisa terbang sekarang."

Di luar, langit Eris mulai dipenuhi garis-garis api. Armada The Void mulai masuk ke atmosfer. Ratusan kapal tempur kecil mengepung lembah tempat mereka bersembunyi.

"Tuan! Mereka sudah di atas kita!" suara Jagal terdengar lewat radio komunikasi.

Andra berdiri dengan susah payah, dibantu oleh Siska. Dia berjalan menuju anjungan dengan langkah berat. "Vex, siapkan mesin peluncur. Jagal, suruh semua Forgotten masuk ke dalam palka barang. Kita nggak bakal ninggalin siapa pun di sini."

"Tapi palka barang nggak ada oksigennya, Dra!" kata Vex.

"Mereka nggak butuh oksigen, mereka cuma butuh dendam," jawab Andra dingin.

Kapal Nemesis mulai terangkat dari tanah. Badai pasir yang dihasilkan oleh mesin bawah kapal membuat debu-debu Eris beterbangan menutupi pandangan musuh. Dari atas, kapal-kapal tempur The Void mulai menembakkan laser-laser merah mereka.

"Aktifkan perisai darurat! Gunakan sisa energi dari reaktor lab!" perintah Andra.

Nemesis melesat naik, menembus kepungan kapal-kapal musuh. Kali ini, kapal mereka nggak lagi kinclong kayak dulu. Kapal itu penuh tambalan, kabel di mana-mana, dan suaranya berisik banget. Tapi buat Andra, ini adalah kapal paling kuat yang pernah dia miliki.

"Kita mau ke mana sekarang, Dra? Kembali ke Mars?" tanya Vex sambil menghindari tembakan rudal.

Andra menatap layar radar. Dia melihat armada ayahnya yang besar sudah menunggu di orbit. "Nggak. Kita nggak bakal menyerang Mars dari depan. Kita bakal ke Bulan Phobos. Ada gudang senjata tua di sana yang nggak terdaftar di peta The Void. Kita bakal ambil apa yang jadi hak kita."

Di dalam palka, ratusan Forgotten berdiri tegak dalam kegelapan. Mata kuning mereka menyala, siap untuk menumpahkan darah siapa saja yang menghalangi jalan mereka pulang.

Andra mengepalkan tangannya. Dia mungkin sudah kehilangan uangnya, dia mungkin sudah bangkrut secara finansial, tapi dia baru saja menyadari satu hal: Dia punya pasukan yang nggak bisa dibeli dengan kristal apa pun di galaksi ini.

"Ayah," gumam Andra sambil menatap layar utama. "Nikmati kemenangan sementaramu. Karena sampah-sampah yang kamu buang... sebentar lagi bakal mengetuk pintu rumahmu."

1
ラマSkuy
kekayaan diluar nalar coy 🤣🤣
DPras
othor... perasaan uang nya baru 42juta... trus duitnya drmn buat beli mobil... apakah dipinjemin system🙏🙏
Mohd Harmizi: hasil persugihan
total 2 replies
Sebut Saja Chikal
nanti saya mampir.
tintakering: ijin promo, k. kalo suka cerita menegangkan.ampir ke lapaku ada Pulau Eksekusi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!