**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
# Bab 8
## Tanda Tangan Terakhir
Damar pernah mengira tanda tangan hanyalah urusan kantor.
Kontrak, keputusan direksi, persetujuan investasi, lembar akuisisi. Di Notonegoro Corp, satu tanda tangannya bisa menggerakkan uang miliaran rupiah dan membuat orang menunggu di luar ruang rapat dengan napas tertahan. Ia terbiasa melihat orang lega setelah ia menandatangani sesuatu. Terbiasa menjadi pihak yang menentukan selesai atau tidaknya sebuah urusan.
Pagi itu, di Pengadilan Agama, ia baru memahami ada tanda tangan yang tidak bisa ia kendalikan.
Arunika sudah duduk di ruang sidang kecil ketika Damar masuk.
Ia datang tepat waktu.
Bukan karena tiba-tiba belajar menghargai jadwal, tetapi karena semalaman ia tidak tidur. Akun gosip masih membicarakan video Renata. Eyang menuntut keputusan cepat. Renata mengirim pesan panjang tentang ketakutannya. Namun yang paling mengganggu Damar bukan semua itu.
Yang paling mengganggunya adalah Arunika tidak menghubunginya.
Tidak setelah mediasi gagal. Tidak setelah video viral memburuk. Tidak setelah ia mengirim pesan bahwa ia masih bisa menyelesaikan masalah ini kalau Arunika mau pulang.
Tidak ada.
Pagi ini, perempuan itu duduk di sisi penggugat dengan blus warna abu muda, rambut diikat rendah, dan perban di tangannya yang hampir lepas. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi matanya jernih.
Damar berhenti sekejap di ambang pintu.
Arunika menoleh.
Tidak ada getar di matanya.
Tidak ada marah. Tidak ada harap. Tidak ada sakit yang meminta dibaca.
Ia hanya melihat Damar seperti melihat seseorang yang memang harus hadir untuk menyelesaikan urusan administratif.
Dulu, Arunika selalu mencari matanya lebih dulu setiap kali mereka masuk ruangan yang sama. Di acara keluarga, di lift kantor, di ruang makan yang terlalu panjang, ia akan menoleh sedikit, menunggu tanda kecil bahwa Damar menyadari keberadaannya. Damar tidak pernah memberi banyak. Kadang hanya anggukan pendek. Kadang tidak sama sekali. Namun Arunika dulu tetap tampak lega, seolah satu detik perhatian darinya cukup untuk menghidupkan satu hari penuh.
Pagi ini, ia tidak mencari apa pun.
Rasa kosong menyambar dada Damar begitu cepat sampai ia nyaris lupa melangkah.
"Pak Damar," bisik kuasa hukumnya.
Damar duduk.
Sidang tidak berlangsung lama. Berkas sudah lengkap. Mediasi dinyatakan gagal. Pernyataan Arunika tentang pelepasan harta gono-gini dan nafkah kembali dibacakan. Hakim menanyakan sekali lagi dengan suara tenang, memastikan tidak ada paksaan.
"Saudari Arunika Dewanti, apakah Saudari tetap pada gugatan cerai dan pernyataan tidak menuntut pembagian harta bersama maupun nafkah?"
Damar menatap Arunika.
Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Mungkin jeda. Mungkin keraguan. Mungkin satu tarikan napas yang membuktikan perempuan itu masih menyisakan tempat untuknya.
Arunika menjawab, "Tetap, Yang Mulia."
Tidak ada jeda.
"Apakah keputusan itu dibuat tanpa tekanan?"
"Ya."
"Apakah Saudari memahami akibat hukum dari putusan ini?"
"Saya memahami."
Damar menggerakkan rahang.
Kuasa hukumnya menunduk, berpura-pura membaca berkas. Di sisi Arunika, Bu Ratih mencatat sesuatu. Semua orang tampak berada di tempat yang benar. Hanya Damar yang merasa ruangan itu bergeser sedikit dari bawah kakinya.
Hakim menoleh kepada pihak tergugat.
"Saudara Damar Aditya Notonegoro, apakah ada hal yang ingin disampaikan sebelum majelis membacakan putusan?"
Semua mata berpindah kepadanya.
Damar membuka mulut.
Kata-kata yang disiapkan pengacaranya sudah ada. Kalimat tentang nama baik, tentang mediasi yang masih bisa dilanjutkan di keluarga, tentang video viral yang memengaruhi emosi penggugat. Namun ketika ia menatap Arunika, semua kalimat itu terasa tidak berguna.
Arunika tidak sedang menunggu ia bicara.
Ia tidak sedang takut.
Ia tidak sedang berharap ia menghentikan sidang.
Damar menutup mulutnya lagi.
"Tidak ada," katanya akhirnya.
Arunika tidak bereaksi.
Putusan dibacakan.
Bahasanya formal, datar, penuh istilah hukum yang biasanya membuat orang awam kehilangan fokus. Namun ada satu bagian yang masuk ke telinga Damar dengan sangat jelas.
Mengabulkan gugatan penggugat.
Menjatuhkan putusan cerai.
Mencatat pelepasan tuntutan harta bersama dan nafkah sebagaimana dinyatakan penggugat.
Setiap kalimat terasa seperti benda jatuh satu per satu ke lantai.
Arunika menunduk sedikit, bukan sedih, melainkan seperti seseorang yang akhirnya sampai di tujuan setelah berjalan terlalu lama. Bahunya turun pelan. Tangannya yang terluka menyentuh map di depannya.
Damar melihatnya.
Ia ingat malam hujan itu. Ingat luka di punggung tangan Arunika yang sempat ia lihat, lalu ia abaikan. Ingat cincin di telapak tangannya. Ingat pesan yang hanya dibaca.
Tiba-tiba, untuk pertama kalinya, ia ingin bertanya apakah luka itu sudah membaik.
Pertanyaan itu datang terlambat.
Sidang selesai.
Petugas menyerahkan lembar berita acara untuk ditandatangani. Pulpen hitam diletakkan di tengah meja. Benda kecil itu tampak biasa, tetapi seluruh ruangan seolah menahan napas ketika Arunika mengambilnya.
Damar menatap punggung tangannya.
Perban putih itu bergerak pelan saat ia membuka tutup pulpen. Luka semalam mungkin masih nyeri, karena jari-jarinya sempat kaku. Namun Arunika tidak meminta jeda. Ia menunduk dan menulis namanya dengan jelas.
Arunika Dewanti.
Goresan pertama tegas.
Damar menunggu ia berhenti di sana. Nama Dewanti adalah nama yang lebih sering ia dengar di rumah Notonegoro, nama yang cukup untuk istri seorang Damar. Namun tangan Arunika bergerak lagi, menambahkan kata yang selama ini nyaris tidak pernah ia bawa ke meja keluarga itu.
Prawira.
Tinta hitam mengering di atas kertas.
Damar merasakan sesuatu menusuk dadanya, halus tetapi dalam. Nama itu berdiri utuh tanpa Notonegoro di belakangnya. Ia baru menyadari betapa sedikit ia tahu tentang perempuan yang pernah tidur satu rumah dengannya.
Ketika pulpen bergeser ke sisi Damar, ia membutuhkan waktu beberapa detik sebelum mengambilnya.
"Pak Damar," bisik pengacaranya.
Damar menandatangani.
Untuk pertama kalinya, tanda tangannya tidak terasa seperti kuasa. Rasanya seperti melepas sesuatu yang terlambat ia sadar pernah berada di tangannya.
Orang-orang berdiri. Kursi bergeser. Bu Ratih memberi arahan singkat tentang administrasi akta cerai. Arunika mendengar dengan tenang, mengangguk pada bagian yang perlu.
Damar tetap duduk beberapa detik lebih lama.
Pengacaranya berbisik, "Pak, kita bisa mempertimbangkan langkah lanjutan jika Bapak ingin..."
"Diam."
Pengacara itu langsung menutup mulut.
Damar berdiri.
Di loket administrasi, Arunika menerima dokumen sementara dan arahan pengambilan akta cerai. Namun karena berkas sudah dipercepat oleh kuasa hukum dan seluruh kelengkapan dinyatakan selesai, petugas menyerahkan salinan akta yang bisa langsung dipakai untuk proses berikutnya. Kertas itu tidak terlihat istimewa. Hanya lembaran resmi dengan cap, nomor perkara, dan nama mereka berdua yang untuk terakhir kalinya berdiri dalam satu baris.
Arunika memegangnya dengan kedua tangan.
Nama Damar ada di sana.
Nama Arunika ada di sana.
Di bawahnya, tertulis bahwa hubungan itu telah putus karena putusan pengadilan.
Tiga tahun pernikahan, satu malam hujan, semua air mata yang tidak pernah ia tunjukkan, diringkas menjadi beberapa baris kalimat.
Ia menatap tanggal di dokumen itu. Ada tanggal menikah, ada tanggal putusan, ada ruang kosong di antara keduanya yang tidak akan pernah ditulis oleh petugas mana pun. Tidak ada kolom untuk malam-malam menunggu. Tidak ada catatan tentang punggung tangan yang berdarah. Tidak ada lampiran tentang suara hati yang pelan-pelan mati.
Namun justru karena semuanya begitu ringkas, Arunika merasa bisa bernapas.
Anehnya, Arunika tidak merasa hancur.
Ia merasa ringan.
Seperti seseorang baru membuka jendela setelah bertahun-tahun tinggal di ruangan tanpa udara.
"Bu Arunika," kata Bu Ratih, "dokumen ini mohon disimpan baik-baik. Untuk administrasi berikutnya, tim kami akan mendampingi."
"Terima kasih, Bu."
Damar mendengar ucapan itu dari belakang.
Bu Arunika.
Lagi-lagi sebutan itu. Formal, berjarak, menempatkan Arunika sebagai seseorang yang punya urusan sendiri, tim sendiri, jalan sendiri.
Ia melangkah mendekat.
"Nika."
Arunika berhenti, tetapi tidak menoleh penuh. Hanya sedikit, cukup untuk menunjukkan ia mendengar.
"Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Kamu baru saja membuat keputusan besar."
"Aku sudah membuatnya sejak malam itu."
Damar menahan napas.
Malam itu.
Tidak perlu dijelaskan malam yang mana.
"Kalau ini soal Renata, aku bisa..."
Arunika berbalik.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, matanya benar-benar bertemu mata Damar.
"Jangan jadikan Renata alasan lagi," katanya. "Kamu tidak percaya padaku bukan hanya karena dia. Kamu memang tidak pernah memilih untuk percaya."
Damar terpukul oleh ketenangan kalimat itu.
Lebih mudah menghadapi Arunika yang menangis. Lebih mudah menghadapi Arunika yang marah, menuduh, memohon, apa pun selain perempuan yang berdiri di depannya sekarang. Perempuan yang bahkan tidak ingin lagi menang darinya.
"Aku tidak pernah berniat membuatmu sampai seperti ini," kata Damar.
"Tapi kamu membuatku sampai di sini."
Hening.
Di sekitar mereka, beberapa orang berlalu. Ada yang menatap sebentar, lalu pura-pura tidak melihat. Pengadilan selalu penuh cerita orang lain; kisah Damar dan Arunika hanya salah satunya.
Damar menatap akta cerai di tangan Arunika.
"Kamu pikir setelah keluar dari Notonegoro, hidupmu akan lebih baik?"
Arunika menurunkan pandangannya ke dokumen itu, lalu kembali menatap Damar.
"Lebih baik atau tidak, itu bukan lagi keputusanmu."
Kalimat itu membuat Damar menggenggam tangan.
Ia ingin mengatakan bahwa dunia tidak sesederhana itu. Bahwa keluarga Notonegoro tidak akan diam. Bahwa video viral bisa menghancurkan nama Arunika jika ia tidak segera meminta maaf. Bahwa ia masih bisa melindunginya.
Tetapi lidahnya kelu.
Karena perlindungan macam apa yang baru muncul setelah seseorang dilukai?
Arunika memasukkan akta cerai ke dalam map.
"Aku pergi."
"Nika."
Damar memanggil lagi, lebih pelan.
Nada itu berbeda. Tidak sekaku biasanya. Ada sesuatu yang hampir menyerupai permintaan, tetapi terlalu asing di mulutnya sendiri.
Arunika tidak menunggu kalimat berikutnya.
Ia melangkah melewati Damar.
Tidak tergesa. Tidak dramatis. Tidak menoleh.
Hanya pergi.
Damar menatap punggungnya. Di lorong luar, Tari sudah menunggu dekat pintu kaca. Begitu melihat Arunika, perempuan itu segera membuka jalan dan menerima map tambahan dari Bu Ratih. Tidak ada satu pun gerakan yang meminta izin Damar.
Arunika berjalan menuju cahaya luar.
Saat melewati pintu, angin siang menyentuh rambutnya. Ia berhenti setengah detik, menarik napas, lalu melanjutkan langkah.
Damar baru sadar tangannya kosong.
Beberapa hari lalu, ia menggenggam cincin nikah mereka dan merasa Arunika hanya sedang marah. Hari ini, ia tidak memegang apa pun. Bahkan hak untuk memanggilnya pulang pun terasa tidak lagi berada di tangannya.
Kuasa hukumnya mendekat hati-hati. "Pak Damar, salinan dokumen Bapak."
Damar mengambilnya.
Kertas itu dingin.
Akta cerai.
Dua kata yang beberapa hari lalu terasa mustahil kini berada di tangannya.
Ia menatap nama Arunika di lembar itu. Lalu nama Notonegoro yang tidak lagi mengikuti di belakangnya sebagai istri.
Di luar, mobil yang membawa Arunika mulai bergerak meninggalkan halaman pengadilan.
Damar berdiri di balik kaca, wajahnya gelap.
"Baik," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Aku mau lihat kamu bisa pergi sejauh apa."
Namun bahkan sebelum kalimat itu selesai, rasa kosong di dadanya menjawab lebih dulu.
Lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.