“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajang Perdebatan
Liel memasuki apartemennya yang bernuansa putih krem, dihiasi beberapa tanaman, membuat ruangannya tampak hidup dan asri. Luasnya sekitar 70m2, dengan 2 kamar tidur, view balcony city, dan fasilitas lengkap seperti minimarket di lantai satu, tempat gym di lantai dasar, dan dekat dengan area pusat perbelanjaan.
Ini pertama kalinya Liel berkunjung ke apartemen seorang wanita, membuatnya sedikit gugup. Namun, bau Lavender yang lembut bercampur dengan aroma rumput segar, segera memenuhi ruangan tengah Jia, membuat Liel yang menghirupnya menjadi jauh lebih tenang.
Liel mencoba untuk tenang dan duduk di kursi 'kitchen bar' nya. “Ternyata … kamu cukup bersih.”
“Kamu pikir aku jorok? Sepertinya aku harus memukulmu!!!” bentak Jia seraya menaruh kotak kue di meja.
Liel tertawa singkat, di sana dia melihat beberapa obat, Liel pun mengambil salah satu obat tersebut. “Lafaxine? Obat apa yang kamu minum?”
Jia terkejut, dengan cepat dia menghampiri Liel, berusaha menarik obat tersebut dari tangannya, namun gagal. Sebelum sempat Jia merebutnya, Liel dengan tinggi badan sekitar 187 cm itu mengangkat tangannya ke atas, segera memotret, dan mencari fungsi dari obat tersebut melalui internet.
“Obat untuk penderita depresi, juga serangan panik?? Apakah ini penyebab kamu tiba-tiba keluar dan terjatuh di tengah jalan tadi? Sejak kapan…”
“Aku sudah sembuh, hanya terkadang, serangan panik ku bisa muncul akibat serangan tertentu.”
Liel menatap Jia dengan rasa bersalah. “Maaf, ini pasti karena aku menyudutkan dan membahas masa lalumu…”
Jia tidak ingin menjawab. Keheningan panjang pun terjadi. Namun Liel dengan setia menunggu jawaban darinya.
“Baiklah, aku akan mengatakannya, jadi berhentilah menatapku seperti itu!! Jauh sebelum ini, aku sudah menderita depresi, sekaligus serangan panik. Itu terjadi setelah Kay … menyerangku.”
“Mengapa kamu tidak memberitahuku?”
Sorot mata Jia menjadi tajam. Dia sangat bingung dengan tingkah Liel, seolah-olah dia lupa ingatan dengan perbuatannya di masa lampau.
“Apa aku punya pilihan untuk memberitahumu saat itu?? Kamu sendiri yang memutuskan menjauh dan malah menjalin hubungan bersama Kay.”
“Ah … saat itu, aku tidak benar-benar menjalin hubungan dengannya. Itu semua aku lakukan untuk melindungimu …”
“Wah hebat … kamu berlindung di balik kata “aku melindungimu”, seolah-olah hanya untuk mencari simpatiku.” Jia mengambil obat dari tangan Liel.
Kemudian Liel mengikuti Jia yang duduk di sofa berwarna putih, dan dia duduk, tepat di sebelahnya. Liel kemudian memegang pelan tangan kiri Jia.
“Aku tahu aku bersalah dan tidak akan membenarkan diriku, tetapi … jika bisa mengulang waktu kembali, aku tetap harus menjalin hubungan palsu itu … bersamanya … Jia.”
“Kenapa?? Apa dia mengancammu?” cecarnya cepat.
“Ya … begitulah. Dia mengancam karir ayahku.
“Cih, dia selalu menggunakan trik yang sama.”
Senyuman tipis muncul kembali di sudut bibirnya. Kemudian Liel mengusap lembut telapak tangan, di mana bekas luka Jia membekas di sana.
“Apa ini masih terasa sakit?”
Jia menarik tangannya secepat kilat. Matanya mulai merah, menahan air mata yang ingin keluar. “Tidak sesakit saat menghadapi rasa trauma itu … sendirian. Setiap hari, aku berjuang melawan rasa takut!! Aku bahkan pernah berpikir ingin mengakhiri hidupku. Setiap kali, aku melihat wajahnya ada di mana-mana, aku harus menekan rasa cemas dan panikku dengan obat-obatan!! Sedangkan dia, selalu hidup dengan kesempurnaan, tanpa rasa bersalah.” 🥲
Deg. Jantung Liel seperti di hunus pedang. Rasanya sungguh sakit, saat mendengar langsung dari mulutnya, bagaimana hari-hari yang di jalani Jia terasa seperti neraka, dan Liel tidak ada di sana, di mana Jia sangat membutuhkannya.
Rasa bersalah pun makin merambat kuat di hati Liel dan dia bingung bagaimana mengatasinya saat ini. Kemudian, Jia berdiri dan mengambil segelas air putih, lalu meminumnya, sebelum melanjutkan kembali percakapannya.
“Mungkin masalah kesehatan mental terdengar sepele bagimu, tetapi … tidak bagiku. Beruntunglah aku masih memiliki semangat hidup dan berjuang meraih mimpi-mimpiku.”
“Ti … tidak Jia, aku tidak pernah menyepelekan hal seperti itu, dan kamu harus berterima kasih pada dirimu sendiri, karena sudah berjuang sampai detik ini.”
“Bukan, aku seharusnya berterima kasih kepada seorang pria paruh baya itu!! Tanpa perawat dan dokter tahu, aku pernah naik ke taman, di atas atap datar rumah sakit. Saat itu, aku berdiri mematung di atas balkon…”
“Lalu kamu melompat?” potong Liel cepat.
“Tidak 'stupid'!! Mengapa kamu selalu saja membuatku kesal??
Meskipun wajahnya minim ekspresi, senyum tipis itu muncul, seperti mengisyaratkan banyak hal. Entah mengapa Liel senang menggoda Jia meski dalam keadaan yang tidak tepat sekalipun.
Liel menggaruk pelan alisnya. “Maaf … hm … lanjutkan…”
Meski kesal, Jia melanjutkan kembali ceritanya.
“Saat itu … aku tidak sadar bahwa pria paruh baya berambut abu yang tinggi dan cukup tampan itu duduk di taman. Dia mengenakan jas dokter, kemudian dia menghampiriku dan berkata, 'ada begitu banyak pasien sekarat di rumah sakit ini yang masih ingin berjuang hidup, lalu mengapa anda yang masih muda ini memilih kematian?'. Berawal darinya lah aku ingin menjadi dokter dan tidak jadi mengakhiri hidupku,” ungkap Jia sambil meremas pelan kain dressnya.
Liel bergeming, tidak bergerak sedikit pun. Matanya hanya menatap lekat kepada Jia. Dia merasa bersyukur dan lega terhadap perempuannya itu. Kemudian dia bergumam dalam hati.
“Apa itu kakek? Jika benar … terima kasih ya kek, kamu telah menyelamatkan gadis ini, sehingga aku masih bisa melihatnya tumbuh menjadi wanita dewasa yang tangguh.”
Jia seketika bingung dengan Liel yang terdiam. Wajahnya begitu menggoda membuat hasrat terpendam Jia seketika muncul saat melihat Liel. Sempat terbesit di pikiran Jia bahwa Liel hanya ingin tebar pesona padanya.
”Ini tidak bisa dibiarkan!! Sekarang pulanglah, tidak ada baiknya kita bertemu seperti ini, jika kay…”
“Sudahlah, jangan sebut namanya!!”
Jia terdiam, lalu menghampiri Liel dan berdiri tepat di hadapannya. Jia mendongakkan kepalanya ke atas dan dengan berani menatap sorot matanya yang tajam.
“Liel, aku tidak ingin tahu, mengapa kamu tiba-tiba muncul dihadapanku. Jika yang kamu harapkan agar hubungan kita bisa berjalan baik, hentikanlah! Cinta yang kamu bayangkan itu hanyalah cinta monyet.”
Liel segera membungkukkan badannya, wajahnya segera mendekat, berhadapan dengan Jia. Jarak yang sangat sempit itu, membuat hidung mancung keduanya hampir saling bertabrakan.
“Jika matamu berpaling dariku, itu artinya kamu masih mencintaiku, Jia.”
“Mencintai??? Menjalin hubungan saja kita tidak pernah, jangan mengada-ada Liel!!
Meski sedang kesal, Jia berusaha untuk tetap tenang, menahan semua tekanan yang ada. Dia tidak ingin kalah, karena jika tidak perjuangannya di masa lalu untuk melupakan Liel akan berakhir sia-sia.
Tidak lama kemudian, telepon Liel berdering, membuat fokus Liel teralihkan. Jia merasa beruntung bisa lepas dari tatapan mautnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Liel mengangkat telepon tersebut. Rupanya, Sopir Liel sudah berada di parkiran apartement Jia.
“Ya! Kamu berpaling dariku. Anggap saja kamu masih mencintaiku, namun … mencintailah sendirian Liel, karena aku tidak ada di sana, dihatimu.” Ucap Jia menunjuk dada Liel seraya mendorongnya menuju pintu keluar.”
“Hei, ini karena sopirku menelpon!!“
“Kuharap kita tidak saling bertemu lagi, selamanya!!!!!”
“Hei, bukan seperti ini! Jia tunggu, seharus—”