Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam hari pun tiba, Aleta meraih jaket kulit berwarna hitam dari lemari pakaian dan mengenakannya. Dia juga mengikat rambut panjangnya agar tidak mengganggu saat di perjalanan, sejenak Aleta terdiam di depan cermin.
Memandangi wajah dan postur tubuhnya yang sudah jauh berbeda, dulu dia memiliki banyak bekas luka di lengan serta pipi tapi sekarang tubuhnya begitu mulus serta bersih.
"Sayang sekali, kalau bukan aku yang merasuki tubuh ini pasti tubuh ini tidak mungkin lecet." Ujarnya merenung.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa lepas dari raga Aleta, mau tidak mau tubuh gadis itu harus bertahan sesuai dengan yang dia inginkan.
Aleta membuka laci meja, dan menemukan kunci motor tergeletak di sana. Tanpa pikir panjang, dia mengambil kunci itu lalu menutup laci dan berbalik menuju pintu keluar.
Saat membuka pintu, dia melihat kakeknya, Jacob, baru saja memasuki rumah. Aleta menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Kakek baru pulang?" tanya Aleta seraya keluar dari kamar.
Jacob mengangguk, dia menilai penampilan cucunya yang sedikit berbeda dari biasanya. "Kau mau ke mana malam-malam begini, Let?"
"Aku ada urusan sebentar di luar, tidak akan lama tapi Kakek tidak perlu menungguku kembali."
"Apa maksudmu? Kakek akan menunggumu, jadi kau harus menepati janjimu untuk tidak pulang larut."
Seulas senyum tipis terbit di bibir Aleta, gadis itu melangkah mendekati sang kakek lalu memeluknya erat. "Ya, terima kasih, Kek."
"Pergilah, apa kau bersama temanmu?"
Aleta melepas pelukannya lalu menatap wajah Jacob yang tampak kelelahan. "Iya, ada temanku yang mengajak bertemu."
Meski bukan teman baik. Batinnya melanjutkan.
Jacob tersenyum senang, kulitnya yang sudah keriput tertarik ke atas. "Kakek senang kau sudah memiliki seorang teman, Let."
Meski heran, Aleta tak merespon lebih karena waktu yang terus bergerak membuatnya tak bisa berlama-lama bersama kakeknya. Terlebih malam ini dia harus menyelesaikan urusannya dengan orang itu, sebelum mereka mengancam menggunakan orang terdekatnya.
"Aku pergi dulu, Kek." Pamit Aleta.
Jacob mengangguk. "Hati-hati di jalan."
Aleta bergegas keluar dari rumah, menuju garasi kecil di samping rumah dan mengeluarkan motor sport yang jarang di gunakan oleh pemilik tubuh sebelumnya.
"Motornya masih bagus, kenapa Aleta selalu naik bus saat ke sekolah?" gumamnya heran.
Dari ingatan yang dia miliki, Aleta selalu naik bus jika berangkat ke sekolah. Entah alasan apa di baliknya, tapi dia yakin ada yang tidak beres dengan semua itu. Namun, untuk sekarang dia tak bisa menebaknya karena pikirannya sudah terisi penuh dengan rencana lain.
***
"Di mana gadis itu? Apa dia belum datang?"
Suara berat dan serak menggema di dalam ruangan yang sudah tidak berpenghuni, gedung kosong dengan bangunan setengah jadi yang gagal di eksekusi oleh pemiliknya.
"Belum ada tanda-tanda bahwa dia datang, Bos."
Salah satu anak buahnya maju menunjukan tablet berisi CCTV di daerah tersebut, dari semua pantauan belum ada yang menunjukan kemunculan Aleta di layar tersebut.
"Terus awasi, sepertinya gadis itu mendadak jadi pengecut." Katanya terkekeh geli.
Pertemuan mereka di taman belakang tadi siang cukup membuatnya terkesan, Aleta sama sekali tidak menunjukan minat takut atau terintimidasi sama sekali dengannya. Jelas gadis itu sudah banyak berubah, dan itu menjadi kabar bagus untuk Tuannya.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada pilar beton yang belum selesai dibangun. Rokok di tangannya menyala redup, asapnya mengepul pelan ke udara malam yang dingin.
"Atau…" gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat tipis, "dia memang tidak pernah takut sejak awal."
Anak buahnya tidak berani menanggapi. Mereka hanya saling melirik, merasakan tekanan tak kasat mata yang muncul setiap kali pria itu mulai tertarik pada sesuatu.
"Bos," salah satu dari mereka kembali bersuara hati-hati, "apakah kita perlu menjemputnya saja?"
Pria itu menggeleng pelan. "Tidak perlu."
Dia mematikan rokoknya dengan menekannya ke permukaan beton.
"Aku ingin melihat… seberapa jauh dia berani melangkah sendiri."
***
Di sisi lain kota, suara mesin motor meraung pelan memecah keheningan malam. Aleta melaju di jalanan yang mulai lengang. Angin malam menerpa wajahnya, membawa sensasi dingin yang justru membuat pikirannya semakin jernih.
Matanya fokus ke depan. Namun pikirannya sibuk menyusun strategi. Pria itu bukan target sembarangan. Dari cara bicara, gestur, dan tekanan yang dia rasakan siang tadi siang, jelas pria itu berada di lingkaran dunia bawah. Bahkan… bukan level rendahan.
"Aku harus berhati-hati," gumam Aleta pelan.
Lampu merah di depan menyala. Aleta menghentikan motornya, jemarinya mengetuk pelan setang motor.
"Kalau dia hanya pengamat, itu tidak masalah…" Matanya menyipit. "Tapi kalau dia pemburu…"
Lampu berubah hijau. Aleta menarik gas. "…maka aku yang akan memburunya lebih dulu."
Beberapa menit kemudian, motor Aleta berhenti di depan gedung setengah jadi itu. Bangunan gelap, sunyi, dan terasa dingin bahkan dari luar. Dia mematikan mesin.
Aleta tidak langsung turun. Matanya menyapu sekitar, mengamati setiap sudut. Ada kamera, dan dua orang di sisi kanan. Satu di lantai dua. Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Mereka benar-benar menyiapkan penyambutan."
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁