Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 9
Tuan Aland memang sudah gagal membawa putrinya pulang untuk tinggal di rumah mewahnya. Semua itu karena Ellena yang telah memutuskan untuk tetap tinggal bersama Marco dan menjalani kehidupan sederhana bersama suami.
Tuan Aland tidak bisa memaksa, tetapi rasa cintanya pada sang putri membuat ayah Ellena itu mengkhawatirkan kecukupan hidup Ellena. Oleh karena itu, Tuan Aland mengajak suami Ellena itu untuk bekerja di perusahaan.
Ya, sebenarnya Tuan Aland takut Marco tidak bisa menjadi suami yang membahagiakan putrinya itu. Akan tetapi karena masih menghargai keputusan anak dan menantunya, Tuan Aland menawarkan pekerjaan itu pada Marco, berharapa juga Marco bisa menjadi bagian dari perusahaan sebagai penerus yang mendampingi Ellena nantinya.
Marco menatap Ellena dan meyakinkan diri bahwa niat ayah mertuanya itu adalah sebuah kebaikan. Elena juga memberikan reaksi yang positif dan Hal itu membuat Marco akhirnya mengambil keputusan untuk menerimanya.
“Baik, Pa. Aku akan bergabung dengan perusahaan seperti yang Papa mau,” kata Marco kemudian.
Tuan Aland merasa lega dan bahagia karena Marco bersedia bergabung dengan perusahaan. Itu artinya, Tuan Aland tidak perlu mengkhawatirkan lagi putrinya akan kekurangan.
Ellena juga bahagia karena dengan bergabung di perusahaan, itu berarti Marco telah bersiap untuk membuka diri di keluarga Ellena.
“Baguslah, tapi papa harap kamu tetap mengawal Ellena dengan baik, papa yakin kamu bisa atur waktunya,” balas Tuan Aland yang kini percaya sepenuhnya ada sang menantu.
Marco adalah pengawal pilihan yang dipilih oleh Tuan Aland untuk menjaga Elena. kejadian di masa lalu membuat papa Elena itu khawatir akan terjadi sesuatu pada putrinya. Ya, sejak ibu dan kakak lelaki Elena meninggal, Tuan Aland hanya memiliki Elena sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. Sangat wajar jika Tuan aland begitu menghawatirkan putrinya itu.
“Papa, Aku kan sudah punya suami. Lagi pula aku ini sudah besar, kenapa Kak Marco harus terus menjadi pengawalku? Kak Marco itu suamiku, Pa,” sahut Elena sambil mengerucutkan bibir.
Ellena tidak mau membuat kesan buruk jika Marco tetap menjadi pengawalnya. pasti laki-laki itu akan merasa malu karena bekerja untuk menjaga istrinya sendiri.
“Ellena, meskipun kamu sudah menikah, kamu tetap menjadi anak papa yang harus papa lindungi. Makanya, kamu jangan keluyuran biar suami kamu tidak repot,” balas Tuan Aland.
“Tidak apa, El. Selama aku bisa bagi waktu, pasti aku akan menjadi pengawal kamu kok.” Marco menyahut. Laki-laki itu menggenggam tangan Ellena seolah mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja meski pekerjaannya jadi bertambah.
Satu hal yang Ellena lihat dari Marco, bahwa suaminya itu sedang berusaha melakukan yang terbaik yang dia bisa. oleh karena itulah, Elena jadi merasa semakin cinta dengan Marco.
***
Setelah Tuan Aland pergi, Marco dan Ellena tinggal berdua di kamar sederhana itu. Mereka berdua merapikan kamar yang kini juga diisi oleh barang-barang milik Ellena.
“Kamar ini terlalu sederhana dan nggak mungkin muat untuk mengisi semua barang-barang kamu yang sangat banyak,” kata Marco yang kini memperhatikan barang-barang milik Ellena yang sebagian masih belum dikeluarkan dari koper.
Ellena merasa bersalah dengan kalimat Marco itu. Dia menggenggam jemarimya sendiri dan menunduk. Lalu, dia pun berkata, “Maaf, Kak Marco. Harusnya aku bilang sama Papa biar nggak kirim banyak barang ke sini.”
Marco berdecak. Dia menghela napas berat untuk menghilangkan pikiran buruk dari kepalanya.
Apa papanya Ellena sengaja membawa banyak barang supaya aku segera mencari rumah yang lebih layak untuk putrinya?
Marco memilih untuk mandi demi menghilangkan pikiran buruk itu dari kepalanya. Selang setengah jam setelahnya, dia keluar dan melihat Ellena yang cemberut menatap koper-koper yang dikirim oleh papanya beberapa saat yang lalu.
Melihat wajah Ellena itu, Marco jadi merasa bersalah dan tidak tega. Dia lalu mendekati Ellena dan mengusap rambut lurus istrinya itu.
“Kamu lapar nggak?” tanya Marco yang sebenarnya sudah merasa lapar.
Ellena mengangguk dengan lemas. Dia tahu suaminya pasti lapar, tapi dia sama sekali tidak bisa memaasak.
“Gimana kalau kita makan ikan bakar? Aku tahu tempat yang sangat enak loh,” bujuk Marco yang paham dengan perubahan raut wajah istrinya. “Tapi, makannya bukan di kafe atau restoran, cuma makan di pinggir jalan aja. Gimana, mau nggak?”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...