Netha Putri, wanita karir yang terbangun dalam tubuh seorang istri komandan militer, Anetha Veronica, mendapati hidupnya berantakan: dua anak kembar yang tak terurus, rumah berantakan, dan suami bernama Sean Jack Harison yang ingin menceraikannya.
Pernikahan yang dimulai tanpa cinta—karena malam yang tak terduga—kini berada di ujung tanduk. Netha tak tahu cara merawat anak-anak itu. Awalnya tak peduli, ia hanya ingin bertanggung jawab hingga perceraian terjadi.
Sean, pria dingin dan tegas, tetap menjaga jarak, namun perubahan sikap Netha perlahan menarik perhatiannya. Tanpa disadari, Sean mulai cemburu dan protektif, meski tak menunjukkan perasaannya.
Sementara Netha bersikap cuek dan menganggap Sean hanya sebagai tamu. Namun, kebersamaan yang tak direncanakan ini perlahan membentuk ikatan baru, membawa mereka ke arah hubungan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Olahraga Bersama
Pagi itu, udara di kompleks perumahan masih terasa segar, sisa embun semalam masih menempel di pucuk-pucuk daun pucuk merah yang berjejer rapi. Netha terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan karena rasa lapar yang sangat manusiawi atau lebih tepatnya, keinginan lidahnya untuk mencicipi sesuatu yang gurih dan manis.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin besar lemari. Tubuh ini memang masih lebar, piyama XL-nya terasa sesak di bagian lengan. Netha menghela napas, menepuk pipinya yang tembam.
"Oke, Netha. Hari ini target kita bukan cuma bakar kalori, tapi juga diplomasi makanan," gumamnya. Di kehidupannya yang dulu, ia adalah wanita karier yang menjaga pola makan ketat demi tubuh sexy dan bahenol. Kini, ia terjebak dalam tubuh yang butuh perjuangan ekstra. Tapi hei, setidaknya ia punya aset berupa dua bocah tampan.
Benar saja, begitu Netha menuruni tangga dengan napas yang mulai sedikit tersengal, efek gravitasi pada tubuh beratnya, ia melihat El dan Al.
Keduanya adalah versi mini dari Sean, suaminya yang tentara itu. RahaNg tegas meski masih berbalut lemak bayi, mata tajam, dan aura disiplin yang entah bagaimana sudah mendarah daging. El sedang merapikan tali sepatu Al, sementara Al sibuk menarik-narik ujung kaos olahraganya.
Netha berkedip sekali.
Dua kali.
“…?”
“Kalian,” suaranya serak karena baru bangun, “mau ke mana pagi-pagi begini?”
“Kami ikut mama olahraga,” jawab Al dengan santai sambil menyilangkan tangan di dada.
El mengangguk mantap di sampingnya.
Netha menyipitkan mata. “Olahraga?”
“Iya,” jawab Al cepat. “Bukankah mama berolah ragi pagi kemaren?”
Kata itu membuat Netha langsung sadar sepenuhnya.
Ia menyandarkan punggung ke pagar tangga, menyilangkan tangan. “Mama tidak akan olahraga pagi ini.”
El mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Bukankah kemarin Mama sudah buat kartu anggota gym?” lanjut Netha. “Latihannya nanti. Bukan sekarang.”
Kedua anak itu saling pandang.
“Oh…”
Al menggaruk kepalanya.
El berkedip. “…kami lupa.”
Netha mendengus kecil. “Kelihatan.”
Ia lalu menambahkan, “Kalau mau ikut Mama ke gym, nanti agak siangan. Sekarang belum.”
El mengangguk pelan. Al tampak sedikit kecewa, tapi tidak membantah.
Lalu El mengangkat wajahnya. “Kalau begitu… Mama mau ke mana pagi-pagi begini?”
Netha melirik jam dinding, lalu menghela napas panjang. “Ke komplek sebelah.”
Lima belas menit kemudian, Netha sudah mengganti piyamanya dengan setelan training hitam. Mereka bertiga keluar dari gerbang rumah besar itu. Suasana pagi di komplek perumahan elit tersebut mulai hidup.
Di sepanjang jalan, mereka melihat banyak orang sudah beraktivitas. Ada ibu-ibu yang sedang menyiram bunga krisan di halaman serentak menoleh.
"Pagi Netha! Tumben banget jalan kaki?" seru Bu RT yang sedang memegang selang air. Pandangannya menyapu tubuh Netha dari atas ke bawah, lalu beralih ke si kembar dengan tatapan kasihan.
Netha berhenti, mengatur napasnya yang mulai pendek-pendek. Ia tersenyum sangat manis. "Pagi, Bu! Iya nih, mumpung anak-anak semangat mau nemenin Mamanya cari makanan, eh maksud saya keringat."
"Wah, El sama Al ganteng sekali ya, makin mirip bapaknya," timpal Bu Aris yang sedAng menenteng plastik belanjaan. "Sayang ya, kalau nggak dijaga baik-baik..."
Kalimat itu menggantung, penuh sindiran. Netha tahu arahnya: Sayang ya ibunya begini.
Netha tidak tersinggung. Ia justru mendekat, membuat ibu-ibu itu agak mundur karena aura baru Netha. "Kalau begitu, duluan ya, Bu!"
Ia meninggalkan kerumunan itu dengan tawa kecil. Al mendongak ke arah Netha. "Mama, kenapa tante tadi bilang sayang?"
Netha mengusap kepala Al. "Karena mereka iri Mama punya anak sehebat kalian. Sudah, ayo!"
Setelah sampai di taman, Netha langsung merebahkan tubuhnya, membiarkan dirinya menikmati angin pagi. Keringat sudah membasahi tubuhnya, dan napasnya terasa berat.
Netha dalam hati “ Hah dulu dikehidupanku yang lama, Aku ini sexy dan bahenol. Hah, akan aku buat tubuh ini juga begitu. Karena sudah aku yang menempati, yah harus lah. Siapa tau nanti dapat suami baru.”
Netha membuka botol air minumnya, lalu meminumnya dengan pelan. Tak lupa Netha menawari keduanya.
Sarapan Soto
Setelah beristirahat di taman, Netha mengajak El dan Al menuju warung soto di dekat area tersebut. Warung kecil itu cukup ramai, dan aroma soto yang gurih menggugah selera langsung menyeruak di udara.
“Ayo, kita makan di sini. Soto pagi-pagi enak untuk mengisi tenaga,” ujar Netha sambil berjalan ke meja yang kosong.
Mereka duduk bertiga, dan Netha segera memesan tiga mangkuk soto. Ketika pesanan datang, Netha dengan sengaja meminta porsi lebih kecil untuk dirinya.
El dan Al mulai mencicipi soto mereka dengan lahap. Kuah soto yang panas dan kaya rempah itu menghangatkan tubuh mereka. Namun, di tengah makan, keduanya mulai menyimpan komentar dalam hati masing-masing.
El dalam hati: “Rasanya biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Masakan Netha jauh lebih enak daripada ini.”
Al dalam hati: “Ini cuma soto biasa. Masakan Netha, meski sederhana, lebih cocok di lidah. Entah kenapa, aku malah lebih suka makan di rumah sekarang.”
Meski demikian, mereka tetap melanjutkan makan dengan lahap, menyantap soto mereka hingga habis. El dan Al sesekali melirik Netha yang tampak asyik makan porsi kecilnya.
Sementara itu, Netha memperhatikan kedua anak itu dengan tatapan lembut. Ia menundukkan kepalanya sejenak, tenggelam dalam pikirannya.
Netha dalam hati: “Aku tahu, pemilik tubuh ini dulu nggak pernah peduli pada mereka. Aku... dia... hanya memikirkan dirinya sendiri, membiarkan mereka tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup. Aku merasa bersalah. Seharusnya mereka pantas mendapatkan perhatian lebih dari seorang ibu. Anak-anak ini benar-benar punya energi yang besar. Aku harus memastikan mereka mendapatkan semua yang mereka butuhkan, termasuk pendidikan.”
Setelah mangkuk-mangkuk kosong terkumpul di meja, Netha tersenyum kecil. “Sudah kenyang?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Al sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
El hanya mengangguk, tetap dengan ekspresi dinginnya yang khas.
“Ayo, kita pulang sekarang,” ujar Netha sambil berdiri. “Masih banyak yang harus kita lakukan di rumah.”
Ketiganya kemudian meninggalkan warung soto itu. Meski hanya sarapan sederhana, momen kebersamaan itu mulai menumbuhkan kehangatan di antara mereka, sesuatu yang perlahan-lahan memperbaiki hubungan yang dulu dingin dan jauh.
Setelah selesai makan, mereka pulang ke rumah, mandi, dan membersihkan rumah bersama-sama. Setelah semuanya rapi, Netha mengajak mereka ke mall untuk membeli kebutuhan belajar dan beberapa pakaian baru.
“Kita naik mobil aja,” kata Netha sambil mencari kunci mobilnya.
“Tentu saja,” ujar Al dengan nada bercanda. “Kalau naik motor, kita nggak bakal muat bertiga.”
Mereka tertawa kecil, lalu masuk ke dalam mobil. Netha duduk di belakang kemudi, sementara El dan Al duduk di kursi belakang, mengenakan sabuk pengaman mereka.
Perjalanan menuju mall berlangsung dalam keheningan sesaat, tetapi hati Netha dipenuhi dengan berbagai pikiran. “Aku harus memastikan mereka punya kehidupan yang lebih baik. Mulai dari pendidikan, sampai kebutuhan lainnya. Aku juga harus mulai memperbaiki diriku sendiri. Tunggu sampai papa mereka datang, aku bebas. Kau ingin pergi keluar negeri, yah buat usaha dulu kali ya. Habis itu Travelling kemana-mana, atau dibalik juga enak. Uang hasil perceraian kan buanyak banget.”
Dengan semangat baru, Netha melajukan mobilnya menuju tujuan mereka.
To be continued...