NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT II

   Irene yang berdiri di seberangnya melemparkan tongkat pel. Kali ini dia memperkirakan dengan cermat agar tongkat pel tersebut tidak mendarat di kepala Karinn, melainkan jatuh tepat di depan kakinya. “Benar, ini kamarmu. Jadi bertanggung jawablah.”

   “Hu?”

   “Lepas sepatumu dan bersihkan kotoran di lantai bekas pijakanmu.”

   “Oi, yang benar saja? Kenapa kau memerintahkanku?” Karinn melempar balik tongkat pel tersebut ke pemiliknya. Lalu sembari melakukan perintah pertamanya, dia berkata, “Aku hanya akan melepas sepatu dan—”

   “Keluar!” Irene meledakkan suaranya, membuat Karinn yang hendak melangkah masuk pun jadi sungguhan menurut melangkah mundur. “Kubilang keluar!”

   “Apa, sih? Kenapa kau—”

   “Lakukan sekarang jika tidak mau aku mengoceh.” Irene melempar lagi tongkat pelnya. 

   “Wah, kau sungguh gila.” Karinn geleng-geleng kepala, memandangi tongkat pel tersebut kembali lagi ke dirinya. Sejauh perseteruan ini, dia sadar bahwa lawan bicaranya itu tipe yang benar-benar langsung ke intinya. Jadi ia pun merasa tertantang untuk menanggapi balik segala serangannya seperti yang dilakukannya padanya. “Bagaimana jika aku tidak mau?” Karinn menarik sudut bibirnya ke atas, memasang seringai meledek. Lalu tongkat pel yang dipegangnya, dijatuhkan ke lantai seolah menunjukkan bahwa dialah yang akan memutuskan untuk melakukan perintahnya atau tidak. Kemudian dia mengambil barang bawaannya, siap melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. 

   Di ujung sana, Irene mengangkat sepatu high-top ke udara. Tampaknya itu adalah sepatu sebelahnya dari sepatu yang tadi dilemparnya. “Kau mau masuk?” tanyanya sarkas. 

   “Ck, apa yang salah denganmu?” Karinn menghela napas, sembari menurunkan barang bawaannya ke lantai dengan penuh amarah. Dia tahu ucapannya itu bukanlah omong kosong belaka, mana mungkin dia akan bersikap tak acuh sedangkan sepatu itu bisa melayang kapan pun tanpa disadarinya. “Biarkan aku masuk dulu, baru aku—”

   “Kau yakin akan membersihkannya jika kubiarkan masuk?”

   Karinn terenyak, jelas itu cuma kata-kata tipu muslihatnya. “Akh, sial. Orang ini benar-benar gila.” Karinn mengacak rambut, bermonolog pada dirinya sendiri. 

   “Aku tahu kau tidak akan melakukannya. Maka itu tetaplah di sana sampai kau bertanggung jawab,” kata Irene lagi.

   “Oi, kau ... Kau sungguhan berbuat begini? Kau tidak tahu betapa lelahnya aku berlari menaiki tangga untuk mencapai kamar ini, hu? Kenapa seenaknya kau memerintahkanku? Kenapa kau—”

   “Jadi menurutmu aku dan anggota yang lain pergi dengan cara terbang, teleportasi, dan hal semacamnya?” 

   Karinn makin menekuk muka, sebal, namun tidak bisa membalas apa-apa selain mengutuk dan mengumpatnya dalam hati. “Akh, sial. Dia benar-benar membuatku gila..” 

   Gbrakk..! Pintu kaca yang terpasang sebagai akses keluar-masuk menuju balkon, terbuka keras. “Oi, ada masalah apa di sini?” Erica bertanya sembari menghampiri Irene yang tangannya masih dalam kondisi mengangkat sepatu ke udara. “Suara kalian terdengar sampai—”

   “Ssht! Kau tidak perlu ikut campur.” Irene menyodorkan jari telunjuknya di depan bibir Erica, mencegahnya mengomel.

   “Kau bilang apa? Aku ikut campur?!” Ditepisnya jari si sobatnya itu, lalu ditarik paksa bahu sebelah kirinya agar menghadap dirinya. Dahinya mengernyit, merasa tidak terima dengan semua kalimat yang terucap tanpa kebenaran sedikit pun. “Kau tahu apa kesalahanmu?”

   Irene menundukkan kepala, mengalihkan kontak mata mereka. Walau ia tidak yakin di mana letak kesalahannya, baginya itu urusan nomor sekian. Karena yang terpenting setiap kali Erica sudah berada di fase mengomel adalah ia harus diam dan mendengarkan, tidak peduli seberapa keras dirinya ingin menyangkal.

   “Sudah kubilang padamu bahwa aku akan merekam tes pelafalan bahasa di balkon. Lalu kau bersedia memastikan aku dapat melakukannya dengan tenang. Apa kau lupa?”

   Irene menggeleng. 

   “Kau tidak penasaran berapa kali aku harus mengulang rekamannya?” Erica tersenyum, menambah sensasi ngeri pada si lawan bicaranya. Kemudian, sembari ia mengangkat kesepuluh jarinya, dia berkata, “Sepuluh kali. Ya, sepuluh kali dalam lima menit. Bagaimana menurutmu?”

   Irene mengangguk. 

   Karinn yang menyaksikan pemandangan itu dari tempatnya, terkekeh. Menurutnya konyol sekali si gadis garang yang semula melotot tajam dan bicara ketus hanya karena meributkan soal sepatu, kini terdiam membisu saat diomeli. Cekrek..! Ia mengambil gambar, mengabadikan momen tersebut di ponselnya. “Tunggu, dia...” Sejenak kemudian, atensinya mendadak teralih. Ia pun lantas mengerjap-erjapkan matanya guna menelisik lebih saksama gadis yang sedang mengomel itu. Ia yakin, sosoknya itu pernah terekam dalam ingatannya. Benar, sekitar dua bulan lalu, bersamaan dengan ia bertemu si gadis garang Irene. Erica. Orang yang pertama kali membuatnya sadar bahwa ia adalah pemain Drama. 

   “Yow, what’s up!” Seseorang menepuk bahu Karinn, menyapanya dari belakang. “Kamarmu di sini?” Gadis dengan name tag Ayaa itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Matanya berkerut seakan ikut tersenyum, memberikan kesan hangat bagi kedua orang asing ini dalam pertemuan pertama mereka sebagai teman sekamar.

   “...Ya,” 

   “Kau kelas berapa?” 

   “...Hu? ...Aku kelas 11-4.” 

   Ayaa ber-oh lirih, diam-diam mengamati si juniornya itu melalui bahasa tubuhnya. Gelombang suara yang tertangkap di telinganya menunjukkan bahwa dia tampak gugup. Juga menilai dari bagaimana ia terus menghindari kontak mata dan menjauhkan jarak di antara mereka, itu sudah cukup memberitahunya tentang perasaan tidak nyaman terhadap sikap hangatnya. 

   Yah, tidak heran. Senioritas meradang beberapa tahun lalu, membuat renggang hubungan sesama senior dan junior. Ketegangan itu menciptakan atmosfer di mana akhirnya dinding pemisah tak terlihat semakin melebar. Membuat mereka yang mula-mula saling serang dan berseteru untuk memperlihatkan siapa yang lebih unggul, lambat laun menjadi asing. Persis seperti kondisi orang yang seakan tidak pernah mengukir kenangan bersama, seakan tidak pernah saling mengenal satu sama lain, seakan semua cerita tentang mereka sirna dalam sekejap. 

   “Aih, kau kaku sekali.” Ayaa tertawa tipis, berniat mencairkan kegugupan di wajah si lawan bicaranya. “Aku tahu. Dalam kegiatan organisasi, aku memang terlihat agak menyeramkan. Aku mendapatkan banyak keluhan dari adik kelasku perihal itu, tapi sebentar lagi aku akan lengser dari jabatan ketua OSIS. Setidaknya kau tidak perlu canggung, oke?”

   Karinn mengangguk.

   “Omong-omong sedang apa kau di sini? Ayo, masuk ke dalam.” Ayaa menepuk bahu Karinn, memberi ajakan. 

   “...Aku melupakan sesuatu.” Dia menggaruk tengkuk kepalanya, mengalihkan kontak mata lagi. Dilihat dari sisi mana pun, kalimat singkat yang baru saja diucapkannya jelas bermakna bahwa ia menolak ajakannya. 

   “Oke, tidak masalah. Aku akan masuk tanpamu.” Ayaa memberi satu tepukan terakhir di bahu Karinn, kemudian masuk ke kamar setelah meletakkan sepatunya di rak. Sambil menggendong barang bawaannya, dia berjalan menghampiri dua junior Erica dan Irene, lalu mengajak tos sebagai bentuk sapaan remaja kekinian. “Kalian berdua juga dari kelas 11?” Manik mata si senior bergerak ke arah Irene, meminta jawaban. 

   Alih-alih menanggapi atau setidaknya merespons dengan bahasa tubuh, si gadis garang itu justru melenggang pergi mengambil tongkat pel. Juga kiranya setelah balik dia akan memberi jawaban, tapi ternyata yang dilakukannya adalah lanjut mengepel lantai di area terakhirnya. 

   “....Ya, benar.” Erica yang menjadi satu-satunya orang tersisa, akhirnya maju menanggapi. “Ada tiga orang dari kelas 11 di kamar ini, termasuk kami. Tidak ada siswi kelas 10.” Dia mengakhiri kalimat terakhirnya dengan senyum, juga tawa yang jelas terdengar palsu. 

   “Di mana Villy? Apa dia sudah datang?”

   “Ya, Kak Villy ada di balkon. Aku mengerjakan tugas bersamanya di sana.” Erica mengarahkan jari telunjuknya ke balkon, tempat di mana seseorang dimaksudnya berada. 

   “Wah, sudah selesai jam sekolah pun kau masih sibuk dengan tugas? Tidak heran wajahmu sering kutemukan di banner sekolah. Kau bekerja keras untuk mendapatkannya.” Ayaa memberi satu tepukan pada kepala Erica, sebelum kemudian pergi menuju balkon. 

   “Hahahaa, terima kasih banyak, kak.” Erica berseru senang atas pujian yang didapatnya. Si senior pun balas mengacungkan isyarat jari bermakna ‘oke’ sebagai tanda ‘sama-sama’. 

   Dari tempatnya berdiri, Karinn menonton pemandangan manis berupa interaksi antara sang senior dan juniornya itu dari kejauhan. Kemudian dia bermonolog, “Apa yang baru saja terjadi di sini? Mungkinkah ... Mungkinkah Dramanya sudah dimulai sebelum aku?” 

   “Rubah cokelat!” Satu tepukan mendarat di bahunya, sukses membuyarkan semua lamunan kosong di kepalanya. “Ternyata kau benar-benar Karinn!” 

   Si pemilik nama yang sadar sedang diajak bicara, menoleh. Tampaklah Erica di depannya melambaikan tangan sambil menunjukkan senyum. “....Kau ... Erica, bukan?”

   “Wah, sulit dipercaya ternyata kau masih mengingatku.” Erica tertawa penuh keriangan, menganggap lucu wajah Karinn yang datar karena masih berada di ambang lamunannya. Ciri khas tentangnya itu benar-benar tidak berubah sejak kali pertama mereka bertemu. “Aku sungguh tidak menyangka kita akan jadi teman satu kamar. Mari berteman baik!” 

   Karinn mengacungkan jempol, mengangguk sekali tanpa berucap.

   “Oi, kau tampak seperti mayat hidup.” Erica menyikutnya, mengomentari wajah si lawan bicaranya yang pucat bagai terasi. “Mau mencoba donat buatanku? Aku membuat banyak saat di dapur asrama.”

   “Hu? Donat?” Manik mata Karinn membulat besar, antusias mendengar Erica menawarkan makanan secara cuma-cuma. Sungguh suatu keberuntungan. Padahal pagi ini dia meramal bahwa sepanjang hari dia akan ditampakkan dengan macam-macam kesialan. Namun di luar dugaan, dia mendapat suatu mukjizat dari langit melalui perantara teman sekamarnya. “Aih, tentu. Mana mungkin aku menolak.”

   “Kau suka rasa apa? Aku khawatir karena sebelumnya sudah kubagikan dengan teman-temanku. Jadi hanya tersisa sedikit.”

   “Aku suka rasa apa pun, kecuali keju.”

   “Kau tidak suka? Kenapa? Kau alergi? Aih, padahal aku berharap kaulah yang akan mendapat semua jatah donat keju itu.” Erica mengerucutkan bibirnya, menunjukkan wajahnya yang jengkel tanpa sebab. Dilihat dari sisi mana pun, jelas ucapannya itu bermakna lain. 

   “Iya, aku tidak bisa memakannya. Aku alergi.”

   “Baiklah, baiklah. Tidak masalah. Aku akan coba tawarkan pada Kak Villy atau Kak Ayaa. Siapa tahu mereka tertarik.”

   Karinn melipat dahi, menelisik wajah si lawan bicaranya sejenak. Karena mereka pernah bertemu dan berbincang sebelumnya, jadi ia tahu betul bagaimana Erica yang lembut ini berkomunikasi dengannya. Ya, perbedaannya sangat kentara bahkan hanya dengan suara napasnya. “Kenapa kau terlihat kesal?”

   “Tidak, aku tidak kesal,” katanya sembari membantu Karinn memasukkan barang bawaannya ke dalam kamar, yang mana inisiatifnya ini juga bermakna lain. 

   “Oi, kau berkata begitu dengan wajahmu yang seperti ini? Ckckck, kau sungguh tidak pandai berakting.”

   Erica makin menekuk muka, sebal. Namun tak lama berselang setelah semua barang bawaan Karinn telah masuk ke dalam kamar, dia berkata lirih, “Kau pernah dengar julukan 'lumpur keju'?”

   “Hu? Apa itu?”

   “Orang yang berdebat denganmu tadi...”

   Belum juga selesai Erica bicara, Karinn langsung menutup mulutnya. Ck, dia jelas tahu topik ini. “Irene?”

   Alih-alih menjawab ya atau tidak, Erica malah berkeluh kesah, “Aku sedang kesal dengannya. Dia berkata dengan nada tinggi saat aku menegur kesalahannya. Menyebalkan sekali. Jadi untuk sementara waktu aku tidak ingin memikirkannya.”

   “Jadi karena itu kau membiarkanku masuk?” Karinn tertawa kikuk. Sial, kini dia tahu apa makna dari tindakannya yang aneh sedari tadi. “Tunggu, tunggu dulu. Aku pernah dengar cerita tentang beruang laser itu dari teman-teman sekelasku. Tapi aku tidak tahu kalau yang mereka bicarakan adalah ... Irene? Benarkah dia? Wah, gila. Wahh...”

   “Ah, kau juga menyebalkan. Karena kau sudah tahu, aku jadi tidak bisa cerita.”

   “Eiy, jangan begitu.” Karinn menggunakan isyarat tangannya, mengajak Erica agar mendekatkan telinganya kepadanya, hendak membisikkan sesuatu. “Kau pasti tidak tahu tentang stiker meme-nya.”

   “Hu? Stiker meme?”

   “Salah satu temanku diam-diam memotretnya, lalu menjadikannya sebagai stiker meme. Kami menggunakannya saat berbincang di ruang obrolan, tentunya tanpa sepengetahuannya.”

   “Kau bodoh,” kata Erica sembari memukul lengan Karinn. “Kau bisa mati jika Irene mengetahuinya.”

   Karinn menegak ludah, kemudian melirik sekilas pada orang yang sedang dibicarakan. Tampaklah si beruang laser itu ternyata sedari tadi tidak melanjutkan mengepel, melainkan menghunuskan sorot tajam matanya kepada kedua pelaku. “Ah, kau tenang saja. Aku pandai bela diri.” 

   “Di mana stikernya? Biarkan aku melihatnya.”

   “Kau penasaran?” Karinn mengeluarkan ponselnya, menunjukkan stiker wajah Irene yang berantakan oleh selai keju; hidungnya, mulutnya, sampai kelima jarinya yang selalu sama keadaannya setiap kali ia menyantap apa pun makanan rasa keju. Maka itu bukan hanya satu, tapi saat ia menggeser ke bawah ... ada total lima belas stiker wajahnya yang sedemikian rupa diedit lucu. 

   “Oi, b*tch!” Irene menyalak galak, membanting tongkat pel ke lantai. “Kalian bersenang-senang?!!” Nadanya terdengar ketus, tajam seolah mampu menusuk pendengaran kedua pelaku yang mendadak membisu di tempat. “Mari lanjutkan. Kemari kalian!!” Tanpa aba-aba terlebih dulu, Irene langsung berlari—mengincar Karinn alias si makhluk tak tahu diri yang kabur begitu tahu dikejar. 

   Alhasil, lantai yang masih basah pun kotor lagi kena pijakan kaki. Mereka berlarian di sekitar ranjang, saling lempar bantal dan kemoceng, menambah adrenalin untuk berkompetisi siapa yang paling tangkas. Beberapa menit kemudian pun, keduanya tenggelam dalam gulat usai si pembuat keributan berhasil tertangkap. Dia menjerit begitu lengannya hendak dipuntir Irene, namun Erica yang berusaha menolong malah membuka kesempatan bagi Irene untuk men-tackle kakinya. Jduk! Ia pun kalah dalam putaran pertama, tubuhnya ambruk dalam satu kali hentakan. Namun alih-alih mengakui kekalahannya, dia kembali kabur dan mencari senjata untuk balas melawan. Tentu Irene yang sedang bergairah merasa tertantang—putaran kedua pun dimulai. 

   “Mereka sungguh kekanakan.” Villy berkomentar dengan ketus.

   Ayaa di sebelahnya lantas menoleh. Aneh saja pikirnya, sobatnya itu bahkan menyumbat telinganya dengan earphone agar tetap fokus, atensi matanya pun tak lepas dari laptop dan buku-buku, lantas bagaimana bisa dia berkomentar tentang pertengkaran juniornya di sana? “Kau mau bergulat juga? Pergilah kalau begitu.” Dia mengeluarkan ponsel, siap merekam. “Akan kuabadikan momen langka ini.”

   “Lakukanlah jika kau ingin mati.” Villy menyalak cepat, mengangkat bolpoin yang sedang digenggamnya ke udara. Dilihat dari bagaimana ia mengaitkan jarinya pada bolpoin yang memberi kesan seperti ia menggenggam sebilah pisau, sudah cukup menunjukkan bahwa ucapannya bukan omong kosong belaka. 

   Namun alin-alih bergidik ngeri, Ayaa malah merasa dirinya tertantang. Maka sambil tersenyum menyeringai, dia berkata, “Bagaimana jika aku benar-benar melakukannya?”

   “Akan kupastikan nyawamu tersisa delapan setelah ini.”

   “Ya, tidak masalah. Setidaknya nyawaku masih tersisa.”

   “Dasar bedebah menyebalkan ini..!” Villy membanting kasar bolpoinnya, melotot sinis. “Sebelum aku benar-benar membunuhmu, lebih baik kau pisahkan mereka sekarang!”

   “Ck, kenapa kau memintaku melakukannya? Biarkan saja mereka begini. Pertengkaran mereka menghiburku.”

   “Kau gila?!” Terlampau sudah batas kesabarannya, Villy akhirnya balas menjitak kepala Ayaa menggunakan buku Kimia yang memiliki ketebalan 6 cm. “Adik-adikmu sedang bertengkar, saling berteriak, dan memaki satu sama lain, sementara kau sebagai senior malah diam saja? Di mana wajahmu sebagai ketua OSIS yang sangat dihormati, hu? Apakah jabatan yang kau pernah dapat hanyalah seperti figuran yang tidak berguna bagimu?”

   “Oi, astaga! Kata-katamu sungguh tidak berperikemanusiaan! Pergilah jika kau mau melerai mereka.” Ayaa mengacungkan jari tengah, balasan atas apa yang tadi menimpa kepalanya. 

   “Kau bilang apa?” Villy menarik bahu kiri Ayaa, membawa tubuhnya agar menghadap dirinya. “Aku? Kau menyuruhku? Kau tidak bisa lihat, hu?!” Tangan Villy membawa wajah Ayaa untuk melihat betapa banyaknya tumpukan buku di atas meja, juga laptop, kalkulator scientific, alat tulis, dan entahlah yang lainnya berserakan tak tertata di sana. 

   Namun bukan Ayaa namanya kalau tidak menjadi manusia penguji kesabaran Villy—sang manusia yang mungkin lebih tepat digambarkan bak sehelai tisu yang tertiup angin. Menghilang jauh ... kesabarannya. “Oh, iya benar. Aku tidak bisa melihat. Tidak ada objek yang ditangkap oleh retina mataku. Aku hanya bisa melihat bayangan seseorang di hadapanku sekarang dalam wujud gajah air. Wah, badannya bulat seperti balon udara, hidungnya besar seperti jambu, dan matanya melotot seperti cumi-cumi. Oh ya, kau tahu bagaimana suaranya? Suaranya seperti ini, blubub-blubub blek-blek-blek~” 

   Villy lantas bangkit dari kursi, meninggalkan semua pekerjaannya, dan beralih untuk menyelesaikan urusannya dengan sobat masa kecilnya yang teramat menyebalkan ini. Dia melepas salah satu sepatunya, mengangkatnya ke udara. 

   “Eits, mau apa kau?!” Ayaa bergerak cepat menjauhkan kursinya ke belakang. “Tidakkah kau ingat benda itu adalah sepatu baru pemberian ibumu, hu? Dan kau akan menggunakannya untuk menimpuk kepalaku? Wah, kalau kau sampai melakukannya, akan kuadukan pada ibumu, lho!” Bukan hanya ancaman semata, Ayaa langsung mengambil ponselnya dari saku rok. Mencari nomor seseorang yang dikenalnya lalu memencet tombol panggilan video. “Selamat sore, tante Elive!”

   “Dasar brengsek! Kau benar-benar menantangku?!”

   “Halo, tante!” Setelah Ayaa menjauh sekitar dua meter, ia segera menceritakan semuanya menggunakan bahasa tangan dan mulutnya bersamaan. “Kau ingat sepatu sneakers yang kau berikan pada Villy pada ulang tahunnya bulan September lalu? Ya, yang berwarna navy, dan bercorak galaksi. Sekarang dia akan menggunakannya untuk—”

   “AYAA!! Kesabaranku sudah habis!! Kau mau mati sekarang, hu?!!” Kesal, jengkel, teramat jengkel. Semua perkataan lawan bicaranya mengandung kebenaran seratus persen. Villy tak bisa mengelak lagi tentang itu, jadi akhirnya dia membanting sepatu tersebut ke lantai. Namun amarahnya yang sudah memuncak, tidak bisa lagi dibalas hanya dengan acungan jari tengah dan seratus kata umpatan. Kini, dia melepaskan semua api di kepalanya dengan menjambaki rambut pirangnya tanpa ampun. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!