Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Hari ini sangat panas, matahari bersinar terik di depan wajahnya. Olivia memperhatikan jam ditangan kanannya, sebentar lagi dosen akan masuk. Tetapi kakinya tidak bisa melangkah, setiap kali ia akan melangkahkan, kendaraan lain pasti akan melewatinya. Ia tidak punya banyak waktu. Akhirnya ia memberanikan diri berjalan ke depan...
Tinnn...tinnn
Sebuah mobil melaju dengan kencang dan hampir menabraknya.
"Akhhhhh…......."
Tiba-tiba Olivia merasakan tubuhnya ditarik kedalam pelukan hangat seseorang. Jantungnya berdetak kencang, nafasnya tidak stabil. Tangannya memegang ujung pakaian orang itu dengan gemetar.
Olivia tidak tau apa yang terjadi barusan, kejadiannya sangat cepat berlalu. Yang dia ingat adalah, ia akan menyebrangi jalan, tapi ia tidak menyadari ada mobil yang akan berjalan ke arahnya. Tapi ia tidak merasakan sakit sama sekali.
"Hati-hati"
Sebuah suara dingin menyapu indra pendengarannya. Olivia masih menatap kosong, sebelum menatap pria yang saat ini memeluknya. Ia menatap mata pria itu, ada guratan khawatir diwajah dinginnya.
Ia langsung menjauh dari pria itu. Merapikan pakaiannya yang kusut.
"Terimakasih, kak Alex. Sudah menyelamatkan saya"
Pria itu telah menyelamatkannya, jadi ia harus mengucapkan terimakasih. Seandainya saja pria itu tidak datang, ia tidak tau apa yang akan terjadi.
"Hmm"
Pria itu langsung berbalik pergi dari hadapan Olivia. Olivia yang masih menatap pria itu tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu, jam belajarnya sudah dimulai!! Ia tidak punya banyak waktu sekarang. Seumur hidupnya, ia tidak pernah sekalipun terlambat, tapi karena semalam ia tidur larut malam, ia jadi terlambat.
Olivia berlari kencang, melewati beberapa mahasiswa yang menatapnya heran. Menaiki tangga menuju ruang kelasnya. Untungnya dosen belum masuk setelah ia datang. Olivia duduk di kursinya, menetralkan detak jantungnya akibat berlari dan menghirup nafas perlahan. Tidak lama setelah kedatangannya, dosen masuk kedalam kelas. Olivia bisa bernafas lega sekarang.
.....
Setelah selesai jadwal belajar nya, Olivia seharusnya sudah bisa pulang ke rumah. Tapi ia harus datang ke perpustakaan untuk menemui pria itu sebagai tutornya. Mereka duduk di perpustakaan lantai 5, tempat yang sudah mereka janjikan semalam, hanya ada mereka berdua didalam.
"Kamu seharusnya tau, kalau ujian masuk beasiswa di sekolah ini tergantung sulit. Hanya beberapa persen mahasiswa yang bisa lulus, selebihnya adalah gagal"
Olivia mendengarkan setiap kata yang diucapkan pria itu dengan serius. Saat belajar seperti ini, pria itu lebih banyak mengeluarkan suara dari pada berbicara seperti biasa.
"Sekarang saya mau bertanya sama kamu, kenapa kamu mau masuk perkuliahan dengan jurusan bisnis?"
Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas di kalimat pria itu. Kalimat mengenai alasannya untuk mengambil jurusan ini.
"Orangtua saya dulunya memiliki produk furniture dan mable. Jadi saya ingin masuk jurusan bisnis, agar bisa memasarkan produk itu dengan baik. Walaupun sekarang orangtua saya tidak memiliki produk itu lagi, tapi ibu saya masih memproduksi pakaian yang dipadukan dengan sisa-sisa kain yang tidak terpakai lagi"
Sebenarnya itu adalah alasan yang cukup tepat untuk dia katakan saat ini. Pada awalnya, Ia masuk ke jurusan bisnis untuk membantu ayah nya, setelah ayahnya meninggal, ia langsung kehilangan minat untuk masuk ke jurusan bisnis. Tapi ibunya bersikeras untuk menyuruhnya agar tetap mengambil jurusan bisnis. Karena ibunya tau, kalau ia sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis.
"Alasan kamu cukup menarik. Masuk jurusan bisnis berarti kamu harus siap dengan segala resiko dilapangan nanti"
Pria itu menyilang kan tangannya diatas dagu, menatap Olivia dengan kagum.
"Ya, saya tau itu. Kita harus berhadapan dengan para pesaing sesama produk dan harus bisa memuaskan konsumen dengan produk yang akan kita pasarkan"
Olivia sempat menatap wajah pria itu tapi ia langsung memalingkan mukanya ke lantai.
"Begitu juga dengan ujiannya, kamu harus bisa bersaing dengan mahasiswa lain untuk bisa lulus. Kalau kamu lulus dalam persaingan di ujian maka kamu akan mencapai kepuasan yang dimaksudkan sebagai konsumen"
"Kamu harus fokus pada pemahaman dan penerapan konsep bisnis dalam lingkungan bisnis yang beragam. Selama kuliah, kamu akan mempelajari prinsip-prinsip manajemen, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan aspek lainnya yang terkait dengan bisnis"
"Ini buku yang terbaik yang saya rekomendasikan sama kamu, bukunya memang tebal. Karena didalamnya menyangkut seluruh permasalahan mengenai bisnis, kamu harus bisa memahami dan mempelajari keseluruhan isi buku. Sebelumnya, saya sudah selesai membaca buku ini untuk mengikuti ujian kampus tahun lalu"
Alex mengeluarkan buku yang cukup tebal dari dalam tasnya. Bukunya sangat tebal dan lumayan berat. Pastia harganya sangat mahal.
"Kakak juga ikut ujian beasiswa?"
Olivia bertanya pada pria hadapannya, padahal pria itu kaya, tapi masih tetap ingin mengikuti ujian beasiswa.
"Saya hanya mengikuti ujiannya, tidak mengambil beasiswa. Karena itu diperuntukkan oleh orang yang benar-benar membutuhkannya"
Alex menyangkal pikiran negatif dari wanita dihadapannya. Ia bisa membaca pikiran wanita itu hanya melihat dari tampilannya sekarang. Seperti, Untuk apa ikut beasiswa kalau sudah kaya?
"....."
Olivia hanya terdiam malu, ia sudah berpikiran yang tidak-tidak. Padahal pria itu sudah berbaik hati untuk memberitahu dan mengajarinya.
"Sekarang kamu bisa baca dan simpan buku itu. Itu buku milik saya, kamu bisa mengembalikannya setelah selesai ujian. Sekarang kamu bisa mengerjakan soal-soal yang sudah saya buat"
Olivia menerima buku tebal itu dan memasukannya ke dalam tas. Tas nya jadi semakin berat.
Alex juga sudah meletakkan soal yang terkait dengan bisnis diatas meja.
Olivia membacanya sekilas, ada kerutan di dahinya.
"Soalnya sepertinya rumit"
Ia mengatakannya dengan pelan, matanya menatap soal-soal dengan tatapan sulit.
"Ya, soal ujian beasiswa sangat berbanding jauh dengan ujian semester. Kamu harus bisa meneliti setiap kalimat persoal nya, karena banyak soal-soal yang menjebak"
Alex memberitahu betapa sulit soalnya, Apalagi soalnya berbeda dengan ujian biasanya.
......
Alex melirik jam ditangannya, mereka baru saja keluar dari perpustakaan pada jam 6. Ia menatap sekitar yang hampir gelap, tidak ada satupun mahasiswa yang terlihat di sekitar area kampus.
"Ini sudah hampir malam, tidak baik untuk kamu pulang sendirian. Saya akan mengantarmu"
Alex menatap wanita disebelahnya, ia tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian. Terlalu berbahaya, apalagi ia sering banyak mendengar kejahatan di sekitar sini pada malam hari.
"Saya bisa sendiri, kak"
Tapi Olivia langsung menolaknya dengan halus, ia tidak bisa berada didalam satu kendaraan yang sama dengan pria itu, pasti akan terasa lebih canggung dari pada berada di perpustakaan.
"Tidak ada penolakan"
Satu kalimat yang dilontarkan dari mulut pria itu memberitahukan seperti perintah yang tidak menerima penolakan didalam perintahnya.
Olivia menghela nafas, terpaksa mengikuti perintah pria itu. Ia mengikutinya sampai ke parkiran dan masuk ke dalam.
.....
Olivia menajamkan matanya pada tempat yang mereka kunjungi sekarang. Apa laki-laki ini lapar? Tapi ia bisa mengantar nya terlebih dahulu atau dia bisa turun dan naik taksi ke rumah nya sendiri.
"Kenapa kita ke restauran?"
Olivia bertanya pada pria yang baru saja memarkirkan mobilnya.
"Makan, saya tau kamu belum makan dari tadi siang"
Olivia terdiam, perutnya memang sudah berbunyi kelaparan sejak tadi. Karena terburu-buru pergi, ia hanya makan sedikit di rumah. Akhirnya ia ikut masuk kedalam restauran.
........ Bersambung.......
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.