Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kepergian Reyhans
Keesokan Harinya,
Nathaline menatap sendu dirinya di dalam kaca rias ruang pengantin, mata sembabnya mampu di tutupi oleh make up. Namun, hatinya yang retak sulit di tutupi.
Nathaline tampak cantik dan sangat anggun ketika gaun pengantin bewarna merah jambu yang berlapis mutiara dan berlian yang menambah kesan mewah gaun tersebut.
"Apa yang sedang kau lamunkan? Cepatlah! sebentar lagi acarannya akan segera di mulai." Gadis cantik itu langsung menoleh ketika suara lantang dari pria paruh baya di belakangnya menyadarkan ia dari lamunan kosongnya.
Gadis itu hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan itu. Memangnya apa yang harus dia katakan? Tidak siap? jangan harap Ayahnya akan mengampuni dirinya.
Ayahnya tampak tersenyum sinis menatap gadis itu, tidak ada sedikit pun rasa sedih yang tergambar dari raut wajah pria paruh baya itu saat hendak melepas putrinya untuk menikah.
Dengan segera mereka berdua memasuki mobil untuk pergi ke tempat dimana Reyhans dan Nathaline akan mengikat janji suci.
Sementara itu,
Reyhans yang telah sadar bahwa dirinya mencintai Nathaline selama ini, berusaha untuk menyembunyikan perasaanya karena ia sadar betul Nathaline tidak akan pernah menjadi miliknya seutuhnya.
"Aku mencintaimu, karena itu aku akan membantumu untuk terbebas dari ikatan ini." Reyhans berbicara kepada dirinya sendiri di depan kaca.
Ia seakan bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Nathaline saat ini. Begitu juga dengan perasaannya. Hatinya juga turut hancur.
"Tenang saja Nathaline, aku akan menjauh darimu setelah pernikahan berlangsung ini." Reyhans lagi-lagi berbicara kepada dirinya sendiri dan menatap lekat wajah tampannya di dalam cermin.
Dengan segera ia mengambil kunci mobil dan segera melaju ke tempat mereka berdua akan mengikat janji suci.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, Reyhans telah tiba di tempat akad. Semua mata seketika tertuju ke arahnya ketika ia dengan gagahnya menuruni mobil.
Reyhans melihat ke arah Nathaline yang sedang berjalan kearah dirinya sembari di dampingin oleh sang Ayah.
"Kau sangat Cantik. Namun, sayangnya aku masih bisa melihat dan merasakan kesedihanmu di balik senyuman yang menawan itu," batin Reyhans.
Reyhans menatap wajah Nathaline yang sedari tadi melempar senyum ke arah tamu. Tetapi Reyhans tahu betul, bagaimana perasaan Gadis yang baru saja membuat tempat khusus di hatinya itu, saat ini.
Para tamu bertepuk tangan, saat mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, kemudian Sang mempelai pria mengecup pucuk kepala mempelai wanita.
Tubuh Nathaline bergetar manahan tangis dan hanya Reyhans saja yang menyadari dan bisa merasakan hal itu.
Hatinya sangat sakit melihat gadis yang berhasil membuat tempat khusus di hatinya itu, terluka dan tidak bahagia saat bersama dirinya.
"Maafkan aku, Nathaline," bisiknya lembut.
Reyhans memeluk tubuh mungil Nathaline, yang sedari tadi bergetar menahan kesedihan dan kepedihan yang di alaminya.
Nathaline menangis tanpa suara di dalam dekapan Reyhans, para tamu yang melihat itu mengira Sang mempelai wanita sangat terharu.
Padahal mereka tidak tahu, bagaimana kisah yang di alami pasangan pengantin yang sedang berdiri di hadapan mereka itu.
Segala rangkaian acara sudah selesai mereka lewati bersama, para tamu juga sudah pulang meninggalkan tempat acara.
Sanak saudara dari kedua belah pihak juga mulai pergi satu persatu.
Di kamar Reyhans
"Apa kau begitu menderita menikah denganku?" Reyhans bertanya kepada Nathaline yang sedari tadi diam dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun selama prosesi pernikahan berlangsung.
Reyhans duduk bersimpuh di hadapan Nathaline yang sedang duduk di atas ranjang tempat tidurnya.
"Nathaline," ucap Reyhans, lirih.
Seketika gadis itu melihat mata sang suami yang tengah bersimpuh di hadapanya sambil menggenggam erat kedua tangannya.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Tidak bisakah kau belajar mencintai diriku dan menerima pernikahan ini?" Reyhans menatap dalam ke arah mata Nathaline, berharap ada jawaban yang ia ingin dengar keluar dari bibir gadis itu.
Gadis itu cukup lama hanya terdiam dan kembali mengalikan pandangan, membuang muka dari sang suami yang tengah berbicara padanya, seolah enggan untuk melihat pria itu.
"Baiklah, aku anggap jawabannya adalah tidak bisa." Reyhans menganggap bahwa sikap acuh gadis itu adalah jawaban dari pertanyaannya barusan dan itu bearti Nathaline tidak bisa untuk menerima dan berusaha untuk membuka hatinya bagi Reyhans.
Pria itu bangkit dari hadapan sang istri dan beralih duduk di samping ranjang bersama Nathaline, pria itu memaksakan senyum di bibirnya kemudian kembali meraih jari-jemari gadis itu.
"Besok aku akan pindah bekerja ke perusahaan ku yang ada di AS, kemungkinan aku juga akan mengajar di sana. Aku akan menetap di sana selama 5 tahun," ucap Reyhans, berbicara dengan serius pada Nathaline, tetapi Gadis itu masih belum mau menatap wajahnya.
"Aku hanya akan pergi bersama sekertaris ku dan kau bisa tinggal di rumah ku ini, selama aku di sana sampai aku kembali," sambungnya. Nathaline seketika menoleh dan menatap lekat ke arah pria yang baru saja menjadi suaminya itu.
"Setelah aku kembali, kita bisa berpisah dan kau bisa memulai hidupmu kembali. Kau tenang saja, aku akan tetap menafkahi dirimu selama aku di sana." Reyhans menyunggingkan senyuman di bibirnya dan mengelus rambut panjang Nathaline.
Nathaline masih terdiam, kemudian pria itu beranjak dari tempat tidur, dan segera membereskan kopernya. Nathaline terus melihat punggung kekar pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Maafkan aku Pak, karena tidak melarangmu. Mungkin memang inilah yang terbaik bagi kita berdua, " batinnya. Gadis itu terus menatap punggung sang suami.
"Istirahatlah, kau pasti lelah." Reyhans menoleh ke arah Nathaline ketika menyadari gadis itu terus menatap lekat ke arah dirinya.
"Boleh aku tidur di sampingmu? aku ingin memelukmu sebelum aku pergi. Kau jangan berfikir macam-macam dulu, aku tidak akan menyentuhmu tanpa seizin darimu," pinta Reyhans, dengan ragu-ragu pria itu bertanya.
Nathaline hanya mengangguk pelan, kemudian menyunggingkan senyum tipis, menyetujui permintaan sang suami.
Mereka tidur bersama malam ini, untuk pertama dan mungkin untuk terakhir kalinya. Reyhans memeluk erat tubuh mungil Nathaline dari belakang, rasanya begitu berat bagi dirinya untuk meninggalkan wanita itu
Nathaline sudah mulai tertidur lelap di dalam dekapan sang suami. Sedangakan, Reyhans tampak masih terjaga sepanjang malam.
pukul 04.30, Reyhans tersadar dari tidurnya dan langsung beranjak untuk mencuci muka. Dengan segera ia membawa koper yang berisi barang-barang penting untuk keperluannya selama menetap di sana.
"Selamat tinggal, Nathaline. Semoga hari-hari mu berikutnya selalu di penuhi oleh kebahagiaan tanpa adanya diriku." Reyhans berbisik lembut di telinga Nathaline sebelum akhirnya meninggalkan gadis itu.
Reyhans membuka pintu kamar secara perlahan, ia hanya tidak ingin membangunkan dan mengganggu waktu tidur sang istri. Perlahan pria itu mulai menutup pintu kamarnya. Namun, ia masih tampak berdiri di sana sekitar beberapa menit.
"Selamat tinggal Nathaline." Reyhans mencium daun pintu, sebagai isyarat mencium Nathaline dari jarak jauh.
Tampak sesekali pria itu menyeka wajahnya dengan kasar saat air mata perlahan jatuh dan membasahi pipinya tanpa ia kehendaki.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam untuk meyakinkan hatinya, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan perlahan berjalan semakin menjauhi pintu.
...Next......
...Jangan lupa like dan tinggalkan jejak😘...
...Support author dengan vote ya😘...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi