Alena gadis tangguh penuh tekad, dia adalah seorang Mahasiswi semester 5 disebuah universitas di Jakarta, suatu hari nasib buruk menimpa dirinya saat ayahnya yang gila judi itu terlilit begitu banyak hutang akibat hobi gilanya itu.
Alena dijadikan taruhan kepada seorang Mafia kejam dan menjadi tumbal keserakahan ayahnya sendiri.
Alena terpaksa harus menjadi tawanan sang Mafia karna ayahnya ternyata kalah dalam permainan judi bersama sang Mafia.
Dalam semalam hidupnya berubah, dia terpaksa harus menikah dengan laki laki asing yang terkenal berdarah dingin bernama Raka Bumiatmaja, namanya harum dikalangan para penjahat kelas kakap, tak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Dia Mafia yang menangani penyelundupan senjata api untuk negara negara besar. Kekayaannya mungkin hampir separuh negri, dengan kuasa dan uang yang dia miliki apapun bisa di dapatnya hanya dengan menjentikkan jarinya.
Akan kah Alena bahagia dengan kehidupan barunya sebagai istri seorang Mafia kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lela W.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Alena dengan telaten membalut syal ke tubuh Darren yang terluka, sesekali tangannya bergetar ketika tak sengaja menyentuh darah di kulit Darren.
Sejujurnya Alena sangat takut melihat darah. Tapi entah kenapa melihat pria itu kesakitan Alena tidak bisa hanya diam saja.
"Lim, keluarlah! Tunggu Denis didepan gerbang."
Darren mengibaskan tangannya. Lim langsung paham, Darren ingin ditinggalkan berdua saja dikamar itu dengan Alena.
Lim membungkuk, pria itu terlihat keluar pintu dan berbicara sebentar kepada Lastri sang kepala pelayan dan para pengawal yang berjaga di depan kamar.
Sepertinya Lim sedang menyuruh mereka untuk meninggalkan kamar juga. Karna setelah Lim selesai bicara mereka semua terlihat bergegas pergi dari sana.
Setelah itu Alena sempat melihat Lim menatapnya sesaat sebelum menutup pintu kamar.
"Saya permisi tuan." Lim lagi lagi membungkuk sebelum menghilang dibalik pintu.
Kini tinggallah Alena berdua dikamar bersama Darren.
Darren memegangi luka di dadanya yang mulai terasa panas.
"Argh, sialan!" Darren mencengkram seprei menahan sakit yang luar biasa.
Alena mendekatkan tubuhnya ke Darren, dia bingung harus berbuat apa.
Darah itu masih merembes bebas keluar dari kain syal meski Alena sudah membalutnya dengan kencang.
"Tuan, apa sangat sakit?" Tanya Alena, tangannya perlahan terulur ke dada Darren.
Ragu dan gemetar tangan itu hampir menyentuh luka Darren, berniat untuk menekan luka dibalik kain syal agar pendarahannya berhenti.
Dengan menutup mata Alena mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya, seketika tangannya berhasil menyentuh luka di dada Darren, menekannya dengan sekuat tenaga.
Darren mengerang kesakitan.
Darren bisa merasakan tangan gadis itu bergetar hebat, Alena berkali kali menarik nafas dalam dalam, bergulat dengan rasa takutnya melihat darah.
Namun dia biarkan tangan gadis itu tetap disana, entah kenapa sentuhannya membuat rasa sakit Darren perlahan mulai berkurang.
Tok tok tok
Tiba tiba ketukan pintu terdengar.
"Tuan, Dr. Denis sudah datang." Kata Lim dibalik pintu.
"Masuklah!" kata Darren.
Lim pun membukakan pintu, terlihat seorang pria memakai jas warna putih berdiri dibelakangnya. Pasti itu yang namanya Dr. Denis.
Lim dan Denis sempat terkejut saat melihat tangan Alena yang sedang berada di atas dada Darren.
Sebagai tangan kanan yang telah lama mengabdi pada Darren, Lim tau Darren tidak pernah membiarkan siapapun mengobati luka ditubuhnya kecuali dokter pribadinya Denis.
Tapi kali ini dia dibuat terkejut, melihat dengan mata kepalanya sendiri Darren membiarkan Alena, gadis yang baru beberapa hari dibawa kerumah besar, dia membiarkan gadis itu mengobatinya. Bahkan dengan bebas menyentuh tubuhnya. Sungguh di luar kebiasaan tuan mudanya.
"Maaf tuan saya sedikit terlambat." Denis langsung menghampiri ranjang, tersenyum sekilas ke arah Alena. Alena mengangguk dan membalas senyum Denis dengan ramah.
Dokter itu meletakan koper diatas meja disamping ranjang lalu membukanya. Terlihat banyak sekali peralatan medis disana.
Alena bergegas menarik tangannya dari dada Darren, dia ketakutan dan hampir berteriak melihat banyaknya darah Darren yang tertinggal ditelapak tangannya.
Untungnya saja dia dapat segera mengendalikan diri. Darren dapat menangkap ekspresi ketakutan itu diwajah Alena namun dia hanya diam.
"Nona silahkan ikut saya keluar." Kata Lim sambil mempersilahkan Alena keluar dari kamar.
Alena mengangguk dan mengikuti Lim dari belakang.
"Apakah dokter Denis akan mengobati luka tuan? lukanya sepertinya parah, apa pak Lim tidak berencana membawa tuan Darren ke rumah sakit saja?" Tanya Alena saat mereka telah berada diluar kamar.
Alena penasaran kenapa Darren tidak dibawa kerumah sakit, dia kan kaya sekali, tidak mungkin dia akan kesusahan membayar biaya administrasi rumah sakit kan? pasti bukan itu alasannya.
Alena yakin ada alasan khusus kenapa Darren memilih dirawat dirumah saja.
"Seperti yang nona lihat, Dr. Denis akan mengurus semuanya. Nona tidak perlu khawatir." Jawab Lim.
Lim melirik darah di telapak tangan Alena.
"Em pak Lim, bolehkah saya bertanya sesuatu tentang tuan Darren?"
Lim hanya mengangguk kecil.
"Sebenarnya apa pekerjaan tuan? apakah dia sudah biasa mengalami hal seperti ini?" tanya Alena penasaran.
Lim hanya diam membuat Alena jadi kesal sendiri.
"Kenapa pak Lim tidak menjawab?"
"Tuan muda adalah pemilik klub Devil, bukankah nona sudah mengetahuinya?" Lim akhirnya membuka mulut.
"Iya, saya tahu, tapi pasti ada pekerjaan lain kan selain itu? pekerjaan yang berhubungan dengan senjata, luka tembak itu.." kata Alena, jujur saja dia merasa ada yang belum sepenuhnya dia ketahui tentang Darren.
Darren baru saja terkena luka tembak, apa jangan-jangan dia seorang buronan polisi? pikiran Alena sudah terbang kemana mana.
"Nona, cukup! jangan melebihi batas." Kata Lim dingin.
Dia jadi semakin tidak suka melihat sikap Alena yang semakin menjadi, gadis ini terlalu banyak ingin tahu.
Alena akhirnya diam, melihat wajah tidak bersahabat Lim dia urung melanjutkan niatnya untuk bertanya lebih jauh tentang pekerjaan Darren.
Tiga puluh menit berlalu, pintu kamar utama pun terbuka. Lim dan Alena pun masuk ke dalam.
"Dr. Denis bagaimana keadaan tuan?" Tanya Lim, dia melihat luka Darren sudah dibalut perban putih.
Denis merapikan peralatan medisnya, memasukannya kembali ke dalam tas, dia berbalik dan tersenyum ke arah Lim.
"Tenang lah pak Lim, tuan Darren baik baik saja, saya sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya, untung saja nona ini membantu menghentikan pendarahannya dengan syal itu, kalau tidak Darren mungkin membutuhkan penanganan yang lebih serius." Kata Denis seraya menepuk bahu Lim, kemudian matanya beralih menatap Alena.
Alena menghembuskan nafas lega.
Lim melirik Alena sekilas, 'ada gunanya juga gadis ini' batinnya.
Lim pun mengantarkan Denis sampai ke bawah dan membiarkan Darren beristirahat dikamar.
Setelah mencuci tangannya yang berlumuran darah Alena kembali mendekati ranjang untuk melihat kondisi Darren.
Bukankah besok mereka akan menikah? kalau Darren seperti ini apakah pernikahannya akan tetap berlanjut? Ah, Alena harap Darren membatalkan pernikahannya saja.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Darren sambil melirik ke arah Alena.
Gadis itu menggeleng cepat. Dia pikir Darren tidur karna kedua matanya tertutup tadi. Tapi ternyata dia salah, pria itu ternyata masih terjaga.
"Dengar, pergilah bersama Lim ke butik langganan keluargaku, mereka akan membantumu memilih gaun pengantin yang paling bagus, acara ini dadakan, jadi kau tidak boleh membuang waktumu lagi.."
Alena terkejut, kedua bola matanya melebar, dia segera mendekat ke arah Darren.
"Gaun pengantin? tapi tuan..memangnya pernikahan itu masih akan terjadi besok?" Alena menatap Darren panik.
Dia pikir pria ini akan membatalkan acara pernikahan itu mengingat kondisinya saat ini sedang sakit parah.
Darren malah tersenyum sinis sambil melirik Alena dengan sepasang matanya yang tajam.
"Memangnya apa yang kau harapkan? aku tau apa yang ada di dalam otakmu itu, kau mengharapkan pernikahan itu batalkan?" Desis Darren.
Darren menaikkan satu alisnya sambil menarik salah satu ujung bibirnya, senyum setan itu muncul lagi. Alena langsung memucat.
"Bukan begitu, aku hanya berpikir bagaimana tuan akan melakukan acara pernikahan dengan kondisi terluka begini?" tanya Alena, dia harap Darren mau berpikir ulang.
"Ini hanya luka kecil, kau pikir aku pria lemah? hanya karna luka ini aku tidak mungkin membatalkan acara pernikahan kita." Darren menyipitkan kedua matanya. Dia turun dari ranjang, dia melangkah ke arah Alena sambil memegangi luka di dadanya.
Alena refleks mundur ke belakang hingga tanpa sadar tubuhnya membentur tembok dibelakang punggungnya, dia sudah tidak bisa kemana mana lagi.
Darren menyeringai kecil menikmati wajah ketakutan di hadapannya.
"Kau lebih berani dari yang ku pikirkan ternyata.."
Darren mengangkat dagu Alena lalu mencengkeramnya dengan kasar. Darren mendekatkan wajahnya hingga kini tiada jarak diantara wajah mereka berdua. Alena bahkan bisa merasakan hangat hembusan dari helaan nafas Darren yang menerpa wajahnya.
Alena mencoba melepaskan diri, tapi ternyata dalam keadaan sedang terluka pun tenaga laki laki itu begitu kuat.
"Alena, sekali kau terikat denganku, akan ku pastikan kau tidak akan bisa pergi dari sisiku." bisik Darren.
Darren melepaskan cengkeramannya sambil tertawa keras.
Alena terguncang hebat, dia menggigit bibir bawahnya, ternyata pria ini memang gila, tidak waras!