NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lampu bar temaram. Musik mengalun pelan, bercampur suara gelas yang sesekali beradu. Reynanda duduk di sudut, berhadapan dengan seorang pria yang sudah lama tidak ia temui.

Arga. Teman satu kampusnya dulu. Dulu mereka cukup dekat sering satu kelompok, sering juga minum seperti ini setelah kelas selesai.

“Aku ketemu dia hari ini,” kata Reynanda akhirnya.

Arga melirik sekilas. “Carisa?”

Reynanda mengangguk.

“Dia datang ke kantor. Tiba-tiba saja.” Ia menghela napas. “Dan bilang semuanya sudah selesai.”

Arga tidak langsung bereaksi.

“Katanya tidak ada yang tersisa di antara kami,” lanjut Reynanda. “Bukan karena benci, tapi karena terlalu banyak yang hilang. Dia tidak mau berdiri di reruntuhan yang sama untuk kedua kalinya.”

Arga menyandarkan punggungnya. “Terdengar seperti dia sudah benar-benar menutupnya.”

“Harusnya begitu,” gumam Reynanda. “Masalahnya… aku tidak bisa terima itu begitu saja.”

Arga menatapnya. “Karena kamu masih belum selesai?”

Reynanda tidak menjawab. Ia hanya memutar gelas di tangannya.

“Dia datang langsung ke aku,” katanya lagi. “Kalau benar-benar selesai, orang tidak akan repot-repot datang.”

Arga mengangkat bahu. “Atau justru itu cara dia nutup semuanya.”

Reynanda menggeleng pelan. “Aku kenal dia. Itu bukan cara orang yang sudah benar-benar selesai.”

Ada jeda.

Arga tampak ragu sebentar, lalu berkata, “Ngomong-ngomong… kamu tahu soal dia sempat berhenti kuliah dulu?”

Reynanda mengernyit. “Berhenti?”

“Iya. Dulu sempat jadi omongan,” lanjut Arga santai. “Katanya dia tiba-tiba cuti lama. Bahkan ada yang bilang dia benar-benar berhenti.”

Reynanda menatapnya lebih fokus. “Kenapa?”

Arga mengangkat bahu. “Gosipnya macam-macam. Tapi yang paling sering aku dengar…” Ia berhenti sejenak, seperti menimbang. “Dia hamil.”

Sunyi.

Reynanda tidak langsung bereaksi. Wajahnya datar, tapi matanya berubah.

“Hamil?” ulangnya pelan.

Arga mengangguk. “Iya. Aku kira kamu tahu.”

Reynanda tidak menjawab.

Tangannya yang memegang gelas sedikit menegang.

“Aku tidak pernah dengar itu,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah.

Arga mengernyit. “Serius? Bukannya waktu itu kalian dekat banget?”

Reynanda menatap kosong ke depan. Potongan-potongan ingatan seperti bergerak sendiri di kepalanya waktu-waktu yang tiba-tiba hilang, alasan yang tidak pernah benar-benar jelas, dan Carisa yang perlahan menjauh tanpa penjelasan.

“Aku tidak tahu,” ulangnya pelan.

Arga memperhatikannya beberapa detik. “Kalau itu benar… berarti ada banyak hal yang kamu lewatkan, Nan.”

Reynanda tidak menjawab.

Ia hanya meneguk minumannya, tapi kali ini terasa pahit.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya tidak lagi tentang apa yang Carisa katakan di kantor, tapi tentang hal yang mungkin tidak pernah ia ketahui sama sekali.

Arga tampak ragu. Ia memutar gelasnya pelan, seolah memilih kata.

“Waktu itu… gosipnya tidak berhenti di situ,” katanya hati-hati.

Reynanda tidak bergerak, tapi sorot matanya mulai tajam. “Maksudnya?”

Arga menarik napas. “Yang aku dengar… dia hamil, dan… pacarnya tidak tanggung jawab.”

Sunyi langsung jatuh di antara mereka.

Reynanda tidak langsung bereaksi. Wajahnya tetap datar, tapi tangannya di atas meja perlahan menegang.

Arga melirik sekilas, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, “Aku tidak pernah tahu itu benar atau tidak. Dan… ya, aku tahu waktu itu kamu yang dekat sama dia.”

Kalimat itu dibiarkan menggantung.

Reynanda menunduk, menatap gelasnya. Cairan di dalamnya bergetar tipis karena gerakan tangannya sendiri.

“Aku tidak pernah meninggalkan dia tanpa alasan,” katanya pelan, lebih seperti bicara ke dirinya sendiri.

Arga tidak menyela.

“Dia tidak pernah bilang apa-apa,” lanjutnya, suaranya hampir tak terdengar. “Tidak pernah.”

Arga mengangguk kecil. “Makanya aku pikir kamu sudah tahu.”

Reynanda mengangkat pandangannya. Kali ini ada sesuatu yang berubah seperti ada bagian yang baru saja runtuh.

“Kalau itu benar…” ia berhenti sejenak, napasnya tertahan. “Berarti selama ini aku tidak tahu apa-apa.”

Tidak ada yang menjawab.

Musik tetap berjalan. Orang-orang tetap tertawa di sudut lain bar.

Tapi di meja itu, semuanya terasa berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, kalimat Carisa di kantor tadi kembali terngiang.

“Waktu aku kehilangan sesuatu… sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu ketahui.”

Reynanda menutup matanya sebentar. Sekarang, kalimat itu tidak lagi terasa samar. Sekarang itu terasa seperti tuduhan.

Malam sudah larut saat Reynanda sampai di rumah. Langkahnya tidak sepenuhnya stabil. Bau alkohol masih melekat, napasnya berat, pikirannya kacau oleh hal-hal yang baru saja ia dengar.

Pintu terbuka. Lampu ruang tengah masih menyala.

Humaira muncul dari arah dalam, langkahnya terhenti begitu melihat kondisi suaminya.

“Mas?” suaranya pelan, tapi jelas terkejut. “Astagfirullah, Kamu minum alkohol?”

Reynanda tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri sebentar di ambang pintu, seolah butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan tempat yang seharusnya terasa akrab.

Humaira mendekat beberapa langkah. “Kamu tidak pernah pulang dalam keadaan seperti ini.”

Reynanda menghembuskan napas kasar, lalu berjalan masuk tanpa banyak bicara. Ia melepas jasnya asal, meletakkannya di sofa.

“Ada apa?” tanya Humaira lagi, lebih hati-hati.

Reynanda berhenti. Tangannya bertumpu di sandaran kursi, kepalanya sedikit tertunduk.

“Aku baru tahu sesuatu,” katanya pelan.

Humaira menunggu. Tentang apa, ia tidak tahu. Tapi dari cara Reynanda berdiri, ini bukan hal kecil.

“Aku selama ini… tidak tahu apa-apa,” lanjutnya, suaranya rendah dan berat.

Humaira mengernyit. “Tentang apa?”

Reynanda tidak langsung menjawab. Ia menutup mata sebentar, seperti mencoba menyusun sesuatu yang berantakan di kepalanya.

“Tidak penting,” katanya akhirnya, meski jelas itu bukan kebenaran.

Humaira menatapnya lebih lama. “Kalau tidak penting, kamu tidak akan seperti ini.”

Reynanda tertawa kecil. Hambar.

“Iya,” gumamnya. “Masalahnya… ini penting.”

Humaira tidak mendesak, tapi ia juga tidak pergi. Ia tetap di sana, berdiri beberapa langkah dari Reynanda, mencoba memahami tanpa benar-benar diberi jawaban.

Reynanda mengangkat wajahnya sedikit, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat.

“Aku pikir setelah aku pergi dia hidup bahagia,” katanya pelan. “Ternyata… dia menderita sendirian karena perbuatanku.”

Humaira terdiam. Kalimat itu tidak jelas arahnya, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa tidak nyaman.

“Mas…” panggilnya pelan.

Reynanda tidak menoleh.

Ia hanya berdiri di sana, di tengah rumahnya sendiri, dengan perasaan yang terasa asing dan kepala yang berputar karena alkohol.

Humaira menatap suaminya. Bau alkohol itu tidak bisa ia abaikan. Juga cara Reynanda berdiri, bahu yang biasanya tegak, sekarang seperti menanggung sesuatu yang terlalu berat untuk ditampilkan.

"Mas mau minum air dulu?"

Reynanda menggeleng.

Humaira melangkah ke sofa. Duduk. Tangannya terlipat di pangkuan menunggu suaminya memberikan ia penjelasan.

Reynanda akhirnya duduk juga. Di kursi di seberangnya. Bukan di sebelahnya seperti biasa.

"Aku tidak pernah bertanya banyak padamu." Suara Humaira pelan. "Tentang masa lalumu. Tentang perempuan sebelum aku." Ia menatap tangannya sendiri. "Karena aku pikir yang lalu tidak perlu dibawa ke sini."

Reynanda tidak bersuara.

"Tapi malam ini...." Humaira mengangkat kepala, menatap suaminya langsung, "aku ingin tanya satu hal. Dan aku minta kamu jujur."

Reynanda menatapnya.

"Perempuan yang selama ini mengganggumu." Suaranya tidak bergetar. "Itu Carisa, kan?"

Reynanda memalingkan wajah ke lantai. Dan itu sendiri sudah menjawab pertanyaan Humaira.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!