NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Tanpa Henti

Gimana caranya cepat nikah kalau calon suami saja aku nggak punya?

Gimana caranya menikah dalam waktu dekat, sedangkan aku sama sekali nggak sempat membayangkan seperti apa pernikahanku nanti?

Gimana caranya aku bisa punya hidup bahagia dengan suami kalau kriteria suami ideal pun aku nggak ada?

Aku paham keresahan Ibu. Wajar kalau Ibu juga khawatir dengan nasibku. Tapi, harapan Ibu justru membuatku semakin tertekan. Sekarang, semua orang menuntut aku cepat menikah, padahal mereka pun juga paham kalau pernikahan nggak semudah masak tempe goreng.

Ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menjalani pernikahan. Selama ini, aku sama sekali nggak pernah mempersiapkan apa pun untuk memasuki kehidupan baru itu. Aku sudah mengubur semua impianku tentang pernikahan. Tanggung jawab yang perlu kupegang mengharuskan aku untuk mengesampingkan kebahagiaanku, termasuk menikah dan membangun keluargaku sendiri.

Sekarang, aku pun nggak yakin bahwa pernikahan akan membuatku bahagia. Aku nggak tahu apakah pernikahan jadi jalan terbaik untuk membahagiakan Ayah dan Ibu.

Lagi pula, memangnya ada yang mau menikah denganku? Umurku sudah kepala tiga, bahkan setengah jalan menuju kepala empat. Aku punya keluarga yang perlu kutanggung kehidupannya. Beban menjadi suamiku pasti berat banget. Aku cuma perempuan tua pemarah yang masa suburnya sebentar lagi kadaluwarsa.

Itu penilaian orang-orang. Sepertinya, aku mulai setuju dengan mereka.

"Kenapa?" Mbak Chiki menghampiriku. Dia meletakkan gelas kertas ukuran besar di meja. "Matcha buat lo. Less sugar." Mbak Chiki menyedot minuman dengan gelas yang serupa, tapi pasti isinya beda.

Mbak Chiki bukan penggemar matcha. Menurutnya, rasanya terlalu rumput di lidahnya dan dia bukan kambing pemakan dedaunan hijau itu. "Mending minum kopi item tanpa gula," komentar Mbak Chiki saat aku memaksanya mencoba minuman matcha yang kupesan.

"Makasih," kataku, lalu menyedot minuman hijau dengan sedikit es batu itu. Manisnya samar. Tapi, dingin dan lembutnya menyenangkan lidahku.

"Suram amat muka lo?" Mbak Chiki melirik jam tangannya. "Belum makan siang? Udah jam dua ini." Wajar bosku ini nggak tahu aku sudah makan siang atau belum. Mbak Chiki harus bertemu dengan Direktur Operasional dan baru kembali setelah lima jam pergi.

"Udah," jawabku lemah. "Tadi bareng sama anak-anak makan di kantin."

"Terus, kenapa?" Mbak Chiki menarik kursi kosong sampai ke hadapanku. Alisnya bertaut. Matanya memandangku curiga.

Aku menghela napas berat. "Ibu minta gue nikah sebelum Ayah meninggal," jawabku dengan suara pelan.

Aku tahu semua orang pasti meninggal. Tapi, membicarakan kematian orang tua yang belum terjadi rasanya menyesakkan, apalagi dalam kondisi Ayah yang sekarang. Kematian seperti sudah menanti di depan pintu dan siap menjemput Ayah kapan pun.

"Ha?" Mbak Chiki membelalak. "Ini Ibu yang minta, bukan Ayah?" tanyanya, seakan takut salah dengar.

Aku mengangguk sambil memencet-mencet ujung sedotan. "Ibu udah nggak tahan denger komentar orang-orang soal gue, Mbak."

"Ah! Emang orang-orang tuh mulutnya jahat banget. Kalau nggak suka, bisa diem aja nggak, sih? Dikira dengan komentar seenaknya gitu bisa bikin derajat hidupnya naik apa?" omel Mbak Chiki yang terlihat lebih kesal dari aku.

Aku memandangnya lesu. "Gue bingung gimana caranya nenangin Ibu. Kalau Bapak yang minta, gue bisa alihin obrolan atau kabur sekalian. Ini Ibu yang minta. Gue nggak bisa kabur dan nggak mungkin ngebantah juga."

Mbak Chiki duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kerutan di dahinya semakin dalam. Matanya tertuju padaku, tapi jelas pikirannya mengawang ke tempat lain. "Raditya gimana? Lo sama sekali nggak mau coba jalani dulu sama dia?"

Aku mendengkus. "Dia ngeselin, Mbak. Nggak mungkin gue berjodoh sama dia," sahutku malas.

"Lho, kenapa? Dia termasuk calon potensial, Ta."

"Dia aneh, Mbak!" seruku dengan suara kencang.

Beberapa mata memandangku. Aku jadi malu karena seharusnya pembicaraan ini nggak untuk santapan orang banyak. Aku meletakkan telunjuk di mulut sambil memandang Mbak Chiki.

Mbak Chiki melotot. Bibirnya bergerak, tapi nggak ada suara keluar sama sekali. Tapi, aku tetap mampu memahami maksudnya. Nggak ada bosannya Mbak Chiki memuji Raditya, seakan pria itu nggak punya kekurangan sama sekali.

"Udahlah, Mbak! Nggak usah bahas dia lagi," pintaku penuh harap.

Nggak ada protes dari Mbak Chiki. Dia memilih masuk ruangannya dan melanjutkan pekerjaan.

Aku pun mencoba fokus dengan semua kewajibanku hari ini. Walau pikiranku penuh sesak, aku nggak mau pekerjaanku jadi berantakan.

Di jam tiga, aku yang terlalu banyak minum harus buang air kecil. Kutinggalkan ruangan HRD dan bergegas menuju toilet terdekat. Sebelum sempat masuk toilet, aku menangkap pembicaraan yang terang-terangan menyebut namaku. Ada beberapa orang yang sedang menjadikan aku bahan gosip lagi di tangga darurat.

"Bu Prita itu nggak punya hati, Pak. Dia nggak peduli alasan cuti itu buat nemenin orang tua yang sakit, tetep aja ditolak pengajuan cutinya. Ya, namanya juga perawan tua. Udah mati hatinya." Suara pria yang dengan mudah membeberkan keburukanku itu familier di telingaku.

Aku kira Niko nggak akan mengusikku lagi. Ternyata, dia masih belum bosan menyebarkan kejelakanku ke banyak orang. Kali ini, siapa orang yang beruntung dia ajak bergosip?

Aku berdiri di balik tembok, di samping pintu darurat yang tertutup. Aku nggak bisa melihat ada siapa saja di sana. Rasa penasaran tentang lawan bicara Niko membuatku mencuri dengar obrolan mereka walau isi pembahasannya nggak pernah berubah.

Suara tawa yang akhir-akhir ini membuatku kesal terdengar. Aku berdiri kaku. Detak jantungku berpacu cepat. Rasa takut menguasai hatiku. Tapi, aku tetap diam dan mendengarkan.

Ada dua orang yang berpotensi menjadi makhluk paling kubenci di balik tembok ini. Entah kenapa mereka membicarakanku. Pasti, mereka cuma sedang berbagi kebencian yang sama terhadapku.

"Kenapa lo bisa menilai Bu Prita sejahat itu?" tanyanya dengan nada ringan, seakan-akan informasi dari Niko itu berupa berita yang menyenangkan.

"Ya, memangnya apa lagi alasan Bu Prita jadi nggak punya hati kalau bukan gara-gara belum nikah? Nggak ada cowok yang mau sama perawan tua kayak dia, Pak. Dia itu kaku, galak, pemarah, nggak punya hati. Pokoknya emang nggak pantes dinikahi, deh!" Niko terdengar bersemangat banget, seakan menjelekkan diriku ini jadi prestasi paling membanggakan.

Aku capek banget mendengar kalimat yang serupa hampir tiap hari. Apa dia nggak bosan mengulang cerita ini terus? Apa dia nggak capek mempermasalahkan kehidupanku, yang sebenarnya masih bisa kunikmati ini?

Apa masalah Niko sebenarnya, sih?

"Terus, kalau alasan lo suka cari kejelekan orang dan disebar ke orang lain itu apa?" Raditya melontarkan pertanyaan yang nggak pernah aku duga sama sekali. "Apa otak lo nggak berfungsi dengan baik sampai nggak mampu mikir efek dari tindakan lo ini? Lo kira orang yang lo umbar kejelekannya nggak bisa sakit hati?"

Aku membeku. Pendengaranku nggak salah, kan? Seorang Raditya Wirawan sedang membelaku?

"Kok, Pak Raditya jadi nyalahin saya?" protes Niko.

"Gue masih atasan lo. Ini peringatan pertama dan terakhir buat lo. Jangan pernah menjelekkan Prita dan siapa pun lagi. Kalau gue tahu lo masih ngelakuin ini, gue yang akan bikin lo pergi dari Hantex." Ada jeda panjang yang membuat darahku dingin. "Lo tahu gimana cara gue kerja, Niko. Gue nggak pernah main-main sama omongan gue."

Aku menjauh. Kulangkahkan kaki masuk toilet. Aku nggak mau mendengar pembicaraan mereka lagi. Aku nggak punya cukup tenaga untuk mendengar perdebatan dua pria yang nggak ada hubungannya dengan hidupku itu.

Untungnya, toilet kosong. Aku masuk ke bilik tengah dan menuntaskan buang air kecil yang sempat tertunda. Tapi, pikiranku terus tertuju pada sikap Raditya.

Kenapa dia membelaku?

Sikapnya selama ini menyebalkan. Aku nggak pernah nyaman dengan semua tingkah Raditya. Tapi, tindakannya yang ini berbeda.

Baru kali ini, selain Mbak Chiki, ada orang yang terang-terangan membelaku. Ada orang yang bersedia menepis pendapat Niko tentangku. Ada pria yang tetap baik padaku, padahal aku terus memperlakukannya dengan buruk.

Apa benar kata Mbak Chiki kalau Raditya memang jadi calon suamiku yang paling potensial?

Sejak saat itu, pandanganku terhadap Raditya mulai berubah. Aku nggak langsung akrab dengannya. Tapi, aku juga nggak berusaha menghindar lagi. Saat berpapasan, aku berusaha menyapa dan tersenyum pada Raditya.

"Bu Prita malam ini ada acara?" Raditya berdiri di hadapanku. Tangan kanannya memainkan kunci mobil, sedangkan tangan kiri masuk ke saku celana.

Aku mengernyit memandangnya. Lift yang turun menuju basement cuma berisi aku dan Raditya. Tapi, ocehannya membuat lift ini terasa berisi banyak orang. "Saya harus segera pulang, Pak," jawabku tetap dengan nada sopan. Sepertinya, aku kehilangan kemampuan untuk ketus pada Raditya.

Ternyata, ramah pada Raditya nggak terlalu buruk juga. Pria itu jadi terlihat sedikit lebih manis dengan caranya memujiku tanpa malu. Tapi, tetap saja, aku belum mau menerima tawarannya untuk makan malam bersama. Rasanya masih terlalu aneh.

Hari ini, aku pulang tepat waktu. Aku mampir ke minimarket untuk membeli es krim buat Cia. Tama juga aku belikan karena dua bulan ini sama sekali nggak melakukan kenakalan, yang membuatku pusing. Ibu juga aku belikan. Sudah lama kami nggak menikmati es krim bareng. Kalau Ayah lebih sehat, kegiatan ini pasti lebih menyenangkan.

Aku memarkir mobil di garasi. Aku mengunci pagar karena sepertinya nggak akan ada lagi yang keluar rumah malam ini. Langkahku ringan memasuki rumah. Di tanganku seplastik es krim terasa dingin menyenangkan.

"Cia di rumah?" Suara lantang menghantikan langkahku.

Perempuan dengan daster batik berdiri di balik pagar. Matanya lebar menatapku sinis. Di sampingnya, bocah seumuran Cia menangis tanpa suara. Mata dan hidungnya sudah merah banget, sampai mirip paprika merah.

"Ada apa, ya, Bu Bambang? Silakan masuk dulu." Aku bergegas membukakan pagar yang baru saja kukunci. Kehadiran mereka nggak mungkin untuk beramah-tamah, tapi aku tetap menyambut dengan sopan.

"Adek lo itu mau jadi preman apa gimana? Bisa-bisanya mukul Dea sampai nangis. Anak gue salah apa dipukul gini?" Bu Bambang melangkah masuk sambil mengomel.

Aku berdiri tegang di samping pagar. Genggamanku di pagar menguat. Bisa-bisanya adik bungsuku membuat ulah sehebat ini.

"Mana preman kecil itu?" Bu Bambang masuk rumah tanpa menungguku. Amarahnya sudah meluap dan aku nggak bisa menahannya.

Apa hidupku nggak bisa tenang sebentar saja?

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!