"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Jarum jam di dinding apartemen sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit. Aruna duduk tegak di sofa ruang tengah yang sengaja dibiarkan remang-remang, hanya diterangi lampu sudut yang temaram. Di pangkuannya, Kenzie sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu setelah melewati hari yang panjang di sekolah. Napas bocah itu teratur, sangat kontras dengan dada Aruna yang bergemuruh hebat menahan badai amarah yang siap meledak kapan saja.
Cklek.
Suara pintu utama yang terbuka memecah keheningan. Gavin melangkah masuk dengan setelan jas yang tersampir santai di bahu kanan, kancing kemeja atasnya terbuka, dan siulan kecil meluncur dari bibirnya. Wajahnya terlihat sangat segar dan berseri-seri—jelas sekali dia baru saja memenangkan kesepakatan besar, sekaligus bersenang-senang menghabiskan malam pasca kencan makan siangnya yang sukses.
"Wah, belum tidur, Istriku? Romantis banget nungguin suami pulang sambil gelap-gelapan gini," goda Gavin dengan cengiran tanpa dosa.
Ia berjalan mendekat, berniat meletakkan kunci mobilnya di atas meja kopi dengan gaya khasnya yang selalu ingin terlihat penuh pesona. Namun, senyumnya langsung membeku saat matanya menangkap tatapan Aruna. Sepasang mata wanita itu menatapnya begitu tajam dan sedingin es, sanggup membuat bulu kuduk Gavin meremang seketika.
"Bagus ya, Gavin. Pulang jam segini dengan wajah tanpa dosa," suara Aruna terdengar sangat rendah, namun justru di situlah letak kengeriannya.
Gavin berdeham, mencoba menguasai keadaan. Ia melonggarkan jam tangan mewahnya dan duduk di sofa tunggal di seberang Aruna dengan pose santai, mencoba bersikap seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan besar pagi tadi.
"Aduh, Na... kamu masih bahas yang tadi pagi? Kan aku udah bilang, aku ada urusan darurat soal perusahaan Kak Rendy dan project besarku. Sebagai laki-laki, aku harus profesional dong," jawab Gavin enteng, mengibaskan tangannya meremehkan.
"Darurat? Profesional?" Aruna terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang membuat atmosfer ruangan semakin mencekam. "Kabur pagi - pagi buta secara diam-diam karena takut disuruh mengasuh Kenzie di rumah saat aku pergi bekerja, itu yang kamu sebut profesional, Gavin?!"
"Heii, bahasanya jangan kabur dong. Aku itu pergi kerja! Cari uang!" bela Gavin, suaranya naik satu oktav karena egonya terusik. "Lagian Kenzie aman kan sama kamu? Kamu berlebihan banget deh, Na. Masalah kecil kayak gini aja digede-gedein."
"Masalah kecil?! Kamu itu pikun atau apa sih ? Hari ini kan jadwal kamu mengasuh Kenzie, Gav !"
Aruna bangkit berdiri dengan perlahan agar tidak mengejutkan Kenzie. Ia berjalan menuju kamar dan memindahkan tubuh lelap Kenzie ke dalam kasur empuk kamarnya. Setelah menyelimuti keponakannya, Aruna kembali berbalik menghadapi Gavin. Kali ini, tidak ada lagi air mata kesedihan, yang ada hanyalah kilat amarah yang membara.
"Kamu tahu apa yang aku lalui hari ini karena keegoisanmu, hah?! Aku harus membuang urat maluku, memohon-mohon kebijakan pada Kepala Sekolah agar diizinkan mengajar sambil membawa Kenzie ke dalam kelas! Aku pontang-panting mengurus Kenzie dan mengajar anak-anak lain, sambil memastikan Kenzie tidak rewel disaat aku mengajar!" cecar Aruna dengan napas memburu.
Gavin mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan di dada dengan sikap malas-malasan. "Ya terus salahnya di mana? Kan ujung-ujungnya beres. Kenzie ngga kenapa-kenapa, kamu tetap bisa kerja. Simple kan? Makanya, otak cerdas itu dipakai, Na. Segala sesuatu itu pasti ada jalan keluarnya tanpa harus bikin drama."
Mendengar respons Gavin yang begitu meremehkan perjuangannya, rasa dongkol di dada Aruna sudah mencapai ubun-ubun. Pria ini benar-benar Bajing*n egois dan berhati batu. Jangankan merasa bersalah pada Aruna, rasa kasihan pada Kenzie yang yatim piatu saja seolah tidak punya tempat di hatinya yang dangkal.
"Oh... jadi kamu menganggap ini drama yang simple?" Aruna tersenyum mematikan. Ia melangkah menuju meja makan, mengambil tas Selempang nya, lalu mengeluarkan sebuah benda dari sana.
Brak!
Aruna melemparkan sebuah amplop berwarna putih tepat ke atas pangkuan Gavin. Gavin tersentak kaget, menatap amplop itu dengan kening berkerut.
"Apaan nih?" tanya Gavin malas, membolak-balik buku itu dengan satu tangan.
"Itu surat dari pengacara Bang Rendy. Tadi beliau datang menemui ku di sekolah. Karena datang kesini tak ada orang, makannya beliau mendatangi ku disana." ucap Aruna ketus. " It...itu surat wasiat resmi dari Kak Rendy dan Kak Adisti yang sudah ditandatangani di atas meterai mengenai hak asuh dan pembagian aset."
"Sebelum kejadian kecelakaan itu Bang Rendy dan Kak Adisti mendatangi kantor Pak Eza ( pengacara kepercayaan Rendy) mereka berdua membuat surat itu disana." Lanjut Aruna.
Gavin mengernyitkan dahi. Rasa penasarannya terusik. Ia membuka amplop, dua lembar dokumen hukum tercetak di surat tersebut. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di dokumen tersebut, wajah Playboy Gavin mendadak berubah pucat pasi.
"I-ini... apa-apaan?!" gagap Gavin, langsung menegakkan posisi duduknya.
"Kamu pikir Bang Rendy tidak tahu tabiat adiknya yang pemalas dan lepas tanggung jawab?" sindir Aruna, melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan puas melihat perubahan ekspresi Gavin. "Di sana tertulis jelas. Jika dalam waktu tiga bulan setelah kepergian mereka, kamu terbukti menelantarkan Kenzie atau tidak ikut serta mengurusnya secara fisik, maka seluruh hak pengelolaan saham utama di perusahaan Kak Rendy akan dialihkan secara mutlak atas namaku sebagai wali tunggal Kenzie. Dan kamu... akan dicopot secara tidak hormat dari jajaran direksi."
"Ngga bisa gitu dong! Ini pemerasan namanya! Aku kan adiknya!" seru Gavin panik, melompat berdiri. Matanya membelalak menatap dokumen di tangannya. Kehilangan posisi di perusahaan Rendy berarti kehancuran bagi gaya hidup mewahnya.
Perusahaan miliknya tidak ada setengah nya dari Perusahaan milik sang kakak. Nanti kalo ia tak mendapatkan bagian di perusahaan tersebut, uang nya akan berkurang dan tak bisa meneraktir gadis - gadis cantik gebetannya.
"Bisa. Sangat bisa, Gavin. Pengacara Bang Rendy akan memantau kita. Dan tebak apa yang aku lakukan hari ini di sekolah?" Aruna maju satu langkah, menatap Gavin dengan pandangan skakmat. "Aku meminta pihak sekolah mengeluarkan surat keterangan resmi bahwa hari ini Kenzie diasuh penuh olehku di lingkungan sekolah karena pamannya menolak menjaga sesuai jadwal. Surat itu sudah dikirim langsung ke email pengacara Bang Rendy sore tadi sebagai bukti konkret."
Gavin melongo. Alisnya bertaut, wajah tampannya kini dipenuhi rasa frustrasi dan dongkol yang luar biasa. Ia merasa dijebak, dihantam tepat di titik terlemahnya: ego dan finansialnya. Rayuan murahan atau kedipan matanya yang biasa ia banggakan sama sekali tidak berguna menghadapi kecerdikan Aruna malam ini.
"Kamu... kamu sengaja mau ngejatuhin aku, Na?!" geram Gavin dengan gigi terantuk, menahan malu sekaligus kesal setengah mati.
"Aku tidak menjatuhkanmu, Gavin. Aku hanya memaksamu untuk menjadi manusia yang punya tanggung jawab," jawab Aruna dingin tanpa emosi.
Aruna berjalan mendekati kamarnya, namun sebelum membuka pintu, ia menoleh kembali pada Gavin yang masih berdiri mematung memegangi amplop tersebut dengan wajah kusut.
"Besok adalah hari Kamis. Masih giliranmu untuk menjaga Kenzie. Semua jadwal rutin Kenzie sudah tertulis lengkap di buku biru miliknya. Kalau besok jam delapan pagi kamu kabur lagi... Tamat sudah riwayat."
Blam!
Aruna menutup pintu kamarnya dengan keras, meninggalkan Gavin yang mendesis frustrasi di ruang tengah. Pria playboy itu menendang kaki meja ruang tamu dengan jengkel, merutuki nasibnya yang kini benar-benar terkunci dalam perangkap tanggung jawab yang paling ia benci.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor