bagaimana jika kalian ada di posisi ku, dimana aku di jodoh kan oleh orang tua yang posesif dengan seorang lelaki yang pernah kalian liat tengah bercumbu dengan wanita lain, dan parahnya lagi dia adalah seorang psikopat
rumit amat hidup ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan khawatir
selamat membaca😍😘
Semalam Diana tidak bisa tidur, karena pikirannya tengah bercampur aduk, dan saat ini sudah pukul 6 pagi, Diana juga sekarang ada kelas pagi, jadi ia sekarang tengah bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Diana turun dari rumahnya, namun kini ia melihat ada seorang pemuda di hadapannya, membuat dirinya tiba-tiba menegang, nafasnya terasa sesak, ingin sekali ia mendorong pria itu agar jatuh dari tangga tapi ia tak bisa melakukan itu.
Diana mencoba menenangkan rasa takutnya, dan kembali melangkahkan kakinya.
"Kakak, udah bilang sama kamu, jangan sakiti ibu, kenapa sih, " teriak Max kakak Diana, sambil menatap tajam Diana.
Diana berhenti di hadapan Max, dengan tatapan tak kalah tajam
"Kenapa tidak suka? " tanya Max kembali.
"Ngapain ke sini?" tanya Diana dengan nada suara meninggi.
"Ini rumah saya, yang harus nya tanya gitu itu saya, kenapa kamu masih ada di sini? "ucap Max tak kalah tinggi.
Dea dan Gilang keluar dari kamarnya, mendengar kedua anaknya bertengkar.
"Kalian tuh kenapa si? Berantem mulu," tegas Gilang sambil berjalan dengan Dea menuju mereka.
"Ini nih, anak gak tau di untung bikin masalah dulu kerjaannya," ucap Max penuh penekanan, sambil menatap tajam Diana.
"Diana kakak mu itu baru pulang jangan buat dia marah, " bentak Dea, yang juga menyalahkan Diana.
"Gue gak pernah ajak dia berantem, orang dia dulu kok yang mulai, " ucap Diana tak mau di salahkan sambil memutar bola matanya.
"Kamu tuh yah, " bentak Dea sambil menampar pipi Diana.
Diana meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang merah, ingin sekali Diana membalas tamparan nya, namun ia tidak mungkin menampar ibunya.
Diana hanya menatap tajam, sambil tersenyum miris pada ibunya.
"Kenapa kamu tidak suka ibu tampar?" tegas Max sambil menarik rambut Diana kasar.
"Sudah lepaskan!" Gilang meraih tangan Max untuk melepaskan rambut Diana.
"Biarin Pa, bunuh aja sekalian, " ucap Diana sambil tersenyum miring dan menatap tajam kakak nya.
"Kalau bukan karena ayah mu, aku sudah membunuh mu dari dulu, " bisik Max tepat di telinga Diana, sambil tak lepas-lepasnya menatap tajam Diana.
"Aku gak pernah minta di lahir kan ke dunia ini, bahkan jika aku di suruh memilih aku lebih baik mati dari dulu, terus bu, untuk apa ibu melahirkan aku jika memang tidak sayang padaku?" tegas Diana, kini tubuh Diana mulai bergetar, matanya memanas, dan dada nya mulai sesak.
Namun ia berusaha keras menahan air matanya, agar tidak keluar.
"Aku juga menyesal kenapa tidak dari dulu yah aku membunuh mu," pelan Max di depan muka Diana, dengan penuh amarah.
"Sudah kenapa sih, Diana kamu gak boleh bicara kayak gitu papa sayang kamu kok," bela Gilang.
"Apaan sih? Dia itu tidak pantas di bela, dia itu sudah mempermalukan kita tau gak, " kesal Dea, sambil menarik Gilang menjauh dari Diana.
"Iya aku tau kok, " sinis Diana.
Plak
Satu tamparan kembali di layangkan ke pipi mulus Diana, tamparan yang jauh lebih keras dari yang pertama, bahkan sampai membuat bibir Diana sobek.
Kini juga Max menarik rambutnya Diana,
"Lu gak usah sok, " bentak Max, Max melepaskan tangannya dengan kasar, dan mendorong Diana sampai ia jatuh ke lantai.
"Dasar gila, " teriak Diana, yang masih terduduk di lantai.
Entah kenapa Diana merasa sangat membutuhkan kehadiran Julian, untuk menjaganya.
Tanpa mereka sadari sebenarnya Julian memang ada di sana, ia juga mendengar semua yang di bicarakan oleh mereka.
Julian yang melihat Diana di perlakukan seperti itu sangat tidak suka, karena kan kini Diana sudah menjadi miliknya. Jadi tidak ada yang boleh melukai Diana selain dirinya sendiri.
Ia ke rumah Diana tadinya hanya untuk mengajak Diana berangkat bersama, namun ia malah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia sangka-sangka, Julian tersenyum penuh misteri.
Ia masing dengan setia menunggu Diana di luar pintu rumah Diana sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Sementara itu Diana terduduk di lantai, dan ia juga tidak kuasa menahan air matanya, baru saja ia semalam di hina-hina oleh orang lain, kini ia sudah di hina lagi.
Membuat hatinya begitu sakit namun ia mengingat sesuatu, ia berharap Julian tidak membunuh ibu dan ayahnya, jika Julian akan membunuh Max itu ia tidak peduli.
Karena dari dulu Diana selalu di pukul oleh Max, bahkan dulu Diana pernah ingin di buang oleh Max.
Diana sendiri tidak tau apa yang membuat kakaknya begitu membenci dirinya.
Diana mencoba untuk bangun dan pergi saja dari rumah ini, karena akan lebih menyakitkan jika dirinya tetap berada di sini.
Diana berjalan keluar dari rumahnya, dan ia sangat terkejut mendapati Julian yang sudah berada di sana, ia membulatkan matanya dengan sempurna, dan menelan ludahnya dengan susah payah.
Namun Julian hanya menatap datar Diana, ia tau Diana kenapa, jadi kini Julian menarik kasar tangan Diana menuju mobilnya.
"Masuk!" titah Julian dengan nada suara membentak.
Diana masuk ke dalam mobil Julian, setelah Julian masuk kedalam mobilnya, Julian mengeluarkan kotak obat dari tasnya, dan melemparkan kotak itu ke pada Diana.
"Bersihin!" titah Julian dengan nada datar.
Tanpa jawaban Diana langsung mengambil kotak itu, dan membersihkan lukanya sendiri.
Julian lalu menjalankan mobilnya dengan cepat, Julian saat ini benar-benar tidak suka karena miliknya di lukai orang lain.
Mereka sampai di kampus namun Julian hanya menyuruh Diana keluar sedangkan Julian malah meninggalkan Diana tanpa bicara apapun, Julian menjalankan mobilnya dengan sangat cepat.
Sementara Diana kini tengah mematung melihat kepergian mobil Julian, yang mulai hilang dari pandangan nya.
Diana takut jika Julian akan mencelakai ibu dan ayahnya, namun saat ia akan pergi ia keburu di tarik oleh Cherly sahabatnya, yang mengajak ia pergi ke kelas.
Dan Diana pun tidak bisa menolak nya karena ia bingung harus mencari alasan apa, tidak mungkin jika harus bilang yang sebenarnya, apalagi bilang kalau julian adalah Psikopat.
Diana kalau sedang kebingungan akan tidak bisa berpikir, dengan terpaksa ia menuruti Cherly.
Selama pelajaran berlangsung Diana benar-benar tidak bisa berpikir dan fokus pada dosen yang menjelaskan materi.
Di pikirannya hanya ada Julian dan kedua orang tuanya, tak ada apapun lagi.
"Lu kenapa sih?" tanya Cherly yang heran kenapa Diana melamun terus.
"Gue gak papah kok, " balas Diana menggelengkan kepala dan tersenyum palsu pada Cherly.
Cherly sesungguhnya tau kalau Diana sedang memikirkan sesuatu, hanya saja percuma bicara pada Diana yang sedang seperti ini, Diana tidak akan memberitahu dirinya kenapa kalau Diana tidak mau memberitahukannya sendiri tanpa di minta.
Jadi Cherly akhirnya memilih untuk fokus saja mendengar materi pagi ini.