"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Semua novel ini dalam masa revisi, banyak novel yang harus direvisi di bab yang lain
“Kamu enggak suka ya Roti ini?” tanyanya melihat aku menggelengkan kepala.
“Bu-bukan Kak, jangan salah paham. Saya bukanya enggak mau, tadi itu saya lagi mikirin sesuatu,”
“Lagi mikirin saya ya?” Seketika mataku terbuka lebar, apa aku enggak salah dengar dia ngomong kaya gitu ke aku?
“Bercanda, jangan dibawa serius. Ya sudah kalau kamu enggak mau roti saya. Biar saya aja yang makan sendiri.”
“Jangan!” spontan aku bersuara tinggi, “saya mau Kak.”
“Oke, nih.” Ia pun memberikan aku satu buah roti, dengan senang hati aku menerimanya. Rasanya sungguh bahagia bisa mendapatkan sesuatu dari orang yang kita suka secara diam-diam.
“Alex!” sapa seorang dari jauh, aku dan Alex menoleh bersama ke arahnya. Ternyata yang memanggil Alex adalah dewi. Baru aja aku terbang di atas langit, tahu-tahu sudah jatuh aja ke tanah.
Sebelum Dewi mendekat, lebih baik aku pergi dari sini. Bisa kacau urusannya kalau ada biang rusuh.
“Lex, kita ke kantin yuk. Kita sarapan bareng,” ajak Dewi sambil merangkul lengan Alex. Perlahan Alex menyingkirkan tangan Dewi dari lengannya.
“Makasih, gue udah sarapan kok sama Doni barusan!” Alex terlihat dingin terhadap Dewi. Ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya dari pada melihat Dewi di sini.
“Lex, kamu mau ke mana?” ucap Dewi, sayangnya Alex terlalu acuh terhadapnya. Sekilas ia sempat melihat Yuri yang sudah berjalan jauh, Dewi menghela napasnya dengan kasar, rasanya ia ingin meluapkan emosinya terhadap Yuri.
“Sialan! Kenapa sih, Alex cuek banget sama gue!” gerutunya. Ia kesal karena Alex tidak pernah peduli terhadapnya, setiap kali Dewi mendekat. Pasti Alex selalu menghindar.
“Lex, kita nonton yuk di bioskop. Biar aku yang bayar.”
“Enggak, Dew. Makasih, gue enggak suka nonton di bioskop.”
“Lex, kita pulang bareng yuk. Aku bawa mobil loh.”
“Enggak, hari ini gue ada pertandingan Futsal sama sekolah lain.”
Begitulah, setiap kali Dewi mengajak pasti selalu ditolak. Padahal ia ingin sekali mengajak Alex jalan-jalan berdua.
***
Jam istirahat telah tiba, aku dan Rara tengah asik makan berdua di kantin sambil menikmati bakso yang kami pesan.
“Lagi liat apa sih? Kayanya seru banget nonton filmnya?” ucap Alex tiba-tiba duduk di sampingku, aku langsung menoleh dengan mie bakso masih bergelantungan di mulut.
“uhuk, uhuk!” aku tersedak mie bakso saking kagetnya ada Alex di sini.
“Minum dulu.” Ia menyerahkan gelas mineral padaku, tak lupa ia menusuk satu sedotan agar aku bisa meminumnya.
Rara dan Doni hanya melihat kelakuan Alex terhadap temanya, Doni yang melihat itu hanya senyum-senyum tidak jelas. Terlihat Alex sudah mulai terang-terangan perhatian terhadap Yuri.
“Makasih Kak,” ucapku malu-malu.
“Tadi rotinya enak enggak?”
“Heh! Kak Alex, sejak kapan Kakak kasih roti ke dia?” tanya Rara tiba-tiba.
“Tadi pagi, soalnya Yuri kelihatan kaya kurang semangat gitu. Makanya Kakak kasih roti buat dia.” Terlihat Rara senyum-senyum enggak jelas, ia menatapku jail, aku tahu tatapan matanya itu. Aku yakin sekali dia mulai menggodaku.
“Hehem!” Doni berdehem. “Ra, kayanya kita cari tempat duduk lain deh, gue merasa hawa di sini agak panas.” Doni mengibaskan kedua tangannya ke arah mukanya, mengedipkan matanya ke arah Rara agar ia pindah dari sini. Rara yang paham kode dari Doni, langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Loh, Ra. Kamu mau ke mana?” tanyaku mulai panik, kalau Rara pergi sama Doni. Masa aku ditinggal berdua si sama Ka Alex.
“Aku mau bayar bakso dulu ya, tadi itu aku belum bayar.”
“Ya, Allah Ra. Bayarnya nanti aja bareng sama aku, aku juga belum bayar baksonya kok. Kamu jangan gitu dong ke aku.”
“Kan ada Kak Alex di sini.” Aku semakin dibuat tercengang oleh temanku ini, ternyata dia sengaja melakukan ini terhadapku agar aku bisa berduaan sama Kak Alex. Kurang ajar kamu Ra, awas kamu ya.
Aku pun langsung bangkit dari tempat dudukku, dan menahan tangan Rara.
“Mau ke mana kamu Ra? Kamu sengaja ya tinggalin aku di sini!” Mataku melotot ke arahnya, awas saja kalau sampai dia pergi.
“Kan aku sudah bilang mau bayar bakso dulu.”
“Bayar baksonya bareng aja sama aku! Kamu jangan banyak alasan Ra!” kutarik lengan Rara agar dia kembali duduk.
Akhirnya kami berempat makan bersama di kantin. Jujur saja aku merasa kurang nyaman makan seperti ini, apalagi Rara terus menggodaku.
Selesai istirahat semua siswa kembali ke kelas masing-masing, begitu juga dengan Doni dan Alex mereka kembali ke kelas.
“Kayanya lo udah mulai terang-terangan ya dekat sama Yuri?” tanya Doni.
“Kenapa? Enggak boleh ya kalau gue dekat sama Yuri secara terang-terangan?” jawabnya tanpa melihat Doni, ia fokus berjalan menuju kelasnya.
“Ya, enggak apa-apa sih. Biasanya lo malu-malu kalau dekat sama dia, tapi akhir-akhir ini lo udah berani banyak ngomong sama Yuri.”
“Gue sengaja kok ngelakuin itu semua, ada 2 alasan gue berbuat kaya gitu.”
“Alasan apa?” tanya Doni penasaran.