Kania Anggraini
gadis yang menjalani hidup sebagai istri siri seorang pengusaha kaya, Kania harus merahasiakan pernikahannya itu.
Bharata Yusman
seorang GM perusahaan multinasional yang terjebak dengan gadis muda karena penghianatan sang istri.
akan kah mereka bahagia?
akankah Kania bisa bahagia bersama orang yang dia cintai?
atau kesengsaraan yang akan mereka rasakan?
follow Ig ku ya_ @meiwulandari67
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak bisa bersama lagi...
"Bhara kenapa kamu seperti ini,"bentak papa Roni.
"Udah pa, mungkin Bhara sedang lelah saja,"jawab Bu Putri.
Bhara tak menggubris semua orang, setelah selesai makan Bhara memilih kembali ke ruang kerjanya.
papa Roni marah melihat tingkah putra pertama nya itu, sedang Tina tak ambil pusing dia sendiri juga sudah muak dengan drama ini.
Shinta mengerti segalanya, dia bukan gadis remaja yang tak mengerti apa apa, apalagi Shinta sudah sering memergoki kelakukan sang mama.
Pak Roni masuk keruangan kerja Bhara,"ada yang penting pa?" tanya Bhara yang sibuk dengan tumpukan berkas di depannya.
"Bhara bersikaplah dewasa, kenapa kalian tak bisa membicarakan ini dengan baik kasihan Shinta yang terluka," kata papa Roni.
"Apa yang harus di perbaiki, kaca yang hancur berkeping-keping tak mungkin bisa di satukan lagi," jawab Bhara.
"Tapi bagaimana pun dia istrimu," kata papa Roni.
"Istri pilihanmu bukan pilihanku, dan lihat wanita itu bahkan bisa berganti pria setiap malam," kata Bhara menatap papa Roni datar.
"Kau pun sama, kau memelihara gadis muda kan, aku bisa membuat gadis itu pergi selamanya," kata papa Roni.
"Jangan berani menyentuhnya atau aku melupakan jika kau orang tuaku!" bentak Bhara emosi.
"Kenapa dia hanya gadis yatim piatu yang kau beli, dan sekarang hanya uang mu yang di incarnya," kata papa Roni.
"Berhenti mengurusi urusan ku, aku tak segan segan melukai mu jika sampai gadisku tergores sedikit saja," kata Bhara dengan nada marah.
"Gadis itu sama menjijikan dengan wanita kampungan itu," kata papa Roni yang kini berdiri di hadapan Bhara.
"Mungkin dulu aku menuruti mu, tapi sekarang jika kau berani menyentuh wanita ku sedikit saja, aku pastikan aku melupakan jika kau adalah ayahku, silahkan keluar," kata Bhara mengusir papa Roni.
Saat papa Roni keluar, bhara membanting segalanya di ruang kerja,"sialan! tak akan ku biarkan kau menyentuh Kania ku," kata Bhara.
Bhara menghubungi salah satu orang kepercayaan nya,"hallo tingkat kan pengamanan untuk nyonya Kania, dan pastikan tak ada yang bisa melukainya," perintah Bhara.
"Baik tuan perintah anda saya laksanakan," kata pria di sebrang telpon.
Sedang tanpa sengaja mama Putri memergoki Tina yang sedang mengobrol dengan pria simpanan miliknya.
"Iya sayang besok kita ketemu ya, aku sedang ada acara keluarga, kau tau kan suamiku itu lemah dalam urusan itu dan hanya kau yang bisa memuaskan diriku ini," kata Tina dengan biasa.
Mama Putri menghampiri sang suami yang baru keluar dari ruang kerja Bhara,"pa sini deh.." ajak Bu Putri.
"Apa ma?" tanya papa Roni.
"Pa, menantu mu itu juga tak lebih baik dari putra mu, bahkan dia membicarakan urusan ranjang dengan pria lain," kata mama Putri.
"Terus aku harus apa, kamu ingat keluarga tiba yang dulu membantu kita," kata papa Roni.
"Tapi aku tak ingin melihat Bhara yang seperti ini," kata mama Putri.
"Terus mama mau lihat cucu kita Shinta hancur, dengan perceraian kedua orang tuanya?" tanya papa Roni.
Tanpa mereka sadari Shinta sudah mendengar segalanya,"itu lebih baik Opa dari pada melihat papi terluka,"kata Shinta.
"Tidak sayang papi mu hanya sedang marah dengan mama mu,"kata papa Roni.
"Aku tau segalanya Opa, bahkan aku sering melihat mama bersama pria berbeda, untung aku memiliki sahabat yang selalu memelukku saat terluka," kata Shinta lirih.
"Kau begitu terluka sayang ternyata, maafkan Opa yang meminta papi mu mempertahankan pernikahan agar kau tak terluka," kata papa Roni.
"Shinta baik Opa, Oma tenanglah Shinta bukan gadis kecil lagi sekarang Shinta sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk," kata Shinta meyakinkan kedua kakek neneknya.
Sedang Tina mendengar segalanya dia tak mungkin membiarkan Bhara menceraikannya karena dia akan kehilangan uang milik Bhara.
"Aku harus buat suami goblok gue gak ninggalin gue, bisa amsyong kalau gue di ceraiin sama dia," batin Tina.
Tina masuk ke dalam kamar dan memikirkan cara agar Bhara mau kembali menyentuhnya, dia pun mencari obat perangsang untuk di berikan kepada Bhara.
Setelah semua orang pulang, Tina menghampiri kamar Shinta,"belum tidur sayang?" tanya Tina lembut.
"Belum ma, ada apa?" tanya Shinta binggung.
"Shinta seandainya mama dan papi baikan terus buatin kamu adik mau gak?" tanya Tina.
"Malu mah, masak aku udah besar gini punya adik," jawab Shinta.
"Iya deh iya, tapi seandainya mama baikan sama papi kamu seneng gak?" tanya Tina.
"Ya seneng dong, apalagi kalau kita bisa liburan bareng kayak dulu," kata Shinta.
"Kalau gitu biar mama, ngomong sama papi ya agar kita bisa liburan bareng," kata Tina.
"Bener nih ma," kata Shinta antusias.
"Bener dong, makanya kamu bantuin mama ya biar papi mau oke," kata Tina.
"Siap ma," jawab Shinta memeluk Tina,
"Dasar anak bodoh di peralat aja mau," batin Tina.
"Aku akan merasa bahagia jika mama dan papi kembali bersatu seperti dulu," batin Shinya.
"Ya udah sekarang kamu tidur dan biar mama ngomong sama papi ya, selamat malam," kata Tina meninggalkan kamar Shinta.
Tina meminta salah satu pelayan membawa minuman yang sudah di campur dengan obat itu ke kamar milik Bhara.
Bhara yang tak curiga pun langsung meminum susu itu sebelum tidur, tapi tak lama tiba tiba hasrat nya datang.
Tubuh Bhara begitu panas terbakar gairah, Tina masuk ke kamar dan melihat Bhara yang mulai gelisah.
malam itu Tina menang karena Bhara sudah masuk ke perangkapnya, bahkan Tina tertawa puas.
Tina melanjutkan aksinya, bhara tak bisa menahan gejolak gairah nya, malam itu Bhara melakukan nya bersama Tina dengan penga*m*n tentunya.
"tak ku sangka sekarang kau begitu perkasa sekarang di banding dulu, aku harus meminta mu melayaniku lagi, apalagi permainan kasar mu begitu memabukkan," kata Tina mencium bibir Bhara sekilas.
kini keduanya tertidur tanpa sehelai benang pun, Tina tetap bahagia meski Bhara mengunakan pengaman.
.
.
.
.
.
.
.
mohon dukungannya ya dengan cara vote like dan komen 😘😍😘😍 terima kasih
suksez
semangat
Beda bangt sama Wanita.
tpi kejam