"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SEKOLAH BARU 2
"Semoga saja Oliv tak membuat ulah di Sekolah ini. Bagaimana pun, namaku adalah taruhannya." Dre melangkahkan kaki meninggalkan Sekolah dengan penuh harap.
Sementara itu...
"Pagi murid-murid..." Bu Gina berdiri di depan murid-murid yang ada di kelas, dengan Oliv yang berada di sampingnya.
"Pagi, Bu." Ucap mereka serentak.
Mereka mulai berbisik satu sama lain, mempertanyakan siapa Gadis yang kini berada di samping Bu Gina. Gadis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Berambut sebahu, mata hitam kecoklatan, putih, tapi tak begitu tinggi.
"Baiklah, Ibu membawa murid baru yang akan menjadi teman kalian semua."
"Iya, Bu...."
"Baiklah sayang, perkenalkan dirimu."
"Namaku, Oliv." Jawab Oliv singkat, padat, dan jelas. Tampak seperti tak akan melanjutkan kalimatnya lagi.
"Itu saja?" Bu Gina tersenyum heran. Oliv mengangguk.
Hening
"Ah! Yasudah, kau duduk di bangku kosong yang ini, ya." Bu Gina mengarahkan Oliv, di sebelah bangku itu ada seorang Cowok yang langsung bersemangat dengan Oliv yang duduk di sana.
Oliv segera duduk, melihat sinis mata-mata yang memperhatikannya. Tapi lebih ke tidak memperdulikan. Dia Fokus memperhatikan Bu Gina di depan sana yang sudah memulai pelajaran, Fisika.
__________
Bel pulang sekolah terdengar. Semua Siswa berhamburan keluar kelas, ingin segera pulang. Termasuk Oliv, gadis itu yang paling bersemangat saat mendengar suara Bel yang sangat di nanti-nantikan. Dia sudah berdiri di depan gerbang Sekolah, Dre bilang nanti ada Mamang Ojol yang akan menjemputnya pulang.
"Mau ku antar?" Ucap seorang cowok, mengangetkan. Oliv mengernyitkan dahi. Cowok itu adalah cowok yang sebangku dengannya. Namanya Javin. Tinggi, putih, lumayanlah di mata Oliv.
"Aku ada yang jemput." Oliv mengalihkan pandangan
"Pacar?"
"Bukan,"
"Terus?"
"Mang Ojol!" Oliv ketus.
Javin tersenyum. Sumringah dirinya, semakin menebak cewek ini adalah seorang Jomblo.
"Aku temani?"
"Terserah."
Tak ada obrolan di antara mereka, hanya diam satu sama lain. Hingga Mang Ojol yang menjemput Oliv datang.
"Neng Oliv, kan?"
Oliv mengangguk, segera naik ke motor meninggalkan Javin tanpa pamit. Javin hanya tersenyum melihat kepergian Oliv yang perlahan menghilang dari pandangan.
"Menarik!" Batin Javin
*****
"Mang! Ke Kantor Bang Dre, ya!" Pinta Oliv saat sudah pertengahan jalan.
"Tapi, Mamang di suruh Pak Dre antar Neng Oliv ke rumah."
"Ayolah, Mang! Nanti ongkosnya aku tambahin!"
"Iya Neng, iya."
"Huh! Sama duit aja cepet!" Oliv manyun. Mamang Ojol hanya tersenyum sumringah.
Mang Ojol memutar arah, mengikuti arah yang di tunjukan Oliv. Kantor Dre.
Lima Belas menit berlalu, mereka sudah sampai di Kantor. Oliv memberikan ongkos, yaitu cuma ongkos tambahan yang dia janjikan, karena ongkos ojeknya sudah di bayar Dre terlebih dahulu.
Dia segera bergegas menuju ruangan Dre. Saat sampai di sana, lagi-lagi Oliv menemukan Dre yang sedang ngobrol berdua bersama Sekretaris barunya, Renata.
"Oliv?" Dre heran. Perasaan dirinya sudah memerintahkan Mang Ojol mengantar gadis itu ke rumah.
"Ups! Sori ganggu, lanjutkan saja bicaranya. Aku izin tidur siang di sini, ya." Oliv segera merebahkan diri di Sofa yang terdapat di sudut ruangan.
Renata menjadi sedikit risih dengan gadis itu. Selalu saja muncul ke sini, dan secara tiba-tiba. Terlihat raut Renata yang menjadi sedikit berbeda.
"Maaf...ya, Ren." Ucap Dre yang merasa tidak enak, dengan tingkah Oliv. Dre tersenyum getir.
"Gak apa-apa, Dre. Dia itu, siapa?" Renata menjadi penasaran. Untuk kedua kalinya dia melihat kedatangan Oliv yang santuy masuk ke ruangan ini.
"Dia... Dia itu, Saudaraku. Dia tinggal bersamaku. Dia memang sering ke sini saat tak ada kegiatan. Kau jangan kaget kalau ada dia di ruangan ini."
"Oh, Iya..." Renata mengangguk-angguk, ada kelegaan di hatinya mendengar kata 'Saudara' dari Dre.
Sementara Oliv curi-curi pandang ke arah Renata, memperhatikan tubuh seksi gadis itu. Memakai rok sepaha, baju yang menutupi tubuhnya tak menghalangi bagian dada yang sangat menonjol.
"Anjir... Gede. Ish! Pasti Bang Dre demen yang kayak gitu! Dasar mata keranjang." Oliv memperhatikan Dre sinis. Dre yang menyadari sedang di perhatikan menjadi penasaran kenapa gadis itu memperhatikannya sangat menyeramkan.
"Yaudah, Dre. Aku permisi. Masih ada data yang harus aku urus." Renata beranjak dari tempat duduknya
"Iya, Ren. Kalau ada pertanyaan jangan ragu untuk bertanya."
Rena mengangguk seraya tersenyum. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan. Dia sedikit melirik Oliv yang terlihat manyun, berbaring santai menekuk sebelah kakinya.
Oliv memperhatikan langkah kaki Renata yang berjalan anggun berlenggak-lenggok.
Seksi!
*
"Kenapa kau tidak pulang ke rumah?" Dre berbicara pada gadis yang baru saja akan memejamkan mata itu.
"Gak ada siapa-siapa di rumah, pasti sangat membosankan."
Dre hanya mendengus. Ada benarnya apa yang dikatakan Oliv.
"Aku boleh ke rumah Miska atau ke rumah Rere?"
"Boleh, tapi jangan sering-sering keluar rumah."
Oliv mendapat angin segar. Sumringah wajahnya.
"Tapi kau harus ingat, kalau ada yang bertanya tentang kau dan aku kau harus menjawab Saudara."
"Iya, iya! Bawel banget!"
"Dan kau harus ikut Satu aturan lagi, kau tidak boleh pacaran! Itu pasti akan sangat merepotkan ku!"
"Heh?!! Kok???" Oliv terbelalak.
"Sudah, jangan banyak tanya. Aku ingin makan,"
Dre berlalu, meninggalkan Oliv yang masih berdiam diri.
"Apa-apaan gak boleh pacaran?! Suka-suka aku, dong?!" Oliv masih terlelap dalam lamunan
"Hoi! Mau ikut, gak?" Dre yang menunggu di depan pintu membuyarkan lamunan Oliv, segera gadis itu beranjak.
"Ikuuuttt!!!"
aq tunggu lanjutanx