Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakkan
Minggu pagi, Alya masih bersantai dikamar. Suara Bagas dari luar sudah memenuhi isi rumah karena mengomentari pertandingan basket nasional lanjutan sabtu kemarin. Hasan dan Rahma sudah pergi keliling komplek menghirup udara segar sambil berbelanja sayur. Sedangkan Tyas duduk melamun didekat jendela ruang tengah, pandangannya kosong menatap halaman teras rumah.
(Kak Tyas pasti sedang memikirkan ucapan Ayah Bunda semalam. Gumam Alya yang baru keluar dari kamar menuju dapur).
"Assalamualaikum." ucap Hasan dan Rahma bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Tyas.
"Loh lagi apa Kak duduk melamun didekat jendela?" Tanya Bunda.
"Hmm Tyas masih memikirkan pembahasan semalam, Tyas harus menjelaskan ke Bunda sama Ayah mengenai perjodohan dengan anak Pak Subadiyo." Jelasnya dengan hati-hati.
Rahma yang masih membawa belanjaan sayur duduk mendekati Tyas, membelai jilbab terusannya.
"Ada apa Nak? bicara terus terang kepada Kami." Ucap Rahma lembut.
"Maaf Bun, Tyas sudah punya calon imam sendiri." Jawab Tyas.
Tak berani menatap Bunda, Tyas menunduk sesekali air matanya menetes lepas dari pertahanannya.
"Kamu belum pernah cerita, bagaimana ini Yah?" Tanya Rahma memandangi suaminya.
"Siapa lelaki calon pilihanmu Nak?" tanya ayah tanpa menggubris lebih dulu pertanyaan Bunda.
Tyas masih tetap menunduk, tidak ada keberanian untuk memberi jawaban kepada Ayahnya. Untuk mengucapkan penolakan saja Ia tidak sanggup. Sebenarnya semalam ketika kedua orangtuanya memberi tahu perihal perjodohan Tyas mau menolak, walau ia tergolong pendiam tetapi sudah ada lelaki dewasa yang siap kapanpun untuk menghalalkan Tyas.
"Hendra yah." Jelas Tyas singkat.
Wajah Ayah langsung berubah tersenyum, karena mendengar nama Hendra kakak kelasnya saat duduk dibangku SMA sekaligus tetangga rumah Mereka yang terhalang beberapa blok saja. Hendra anak dari Pak Yusuf seorang veteran tentara, saat ini Hendrapun masih mengikuti pelatihan untuk menjadi tentara seperti jejak bapaknya.
"Tolong kamu minta Hendra segera mungkin mengkhitbah Kamu." Tegas Hasan.
Tyas melihat kearah kedua orangtuanya secara bergantian, muncul senyum bahagia dari wajahnya. Alya yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Mereka ikut larut dalam bahagia dibalik dinding ruang tengah.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Siang itu dikediaman Subadiyo, Dimas yang baru memarkirkan mobilnya segera masuk dan naik tangga menuju kamar tanpa memperdulikan keberadaan kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Apakah Dimas baik-baik aja ya Pah?" Tanya Lestari khawatir.
"Semoga saja Mah, Dimas sudah besar, usianya menginjak 30 tahun. Sudah sewajarnya dia memiliki pendamping. Papah kepingin cucu mah." Ucap Subadiyo sambil membolak balikkan koran.
(Kenapa Mereka tidak bertanya dulu sebelumnya, langsung jodoh-jodohin begitu saja. Gumam Dimas didalam kamar).
Setelah bersih-bersih Dimas merebahkan dirinya diatas ranjang, terlintas pembicaraan dengan Bonjes semalam. Ia harus bertanya langsung ke anak pertama Pak Hasan apakah menyetujui atau tidak permintaan perjodohan ini. Hingga akhirnya Dimaspun terlelap dengan lamunannya sendiri.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sore hari dikediaman Hasan, sudah berkumpul bersama keluarga Yusuf untuk melanjutkan permintaan Hasan pagi tadi kepada Tyas. Nampak Hendra dengan gagah mengenakan kemeja batik solo khas dari daerah asalnya, didampingi kedua orang tuanya. Yusuf menjelaskan maksud dan tujuan dari kedatangan Mereka.
"Maaf sebelumnya Pak Hasan kedatangan Kami mendadak, maksud tujuan keluarga Kami datang kesini adalah untuk melamar anak Bapak yang bernama Tyas untuk pendamping Hendra anak pertama Kami. Karena sebelumnya Mereka sudah melakukan ta'aruf yang didampingi oleh Pak Ustad Ridwan 1 bulan lalu." Ucap Yusuf.
"Saya akan serahkan kembali keputusan kepada anak Kami. Tyas bagaimana Nak?" Tanya Hasan.
"Tyas menerima lamaran mas Hendra Yah." Jawab Tyas.
"Alhamdulillah." Ucap seluruh orang yang berada diruang tengah.
"Saya sudah mengenal keluarga Bapak Yusuf dengan baik, Saya ikhlaskan anak Kami untuk dipersunting oleh anak Bapak. Semoga Hendra bisa menjadi Imam sekaligus teman dalam susah senang berumah tangga nanti dengan Tyas ya." Jelas Hasan
"Enggeh Pak, insya allah Saya akan menjalankan amanah ini." Jawab Hendra sambil menatap Pak Hendra dengan tersenyum.
Acara lamaran pun telah selesai merekapun sepakat dengan proses ijab qobul dan resepsi diadakan 1 bulan kedepan, Ba'da magrib keluarga Yusuf pamit pulang. Ibu nya Hendra memeluk erat calon mantu seakan tidak ingin berpisah.
Kini diruang tengah hanya ada Tyas, Ayah dan Bunda. ketika Tyas akan melangkah masuk kekamar tiba-tiba Ayah menghentikannya.
"Tyas panggil Alya untuk kesini." Titah Hasan.
"Baik Yah." Jawab Tyas.
Tak lama Tyas sudah datang bersama Alya menghampiri mereka.
"Kalian berdua duduk Nak." Ucap Hasan.
"Ada apa Yah memanggil Alya?" Jawab Alya penasaran.
"Begini Nak, setelah sore tadi lamaran untuk kak Tyas sudah Kami terima. Bagaimana jika Alya yang akan menjadi istri dari nak Dimas?" Terang Hasan dengan tegas.
Deg !!
(Seakan waktu berhenti sejenak, peredaran darah berhenti untuk memompa jantung. Sesak yang begitu memuncak. Kenapa jadi Aku yang harus menggantikan posisi kak Tyas? monolog Alya).
"Bagaimana Al?" kembali Ayah bertanya.
"Hmm, bolehkah Alya menolak yah." Jawab Alya.
"Alasan kamu apa?" Hasan kembali bertanya.
Alya terdiam, entah apa yang harus dijelaskan kepada Ayah. Karena Alya sudah bertemu Dimas sebelumnya beberapa tahun lalu membuat rasa malu itu menguak begitu saja. Tidak ada alasan kuat yang mendukung penolakan lamaran itu. Jodoh saja Alya belum ada. Berbeda dengan Tyas penolakkannya karena Ia sudah memiliki pilihan pendamping.
Suasana hening seketika, Alya masih diam dengan lamunannya. Rahma yang menyadari kekhawatiran putri keduanya itupun angkat bicara.
"Alya sayang, jika ini adalah jalan hidup yang Allah tunjukkan kepada Kamu terimalah nak dengan lapang. Insya Allah Kami memilih calon suami untuk anak Kami dari keluarga yang baik. Seandainya jika Kamu sudah memiliki pilihan katakanlah?" Jelas Rahma dengan tenang.
Beberapa menit Alya masih diam dan menundukkan kepalanya. Hari ini keberaniannya sirna dengan tatapan dari kedua orangtuanya yang seperti sedang menyelidik suatu kejahatan.
"Alya belum punya pilihan pendamping Yah, Bun." Ucapnya dengan halus.
Hasan dan Rahmapun bernafas lega, kekhawatirannya hilang setelah putri pertamanya secara mengagetkan ternyata sudah memeliki calon pendamping.
"Tetapi beri Alya waktu beberapa hari untuk memikirkan ini semua boleh kan?" Tanya Alya sambil memandangi Rahma.
"Hmm Boleh kok Nak." Jawab Hasan yang tidak ingin membuat putrinya tertekan dengan perjodohan ini.
Setelah pembicaraan diruang tengah selesai, Alya kembali masuk kekamarnya. Mengunci pintu rapat-rapat. Mengambil wudhu untuk segera menjalankan sholat isya. Setelah ya Alya berdoa, bermunajat meminta petunjuk kepada Allah yang memiliki kehidupan di bumi ini. Hampir 1 jam Alya duduk diatas sajadahnya. Sudah mulai merasa kantuk, segera merapikan alat sholatnya, mengganti lampu kamar dengan lampu tidur disamping ranjang. Jika sudah redup seperti ini barulah dirinya berhasil terlelap.
.
.
.
Renata nya Thor