NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua hati yang terjebak sunyi

Di balik kemewahan kamar pribadinya, Pangeran Elias tak lagi menahan diri. Seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim sudah terbaring di atas ranjang besarnya, berpose dalam gaya yang sangat sensual dan memancing gairah.

"Pangeran... kemarilah," suara wanita itu terdengar mendayu-dayu, penuh godaan yang mematikan.

Elias melangkah pelan, matanya menyiratkan rasa lapar. Ia menghampiri wanita itu, lalu membiarkan jemarinya menelusuri lekuk wajahnya dengan sentuhan yang sangat sensual.

"Kau adalah satu-satunya untukku, Wisya..." bisik Elias dengan nada serak, menahan hasrat membara yang sudah lama tak tersalurkan.

Wanita itu, Wisya, tersenyum licik. Ia segera bergelayut manja, melingkarkan tangannya yang lembut namun erat di pinggang Elias, menariknya lebih dekat.

"Aku telah membantumu banyak, Pangeran," ucap Wisya pelan, bibirnya hampir menyentuh telinga Elias. "Tidak seperti saudaraku yang bodoh itu. Setidaknya, kecerdikanku telah membukakan jalan untukmu sampai kau bisa menggenggam takhta ini." Wisya mengecup bibir Elias sekilas, sebuah kecupan penuh ambisi.

Elias tak tinggal diam. Ia segera menarik tengkuk wanita itu dan membalas ciumannya dengan kasar, seolah mengklaim kemenangannya.

"Saudarimu itu..." Elias melepaskan pagutannya sesaat, napasnya memburu. "...sebenarnya hanyalah gadis bodoh yang sangat mudah dimanfaatkan. Dia begitu naif akan cinta. Dia sangat percaya padaku tanpa curiga sedikit pun." Elias tertawa sinis mengingat kebodohan Sedra.

Wisya tersenyum penuh kemenangan, sorot matanya dingin dan kejam.

"Kalau begitu, malam ini... mari kita rayakan, Pangeran," ujar Wisya sembari menarik tubuh Elias agar rubuh di atasnya. "Kita rayakan kemenangan kita, dan... kehancuran Sedra si bodoh itu."

Di bawah temaram lampu kamar, mereka pun bercumbu mesra, memadu kasih di atas tumpukan dosa, rahasia kotor, dan penderitaan tak bertepi yang mereka timpakan pada Sedra.

Sementara itu, di dalam kamar yang sempit, Cakra tengah bergulat hebat dengan mimpi buruknya. Napasnya memburu dan keningnya berkerut dalam.

Dalam mimpinya, Cakra tengah memburu Sedra yang berusaha melarikan diri ke tengah kegelapan hutan .

"Berhenti, Sedra!" teriak Cakra menggelegar.

Langkah Sedra mendadak terhenti saat ia menyadari jalan di depannya buntu. Ia pun membalikkan tubuhnya perlahan untuk menghadap Cakra.

"Berhenti mengejarku, atau kau sendiri yang akan celaka, Cakra!" ancam Sedra dengan napas terengah.

"Malam ini, jangan harap kau bisa melihat dunia lagi, Sedra!"

Rahang Cakra mengeras sempurna. Ambisi, emosi, dan amarah yang meluap kini bercampur menjadi satu di dadanya. Ia segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, mengalirkan kekuatan dahsyat yang ia miliki ke bilah pedangnya hingga berpendar hebat.

Sedra yang kini benar-benar terpojok menatapnya ngeri. "Tidak, Cakra! Kau akan menyesal jika membunuhku!"

"Untuk apa aku menyesali kematian seorang penjahat kejam sepertimu?!" balas Cakra tanpa belas kasihan.

"Tidak! Jangan lakukan, Cakra! Cakraaa!"Sedra memohon .

Jleb!

Pedang Cakra menembus tepat di jantung Sedra. Darah segar seketika mengucur deras. Di balik topengnya yang misterius, air mata Sedra mengalir perlahan, menatap Cakra dengan sejuta kepedihan.

Di saat yang bersamaan di dunia nyata, Cakra merasakan lengannya digoyang-goyangkan dengan sangat kuat. Ia pun tersentak bangun dengan napas tersengal dan keringat dingin yang bercucuran membasahi tubuhnya.

Hal pertama yang ia tangkap dalam penglihatannya adalah Nayan yang sedari tadi terus memanggil namanya dengan raut cemas.

"Cakra! Hei..." Nayan melambaikan tangannya di depan wajah Cakra yang tampak linglung.

"Apa kau sedang bermimpi buruk? Kau terlihat sangat gelisah saat tidur tadi."

Cakra berusaha mengatur napasnya yang masih berantakan. Nayan beranjak sejenak dan kembali dengan segelas air di tangannya.

"Minumlah dulu, Cakra. Tenangkan dirimu," tutur Nayan lembut.

Cakra menerima gelas itu dan langsung meminumnya sampai habis. Setelah Cakra tampak sedikit lebih tenang, Nayan berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun baru saja melangkah, kakinya tak sengaja tersandung. Tubuh Nayan hampir saja tersungkur ke lantai jika saja Cakra tidak dengan sigap menarik dan menangkapnya.

Seketika itu juga, Nayan mendarat tepat di pangkuan Cakra. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas masing-masing saling beradu. Mereka saling bertatapan lekat dalam keheningan malam, dengan detak jantung yang sama-sama terpacu sangat kuat.

" Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini? Sensasi ini... sama persis seperti saat aku jatuh cinta pada Pangeran Elias dulu, batin Sedra berteriak panik.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi dalam hidupku! Aku sudah bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan perasaan bodoh itu tumbuh lagi dan menghancurkanku untuk kedua kalinya! " Sedra berusaha keras menegakkan kembali dinding pertahanan logikanya.

Di sisi lain, Cakra menatap dalam-dalam ke manik mata Nayan. Gadis ini baru saja ditemuinya, tapi entah bagaimana sudah mampu membuat jantungnya berdegup tak keruan.

" Apakah aku bersikap seperti ini karena aku menyukainya? Aku? Seorang Pangeran Cakra yang terkenal dingin dan tak berperasaan... bisa jatuh cinta? Benarkah itu? " batin Cakra diliputi keraguan besar.

Keheningan yang sarat akan debaran itu akhirnya buyar oleh rasa canggung yang luar biasa.

"Ca... Cakra, maafkan aku. Tadi kakiku tersandung." ucap Nayan gugup sembari buru-buru bangkit dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

"Emm... i-itu... tidak apa-apa. Lain kali hati-hatilah saat berjalan." balas Cakra tak kalah canggung, berusaha menyembunyikan rona merah yang mungkin menjalar di wajahnya.

Nayan pun mengangguk cepat, lalu setengah berlari meninggalkan Cakra menuju kamarnya. Sedangkan ke mana perginya Riu di tengah momen mendebarkan ini? Tidak perlu ditanya lagi. Suara dengkuran halus dari balik sekat ruangan sudah sangat cukup menjawab bahwa pemuda itu sedang terlelap sangat nyenyak tanpa tahu apa-apa.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Keheningan yang pekat menyelimuti sarapan mereka, membuat udara di dalam gubuk terasa begitu canggung.

Cakra dan Nayan sama-sama menunduk, fokus pada makanan masing-masing tanpa berani saling melempar pandang.

Riu yang duduk di antara mereka menyadari keanehan itu. Matanya bergerak lincah, menatap bergantian pada Nayan dan Cakra yang tampak sangat salah tingkah.

Mencium adanya sesuatu yang tidak beres, Riu berpura-pura bangkit untuk mengambil air di bagian belakang gubuk. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Pemuda itu justru bersembunyi di balik sekat, memasang telinga lebar-lebar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di antara keduanya semalam.

"Cakra..." panggil Nayan ragu-ragu, memecah keheningan.

"Soal kejadian semalam... aku—" Cakra mencoba membuka suara, namun lidahnya terasa kelu.

"Sudahlah, Cakra. Lupakan saja. Aku yang salah karena tidak berhati-hati ." potong Nayan cepat, berusaha mengubur ingatan tentang debaran di pangkuan Cakra semalam.

Di balik persembunyiannya, mata Riu seketika membelalak sempurna mendengar kata "kejadian semalam" dan "tidak berhati-hati".

"Kejadian semalam?! Apa jangan-jangan mereka berdua sudah...? "batin Riu histeris. Ia langsung membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak.

"Wah, Pangeran! Kau ini benar-benar di luar dugaan! Diam-diam ternyata langsung tancap gas! Riu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya, membiarkan pikirannya berkelana liar memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.

Bersambung...

🎉🎉🎉

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!