Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di luar, Ezar urungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Ia juga baru pulang sampai lupa waktu. Pri itu berdiri di balik pintu, dan tengah mengintip Ayahnya yang sedang murka.
Ria menegang. Suara Baskara meledak di kesunyian malam.
"JAWAB! DARIMANA SAJA KAMU!" Bentak Pak Baskara di sisi tembok.
Tubuh Ria sudah gemetar hebat. Batinya bergolak merutuki semua kecerobohannya itu. 'Gawat! Aku nggak boleh panik. Aku harus mencari alasan agar Baskara percaya,' batinnya. Ria menoleh kaku, senyumnya memaksakan merekah tipis. "Mas, kamu belum tidur? Aku... Oh ya, aku baru saja pulang dari gantian berjaga di rumah sakit. Tadi malem aku dapat kabar kalau Tanteku masuk rumah sakit."
"Kamu nggak usah berbohong, Ria!" Pak Baskara menatapnya penuh intimidasi.
Ria meluruhkan kedua bahunya lalu tersenyum gamang. "Iya, Mas... Tadi malam aku mau ajak kamu buat anterin, tapi kayaknya kamu sibuk banget di ruang kerja. Jadi, Ya... Aku berangkat sendiri. Pagi nanti Tante juga udah boleh pulang kok. Kasian, anaknya jauh." Dalihnya.
Pak Baskara berjalan lebih dekat. Telunjuknya menunjuk tepat pada wajah sang Istri. "Di mata saya kamu tidak lebih seorang pendusta, Ria! Kamu pikir saya akan percaya begitu saja? Saya akan mencari tahu semua kebenarannya. Jika terbukti kamu berbohong lagi... Maka saya tidak segan-segan MENCERAIKAN KAMU!" Sentaknya. Pak Baskara berlalu begitu saja.
Ria mengepalkan tangan mencoba meredamkan emosinya. Dan untung saja fajar ini ia memiliki alasan untuk membohongi suaminya. Di tengah rasa kesalnya itu, dari luar suara langkah seseorang menggema masuk.
Begitu menoleh, putranya juga baru saja pulang. Ria semakin di buat syok. Pukul 3 pagi Ezar baru pulang? Kemana saja putranya itu semalam?
"Ezar... Kamu darimana saja?" Bu Ria menahan bahu putranya namun di hempaskan Ezar begitu saja.
Dengan suara rendah namun penuh penekanan itu, Ezar berkata, "Mamah tidak usah lagi mencampuri urusan Ezar. Mau kemana pun Ezar, sekarang bukan lagi urusan Mamah! Ezar cukup kecewa untuk kejadian 5 tahun yang lalu itu."
Tanpa menoleh, Ezar berlalu begitu saja. Hal acuh itu membuat Ria semakin menggeram. Suami serta putranya sudah tak lagi percaya dengannya. Dan Ria rasa, selain Miranda yang sudah mencuci otak Ezar, ada Dewa yang juga meracuni otak Papahnya setiap saat.
"Kedua orang itu membuat aku kehilangan putra serta suamiku. Aku nggak boleh mengabaikan masalah ini begitu saja. Hah!" Ria bergegas masuk menuju kamarnya.
Di kamar, Ezar hanya merebahkan tubuhnya. Pria itu menatap langit-langit kamarnya, siluet Miranda memenuhi isi kepalanya. "Untuk kali ini, aku nggak boleh nyerah begitu saja. Aku harus bisa membuat Miranda percaya dan memaafkan aku lagi."
Drttt!!!
Gawai Ezar menggema. Deringnya memecah kesunyian hatinya. Pria itu segera merogoh, dan bangkit.
Sinta? Ngapain kekasihnya itu sudah bangun jam segini?
Ezar segera mengangkat panggilan itu. "Halo, ada apa?"
"Sayang... Tumben kamu sudah bangun? Tadi malam kamu kemana sih? Aku telfon berkali-kali nggak kamu angkat?" Antara kesal dan cemas, Sinta yang saat ini tengah menata barang dalam kopernya mencoba untuk menahan emosinya.
Ezar berkata sangat gamblang. "Aku tadi malem sama Rafael ada sedikit kerjaan. Kamu ada apa, pagi banget telfon?"
"Sayang... Aku tadi malem dapat job di Bangkok. Paling hanya 1 minggu di sana. Kamu nanti anterin aku ya, pukul 8 aku terbang."
Ezar menahan napas berat. Entah mengapa, semenjak kehadiran Miranda, batinya terhadap Sinta mulai bergolak. Semakin hari rasa itu menjadi hambar.
"Sinta, kamu pikir ini pengangguran, jam 8 harus siap anterin kamu?! Aku juga punya kerjaan. Aku ada meeting lagi, dan masih banyak kerjaan lainnya. Dan kamu tahu, kerjaan semua itu aku lakukan sendiri. Mas Dewa-"
Sinta yang sudah merasa geram dengan alasan Ezar mengenai Dewa, kini langsung menyahut. "Mas Dewa lagi?! Apa nggak ada alasan selain Mas Dewa. Ezar... Kamu sekarang kenapa sih? Kamu itu udah berubah sekarang. Kamu udah nggak peduli sama aku. Ada apa sih sebenarnya dengan hubungan kita?"
Ezar dapat mendengar suara Rani yang tengah frustasi itu. Tapi, ia juga tak dapat membohongi perasaannya sendiri. Rasa cintanya untuk Sinta sudah mulai hilang.
"Sinta... Aku kerja keras kaya gini semua ini untuk kamu juga nantinya. Jadi tolong lah, masalah kecil jangan kamu besarkan. Kamu di rumah ada sopir. Kamu bisa minta buat anterin sebentar!"
Sinta tak menjawab lagi. Ia sudah teramat kecewa dengan sikap Ezar saat ini. Panggilan itu terputus sepihak olehnya.
Ezar kembali merebahkan tubuhnya demi bisa meredam emosinya fajar ini. Ia menatap arloji di tangannya. Setidaknya masih ada waktu 2 jam untuk ia gunakan terlelap kembali.
*****
Pagi itu, Ezar menuruni tangga dengan tergesa. Suara Pak Baskara menggema, menghentikan langkah putranya di ujung tangga.
"Nggak sarapan dulu, Zar?"
Ezar berjalan mendekat sejenak. Waktu sudah menunjukan pukul setengah 8. Sementara penerbangan Sinta pukul 8 tepat. "Nggak sempet. Ezar mau anterin Sinta ke Bandara. Ya udah, Ezar berangkat dulu."
"Jangan ngebut nyetirnya," teriak kembali Pak Baskara.
Mobil mewah mengkilat itu melaju kencang. Setelah di pikir-pikir, mungkin agak keterlaluan jika menolak permintaan kecil Sinta hanya demi kesibukannya. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil Ezar sudah tiba di kediaman Pak Gutomo. Ezar hanya berhenti di depan pagar agak berjarak. Matanya memicing kala di depan rumah itu terdapat sebuah mobil, dan tampak seorang pria seusianya tengah berpamitan dengan orang tua Sinta sambil membawakan koper milik kekasihnya menuju mobil.
Ezar urungkan niatnya untuk turun. Mobil tadi sudah keluar, dan kini Ezar mengikutinya dari belakang.
"Brengsek! Siapa pria itu?" Meskipun begitu, ia merasa penas melihat Sinta di antarakan pria lain.
Ezar semakin menambah kecepatan mobilnya. Hingga....
Ckit!!!
Mobil yang di belakang itu spontan menekan rem sangat kuat. Sinta tersentak, begitu teman prianya kini.
"Ya Tuhan... Siapa dia? Bisa-bisanya motong jalan orang begitu saja," gerutu teman Sinta yang bernama-Max.
Sinta segera melepaskan seal belt, syok melihat Ezar yang tiba-tiba ada di depan. Max, pria itu tak kalah terkejut. "Dia bukanya Ezar, Sin? Katanya nggak bisa anterin kamu?"
Sinta hanya mampu mengedikan kedua bahunya lalu segera turun bersama temanya itu.
"Ezar... Kamu katanya nggak bisa dateng?" Sinta mencoba bertanya meskipun hatinya saat ini tengah bahagia.
Ezar mendekat, mendorong tubuh Max sampai menghantam body mobil. "Siapa kamu? Kenapa bisa sama kekasih saya?"
Sinta memekik, "Sayang... Dia Max! Dia managerku! Kamu kenapa sih? Dateng-dateng langsung emosi," di tariklah lengan Ezar agar menjauh.
Max menegakan badanya. Jujur sangat kesal dengan sikap protektif Kekasih modelnya itu.
Sementara Ezar masih mencoba menstabilkan emosinya. Kilatan matanya sangat tajam. "Ambil kopermu, lalu segera pindah ke mobilku. Waktuku tidak banyak!" ucapnya tanpa menatap Sinta.
Max mencoba menegur, namun tatapan Sinta memintanya untuk berhenti. Wanita cantik itu segera mengambil kopernya, lalu tanganya di tarik cukup kuat oleh Ezar untuk masuk ke dalam mobilnya.
Arghhh! Sial!
Umpat Max merasa kesal Sinta di perlakukan kasar seperti itu.
Sementara di dalam mobil, Ezar sama sekali tak membuka suara sedikitpun. Meksipun kaku, tapi Sinta merasa di cintai dengan sikap protektif itu.
Drttt!!!
'Miranda? Ada apa ya?' Ezar segera menerima panggilan dari ponselnya yang di bawa Miranda.
"Hallo Miranda? Apa apa?"
Di sebrang, Miranda sudah teramat geram, paginya cerahnya hancur karena ada email masuk dari salah satu rekan Ezar, yang memintanya menyusun jadwal itu pertemuan meeting selama satu minggu kedepan.
"Mas Ezar! Stop melibatkan saya dengan urusan kantor lagi! Saya sudah resign, dan saya nggak ada sangkut paut apapun sama rekan-rekan kamu!"
Ezar tersenyum tipis. Senyum yang ia simpan, merasa gemas sendiri mendengar omelan Miranda pagi-pagi.
"Kamu 'kan memang masih Sekertarisku, Miranda. Bagaimana kamu dapat resign, sementara aku tidak mengizinkan kamu," kekehnya tanpa suara.
Sinta yang melihat itu dadanya bergemuruh. Dengan gerakan cepat, ia merampas begitu saja ponsel Ezar.
"Heh, Miranda... Aku peringatkan sama kamu, jangan lagi gangguin Ezar! Jika kamu mau resign ya resign aja, nggak usah pake laporan segala!"
Tut!
Sinta memutus panggilan sepihak. Ezar menyambar kembali ponselnya. "Sinta... Kamu apa-apaan?"
Sinta tak menjawab, ia lebih memilih memalingkan wajahnya ke kaca, dadanya masih tampak kembang kempis.
...----------------...
Kak, maaf ya, update 1 bab dulu. Hari ini sibuk banget. Tapi babnya udah septi kasih panjang kok. Besuk2 bakal kembali normal🙏❤
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏