Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAKTA MENGEJUTKAN
Jantung Aleta seakan berhenti berdetak sesaat. Aura dan Viana yang mendengar ucapan itu langsung saling berpandangan dengan wajah pucat. Air mata gadis itu kembali mengalir.
"Kalian... tadi melihat dia sedang membakar daging, kan?" suaranya bergetar.
Aleta mengangguk pelan.
"Itu..." Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Itu sahabat gue..."
Suasana mendadak hening. Tangis beberapa korban lainnya kembali pecah. Seorang siswa laki-laki yang baru dibebaskan mengepalkan kedua tangannya erat.
"Benar."
Semua orang menoleh ke arahnya.
"Sudah ada dua korban." Ia menundukkan kepalanya sesaat sebelum melanjutkan.
"Salah satunya... sahabat lo, Aleta."
Deg!
"Sahabat gue?" Aleta mengernyit.
Aura menatap Aleta yang wajahnya perlahan memucat.
"Namanya Priscilla."
Aleta tampak berpikir keras, tetapi tidak ada satu pun bayangan yang muncul di benaknya.
"Maaf... gue gak bisa ingat apa pun tentang dia."
Aura menghela napas pelan.
"Wajar. Ingatan lo emang nggak selengkap ingatanku. Dan gue masih ingat dengan jelas ketika dia membully Aura yang asli."
Aleta terdiam.
"Dia memb*n*h, memotong, memasak dan memakannya di depan kami semua," ucap seorang siswa.
"Dia Iblis!"
"Dia harus dihukum!"
"Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal!"
Teriakan demi teriakan itu menggema di dalam goa. Para siswa SMA yang baru saja dibebaskan meluapkan seluruh amarah dan ketakutan mereka kepada pria tersebut. Sebagian menangis, sebagian lagi mengepalkan tangan, sementara yang lain hanya mampu menatap pelaku dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalian pikir aku melakukan semua ini tanpa alasan?!" bentak pria itu.
Aleta melangkah mendekat. Tatapannya tetap dingin, tanpa sedikit pun rasa takut.
"Apa maksud lo?" tanyanya.
Pria itu tertawa pelan sebelum menatap seluruh warga desa.
"Aku melakukan semua ini selama puluhan tahun... karena dendam pada desa ini! Mereka menuduhku memakan istri dan anakku. Padahal istriku diculik, sedangkan anakku dimutilasi oleh kepala desa. Dia menginginkan istriku. Setelah itu, dia memfitnahku sebagai pelakunya."
Suasana mendadak hening.
"Warga mempercayainya. Mereka menyeretku keluar rumah, memukuliku, lalu membakar rumahku saat aku masih berada di dalam. Aku memang berhasil lolos... tapi wajahku hancur. Sejak hari itu, aku hanya hidup untuk membalas dendam."
Pak Kades yang sekarang membelalakkan matanya.
"Ka-kau... Paman Arwan?"
Pria itu tersenyum sinis.
"Akhirnya kau mengenaliku, keponakan ku."
Seorang siswa yang baru saja diselamatkan maju selangkah.
"Kalau memang Anda ingin membalas dendam kepada warga desa ini, kenapa justru menculik kami? Kami bahkan tidak tahu apa-apa."
Beberapa warga mulai saling berpandangan.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya salah seorang warga.
Aleta menghela napas pelan.
"Dia benar. Orang yang paling bertanggung jawab adalah pelaku sebenarnya, bukan orang-orang yang tidak bersalah."
"Ta..." lirih Viana.
Aura kemudian menatap Arwan.
"Tuan... yang sebenarnya Anda cari adalah kepala desa yang lama, bukan?"
Arwan mengangguk pelan. "Benar."
"Kepala desa yang lama, bukankah Pak Marto?" tanya salah satu warga.
"Marto!" Arwan mengepalkan tangannya.
Pak Kades menundukkan kepalanya sejenak sebelum berbicara.
"Pak Marto... dia sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu."
Deg!
Arwan membelalakkan matanya. "Tidak mungkin... Bagaimana bisa..."
"Itu benar," jawab Pak Kades lirih. "Rumahnya terbakar pada suatu malam. Api membesar begitu cepat hingga tidak ada seorang pun yang berhasil menyelamatkannya."
"Hahaha..." Arwan tertawa.
"Hahahaha!"
Arwan menundukkan kepalanya. Air mata perlahan menetes dari kedua matanya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak tahu apakah dendam ku sudah terbalaskan atau belum. Kenapa aku tidak merasa senang sedikitpun. Kenapa aku masih belum puas?"
...****************...
Pukul dua siang, beberapa mobil polisi akhirnya tiba di desa tersebut. Kedatangan mereka langsung menarik perhatian para warga dan siswa yang sejak pagi berkumpul di sekitar balai desa. Polisi datang untuk menjemput Arwan ke kantor polisi. Seorang wartawan mulai mewawancarai orang-orang yang bersangkutan dengan kasus ini. Mereka meminta keterangan dari para saksi, yakni siswa-siswi yang telah diculik.
Tak lama kemudian, para siswa mulai menghampiri warga desa.
"Terima kasih..."
"Kalau bukan karena kalian, kami mungkin tidak akan pernah keluar dari sana."
Beberapa siswa bahkan menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat. Salah seorang siswi yang dulu ikut membully Aura juga maju dengan wajah penuh penyesalan.
"Maafkan kami..."
Aura terdiam.
"Kami sudah keterlaluan."
Siswi itu menundukkan kepala semakin dalam.
"Kami akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan."
Aura hanya mengangguk pelan. Meski belum bisa sepenuhnya melupakan semuanya, setidaknya mereka akhirnya menyadari kesalahan mereka.
Menjelang malam, seluruh siswa dibagi ke beberapa kelompok untuk menginap sementara di rumah-rumah warga. Besok pagi, bus sekolah akan datang menjemput mereka kembali ke kota.
Sementara itu, Aleta, Aura, dan Viana memutuskan membantu membersihkan rumah Arkana sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah bersedia menampung mereka selama beberapa hari ini.
Viana bertugas membersihkan ruang tamu. Dengan kain lap di tangannya, ia mengelap meja, kursi, dan jendela sambil sesekali mengobrol dengan Vivi dan Vava yang selalu menemaninya.
"Nama kalian lucu deh kalau digabung jadi Viva," ucap Viana lalu terkekeh kecil.
"Merk bedak Mama," sahut Vava yang juga ikut terkekeh.
"Benar juga. Ngomong-ngomong, kenapa nama kalian kayak berkaitan sama brand itu?" tanya Viana sedikit penasaran.
"Karena kata Ayah, saat sedang hamil ibu kami mengidam ingin memakaikan bedak Viva kepada semua orang yang ia temui. Itu terjadi sebelum Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah ke desa ini," jelas Vivi.
"Oh."
"Capek banget... Andai kalian berdua juga bisa membantu ku," keluh Viana.
Di sisi lain, Aura membersihkan kamar-kamar yang ada di rumah itu, sedangkan Aleta sibuk merapikan dapur hingga seluruh peralatan kembali tertata rapi.
Saat sedang membersihkan kamar Arkana, Aura melihat sebuah bingkai foto yang tergantung agak tinggi di dinding.
"Berdebu juga..."
Ia pun berdiri di atas bangku kecil untuk mengelapnya.
Sret.
Bangku itu bergeser.
"Aah!"
Tubuh Aura kehilangan keseimbangan. Ia refleks memejamkan mata. Namun rasa sakit yang ia bayangkan tak kunjung datang. Perlahan, Aura membuka matanya.
Deg.
Arkana sedang memegang pinggangnya agar tidak jatuh. Jarak mereka begitu dekat.
"Lo gak papa?" tanya Arkana.
Aura langsung berdiri tegak.
"Gue... nggak papa."
"Kalau begitu hati-hati."
Arkana tersenyum tipis sebelum meninggalkan ruangan. Aura hanya bisa menatap punggung pria itu hingga menghilang dari balik pintu.
Beberapa saat kemudian, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Saat mengelap meja di samping ranjang, matanya tak sengaja tertuju pada sebuah foto keluarga. Di sana terlihat Arkana yang sedang menggendong seorang anak laki-laki. Di sampingnya berdiri seorang wanita cantik yang menggendong anak perempuan. Senyum mereka terlihat begitu bahagia. Entah kenapa, dada Aura terasa sesak saat melihat foto tersebut.
Di waktu yang hampir bersamaan, Viana menemukan sebuah bingkai foto lain di ruang tamu. Foto pernikahan Arkana.
"Eh?" Viana memiringkan kepalanya. "Siapa ini?"
Kedua anak kembar itu ikut melihat ke arah foto.
"Tuan Arkana? Siapa perempuan ini?" gumam Viana.
"Itu ibu kami," jawab Vivi dan Vava bersamaan.
"Jadi... Ternyata Tuan Arkana sudah menikah dan kalian berdua anaknya? Sulit dipercaya tapi..."
Viana tiba-tiba tersenyum.
"Ibu kalian memang secantik itu. Sangat serasi! Sayang takdir berkata lain..." lirih Viana.
"Ngomong-ngomong di mana dia sekarang?" tanya Viana.
"Ibu sudah meninggal karena sakit," jawab Vivi pelan.
"Sedangkan kami..." lanjut Vava, "...meninggal karena kecelakaan."
Viana terdiam.
"Tapi wajah kalian tidak—"
"Ah!"
Viana reflek menutup wajahnya dengan tangan. Untuk sesaat, wajah kedua anak itu berubah. Kulit mereka tampak pucat. Bekas luka memenuhi sebagian wajah mereka. Mata mereka terlihat kosong dan menyeramkan.
Namun hanya berlangsung sesaat. Dalam sekejap, wajah mereka kembali normal seperti sebelumnya. Viana membeku.
"Ba-barusan..."
"Ini karena mantra Ayah," jawab Vivi.
"Ayah tidak ingin orang lain ketakutan saat melihat kami," timpal Vava.
"Orang lain yang dimaksud adalah indigo seperti kak Viana," ucap Vivi lagi.
Viana menelan ludah. Tanpa mereka sadari, Aura yang baru saja keluar dari kamar berdiri di balik dinding lorong. Ia mendengar seluruh percakapan tersebut.
...****************...
Pagi itu, langit masih diselimuti cahaya keemasan saat ketiganya bersiap meninggalkan rumah Arkana. Karena letaknya paling jauh dari desa, mereka harus berangkat lebih awal agar dapat tiba di rumah Pak Kades sebelum bus sekolah datang menjemput.
"Terima kasih untuk semuanya, Tuan Arkana," ucap Aura sambil membungkukkan badan.
"Jaga diri kalian." Arkana hanya tersenyum hangat.
Aleta mengangguk singkat, sedangkan Viana masih enggan melangkah pergi. Ia memeluk kedua anak kembar itu erat.
"Aku bakal kangen kalian..."
"Kami juga," jawab keduanya bersamaan.
Air mata Vivi hampir menetes.
"Jangan nangis dong... nanti aku ikutan nangis."
Vivi dan Vava tertawa kecil.
Setelah berpamitan untuk terakhir kalinya, ketiganya mulai menyusuri jalan setapak menuju desa.
Beberapa menit berlalu. Suasana sempat hening hingga akhirnya Viana membuka suara.
"Kapan-kapan kita ke sini lagi ya... Gue mau ketemu Vivi, Vava, sama dukun ganteng itu lagi!"
"Shhttt..." Aleta langsung menyikut pelan lengan Viana. Viana hanya menyengir.
"Sayangnya dia sudah menikah dan punya anak. Tapi masih ada harapan, kan? Ketiganya udah nggak ada."
"Shhtttt..." Aleta kembali memberi kode agar Viana berhenti bicara. Viana mengembuskan napas panjang.
"Tapi... harapan itu juga bakal benar-benar pupus kalau ternyata Tuan Arkana cinta mati sama mereka. Dan belum tentu juga kita bisa bertemu lagi, kan?"
"Benar..." Aura menjawab lirih.
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia justru mempercepat langkahnya dan berjalan lebih dulu. Aleta memperhatikan punggung Aura sesaat sebelum kembali menoleh ke arah Viana.
"Ya... Semoga saja Tuan Arkana bisa menemukan kebahagiaan lagi suatu hari nanti," ucap Viana.
"Oh iya, apa pakaian istrinya yang kita pakai selama di rumah itu?" tanya Aleta.
"Yap! Benar banget!" seru Viana antusias.
Aleta mengangkat sebelah alisnya.
"Awalnya gue juga bingung kenapa dia mau meminjamkannya ke kita. Tapi tadi sebelum berangkat aku sempat bertanya."
"Jawabannya?"
Viana tersenyum kecil.
"Dia bilang, dia gak mungkin biarin kita make pakaian yang sama selama beberapa hari. Jadi daripada membeli pakaian baru yang belum tentu pas, lebih baik meminjamkan pakaian yang masih tersimpan rapi."
Aleta mengangguk pelan.
"Masuk akal."
Viana ikut mengangguk.
"Iya. Tuan Arkana ternyata orang yang sangat logis."
mana dipanggil honey lagi /Doge/